[Review] Ngeri-Ngeri Sedap by Bene Rajagukguk

Judul: Ngeri-Ngeri Sedap
Penulis: Bene Rajagukguk
Penerbit: Bukune
Editor: Syafial Rustama
Proofreader: Funny D.R.W
Layout: Irene Yunita
Desain Sampul: Gita Mariana
Ilustrasi Isi: Fauzi Zulfikar
Cetakan: Pertama (November, 2014)
Tebal: 206 Halaman
ISBN: 978-602-220-140-3
Genre: Personal Literatur, Comedy

BLURB

Bagi keluargaku yang gengsinya selangit, menerima pemberian dari orang lain, pantang hukumnya. Kayak waktu itu Tulang main ke rumah. Sebelum pulang, Tulang mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.

Aku mengarahkan tangan menuju lembaran berharga itu. Beberapa senti sebelum uang berpindah tangan, tiba-tiba Mamak nongol, “Eh! Apa Mamak bilang? Jangan terima-terima uang!” Tanganku langsung mundur.

Tulang memasukkan kembali uang itu, kemudian mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. Belum sempat kuambil, Mamak langsung ngomong, “Apa Mamak bilang? Jangan terima-terima uang!” Mamak melotot sambil melambai-lambaikan tangan isyarat larangan.

Uang dua puluh ribuan kembali masuk dompet. Kali ini uang merah—seratus ribuan—menggantikan posisinya. Aku yang masih bingung harus ngapain, dikejutkan oleh suara Mamak, “Nak, bilang apa sama Tulang? Bilang ‘terima kasih’!”

Rupanya, langit pun ada harganya.

***

Kenalkan, Kawan, namaku Bene Dionysius Rajagukguk. Dari nama aja, udah keliatan kan aku orang apa? Tampangku yang amuba—asli muka Batak—pun, nggak bisa bohong. Iya, aku memang seratus persen berdarah Batak.

Sebagai Batak tulen, keras dan teguh pada prinsip jadi sifatku yang menonjol. Makanya, aku nggak pernah mau bayar utang dan menolak keras waktu ditagih. Prinsipku; sesuatu yang udah dikasih, jangan harap balik lagi.

Dalam buku ini, aku akan cerita macam-macam persoalanku sebagai pemuda Batak yang mencoba menaklukkan dunia. Mungkin keliatannya ngeri, tapi sedap kok waktu dijalani. Kayak banyak orang Batak bilang, “Nggak usah terlalu dipikirin. Nikmati aja! Hidup memang ngeri-ngeri sedap, Kawan!”

REVIEW

Kusarankan buat kelen semua yang lagi nangis gegulingan karena baru aja putus dari pacar dan patah hati dibuatnya, bacalah buku ini. Aku cuma bisa jamin kalo buku ini bisa jadi pengobat hati kau yang lagi teriris-iris dan disiram air jeruk nipis.

Aduh, Abang Bene, maafkan adekmu yang nggak sebapak-semamak ini ya, Bang. Sudah dari tahun lalu pun aku dapat buku ini dari Abang tapi baru sekarang aku post resensinya. 😥 Aku sempatkan dua hari belakangan ini kubaca ulang isinya supaya bisa lebih menghayati pas nulis resensi ini. Efeknya tetap sama, perut sakit gegara kebanyakan ketawa. 😛 Anyway, semoga Abang masih berkenan untuk menyimak ya. 🙂

Buku ini adalah personal literatur dari seorang Bene Dionysius Rajagukguk. Lelaki asal Batak tulen yang akhirnya merantau jauh ke Jogja untuk menyelesaikan kuliah di UGM. Ceritanya beragam, mulai dari masa kecilnya, masa pindah desanya, masa susahnya, masa bandelnya, masa kuliahnya, tentang budaya dan leluhur Bataknya, dan sebagainya. Tapi tentu saja dominan lawak tentang si Mamak. Asli lah, Bang, ngakak aku dibuatnya tengah malam pun kayak kuntilanak aku gegara ketawa sendirian. 😆

