[Review] Warna Hati by Sienta Sasika Novel

image

Judul: Warna Hati
Penulis: Sienta Sasika Novel
Penerbit: Grasindo
Editor: Anin Patrajuangga
Desain cover & ilustrasi: Lisa Fajar Riana
Penata isi: Lisa Fajar Riana
Tebal: 203 Halaman
ISBN: 9786022514350
Terbitan: Jakarta, 2014 (cetakan pertama)
Genre: Roman, Chicklit

BLURB

Setiap cinta akan menggoreskan warna sendiri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat kita memilih satu di antara dua hati. Mereka memiliki ruangnya sendiri, memiliki waktunya sendiri, dan memiliki lintasannya sendiri.

Kita pun tidak akan mampu memilah cinta mana yang akan mengembuskan rona-rona kebahagiaan atau justru luka-luka yang akan tergores. Ya, cinta terkadang seperti kembang gula terasa manis, tapi cinta juga terkadang terasa getir.

Dan saat dihadapkan dengan luka, akankah cinta tetap bertahan di tempatnya? Atau berlari menyusuri masa lalu dan kembali pada hati yang dulu tidak ia pilih?

Namun, cinta bukan melulu tentang perasaan yang meluap-luap, cinta juga bicara tentang keyakinan akan benang merah yang telah mengikat.

REVIEW

“Setiap hati memiliki cerita… Dan setiap cerita memiliki warnanya sendiri.”

Oleh Mbak Sienta, membaca kisah di novel ini seolah aku ini benar-benar menjadi penonton sebuah drama yang begitu mengalir. Ada Tavita sebagai bintang utama yang memiliki dua hati dan dua warna sendiri. Petikan di atas itu benar, setiap hati memiliki warna dan ceritanya sendiri. Begitu pula di buku ini, ada dua hati dari Tavita dan dua cerita tentang Tavita.

Sebelumnya, mari kenalan dengan sosok Tavita ini siapa sih? Tavita Kirana atau biasa disapa Tata adalah wanita yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana namun ia anak yang pintar dan berpendidikan. Tata lulusan S2 berkat beasiswa yang ia terima dan kini bekerja sebagai dosen. Ia hobby membaca novel terutama karya-karya Mira W dan memiliki hasrat menjadi seorang penulis namun tak kesampaian karena pekerjaannya yang begitu padat.

Tata memiliki seorang adik bernama Renata yang masih kuliah. Tata menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya yang bekerja sebagai supir mendadak kena stroke dan tidak bisa kerja lagi. Semua pemenuhan kebutuhan keluarga serta adiknya itu Tata yang menanggung, juga keinginan ibunya yang ingin punya barang ini itu.

Dua hati, dua cerita, dua warna. Ya, itu artinya di novel ini ada dua cerita yang disimbolkan dengan dua warna berbeda, yaitu jingga dan biru.

Isi novel ini dimulai dari pertemuan Tata dengan teman baiknya, Innes, di sebuah kafe. Innes membawa surprise dengan memberikan undangan pernikahannya kepada Tata. Innes yang sebentar lagi akan berbahagia sementara Tata masih galau dengan pilihan calon pendamping hidupnya. Siapa lelaki yang akan ia pilih? Lando si musisi atau atau Razka si lulusan luar negeri? Pada saat itu, Tata benar-benar membutuhkan time capsule atau mesin waktu atau pintu ke mana saja milik Doraemon untuk mengintip masa depannya akan dengan siapa dan seperti apa.

JINGGA

“ Karena jingga selalu menyisakan rindu yang dinanti di setiap senja.”

Memasuki chapter ini, kita seperti masuk ke dalam mesin waktu. Tahu-tahu kita sudah sampai pada scene di mana Tata telah resmi menjadi istri Lando dan mengintip kehidupan rumah tangga mereka. Tata dan Lando hidup sederhana, mereka tinggal di sebuah rumah tipe 36 dan masih nyicil. Tata masih dengan job-nya sebagai dosen sedangkan Lando yang mempunyai suara emas itu kerja manggung dari satu kafe ke kafe lainnya.

