[Review] Learning to Love by Eni Martini

image

Judul: Learning to Love
Penulis: Eni Martini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penyunting: Ruth Priscilia Angelina
Jumlah Halaman: 184 Halaman
Terbitan: Jakarta, 2014
Cetakan: Pertama (Oktober, 2014)
ISBN: 978-602-03-0988-0
Genre: Chick Lit, Romance, Adult

Tersedia di toko buku online Bukupedia

BLURB

Dijodohkan?

Kalau pria itu tampan, berpendidikan, karier mapan, dan berasal dari keluarga baik-baik, kenapa tidak?

Saat jam biologis terus berdetak dan ia tak kunjung memiliki hubungan yang langgeng dengan laki-laki, Eliz memutuskan menerima rencana mamanya untuk dikenalkan dengan Ken. Eliz nyaris tidak percaya saat proses perjodohan tersebut begitu lancar. Tak banyak basabasi. Tak ada pertentangan. Dalam waktu singkat mereka sudah sah menjadi suami istri dan saling beradaptasi.

Namun, diam-diam Eliz bertanya-tanya dalam hati, mengapa pria yang nyaris sempurna seperti Ken bersedia menikahinya? Sikap Ken yang cuek dan dingin pun membuat Eliz curiga, jangan-jangan Ken tidak tertarik pada wanita…

Ketika satu demi satu konflik menghantam rumah tangga mereka, akankah Eliz mundur dan menyudahi semua atau membuka hati dan belajar mencintai suaminya?

REVIEW

Pernah terbayang tidak dihidupmu bahwa kau akan mendapatkan suami dari proses perjodohan? Atau bahkan pernah tidak terlintas di benakmu kau akan melewati proses perkenalan yang begitu singkat hingga akhirnya setuju memutuskan untuk segera ke pelaminan? Mungkin bagi kalian itu sungguh tabu untuk di jaman sekarang bak Siti Nurbaya yang dijajalkan pada Datuh Maringgih.

Itulah yang dialami Eliz, seorang perempuan berusia 33 tahun—yang bisa dibilang sudah melewati golden age untuk merasakan jadi pengantin baru—dengan pekerjaan yang cukup mapan, pecinta latte, wajah yang cukup rupawan, namun tidak pernah langgeng jika sedang in relationship dengan pria.

“Setiap orang memiliki masa itu, Liz. Masa datangnya jodoh bagi si single. Masa yang sesungguhnya sulit untuk terulang lagi, kecuali keajaiban dari Tuhan.” (halaman 11)

“Seorang gadis akan memiliki masa-masa ranum, masa-masa kumbang akan datang dengan bau madunya, itu mungkin sekitar usia 25 sampai 30 tahun. Rentang waktu yang dapat dikatakan tidak lama. Tapi syukur-syukur akan sampai usia 33 tahun. Nah, jika masa-masa ranum itu kamu biarkan berlalu tanpa memilih satu pun pilihan untuk mendampingihidupmu, maka kamu akan kesulitan mendapatkan jodoh. Bahkan akan terlena di usiamu selanjutnya. Terlena dalam penantian yang tidak pasti. Lalu tahu-tahu kamu akan keriput tanpa pernah merasakan jadi seorang pengantin.” (halaman 11-12)

Hal ini membuat ibu Eliz jadi gemas sehingga berniat mengenalkan dan menjodohkan Eliz dengan anak sahabatnya agar bisa cepat menikah dan memberinya cucu. Tersebutlah seorang lelaki bernama Ken, lajang berusia 34 tahun, karir yang tidak kalah maju, sedang menyelesaikan S-2, serta tampang yang lumayan bikin meleleh. Awalnya Eliz meragukan rencana ibunya ini, namun mbaknya sendiri pun mendukung supaya Eliz mau dijodohkan, apalagi sosok si Ken itu tidak perlu diragukan lagi latar belakangnya dan seorang Eliz pun sudah sangat pantas untuk menikah dengan Ken.

Kalau secara matematika, karier bagus ditambah rupa bagus, hasilnya sempurna. Tapi dalam kehidupan, hasilnya bisa lebih besar, lebih kecil, atau bahkan sama dengan. Ajaibnya lagi, mudah dicintai, gonta-ganti pacar semudah menghitung jari, bisa menghasilkan kemungkinan sulit mendapatkan jodoh. Rumus kehidupan bisa membolak-balikan hasil pasti dari ilmu matematika.” (halaman 17)

Aku sadar perempuan memiliki masa expired di rahimnya. Siapa sih yang nggak mau mendapatkan jodoh di usianya yang sudah lebih dari cukup?” (halaman 43)

Di sisi lain, sikap Ken dalam menanggapi pertemuan perjodohan itu malah santai-santai saja. Dia setuju-setuju saja dengan rencana ibunya. Tidak mau ambil pusing lagi dan mungkin inilah jalan terbaik baginya untuk mendapatkan jodoh.

