[Review] Autumn Once More by Ilana Tan, Ika Natassa, aliaZalea, dkk.

image

Judul: Autumn Once More
Penulis: Ilana Tan, Ika Natassa, aliaZalea, dkk.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penyunting: Tim editor GPU
Desain Sampul: Marcel A. W.
Penata letak: @bayu_kimong
Tebal: 232 Halaman
Cover: Softcover
ISBN: 9789792294712
Terbitan: Jakarta, April 2013 (cetakan pertama)
Genre: Kumpulan Cerpen, Roman, Metropop Indonesia

Tersedia di toko buku online Bukupedia

BLURB

Cinta :  suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

AUTUMN ONCE MORE membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.

Inilah tumpahan rasa dan obsesi karya aliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.

REVIEW

Awal perkenalanku dengan buku ini yaitu dari tweets Ika Natassa yang saat itu sedang promosi kalau dia akan membuat sebuah novel baru berjudul Critical Eleven namun diawali dengan penggalan ceritanya dalam sebuah cerpen di kumcer Autumn Once More. Ya, karena pada dasarnya aku memang selalu penasaran dengan karya-karya dari Ika Natassa. Sejujurnya itulah alasanku mengapa dulu membeli buku kumcer ini dan juga karena ada label METROPOP yang selama ini selalu jadi incaran utamaku tiap kali mengitari toko buku. Sebelumnya aku tak begitu menyukai membaca atau bahkan membeli kumcer, tapi kupikir tak ada salahnya aku mencoba mencicipi kumcer, hitung-hitung bisa mendapatkan beberapa macam cerita dalam 1 buku, dan juga karena sudah terlanjur penasaran dengan si tokoh Aldebaran Risjad di Critical Eleven itu.

Kumcer ini terdiri dari 13 cerpen dari 13 pengarang. Berikut adalah daftar judul cerpen dan penulisnya:

1. Be Careful What You Wish For (aliaZalea)

2. Thirty Something (Anastasia Aemilia)

3. Stuck With You (Christina Juzwar)

4. Jack Daniel’s vs Orange Juice (Harriska Adiati)

5. Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku (Hetih Rusli)

6. Critical Eleven (Ika Natassa)

7. Autumn Once More (Ilana Tan)

8. Her Footprints on His Heart (Lea Agustina Citra)

9. Love is a Verb (Meilia Kusumadewi)

10. Perkara Bulu Mata (Nina Addison)

11. The Unexpected Surprise (Nina Andiana)

12. Senja yang Sempurna (Rosi L. Simamora)

13. Cinta 2 x 24 Jam (Shandy Tan)

Cerpen ke-1

Sebenarnya tak begitu merasakan “bumbu khas” dari seorang aliaZalea di cerpen ini tapi ada bagian yang sepertinya tak terlalu dijelaskan sehingga terasa agak mengganjal bagiku di mana ada satu bagian tertulis seperti ini,

”Aku sempat tertawa melihat foto profilnya. Dia tersenyum lebar sambil merangkul seorang wanita paling pendek yang pernah kulihat. Wanita itu juga tersenyum lebar dan memeluk pinggang Gonta. Aku yakin wanita itu bukan pacar atau istrinya, karena dia jauh lebih tua daripada Gonta, lebih cocok jadi ibu atau mantan dosennya.” (halaman 11)

Hal ini jadi menimbulkan pertanyaan di benakku,

“siapa perempuan pendek yang ada di foto profil facebook milik Gonta?”

Karena sampai akhir cerita pun soal wanita itu tak disinggung-singgung lagi.

Cerpen ke-2

Aku sempat tertipu dengan cerpen ini. Aku tak menyadari kalau judul Thrity Something itu mengarah pada umur. Jadi aku mengira Rachel dan Erik itu adalah sepasang muda-mudi yang baru lulus kuliah dan sudah harus menemui rintangan mereka masing-masing. Ditambah lagi dengan sikap kikuk Rachel seperti orang yang  tidak pernah dicium lelaki bahkan hingga umurnya yang sudah 30 tahun lebih itu. Atau mungkin maksud si penulis ini Rachel memang tidak pernah dicium lelaki selama ini?

Cerpen ke-3

Ini adalah tulisan pertama dari Christina Juzwar yang aku baca. Sebenarnya agak klise, berawal dari seorang lelaki yang sikapnya selama ini selalu jutek pada semua orang lalu tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi ramah—terutama pada seorang wanita—karena dia menyukai seorang wanita itu yang menjadi pendatang baru di lingkungannya. Tapi aku cukup suka dengan gaya penuturannya dan ide jedak-jeduk-di-lift di cerpen ini. Hmmm, jadi ingin baca karya-karyanya yang lain juga.