“Mas enggak seperti Razka. Razka mungkin akan bisa penuhi kebutuhan material kamu, bahkan lebih dari itu, tapi Mas enggak bisa berjanji banyak sama kamu, tapi Mas akan jadi laki-laki paling setia untukmu.” (halaman 25)

Konflik utama dalam chapter ini adalah seorang Lando yang penghasilannya pas-pasan, bahkan ibu Tata tidak menyetujui keputusan Tata untuk menikah dengan Lando karena Lando dinilainya sebagai orang miskin yang cuma punya job manggung dengan penghasilan tak tentu.

“Nak, coba kamu pikirkan lagi toh, masa kamu mau nikah sama musisi miskin kayak gini, mau makan apa kamu nanti, Nak?” (halaman 26)

“Nak, cinta itu hanya sesaat, lihat ibu ini, menyesal, dulu nikah sama bapakmu karena cinta, sekarang lihat ibu, enggak pernah beli baju bagus, enggak pernah beli perhiasan, enngak pernah dibeliin mobil, hidup gini-gini aja jadi ibu rumah tangga.” (halaman 26)

“…ibu enggak mau kamu menderita nanti, apa kata orang kalau kamu nikah sama orang yang pendidikannya jauh di bawah kamu, kamu ini S2 lulusan luar negeri, masa nikah sama yang begitu!” (halaman 26-27)

Namun Tata tetap pada pendiriannya, memilih Lando sebagai suami karena ia mencintainya. Tekanan yang harus Tata terima bukan dari sikap dingin ibunya kepada Lando, ia juga harus menerima hinaan secara halus dari sepupunya sendiri, Alma, yang tidak pernah suka dengannya karena sang nenek sering membanding-bandingkan mereka berdua. Pada suatu kesempatan, Alma malah mempermalukan Tata di depan teman-teman Alma, membandingkan kehidupan “irit” Tata dan Lando dengan kehidupan mewahnya dengan si suami yang kaya raya.

“…kalau aku ikut gimana dong rumahku yang baru bangun di Batu nunggal, entar enggak ada yang ngurus, rumah mewah kayak gitu kalau enggak ada yang ngurus entar banyak maling,” (halaman 30)

“Iya, aku pengin cepet hamil, pengin punya baby, pengin punya keturunan yang banyak biar usaha suamiku ada yang nerusin, kan sayang kalau enggak ada keturunan, usahanya banyak banget, ampe pusing aku juga denger ceritanya.” (halaman 30)

“Iya, Lombok juga oke sih, tapi masih Indonesia, males deh. Pengin juga sih ke Thailand atau Jepang atau Korea, kayaknya keren ya Ta?” (halaman 31)

Kebutuhan rumah tangga dan tanggungan keluarga Tata yang harus dipenuhi membuat Tata kalang kabut mencari penghasilan tambahan. Hal ini justru menjadi pemicu keretakan rumah tangga Tata dan Lando. Lando tidak pernah memprotes atau marah atau bahkan dendam ketika orang menghinanya, tetapi Lando akhirnya naik pitam juga ketika Tata menuntut Lando untuk mencari kerjaan tambahan untuk menutupi kebutuhan sana-sini.

Sampai suatu ketika Tata tak sengaja bertemu dengan Razka lagi setelah sebelumnya ia tak pernah melihat lelaki itu sejak ia memilih menikah dengan Lando. Ternyata pertemuan ini membawa bencana bagi mereka semua apalagi dengan kondisi antara Tata dan Lando yang sedang tidak baik.

BIRU

“Karena langit tidak akan pernah kehilangan biru jika matahari masih menyinari dunia.”

Ha! Tadinya kukira aku masih akan terus menikmati kelanjutan dari biduk rumah tangga Tata dan Lando, namun ternyata kali ini sang sutradara mengubah peran Tavita. Jika tadinya Tata sebagai istri Lando, di sini Tata malah menjadi istri Razka. Kehidupan Tata di chapter ini tentu saja begitu kontras dengan chapter sebelumnya. Kehidupan Tata serba tercukupi, punya mobil yang bagus nan mahal, rumah mewah, tak ada lagi istilah kalang kabut untuk mengirimi uang kepada adik dan ibunya. Apakah ini artinya keinginan Tata sebelumnya terkabul? Apakah ia benar-benar telah melewati mesin waktu?

