[Review] Ciuman Di Bawah Hujan by Lan Fang

image

Judul: Ciuman Di Bawah Hujan
Penulis: Lan Fang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 359 Halaman
ISBN: 9789792255287
Terbitan: Jakarta, Maret 2010
Genre: Roman, Dewasa, Politik

BLURB

Politisi identik dengan orang-orang ambisius dalam meraih kekuasaan. Tidak jarang dengan menghalalkan segala cara. Tetapi Yukio Hatoyama, perdana menteri Jepang yang mulai menjabat 16 september 2009 mempublikasikan filsafat yang sulit dipahami apalagi diterapkan, yaitu: politik itu cinta.
Mungkinkah?
Novel ini bercerita tentang Ari, politisi bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Juga tentang Rafi, politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis. Dan tentang Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.
Dengan rasa setia kawan, tanggung jawab, pengorbanan, kerinduan, dan pengharapan, Ciuman di Bawah Hujan menerabas dunia politik, dunia tanpa ampun itu.

Note: Novel ini dimuat sebagai cerita bersambung KOMPAS Oktober 2009-Februari 2010

REVIEW

sampai pada halaman 190/359:
sejauh ini, terselip beberapa bab dari novelnya Fung Lin. honestly, saya malah lebih tertarik pada isi cerita calon novel Fung Lin dari pada cerita keseluruhan novel ini sendiri. 😀

sampai pada halaman 325/259:
sejauh ini saya merasa bahwa hal politik pada buku ini tidak begitu kental. namun ada bab yg fokus menceritakan ‘pergulatan’ antara Fung Lin dan si tikus besar, Kepala Dinar. di bab sebelumnya juga sempat disinggung mengenai pencuri dan tikus. mungkin di sinilah maksud penulis untuk mengumpamakan bagaimana hal politik itu sangat kental hubungannya dengan perilaku tikus yg mencuri.

2 stars. it was ok!

seperti progress yg sudah saya tulis di atas, awalnya saya lebih tertarik dengan selipan cerita calon novel Fung Lin ketimbang cerita utama di novel ini sendiri. seperti ada sesuatu yang misterius yang tersembunyi di balik cerita itu.

sejujurnya saya kecewa dengan ending-nya. bahkan saat saya membaca bab Coda, penulis pun mengatakan,

“tidak menyelesaikan pun itu adalah sebuah penyelesaian. jadi maaf jika ada yg merasa cerita ini belum selesai.”

oh… tentu saja. saya termasuk orang yang merasakan hal itu. cerita ini bagi saya memang belum selesai. di cerita pun tidak terwujud hal yang tertera pada judul. tidak ada bagian di mana Fung Lin dicium di bawah hujan.

untuk novel dengan jumlah halaman sebanyak 359 halaman, menurut saya cerita ini sudah cukup panjang dan bisa saja mempunyai ending yg benar-benar ending. terserah mau happy atau sad atau justru meninggalkan pertanyaan di hati pembaca dan menyuruh pembaca sendiri yang menentukan akhirnya mau seperti apa. harapan saya sih begitu, tapi novel ini tidak satupun yang mendekati kriteria itu bahkan untuk mengambil option yang ke-3 pun saya bingung ingin merekayasa ending-nya jadi seperti apa. 😦

seandainya cerita ini benar-benar selesai, saya bisa saja memberi 4 bintang. saya suka dengan perumpamaan cerita di sini, tetapi agaknya terlalu panjang hingga memakan 1 bab penuh. kenapa tak langsung pada intinya saja?

bagian yang paling saya suka adalah tentang Bobo Ng. tentang dia mengeluh kenapa anak-anaknya menganggap dia bawel, padahal dia tidak pernah mengeluh ketika ia mengurusi anak-anaknya dari kecil yang lebih bawel dan bandel. saya terharu. seketika saya teringat dengan mama saya. :“)

ah, ini juga, kemana ending cerita dari calon novel Fung Lin? padahal itu yg saya tunggu-tunggu selama membaca novel ini. sayangnya ini juga harus putus di tengah jalan sebelum saya sepenuhnya mengerti inti dari calon novel Fung Lin itu. 😦

OVERALL RATING

★★☆☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s