Tapi pekerjaanku saja sudah menguras energi, mana sempat lagi naksir-naksir cewek. Capek juga gonta-ganti pacar terus. Aku mau cari yang serius-serius saja.” (halaman 25)

Di buku ini hanya dijelaskan ada 2 pertemuan saja yang dilakoni Ken dan Eliz. Kemudian di BAB 8 ternyata langsung memasuki fase di mana mereka telah melewati proses pernikahan. Awalnya agak kaget karena terasa cepat sekali, tahu-tahu sudah menikah, tapi kupikir ya tidak apa-apalah karena saya sudah terlanjur penasaran dengan kehidupan perjalanan rumah tangga mereka selanjutnya seperti apa. Di sinopsis kan sudah disebutkan “ketika satu demi satu konflik menghantam…” wow, ekspektasiku bakal banyak nih konfliknya.

Ya, aku tinggal di rumah kos, tapi sangat kecil untuk… kita tempati berdua. Tempat kosku lumayan besar. Sementara bisa buat kita berdua sambil mencari rumah yang cocok.” (halaman 71)

By the way, soal Ken yang selama ini tinggal di kos dan akan memboyong Eliz ke tempat kosnya yang katanya lumayan besar itu out of the box bener deh menurutku. Unik aja kalo pengantin baru stay-nya di kos. Bener-bener nggak terpikir kalo seorang lelaki mapan seperti Ken itu ternyata tinggal di sebuah kos. Kirain di apartment atau sudah punya rumah sendiri. Tapi tetep terasa agak janggal gitu kalo pengantin baru tinggal di kos. Mau sebesar apapun kos itu, yang namanya kos ya tetep kos, kurang terasa privasinya. Tidak pula dijelaskan apa alasan Ken tinggal di kos ketimbang memilih rumah atau apartemen. Jika menurut nalarku, lelaki seperti Ken harusnya mampu membeli rumah atau apartment.

Selama saya membaca buku ini, terasa sekali suasana kekeluargaannya, di mana orangtua Ken dan Eliz serta  mbaknya Eliz dan adiknya Ken pada merestui pernikahan Ken dan Eliz. Mereka juga sangat peduli terhadap menantu dan ipar masing-masing, terutama kepada Eliz. Seperti di halaman 118-123, ibu Ken menghabiskan waktu bersama Eliz untuk berbelanja dan masak-masak. Bagi pembaca sekalian yang notabenenya wanita belum menikah, bisa juga nih memetik beberapa petuah dari buku ini tentang menjadi istri yang baik dan tips memasak yang benar.

Kita sebagai istri dan ibu bertanggung jawab terhadap kesehatan suami dan anak-anak kita. Dan kesehatan itu berawal dari apa yang kita makan. Kalau kamu nggak merasa memiliki kewajiban untuk masak, kasihan suami dan anak-anakmu kelak.” (halaman 119)

Saya pun berhasil menemukan satu tips menarik—entah ini memang saya yang belum tahu karena kuper atau mungkin kalian juga pada belum tahu—tentang menghangatkan makanan yang bersantan.

Kalau harus dihangatkan begitu, sayur santan kan juga berbahaya, Ma. Sebab santan akan mengandung aseton atau radikal bebas kalau dipanaskan berulang-ulang.” (halaman 119)

Hmm… to be honest, saya baru nemuin konflik yang nendangnya itu waktu sudah mau mencapai halaman-halaman akhir, itupun nggak terlalu nendang sih sebenarnya, hehehe. Dari awal, tengah, hingga ke akhir saya terus menunggu apa saja konflik yang mendera. Tadinya saya kira ada banyak, tapi ternyata konflik utamanya hanya satu. Hanya karena Eliz bertemu dengan masa lalunya Ken yaitu Kania, lalu ia mendengar apa yang diucapkan Ken yang sesungguhnya bagiku itu bukanlah sesuatu yang offensive jika sendirinya dalam situasi menjalani sebuah pernikahan hasil perjodohan. Masa iya sih cuma gara-gara itu jadi langsung bikin keputusan mendadak? Tanpa kompromi pula. Karena yang saya tahu kalo dalam pernikahan itu segala sesuatunya harus saling terbuka dan kompromi dulu, ada konfirmasi dari kedua belah pihak. Lagipula menurutku wajar-wajar saja jika Ken memberi pernyataan seperti itu ketika ditanya oleh Kania, atau mungkin Ken yang kelewat polos kali ya sampe hal begitu aja dia jawab dengan jujur. Saya pernah baca sebuah tweet yang isinya, “Cewek itu belum apa-apa udah main perasaan, ngarep kan jadinya? Sedangkan cowok itu lebih mengandalkan logika dan penuh pertimbangan, makanya butuh waktu bagi cowok untuk menyukai seseorang.”

