[Review] Violetta by Rosgadini

violetta

Judul: Violetta
Penulis: Rosgadini
Penerbit: PING!!!
Penyunting: Vita Brevis
Proofreader: Ambra, Rosgadini, RN
Perancang Sampul: Aan_Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Jumlah Halaman: 224 Halaman
Cetakan: Pertama (2014)
ISBN: 978-602-255-687-9
Genre: Young Adult, Roman

BLURB

“Bia! Bia juga jangan lupa, ya, kalo Bia besar nanti, harus punya toko es krim sendiri. Jadi, Vio bisa makan semua es krimnya. Janji?”

Bia. Laki-laki yang tak suka makan es krim ini mendirikan First Scoop, demi memenuhi janji masa kecilnya pada sang cinta pertama, Vio.
Bia yang tak bisa lepas dari sosok cinta pertamanya seakan menemukan sosok Vio dalam diri Etta.
Namun Etta tak mau hidup dalam bayang-bayang Vio.

Pilihan. Di dalam hidup setiap manusia pasti akan dihadapkan pada pilihan, termasuk untuk terus mencintai atau justru melupakannya….

REVIEW

“Aku nggak mau menjadi pengganti Vio, Bi. Aku nggak bisa. Maaf.”
(halaman 149)

Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Etta kepada Bia ketika Bia mengungkapkan bahwa dirinya seperti menemukan sosok Vio dalam diri Etta dan Bia mencintainya.

Novel ini bercerita tentang persahabatan antara Bia dan Vio waktu mereka masih kecil sekitar umur 11 tahun. Bia dan Vio tinggal dalam satu komplek dan rumah mereka tidak berjauhan. Mereka sering main sepeda bersama dan tentunya Vio itu penggila es krim. Dia tidak peduli cuaca sedang terik atau hujan, dia tetap suka makan es krim.

Namun, pada suatu hari ada kejadian tragis yang menimpa keluarga Vio. Ketika ia sekeluarga mau pindahan, mobil mereka mengalami kecelakaan dan diberitakan ada 3 orang tewas dalam kecelakaan itu. Semua berasumsi bahwa Vio juga sudah meninggal bersama ayah dan ibunya. Bia sangat terpuruk karena kehilangan teman tersayangnya itu.

Ketika dewasa, Bia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai kantoran yang bisa dikatakan itu cukup menjanjikan bagi masa depannya demi berwirausaha membangun toko es krim sekaligus untuk memenuhi janjinya pada Vio dulu. Dengan bantuan sepupunya, Addin, ia merintis toko es krim First Scoop. Atas rekomendasi Addin, Bia mau menerima pegawai baru untuk membantu pekerjaan mereka di toko. Addin mengusulkan temannya sendiri, Etta, untuk mau bekerja di sana karena Etta memang sedang mencari pekerjaan. Makin lama Bia jadi menaruh hati pada Etta karena ia merasa ada banyak sekali kemiripan antara Etta dan Vio.

“Mengubah perasaan orang dan memaksanya untuk mencintai kita itu nggak akan mudah. Walaupun kita sudah berlutut memohonnya.” (halaman 104)

Tapi kebimbangan Bia tidak hanya di situ. Dia juga harus diuji lagi dengan kedatangan Maira, mantan kekasihnya yang dulu pernah berselingkuh dengan Addin, yang berniat ingin balikan lagi dengan Bia dan ingin bekerja di toko tersebut. Di satu sisi, Bia sudah tidak menyukai Maira lagi, dan di sisi lain Bia merasa bersalah dengan keadaan ini karena ia tahu bahwa Addin masih menyukai Maira tapi Maira tidak memedulikan Addin.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari jatuh cinta? Saat kita melihat orang yang kita cintai, mencintai orang lain.” (halaman 109)

“Jatuh cinta itu seperti es krim ajaiib yang akan memberikan kamu rasa berbeda di setiap jilatannya. Kadang kamu akan mendapatkan rasa yang
manis. Itu akan terjadi jika orang yang kamu cintai itu menerima
cintamu. Bisa juga kamu akan merasakan rasa yang pahit. Itu akan terjadi
kalau cintamu ditolak, atau orang yang kamu cintai sudah mencintai
orang lain seperti yang aku rasakan sekarang.”
(halaman 116)

Singkat cerita, akhirnya terungkaplah kebenaran bahwa Etta itu adalah Vio. Ternyata Vio yang tiga belas tahun lalu mengalami kecelakaan mobil itu belumlah meninggal. Hanya ia yang selamat dalam tragedi maut itu. Tantenyalah yang akhirnya mengurus dan membesarkan Vio. Namun, sejak kecelakaan itu Vio sering bermimpi buruk tentang ayah dan ibunya. Vio juga kehilangan sifat cerianya, sehingga ia memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Etta karena ia ingin melupakan semua kenangan buruk di masa lalu.

