[Review] The Real Past by Ayu Dewi

The Real Past

Judul: The Real Past
Penulis: Ayu Dewi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Irna Permatasari
Proofreader: Ruth Pricilla Angelina
Ilustrator: Osmanovski
Jumlah Halaman: 248 Halaman
Cetakan:Pertama (Oktober, 2014)
ISBN: 978-602-030-150-1
Genre: Young Adult, Romance, Teen Lit, Adventure, Time Travel

BLURB

Dara dan Bagus mengikuti study tour ke Trowulan, kompleks candi peninggalan Majapahit. Study tour itu diselenggarakan oleh klub fotografi SMA mereka di Surabaya, tempat mereka menyalurkan hobi dan mencari pekerjaan sampingan. Mereka berdua bersemangat mencari objek menarik demi memenangi kompetisi dengan hadiah menggiurkan.

Saat berada di reruntuhan Candi Gentong, meski ada rambu larangan mendekati lorong gelap menurun menyerupai sumur, Dara tetap nekat. Bagus yang hendak membawa Dara menjauh malah ikut tersedot kabut jingga yang tiba-tiba keluar dari lorong tersebut. Begitu tersadar, mereka ternyata terlempar ke tahun 1498, ke hutan dekat Desa Wilwatikta, ibu kota Majapahit. Mereka mengalami distorsi ruang dan waktu!

Akankah petualangan mendebarkan ini membuat Bagus membalas perasaan Dara yang diam-diam menyukainya? Atau masing-masing justru menemukan sosok baru yang memunculkan kebimbangan, tetap di Majapahit atau pulang ke masa depan?

REVIEW

Dara dan Bagus adalah teman satu sekolah di SMA. mereka sama-sama menyukai fotografi, ikut perkumpulan atau klub fotografi di sekolah, dan bekerja sebagai freelance fotografer di tempat yang sama. Dara sebenarnya menyukai Bagus tapi Bagus tidak menyadari itu dan bukan tipe cowok yang gampang deket sama cewek. jadinya Dara cuma bisa memendam perasaannya.

ada event study tour dari sekolah mereka menuju desa Trowulan. tujuannya untuk lebih mengenal candi-candi peninggalan jaman Majapahit. tak hanya study tour, ternyata ada kontes fotografi juga yang diadakan oleh pihak panitia. bagi peserta study tour yang menyerahkan foto terbaik yang mereka jepret selama study tour berlangsung tentang objek yang dikunjungi, bisa mendapatkan hadiah istimewa dan beasiswa. hal ini mengundang minat Dara dan Bagus. maka ikutlah mereka ke study tour itu.

kebandelan seorang Dara malah membawa petaka. sudah diperingati oleh panitia kalau peserta tidak boleh berpisah dari rombongan dan tidak boleh pergi jauh dari lokasi yang sedang dikunjungi. tetap saja Dara ngeloyor jauh dan sampai ke Candi Gentong. Bagus yang jadi partner Dara tidak bisa meninggalkan pasangannya sendirian. ia mengikuti Dara meski ia tidak suka dengan cara Dara ini. Dara malah nekat masuk ke dalam Candi Gentong, ingin memotret dari dekat, tapi justru mereka berdua terjerembab ke dalam kabut jingga yang menarik mereka ke tahun 1498–jaman ketika Kerajaan Majapahit masih berjaya. ya, Dara dan Bagus seketika mengalami distorsi ruang dan waktu.

awalnya sempat ragu menyelesaikan novel ini karena ide ceritanya yang tidak biasa. point of view tiap orang pastilah berbeda. cerita seperti ini termasuk menarik sekaligus berani menurutku, karena gampang mengundang banyak koreksi oleh pembaca yang teliti jika ia menemui kejanggalan di sana-sini. dostorsi ruang dan waktu mungkin lebih sering ditemui orang dalam film daripada bacaan, akan banyak yang membandingkan hal itu. tapi sesungguhnya ini bukan cerita distorsi pertama yang kubaca.

aku ingin mengoreksi beberapa hal dalam buku ini. yang paling mendasar adalah typo yang sungguh membanjiri. sudah tak terhitung. ada di hampir tiap halaman. ada yang kurang tanda titik, kurang spasi, kelebihan spasi, salah ketik huruf, salah eja, tulisan asing yang tidak dimiringkan, dan sebagainya. mungkin bagi sebagian orang ini tidak begitu berpengaruh dan dianggap sepele, tapi sayangnya bagiku itu cukup menganggu. hehe.