Bukannya dalam berumah tangga itu seperti menanam bibit dari pohon yang kita cintai, yang kita inginkan untuk tumbuh, berbunga, dan berbuah? Jadi, kupikir menikah atau berumah tangga itu proses seumur hidup untuk terus mencintai.” (halaman 150)

Rada syebel kenapa si Kania, mantan Ken, nggak muncul dari sebelum-sebelumnya aja, Mbak? :”( Kalau saja dengan alasan adanya Kania lalu Eliz cemburu, kurasa itu akan jadi lebih menarik. Sudah kebayang nih di kepala saya apa yang akan mencairkan kekakuan antara Ken dan Eliz. Apalagi Ken dan Kania ini skinship-nya minim sekali, padahal kan suami istri. Saya jadi gemeees bangeeet mengimajinasikannya, hihi. Misal dengan sikap cemburunya Eliz maka itu akan membuka mata Ken bahwa Eliz memang sudah jatuh cinta padanya kemudian dengan cara apalah Ken meredakan api cemburunya Eliz itu. Kemudian disusul dengan kondisi kandungan Eliz itu bisa jadi konflik baru lagi, misalnya karena Eliz tidak memberitahu kondisinya ke dia dan pihak keluarga sehingga Ken marah, dan sebagainya.

Sesuatu yang tidak cocok bukan dipaksakan untuk menjadi cocok, tapi dipahami agar saling mengisi.” (halaman 13)

Anyway, nggak bisa nyalahin juga sih dengan alasannya Eliz di konflik terakhir itu. Sebagai sesama wanita, saya masih bisa mengerti mengapa Eliz beralasan seperti itu.

Tapi apa enaknya hidup bersama laki-laki yang tidak mencintai kita? Yang mencintai karena terpaksa dan rasa tanggung jawab, dibentuk karena faktor pernikahan, karena faktor berbakti kepada orangtua.” (halaman 170)

Tapi pernyataan dari Kania juga nggak kalah namparnya nih. :”)

Cinta yang datang begitu saja, yang terbentuk tanpa kesadaran, akan mudah pergi juga tanpa kita sadari. Akan mudah sirna bila tidak ada intensitas. Sementara cinta yang dibentuk dengan kesadaran, akan mudah kita pahami, kita arahkan, dan kita jaga.” (halaman 170)

Jadi kesimpulannya itu… hmmm masih kurang ramai, tapi pada titik tertentu bagian itu terasa pas dan benar sekali adanya. Kalau saja konflik besarnya bisa ada di mana-mana itu bisa jadi lebih nendang lagi. But over all, konsep ceritanya bagus kok, Mbak. Seolah menunjukkan kalau suatu perjodohan itu tidak selamanya buruk karena yang saya perhatikan belakangan ini orang-orang kayak pada anti gitu kalau dijodohkan. Ada hikmahnya juga baca novel ini, misalnya menanam cinta setelah menikah itu bukanlah sesuatu yang tabu lagi di masa sekarang, tanpa harus melewati masa pacaran pun bisa kok dapat jodoh dan bahagia di rumah tangganya, atau dengan kata lain proses perjodohan Ken dan Eliz ini kamuflasenya dari ta’aruf. Banyak yang bilang kalau belajar mencintai dan belajar lebih memahami pasangan setelah menikah itu malah lebih indah dan seru. Pernyataan Kania di situ juga benar-benar menginspirasi saya. Buat yang masih single, setelah membaca buku ini sekiranya sedikit/banyak bisa belajar menghadapi sebuah pernikahan dan rumah tangga nantinya, atau siapa tahu ada yang dapet jodoh dari hasil perjodohan juga kan. Saya beri 3/5 bintang untuk novel ini. :“)

Masih ditemukan beberapa salah pengetikan.

“Mocassin” halaman 38
Di buku tidak miring, harusnya dimiringkan karena kata Mocassin yang lainnya miring.

“per-temuan” halaman 42
Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah.

“melun-cur” halaman 44
Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah.

“Mocassin-nya” halaman 52
Di buku tidak miring, harusnya dimiringkan karena kata Mocassin yang lainnya miring.

“Say hi” halaman 63
Di buku tidak miring, harusnya ditulis miring karena merupakan bahasa asing.

“me-narik” halaman 138
Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah.

“me-nyiapkan” halaman 150
Ada tanda strip padahal kata tersebut tidak terpotong ke bawah.

OVERALL RATING

★★★☆☆


NB: Terima kasih untuk Mbak Eni selaku penulis dan Mbak Vera selaku editor karena sudah memilih saya menjadi pemenang di giveaway buku Amore GPU sehingga saya diberi kesempatan untuk meresensi buku ini. Maaf beribu maaf ya buat Mbak Eni dan Mbak Vera kalau saya posting review-nya udah kelamaan sejak sampainya novel ini di rumah. Karena ada satu kendala dan lain hal, nulisnya jadi tertunda, padahal nyelesaiin baca novelnya sudah dari hari-hari sebelumnya. Sekali lagi maaf ya Mbak sekalian. :”(  Alhamdulillah sekarang hutang saya sudah bisa terlunaskan dan mohon maaf juga kalau review saya masih kurang memuaskan. :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s