Masih ingat dengan bencana yang kusebut sebelumnya? Ya, dari situlah awal mula kisah di chapter ini. Namun sosok Lando tidak menghilang begitu saja. Lando masih terlibat dalam cerita ini, tepatnya istrinya lah yang terkena bencana sehingga mempertemukan kembali ia dan Tata. Sesuatu terjadi pada Razka dan juga istri Lando, Naura. Apa yang terjadi? Ah, baiklah, aku kasih bocoran sedikit karena di akhir nanti ini akan kubahas juga. Razka dan Naura sedang semobil dan mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol.

Berbagai potongan kejadian sebelum terjadi bencana itu hingga setelah bencana yang ia dengar dari berbagai sumber justru sedikit demi sedikit membuka tabir misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik bencana itu. Di tambah lagi pernyataan Lando ketika ia sengaja menemuinya di kafe tempat Lando biasa manggung untuk lebih banyak mengetahui informasi tentang Naura, mengapa Naura bisa bersama dengan suaminya di insiden itu?

***

Jujur saja aku lebih suka cerita di chapter Biru daripada Jingga karena Biru lebih memberi banyak kejutan dibanding Jingga dengan konflik utamanya yang mbulet begitu saja, tentang kesulitan ekonomi dan penghasilan Lando yang pas-pasan. Oleh karena itu aku tidak bisa menuliskan banyak review tentang chapter Biru karena nanti malah bisa jadi spoiler. Tapi tentu saja masih ada beberapa hal yang ingin aku bahas dan koreksi dari novel ini.

Pertama, tentang ucapan yang Alma katakan tentang Tata dan Lando di depan teman-temannya sehingga membuat Tata begitu malu dan terhina. Meski sebelumnya sudah disuguhkan beberapa percakapan yang sudah cukup menggambarkan Alma itu bagaimana, tetapi aku sendiri masih penasaran sepedas apakah kicauan Alma hingga membuat Tata sampai banting-banting gelas di rumahnya?

Kedua, yang ini juga bukan tentang Tata dan Lando, melainkan tentang bancana yang terjadi yang melibatkan Tata dan Razka, tidak dijelaskan detilnya bagaimana itu terjadi dan juga penyelesaiannya antara Tata, Lando, dan Razka. Mencapai akhir chapter malah langsung jeng jeng jeng, happy ending begitu saja dan sosok Razka langsung terlupakan.

Ketiga, saat Tata dan Lando diintrogasi di kantor polisi mengenai kecelakaan tersebut, si polisi mengatakan,

“Kami masih belum tahu siapa yang mengemudi,” (halaman 125)

Menurutku ini janggal. Bagaimana mungkin polisi tidak tahu siapa yang mengemudi? Logikanya mobil Toyota Rush itu kan pasti punya sabuk pengaman, kalaupun mobilnya terhempas tentunya posisi korban tetap pada kursinya masing-masing dan orang yang menolong korban ketika korban diangkut dari mobil itu pasti akan menginformasikan kepada polisi siapa yang di kursi pengemudi dan siapa yang jadi penumpang. Kalaupun ingin dibuat memang tidak diketahui siapa yang mengemudi, tidak dijelaskan pula kalau para korban ini malah terhempas hingga keluar dari mobil saat kecelakaan terjadi.

Keempat, saat Razka akhirnya bangun dari koma panjang pasca kecelakaan hebat itu kurasa terlalu cepat bagi Razka yang harusnya masih linglung dengan keadaan sebenarnya dan “lelah” setelah lama koma justru langsung menanyakan hal “berat” kepada Tata, tentang misteri di balik kecelakaan itu dan semua kebenarannya. Tata pun langsung menceritakan semuanya. Apa itu tidak terlalu beresiko bagi orang yang baru bangun dari koma? Kan takutnya akan berpengaruh lagi terhadap kesehatannya.