Cerpen ke-4

Cerpen yang satu ini awalnya juga membuatku tertipu. Siapakah aku yang dimaksud? Aku mengira sosok aku ini adalah perempuan, eh rupanya dia lelaki. Aku kira semua sudut pandang pertama di novel ini dari mata perempuan, tapi ternyata tidak juga. Bisa kukatakan kalau cerpen ini yang paling aku suka dari 13 cerpen yang ada. Sebenarnya tidak ada yang begitu spesial atau sangat berbeda dari keseluruan cerita, tapi entah kenapa ini punya kesan tersendiri bagiku.

Di bagian tengah cerita ada penggalan seperti ini,

“Cowok memang brengsek. Hobi ngerayu cewek mana aja, di mana aja, kapan aja. Main tempel sana-sini. Apalagi di tempat clubbing. Gampang aja dapat cewek di tempat kadar alkohol lebih menentukan ketimbang kewarasan. Tapi kalau soal jatuh cinta, cowok cenderung pilih-pilih. Maunya sama cewek baik-baik. Lebih polos lebih bagus. Nggak tahu kenapa. Mungkin lebih menantang. Ada kepuasan tersendiri kayaknya.” (halaman 65)

Ah, sepertinya aku sedikit terbawa ke alam kenangan. Ini mengingatkanku pada seorang dari masa lalu. Dia termasuk bad boy, tapi tidak separah karakter Dennys di cerpen ini sih. Dan juga mungkin karena di bagian akhir terdapat kalimat berikut sebagai tamparan tersendiri untuk persepsi Dennys di atas,

”Lama setelah Pak RT pergi, baru gue sadar. Cewek juga menginginkan cowok baik-baik buat jadi suaminya, apalagi  anak Pak Haji dan Bu Hajjah. Gue cuma bisa tersenyum miris, walau hati teriris.” (halaman 69)

Bravo!!!

Cerpen ke-5

Aku cukup dibuat kaget dengan serangkaian kalimat yang begitu kental akan nilai sastra setelah 4 cerpen ringan sebelumnya. Cerpen ini dikarang oleh seorang editor, Hetih Rusli. Ah, pantas saja… tapi sebetulnya aku tak begitu bisa menikmati sepenuhnya tentang alur cerita dan menghayati karakter tokoh-tokohnya karena aku tidak terlalu suka dengan bacaan yang banjir majas di sana-sini. Aku tidak bisa berkomentar banyak karena aku tidak begitu sering membaca tulisan yang berbau sastra seperti ini.

Cerpen ke-6

Meski yang ini urutan keenam tapi cerpen ini yang duluan kubaca. Sekalipun aku tak tahu siapa pengarang penggalan cerita ini, pasti aku bisa langsung menebak siapa penulisnya, Ika Natassa. Ciri tulisannya yang selalu saja gado-gado campur aduk bahasa-english sepertinya memang tidak pernah bisa terpisahkan dari dirinya. Terkadang aku merasa agak risih dengan pencampuran bahasa ini karena memang  banyak sekali bagian english-nya bahkan hampir mencapai 50% dari isi buku atau cerita, termasuk di cerpen ini. Dan betapa penuh kebetulannya para karakter rekaan Ika, juga yang ada di cerpen ini. Seolah semua orang pintar dan pandai ber-english-ria meski setting-nya masih di Indonesia dan berbicara dengan sesama orang Indonesia. Tapi meski begitu, aku tetap menikmati tulisan-tulisan Ika Natassa karena walau tokoh-tokohnya nggak anak muda banget tapi tetap terkesan gaul dan kekinian. Caranya bercerita sangat mengalir, analoginya juga jalan, dan cerpen ini yang paling cepat kuselesaikan bacanya daripada 12 cerpen lain.

Ada bagian yang tidak terlalu penting menurutku untuk tetap disematkan di cerpen ini,

Okay, I’m gonna tell what happened next in the quickest way possible because it’s pretty damn embrassing. Malunya aku yang menjadi penyebab senyumnya dia. Aku tertidur, dan ketika terbangun, kepalaku sudah bersandar di pundaknya. Nempel!” (halaman 87)

Lah, memangnya apa yang harus dijelaskan panjang lebar saat kau tertidur? Kau kan lagi tidur, mana sadar kau ngapain aja waktu tidur.

Cerpen ke-7

Di dalam buku tertera Autumn Once More (Autumn in Paris: Side Story). Ya, tokoh Tatsuya dan Tara memang merupakan tokoh utama dalam Autumn in Paris. Tapi karena sudah lama sekali aku membaca novel itu aku jadi agak lupa plotnya dan sampai saat ini aku masih menerka-nerka di mana cocoknya penggalan cerita ini disematkan di Autumn in Paris? Gaya bercerita Ilana Tan ini mudah sekali dicerna. Bahasanya kadang agak formal, ada yang baku tapi tidak membuat kaku. Dari novel 4 musim dan Sunshine Becomes You aku suka semuanya.