Sering sekali nemu cerita Mamak di buku ini. Pokoknya tiap bab pasti ada Mamak di situ dan selalu ada pula celotehan Mamak yang bikin aku ngikik geli. Aku jadi ngerasa kalau tokoh utama di buku ini bukanlah Bang Bene, melainkan si Mamak karena cara Abang menceritakan tentang Mamak jadi benar-benar ‘hidup’ dan bikin ketagihan dengan tingkah Mamak yang lainnya. Oh ya, aku juga orang Sumatera kok, Bang. Meski bukan keturunan Batak, aku banyak teman orang Batak dan Papaku suka sekali nyanyi lagu Batak kalau lagi di kondangan orang. Jadi, aura Batak nggak jauh dari kehidupanku sehari-hari. Trus ada pun disebutkan di buku soal kebiasaan di sana kalo orangtua sering dipanggil dengan nama anak pertamanya oleh para tetangga. Nah, di sini, di Palembang, juga begitu. Sering dipanggil dengan nama si anak. Bedanya, kalau di sana dipanggil dengan nama anak pertama, di sini justru nama anak bungsu yang dipakai. 😀

Aku nggak bisa memilih yang mana bab favoritku karena semuanya sama-sama menghibur. Pake banget! (nyebut bangetnya ala Mamak hahaha). Di bab awal disuguhi cerita tentang Mamak yang musuhan setengah hidup sama yang namanya HP. Aku dibuat ngikik dengan plesetan merk yang dipakai Bang Bene misalnya Nokia disebut Nokoi, Telkomsel jadi Telkomprel. 😆 Dibahas soal HP Nokoi 3310 otomatis malah mengantarku mengingat masa lalu dulu pas SMP juga pakai itu pas pertama dipercayakan pegang HP. Dan benar saja, penggunaan HP memang sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari. Tapi ada benarnya pulak itu kata Mamak,

“Kupecahkan nanti HP itu! Itu aja kalian pegang terus! Nggak usah kerjakan apa-apa! Bisanya kalian hidup, makan, punya uang karena HP!” (halaman 12)

“Kalo kalian ajari aku pake HP, terus nanti kerjaanku cuma teleponanlah, SMS-anlah. Nggak masak lagi, nggak jualan lagi. Terus matilah kita sekeluarga!” (halaman 13)

Biar pun omongan Mamak kasar begitu, tapi aku setuju sih sama Mamak. Yang namanya HP atau gadget lainnya itu seringnya bikin orang jadi ketagihan utak-atik. Seringnya pula semua pekerjaan jadi terbengkalai cuma ngurusin atau mantengin HP. Kupikir Bang Bene cuma bisa kasih lawak aja di buku ini, ternyata perkiraanku salah sampai akhirnya nemu tulisan yang cukup menyentuh seperti ini:

“…menyayangi itu soal berdamai dengan sisi baik dan sisi buruk seseorang. Gimana ajaibnya pun sisi buruk Mamak, aku akan terus menyayanginya. Dan sebaliknya, gimana durhakanya pun aku memperlakukan Mamak, aku yakin, Mamak akan terus menyayangiku.” (halaman 24)

Ini yang aku sukak dari tulisan Bang Bene. Meski di sini diceritakan kalo Bapak itu bengis dan Mamak super duper pelit serta kejam dalam hal ngasih uang jajan buat anak-anaknya, tapi Bang Bene tetap bisa menuturkannya in a nice way serta diselipi lawakan sana sini sehingga bikin image Bapak dan Mamak nggak sepenuhnya jelek. Aku malah salut sama cara ngedidiknya mereka. 🙂 Aku jadi penasaran deh cemanalah reaksi Bapak dan Mamak pas baca isi bukumu ini tentang mereka, Bang? Ngamuk nggak? Hahaha! 😀

Soal aku-kau itu juga menarik perhatianku untuk dibahas. Ah, aku juga tahu gimana dongkolnya sama mereka yang nganggap itu sapaan yang kasar. Soalnya di Palembang sini bahasa sehari-harinya dengan orang yang lebih muda atau sebaya ya pakai aku-kau juga. Penginlah pula rasanya kusentil kuping mereka itu. Giliran orang Sumatera manggil pakai “kau” malah dianggap kasar. Giliran sastra tetap dianggap puitis. Makjaaaang! :/

Nggak cuma lawakan dan kekejaman Mamak yang Bang Bene tuturkan di sini. Sesekali ada selipan pesan moral yang bisa dipetik sekaligus mengingatkanku sebagai pembaca untuk berkaca pada diri sendiri.

