[Review] Entrok by Okky Madasari

Judul: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 282 Halaman
ISBN: 9789792255898
Terbitan: Jakarta, April 2010
Genre: Drama, Keluarga, Historis, Kultur, Dewasa

Tersedia di toko buku online Bukupedia

BLURB

Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

REVIEW

mungkin banyak yang tidak tahu apa arti entrok. entrok adalah bra alias BH alias breast holder. ya, sesuai dengan cover-nya yang memajang punggung seorang wanita yang mencoba memasangkan atau melepaskan kaitan BH-nya.

kisah di buku ini di awali oleh kisah Marni, seorang gadis ‘tanggung’ yang buta huruf karena tak pernah mencicipi bangku sekolah. ia diasuh oleh Simbok seorang diri. sebagai orang kampung dan tak berkepunyaan, ia dan Simbok hidup sangat sederhana.

suatu hari Marni melihat temannya, Tinah, menggunakan sesuatu pada dadanya sehingga membuat payudaranya menyembul dengan indah. Marni ingin payudaranya juga seperti Tinah tapi Marni tidak mempunyai entrok seperti yang dipakai Tinah. mulai dari situ Marni bertekad bekerja dengan giat membantu Simbok demi mengumpulkan uang supaya ia bisa membeli dan memakai entrok.

Buku ini tak hanya berkisah tentang Marni. kisah Marni terus mengalir hingga ia dewasa, punya anak bernama Rahayu, dan menjadi tua renta. Rahayu menjadi tokoh utama kedua setelah Marni. konflik utama pada kisah ini adalah keyakinan Marni yang masih percaya pada leluhur dan memberi persembahan atau sesajen. ia tak pernah mengenal agama. bahkan ketika Rahayu sudah menginjak bangku sekolah dan mengenal agama, Marni masih setia pada apa yang diyakininya. Rahayu sendiri mengatakan kalau ibunya itu syirik dan sudah terjerumus dalam dosa yang tak termaafkan. mereka kerap sekali bertengkar jika membahas tentang ini.

Marni menghidupi keluarganya dari mengkreditkan barang-barang dan meminjamkan uang pada tetangga (tentunya dengan bunga). ia banyak ditentang atas apa yang ia lakukan, tapi justru masih banyak tetangganya yang datang sendiri padanya untuk meminjam uang ketika mereka sedang butuh. julukan lintah darat sudah melekat padanya. meski begitu, Marni tidak lantas berganti usaha. hal itu tetap dijalankannya hingga ia mampu punya rumah, tv, warung, dan mobil untuk mengangkut tebu.

bagi Marni, apa yang ia lakukan adalah semata-mata demi menghidupi ia dan keluarganya. ia tak merasa berdosa seperti yang orang lain katakan. ia merasa dibutuhkan karena banyak orang yang datang padanya untuk bantuan pinjaman uang. tetapi dengan kelebihan tersebut, ia kerap kali diperas oleh pihak keamanan desa dan diminta iuran yang besar untuk penyelenggaraan pemilu dan pesta pasca pemilu. bagian ini menarik bagi saya karena lebih membuka mata saya ternyata sudah sejak dulu dalam praktik pemilu masyarakat tidaklah bebas memilih.

aku tak bilang ini jelek, tapi jujur saja dari genre dan cara penuturan ceritanya itu sama sekali bukan seleraku. tak ada masalah dari segi cerita, bahkan aku acungi 2 jempol untuk keseluruhan plotnya, konfliknya, dan pergolakan antar umat manusia di buku ini. konfliknya itu membuatku pribadi jadi seperti beragumen dengan diriku sendiri. bingung harus menentang atau membenarkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para tokoh di sini. menentang karena memang itu tak sesuai aturan, tapi tak bisa pula sepenuhnya menentang karena alasan si tokoh itu masuk akal dan sulit disangkal.

buku ini membuatku speechless. bingung harus tulis review apa, tak berani mengomentari dari segi ide cerita lebih detil karena aku tak mau salah bicara soal norma-norma kehidupan jaman dulu dan sekarang. cerita di buku ini bukan ‘jamanku’. di tahun-tahun itu aku belum lahir dan aku tak begitu mengerti politik di jaman itu.

hanya saja saat di halaman awal sampai ke tengah, aku merasa seperti sedang membaca buku diari seseorang. agak monoton, tak menampakkan sesuatu yang dapat membuatku makin penasaran. makin ke ujung, aku makin tidak mengerti mengapa buku ini diberi judul Entrok jika kisah entrok itu sendiri hanya sepenggal di depan dan tak ada hubungannya lagi hingga ke akhir cerita.

anyway, meski aku tak sepenuhnya setuju dengan semua hal yang Marni lakukan di hidupnya, memeras keringat demi mendapat rejeki tanpa ia mengerti itu halal atau haram selama ia tak membunuh atau merampok atau menipu. tapi perjuangannya sebagai seorang istri, seorang ibu, yang rela melakukan apa saja demi anaknya kembali, melepaskan semua yang sudah dia dapat selama ini demi kebahagiaan anaknya meski selama ini segala hal yg dilakukannya selalu ditentang oleh anaknya yang mengatakan bahwa ia adalah seorang pendosa, syirik karena memuja leluhur. tapi… pengorbanan selama hidupnya itu lho, dari ia kecil hingga tua renta itu luar biasa!

jika saja aku bisa lebih mengerti sepenuhnya tentang hal-hal yang terjadi di jaman itu, mungkin aku bisa sangat mencintai kisah di novel ini. ketika aku melihat review dari yang lain, banyak yang memberi respon positif. novel ini ternyata sangat diminati tapi bisa dikatakan ini bukanlah genre yang cocok untuk remaja karena tak ada kisah percintaan yang kental seperti novel kebanyakan.

ini buku Okky Madasari yang pertama kali saya baca. meski tak sepenuhnya fall in love dengan isinya tapi buku ini sangat sarat moral, membuat kita merenung dan terenyuh dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. semua ditulis dengan gamblang dan ‘tanpa dosa’. saya menunggu bisa berjumpa dengan karya Mbak Okky yang lainnya. 😉

OVERALL RATING

★★☆☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s