Cerpen ke-8

Hmmm, aku harus tulis apa ya? Sepertinya tak ada yang perlu aku komentari karena bagiku cerpen yang satu ini lumayan aman-aman saja. Eh, tapi aku cuma bingung dengan judulnya. Apa hubungannya cap kaki dengan hati?

Cerpen ke-9

Cerita ini yang paling membuatku emosi dan geram dengan tokoh perempuannya, Timal. Sungguh kekanakan dan egois sekali. Sungguh bodohnya dia. Yang kumaksud bodoh itu Timal ya, bukan ceritanya apalagi pengarangnya. Nanti ada yang salah kaprah pula.

Kalau dari segi ide cerita ini cukup klise dan sangat lumrah terjadi. Hanya soal perempuan yang haus akan perhatian seorang lelaki dan ingin si lelaki itu melakukan apa yang dia mau. Mungkin bagi sebagian orang yang memang benar-benar pernah mengalami situasis di cerpen ini akan terasa cukup “nonjok”. So, there’s no surprise tiap aku membalik lembarnya.


Cerpen ke-10

Apa yang kurasakan selama membaca cerpen ini adalah sepertinya ini calon ide untuk novel tapi terpaksa di-press menjadi cerpen maka rasanya agak kurang puas ketika sudah menginjak bagian ending. Banyak plot yang lompat-lompat dan terasa kosong. Sempat tersirat andai saja ini seperti Critical Eleven yang dikembangkan menjadi sebuah novel sutuhnya mungkin akan bisa menjadi salah satu pilihan bacaan yang menarik. Apalagi sebelumnya aku sudah pernah membaca karya Nina Addison yang Morning Brew dan isinya tak buruk, aku suka.

Cerpen ke-11

Tadinya aku menyangka semua cerita di kumcer ini berbasis cinta pada lawan jenis. Ternyata tidak juga. Yang satu ini malah beda. Mengangkat tema cinta pada ibu. Setelah sebelumnya dibuat luluh lantak dengan beberapa kisah kasih muda-mudi, di bagian ini aku sempat dibuat panas lalu teduh sejenak. Heran dengan karakter Mita di sini mengapa dia harus sebegitu emosinya dengan ibunya sendiri bahkan ketika sang ibu sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangannya setelah sekian lama ia tak pernah lagi menginap di rumah si ibu. Padahal dari cara interaksinya dengan sang ibu ketika Mita baru datang itu seperti tak ada masalah yang mencolok atau perang besar antara ia dan ibunya. Tapi untunglah pada bagian ending cukup bisa menyejukkan hati setelah keningku berkerut dengan kelakuan Mita di sini.


Cerpen ke-12

Setelah kemunculan cerpen dari Hetih Rusli sebelumnya, aku jadi tidak kaget lagi ketika mendapati cerpen yang bersifat sama. Sastra banget. Ketika membaca bagian “tentang penulis” ternyata Rosi L. Simamora ini juga seorang editor. Apa semua editor yang disuruh jadi pengarang “dadakan” akan menciptakan tulisan yang seperti ini ya?

Aku kira cerpen Mbak Hetih sendiri yang akan jadi paling beda dari segi gaya bahasa yang digunakan. Eh, ternyata ada temannya juga yang sama-sama “dalam”. Tapi untuk cerpen yang  ke-12 ini aku masih lebih bisa mencerna alur ceritanya daripada punya Mbak Hetih. Mungkin karena yang ini tidak sedalam cerpen ke-5 atau mungkin karena efek kantuk yang mendera waktu aku lagi baca cerpen ke-5? Entahlah.


Cerpen ke-13

Sejujurnya aku tidak mau jadi spoiler tapi aku gatal sekali ingin menjelaskannya secara rinci yang terpaksa mengungkap kebenaran yang ada di dalam cerita ini. Eh, tapi tidak sepenuhnya spoiler kok, karena tidak semua kebenaran kuungkapkan dengan gamblang di sini. Sebelumnya maaf, bagi yang belum membaca kumcer ini silakan lewati saja bagian yang ini jika dianggap akan merusak rasa penasaran kalian.

Twist di bagian ending memang cukup apik dan menjawab semua pertanyaanku, termasuk rahasia si bos baru yang ternyata ehem dan memang sudah kutebak dari awal, eh ternyata benar. Tapi dari pengemasan keseluruhan mulai dari awal hingga akhir cerita malah membuat keningku berkerut lagi.