Anyway, seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, aku lebih menyukai chapter biru karena selain lebih banyak memberi kejutan, di bagian ini juga yang lebih membuat hatiku bagai diremas-remas dan ditusuk duri. *halah*

Di bagian ini justru membuatku tambah mengagumi sosok Lando yang sangat tenang, tidak pendendam, dan begitu pemaaf meski omongan dan kenyataan yang ia harus terima itu sungguh menyakitkan. Dari Jingga hingga ke Biru, Lando ini tetap menjadi tokoh favoritku, hehe.

Beberapa kutipan berikut ini adalah ucapan Lando yang berhasil menghancurleburkan hatiku. *eeaaa lebay lagi*

”Ia bahkan tidak mengucapakan maaf padaku,” (halaman 192)

 “Aku ingin dia membuka mata dan memberi aku penjelasan atas apa yang telah ia lakukan.” (halaman 192)

“—setidaknya, katakan maaf untukku, meski kamu telah menyakitiku, tapi sebenarnya kamu tetap ada di hatiku, aku sudah memaafkanmu Ra,” (halaman 193)

“Kau tahu, mungkin keikhlasan adalah jalan terbaik dibandingkan kehilangan.” (halaman 194)

Menyimak dua kisah dari Tata ini seperti memberi amanat secara tak langsung kepada pembacanya. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Hidup ini memang pilihan, tinggal pintar-pintarnya kita memilih yang mana sebagai jalan terbaik untuk kita sendiri. Manusia yang punya mau, tapi Tuhan yang punya bisa. Jangan berharap bahwa di kehidupan yang serba berkecukupan itu kau tidak akan menemui kesulitan apa-apa. Ya, mungkin tidak pada urusan materi tetapi mungkin akan ada banyak masalah lain yang mendera. Sebaliknya, meski dalam hidup kesusahan secara materi tetapi sesungguhnya rezeki itu tidak hanya urusan materi. Akan ada kebahagiaan lain yang menghampiri sebagai rezeki dari Tuhan dalam bentuk lain. Intinya, setiap pilihan itu akan ada resikonya masing-masing.

Oh ya, ini juga masih ada beberapa typo yang aku temukan.

“luluh lantah” – halaman 4
Yang baku adalah “luluh lantak”.

“asik” – halaman 22
Yang baku adalah “asyik”.

“memahai” – halaman 46
Harusnya tertulis “memahami”.

“BIP” – halaman 60
Tidak usah kapital semua. Bisa juga ditulis “beep” untuk menjelaskan bunyi alarm mobil tersebut.

mengklik” – halaman 67
Tidak usah dimiringkan.

“…mengembuskannya keras mungkin.” – halaman 74
Seharusnya ditulis “sekeras”.

“Makasih Mbak.” – halaman 85
Seharunya diberi tanda koma setelah kata “Makasih” karena “Mbak” adalah kata sapaan.

“Kau tahu, “Mungkin keikhlasan adalah…” – halaman 194)
Seharusnya tidak ada tanda petik dua sebelum kata “Mungkin” dan M-nya tidak kapital.

“orang tuanya” – halaman 197
Jika ini merujuk pada bapak dan ibu kandung, maka yang baku harus ditulis sambung menjadi “orangtua”. Kalau ditulis “orang tua” ini berarti orang yang sudah tua.

“Tidak! Istrinya tidak boleh mengetahuinya. Ia tidak ingin istrinya melihat video itu, lagian saat ia sedang mabuk.” – halaman 199
Seharusnya ditulis “lagian saat itu ia sedang mabuk.” supaya kalimatnya tidak rancu.

Oke, sekian dulu review dari saya. Semoga ini dapat membantu author dan penerbit dalam pengoreksian dan semoga tulisan saya di sini juga enggak spoiler amat ya, hehehe. Untuk Mbak Sienta, ditunggu lagi karya-karya selanjutnya. Sukses terus untuk Mbak Sienta dan Penerbit Grasindo.

OVERALL RATING

★★★☆☆


P.S.: terima kasih untuk penerbit Grasindo dan Mbak SIenta yang sudah mengadakan giveaway #KuisWarnaHati dan mempercayakan hadiahnya jatuh ke tanganku sehingga aku berkesempatan membaca novel ini dan sangat menikmatinya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s