ketiga, dari segi cerita sih plotnya menarik, tidak terlalu monoton, membuat pembaca penasaran dengan kisah lanjutan di tiap lembar. ada rahasia besar yang disimpan oleh penulis sebagai kejutan bagi pembaca jika menyelesaikan ceritanya sampai selesai. keseluruhan cerita bisa dikatakan terkonsentrasi pada masa ketika Dara dan Bagus mengalami distorsi, yaitu di jaman Majapahit, bukan di jaman yang sekarang. ah, sebenarnya bukan cuma Pak Herman–guru sejarah Dara–yang akan iri dengan kejadian yang mereka alami. aku juga iri hahaha karena meski menegangkan tapi serunya tiada banding.

diawali dengan kekonyolan Dara yang terbengong-bengong dengan keadaan yang ada di depan matanya, membuat pikirannya nggak lepas dari kata “syuting” dan membuat Mada–prajurit yang menemukan mereka di tengah hutan–sebal karena nggak ngerti “syuting” itu apa. Dara kira dia sedang berada di lokasi syuting film kolosal. jujur aja saya jadi ikutan sebal sama Dara tapi di sisi lain tingkah dia juga bisa membuat saya tertawa. haha.

disebutkan dalam cerita kalau Dara dan Bagus masih membawa peralatan mereka dari masa depan di dalam tasnya. misalnya kamera, buku catatan, minyak angin, plester, permen karet, cologne, dan lain-lain. Dara bilang dia ‘gatal’ sekali ingin memotret atau mengabadikan keadaan sekitar pasar yang begitu menarik, tapi dia urungkan karena takut orang-orang akan panik dan lari gara-gara kilatan sinar dari kameranya. ini agak janggal sih. saat itu kan Dara sedang di perjalanan menuju tempat pemandian di siang hari. kalau dia ingin memotret, harusnya ya potret saja tanpa harus menghidupkan blitz. toh masyarakat tidak akan kaget kan kalau tidak ada blitz. apalagi di cerita-cerita selanjutnya ada pula disebutkan kalau Dara dan Mada bercengkrama bersama di atas bukit, mengambil foto berdua dari kamera itu tanpa blitz. ya berarti blitz nya memang bisa dimatiin.

oh ya, ada yang membuatku heran ketika Dara, Bagus, dan Dewi–adik Mada–sedang berburu kijang kencana di dalam hutan terlarang. Dara permisi ingin buang air kecil lalu Bagus dan Dewi meninggalkannya sendirian. hmm, logikanya sih kalau lagi di dalam hutan terlarang yang sangat berbahaya seperti itu tidak seharusnya partner meninggalkan temannya sendirian meski untuk buang air. jarak paling jauh harusnya dua meter saja. harusnya Bagus atau Dewi nungguin Dara. nah ini Dara malah harus berjalan sendirian di tengah hutan gelap setelah buang air demi menyusul Bagus dan Dewi. kondisi ini yang membuat keadaan memburuk dan membahayakan nyawa Dara. penasaran? ah, aku nggak mau kasih tahu. biar baca sendiri deh. atau mungkin inilah trik penulis untuk menciptakan sikon yang seperti itu supaya makin menarik dan menegangkan.

trus Mada bilang kalau dia hilang ingatan sejak kecil, sejak ia umur 10 tahun. tapi setelah menyimak keseluruhan cerita, nggak ada tuh saya temukan tanda-tanda yang mendukung Mada untuk hilang ingatan. menurutku bagian hilang ingatan itu mending dihilangkan saja karena tidak ada pengaruhnya di cerita ini. intinya saja dia selama ini sudah dikelabui oleh orang yang merawatnya dan dia tidak ingat banyak tentang masa kecilnya. kalau dia hilang ingatan, harusnya dia tidak ingat lagi siapa-siapa saja orang-orang di masa lalunya, tidak ingat pula siapa nama ibunya. tapi pada nyatanya Mada masih ingat betul dan sering memimpikan ibunya.

saya acungin jempol karena udah bikin konflik ala kerajaan yang seru di novel ini. sebab-akibat yang diciptakan sungguh masuk akal. aku bisa mengerti mengapa tokoh-tokohnya sampai melakukan hal-hal tersebut. hmm, setidaknya novel ini nggak jomplang-jomplang baget lah kayak novel dengan tema sama yang pernah saya baca dulu. yang ini jauh lebih menarik dan lebih runut penjabarannya.

ending-nya gimana? aha! sebenarnya nggak terlalu wah sih dan nggak beda jauh dengan kebanyakan ending yang udah ada. memang agak twist, tapi nggak bisa disebut out of the box juga. eh, tapi tetap saja menimbulkan sebuah pertanyaan di benakku. yang dilihat Dara itu siapa? benarkah yang dimaksud adalah…??? nah, penasaran kan? ya udah baca aja sendiri trus tebak sendiri deh itu siapa. haha.

OVERALL RATING

★★★☆☆


P.S.: review ini disadur dari laman di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s