“Kalo kau mencuri, kalo kau berbuat jahat, kalo kau bikin dosa, baru malu!!! Apa coba yang bikin kau malu jualan es?” (halaman 52)

“Orang-orang boleh menghina, mengolok-olok, dan merendahkan hal yang kita lakukan. Asal bukan hal yang jahat dan berdosa, nggak perlu malu dan menanggapinya.” (halaman 56)

Eddie Griffin, seorang pelawak Amerika pernah bilang, “Orang-orang banyak mengecam kekerasan yang dilakukan orangtua pada anak. Tapi saat anak itu dewasa nanti, kekerasan yang dilakukan itu bisa jadi salah satu penyebab sang anak jauh dari penjara.” (halaman 57)

Nah, untuk kutipan yang ke-3 itu malah membuatku dilema. Aku harus bersyukur atau iri ya sama Bang Bene? Jujur aja didikan orangtuaku nggak sekeras atau sekejam Bapak dan Mamaknya Bang Bene. Sekiranya orangtuaku dulu kayak gitu juga, mungkin aku saat ini justru lebih bersyukur karena didikan mereka membuatku jadi bisa lebih kuat bertahan dalam segala cobaan dan masalah. 🙂 Jadi anak itu sebenarnya nggak kalah punya beban. Yang utama adalah rasa bersalah karena seringnya kita cuma bisa ngabisin duit orangtua. Nggak kalah rasa tertamparnya aku pas baca ucapan Mamak yang ini:

“Makanya kalo Mamak pelit soal uang jajan, kalian harus ngerti. Bukannya Mamak pake uang itu untuk hal-hal yang jelas. Mamak kumpulin pelan-pelan, Mamak tabung. Karena Mamak tau suatu saat kalian pasti butuh.” (halaman 93)

Jadi pengin ikutan nangis juga rasanya. 😥 Perjuangan orangtua memang nggak ada habisnya buat anak-anaknya. Nggak ada hal ‘waw’ yang setimpal yang bisa anak lakukan kecuali ngasih kebahagiaan dan rasa bangga buat mereka. 🙂

Buat pemuda-pemudi yang masih menjalani masa-masa kuliah dan udah memasuki masa udahlah-rasanya-pengin-langsung-kawin-aja alias udah masuk semester atas, kayaknya bakal banyak juga yang setuju dengan ceritanya Bang Bene tentang kelulusan. Terutama pas nemu kutipan ini:

“Untuk apa lulus secepatnya? Kenapa harus lulus untuk orangtua? Kenapa aku jadi objek untuk kebanggaan mereka? Bukankah aku seharusnya lulus karena kebutuhanku sendiri? Kan ini menyangkut hidupku, masa depanku? Apa urusannya sama mereka? Aku kan udah dewasa, harusnya nggak perlu diatur-atur lagi.” (halaman 105)

Ya, ada benernya juga sih. Tapi nggak semua orang bisa sepakat sama omongan Abang yang ini soalnya Abang kan biaya kuliahnya ditanggung beasiswa. Sementara banyak di luar sana yang masih pakai biaya penuh dari orangtua. Kalau tetep mau bilang kayak gini kayaknya mereka bakal kualat deh dan dikutuk jadi batu terus diceburin ke Danau Toba atau Sungai Musi. 😛

“Menghabiskan hari bercengkrama dengan orangtua menunggu kantuk tiba adalah momen yang sangat berharga, apalagi saat anak udah mulai dewasa. Kalo kalian masih bisa ngelakuinnya, sempatkanlah, sebelum terlambat.” (halaman 168)

Glek!!! Aku jadi merenung, sudah seberapa sering aku menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan orangtuaku sendiri semenjak aku menginjak umur kepala 2? Bahkan kami yang selama ini selalu hidup serumah nggak pernah terpisah. Aku jadi sadar pulak kalau orangtuaku sudah tua bahkan sudah punya cucu empat orang. Makasih ya, Bang, udah ngingetin hal ini melalui bukunya. Rasanya nggak sia-sia aku baca bukunya Bang Bene. Bukan cuma dapat lawakan dan hiburan yang membuat mood jadi lebih baik, tapi juga dapat renungan untuk selalu ingat, sayang, dan bersyukur punya orangtua yang selalu menyokong selama ini. 🙂

In the end, I just wanna say: this book is really RECOMMENDED! 😀 😉

OVERALL RATING

★★★★☆


Tak lupa aku cantumkan link ini ke twitter dan aku mention Bang Bene. Wah, senangnya, ternyata beliau suka sama resensiku kali ini. 😆 Sayangnya, waktu bulan Desember tahun lalu, aku nggak kesampaian ikutan lomba resensi buku ini karena nggak sempat-sempat mulu mau nulis resensinya, sebab jadwal akhir tahun yang cukup menyibukkan. 😦

Nah, ini dia tweet-nya Bang Bene. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s