Hmm, kalau diibaratkan pakai rating, aku memberi 3 dari 5 bintang. Bagiku konfliknya kurang gereget. Di mana konflik utamanya? Di mana hal yang bisa membuatku sampai mengerutkan dahi atau gigit bibir atau jambak rambut atau tinju-tinju bantal? Aku jadi berpikir, untuk apa Maira dihadirkan di cerita ini jika hanya untuk mengungkit masa lalu atau pelengkap supaya Addin juga punya pasangan? Peran Maira cuma sebatas datang kembali menemui Bia dan memintanya supaya mau balikan. Setelah itu lama kelamaan misi utamanya menguap begitu saja. Menurutku, harusnya Maira bisa berbuat hal yang lebih intens lagi demi mendapatkan Bia, seperti ada ambisi besar yang terpendam dalam dirinya. Awalnya saya ingin Maira hadir sebagai tokoh antagonis dan jadi pemicu adanya konflik utama di cerita ini. Misalnya saja Maira melakukan segala cara supaya Bia jauh-jauh dari Etta karena dia sudah mencium gelagat kalau Bia naksir Etta, atau dia melakukan sabotase terhadap Etta agar dibenci oleh Bia dan Addin lalu dipecat, blablabla. Kupikir itu akan lebih seru. Tapi makin ke balakang halaman, di sisi lain saya salut dengan karakter Maira. Lama-lama saya bisa belajar dari sikapnya yang mempu berbesar hati menerima penolakan dari Bia karena Bia sedang menyukai orang lain meski Maira masih sangat mencintai Bia. Walau begitu, bagiku itu masih belum nendang karena peranan Maira tidak begitu berarti di cerita ini.

Oh ya, karakter Maira kurang dideskripsikan secara detil di awal. Saya tidak begitu mengenal sosok Maira dari awal hingga tengah. Di awal itu yang dijelaskan adalah Maira itu cewek yang cantik, modis, dan suka sekali belanja. Tidak disebutkan kalau Maira juga pandai masak. Maka dari itu, pas di tengah saya agak kaget ternyata dia bisa bikin dessert dan masak makanan yang enak.

Dari segi penuturan cerita, ini mengalir dengan baik, semacam berada pada zona aman atau dari konfliknya seperti ‘bermain aman’ saja. Cukup membuat pembaca jadi percaya betul kalau Etta itu bukanlah Vio meski di beberapa diksi seperti mengarahkan pembaca untuk berpikir ke situ.

Dengan selingan beberapa jenis makanan dan resep es krim yang aduhai banget kalau dibayangkan, otomatis membuatku jadi langsung meneguk air ludah. Sesuai sama cover-nya, cerita ini memang bertabur rasa manis. Bikin ngiler banget sih. Bahaya nih kalau yang baca lagi puasa, bisa-bisa jadi batal deh. Hahaha!

Ada beberapa penulisan yang menurutku masih perlu diperbaiki, yakni sebagai berikut:

“celana jin” (halaman 4)
baiknya kata ‘jin’ itu diganti dengan ‘jeans’ saja dan hurufnya dimiringkan.

“interviu” (halaman 48)
baiknya ditulis ‘interview’ dan hurufnya dimiringkan.

Pada halaman 151, di paragraf kedua baris pertama, tulisannya terlalu rapat seperti tidak pakai spasi sehingga tidak enak dibaca.
“Setelahmenghembuskannapaspelanuntukmenenangkan…”

Pada halaman 185-186, ada perkataan Etta yang sebenarnya hanya diucapkannya dalam hati tapi tertulis tidak dimiringkan dan ada tanda kutip dua seolah itu dikatakan langsung kepada lawan bicara sehingga rada membuat bingung.

“Seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi, kita nggak akan tersiksa seperti ini ya, Bi.” (halaman 185)

“Terima kasih, kamu masih mengingat hari ulang tahunku. Dan maafkan aku, Bia. Maafkan….” (halaman 186)

Sekian resensi dari saya. Apabila isi dari resensi saya ini masih jauh dari kata memuaskan dan ada kalimat yang kurang berkenan, saya mohon maaf kepada sang author yang terhormat. Hehehe. Semoga resensi ini dapat membantu untuk perbaikan penulisan selanjutnya. 🙂

OVERALL RATING

★★★☆☆


NB: Terima kasih banyak kepada Mbak Ria Destriana yang telah mempercayakan saya sebagai pemenang #ViolettaGiveaway beberapa waktu lalu dan berkesampatan untuk meresensi novel ini. Jadi, bersama dengan post ini berarti hutang resensi saya sudah lunas ya, Mbak. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s