Aku kira sosok aku ini adalah manusia, wanita, sesama pegawai di kantor itu tapi herannya mengapa tak ada seorangpun yang memanggilnya—jangankan dengan nama, dengan sebutan “hey” pun tidak ada—jika dia sedang berada dalam suatu obrolan di situ? Sempat merasa iba juga, kasihan sekali tokoh aku ini seperti tidak dianggap oleh tokoh lain. Atau jangan-jangan memang kerjanya cuma menguping pembicaraan orang?

Si aku ini kok serba tahu bagaimana keadaan dan apa yang sedang dilakukan si bos baru ketika di kantor? Padahal si bos baru ini dalam ruangannya sendiri yang tertutup dan tak ada seorangpun yang satu ruangan dengannya. Aku jadi curiga dengan sosok aku ini sebenarnya siapa. Manusia tidak akan serba tahu begini, pikirku.

Ketika ada percakapan dua orang office girl di ruangan si bos, aku mulai curiga di sini saat salah satu office girl itu ingin membuang bunga dalam vas—pemberian si sekretaris bos sejak dua hari yang lalu saat menyambut kedatangan si bos baru—yang sudah mulai layu, tiba-tiba sosok aku bergumam,

Jangan coba-coba sentuh, geramku tanpa suara. Lingga menyukainya.” (halaman 227)

Kemudian di ujung cerita terungkaplah bahwa sosok aku adalah si bunga mawar pemberian sekretaris yang terpajang dalam ruangan si bos selama 2 hari terakhir.

Sekilas memang cukup apik dengan menyamarkan aku yang sebenarnya bukanlah manusia tapi seolah menjadi hidup seperti manusia. Sangat tidak kentara pada awalnya. Tapi setelah menemui kebenaran itu, aku sedikit aneh dengan sebegitu tahunya aku dengan para tokoh lain di dalam cerita, bahkan aku tahu nama-nama mereka. Aku bisa tahu dari mana? Kurasa aku ini asalnya tadi dari toko bunga yang sama sekali tidak kenal atau bahkan tahu nama para pegawai dan office girl di kantor itu. Oh, atau mungkin si aku ini bisa membaca dan melihat name tag pada tiap pegawai, ya? Ya, bisa jadi. Eh, ada lagi yang janggal, malahan aku ini juga tahu dengan Lee Min Ho ketika salah seorang tokoh membandingkan kegantengan si bos baru dengan Lee Min Ho, bahkan aku sempat berkata,

“Yuni benar, Lingga jauh lebih menarik dibandingkan Lee Min Ho.” (halaman 223)

Oh, jadi aku sering nonton TV dan drama Korea ternyata, ya. Begitukah?

Kurasa akan lebih logic jika dalam penceritaannya tidak usah menyebutkan nama-nama tokoh yang lain. bisa gunakan sebutan lain seperti si gendut, si kacamata, si jangkung, si cantik, dan lain-lain. tapi mungkin alasan di penulis adalah supaya identitas asli si aku ini sepenuhnya tersamarkan dan meminimalisir kecurigaan pembaca sejak di awal-awal.

Eh, ada satu lagi yang mengganjal bagiku. Ada sepenggal kalimat berbunyi begini,

”Selama Yuni menerangkan dengan nada rendah, aku hanya memperhatikan tanpa suara.” (halaman 222)

Lah, sebagai makhluk dengan wujud setangkai bunga memang tidak ada dan tidak akan bisa bersuara, bukan? Iya, memang benar si aku tidak bersuara bahkan tidak bisa bersuara. Nah, yang satu ini penyamaran yang sulit dibantah.

Aku sempat mememukan masih ada typo di cetakan pertama ini.

ternyata nasibku nggak tidak sial-sial amat.” (halaman 42)

“…mabuk orang juice.” (halaman 61)

Anyway, kalau diibaratkan di goodreads, aku memberi 3 bintang yang berarti I liked it. Walaupun ada 1 cerita yang tidak bisa sepenuhnya kunikmati, tapi 12 cerpen lainnya lumayan bisa kucerna. Bacaan yang cukup menghibur untuk waktu luangmu karena menurutku menamatkan membaca satu kumcer bisa lebih cepat daripada menghabiskan satu novel walaupun memang kesan-kesan setelah membaca kumcer tidak sedalam ketika menghabiskan sebuah novel.

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

One thought on “[Review] Autumn Once More by Ilana Tan, Ika Natassa, aliaZalea, dkk.

  1. […] ini adalah sebuah lanjutan dari cerpen Stuck With You di buku kumcer Autumn Once More, saya harus kembali membuka buku itu agar lebih ingat bagaimana cerita awal pertemuan antara Ares […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s