[BlogTour] Review: Marry Now, Sorry Later by Christian Simamora

Blog Tour MNSL 1

Sesi kedua blog tour di blogku kali ini adalah resensi novel Marry Now, Sorry Later. Yuk simak dengan seksama. Siapa tahu setelah baca resensi ini bisa lebih meyakinkamu untuk membaca dan memiliki novel ini. 😉

cover depan MNSL

Judul: Marry Now, Sorry Later
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: Twigora
Editor: Alit Palupi
Designer Sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penata Letak: Gita Mariana
Ilustrasi paperdoll: Mailoor
Ilustrasi isi: Mailoor
Cetakan: Pertama (Mei, 2015)
Tebal: x + 438 Halaman
ISBN: 978-602-703-622-2
Genre: Contemporary Romance, Adult

Tersedia di toko buku online Bukupedia

TAGLINE

LEBIH BAIK MENCINTAI YANG TAK BISA KAU MILIKI
DARIPADA MEMILIKI SESEORANG YANG TAK BISA BALAS MENCINTAI

BLURB

“BERSEDIAKAH SAUDARA MENGASIHI DAN MENGHORMATI ISTRI SAUDARA SEPANJANG HIDUP?”

Sejak awal Jao Lee sudah tahu, Reina tak mencintainya. Namun, menikah dengan putri satu-satunya direktur Hardiansyah Electronics itu memberi ilusi cukup bahwa Jao memilikinya. Salah besar. Reina justru melakukan sesuatu yang tak pernah Jao duga selama ini: kabur sebelum acara resepsi dimulai.

“ADAKAH SAUDARI MERESMIKAN PERKAWINAN INI SUNGGUH DENGAN IKHLAS HATI?”

Setelah enam bulan bersembunyi, akhirnya Jao berhasil menemukan Reina. Seperti dugaannya, suaminya itu memaksanya pulang bersama ke Jakarta. Memangnya apa yang dia harapkan? Semacam membuka lembaran baru dan hidup bersama sebagai suami-istri sungguhan?

“SAYA BERJANJI SETIA KEPADANYA DALAM UNTUNG DAN MALANG, DAN SAYA MAU MENCINTAI DAN MENGHORMATINYA SEUMUR HIDUP.”

Ini cerita cinta tentang dua orang yang tak saling cinta, tapi bertahan untuk tetap bersama. Sampai kepan mereka akan terus berusaha? Perlukan mereka jatuh cinta dulu supaya bisa bahagia?

Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA

REVIEW

ilustrasi MNSL

Salah satu ilustrasi Jao dan Reina di novel Marry Now, Sorry Later

Jao Lee tak hanya berwajah tampan khas oriental—alis tebal membingkai mata tegas sekelam batu onyx dan bibir tipis yang saat itu tampak seperti merengut—tersirat jelas sesosok tubuh tinggi, langsing, dan juga atletis (halaman 6). Ia merupakan direktur utama distributor mobil mewah bernama Shylock yang konsep showroom-nya berhasil mempertahankan reputasi sebagai ‘Best Luxury Car Showroom in Asia Pacific‘ setiap tahunnya (halaman 52).

Reina Hardiansyah adalah seorang perempuan berwajah manis, warna kulit sawo matang nan mulus, dan rambut ikal yang sering terjuntai melewati bahu. Ia berstatus sebagai anak tunggal dari Thamrin Hardiansyah, seorang direktur perusahaan Hardiansyah Electronics. Sayangnya, ia harus menerima cobaan dan masalah yang begitu berat setelah ayahnya meninggal dunia. Perusahaan ayahnya itu terbelit hutang yang sangat banyak dengan Shylock Indonesia dan tidak/belum mampu dibayar dalam waktu dekat. Reina yang selama ini cuek dengan urusan perusahaan jadi ketar-ketir setengah mati mengelolanya.

Cuplikan bab satu Marry Now, Sorry Later

Keresahan Reina makin menjadi saat mendapati surat peringatan dari Shylock Indonesia yang isinya berupa ancaman akan memperkarakan perihal hutang tersebut ke pengadilan jika tetap tidak/belum dilunasi dengan segera. Reina mengambil keputusan untuk menemui Jao Lee dengan niat bernegosiasi soal tenggat waktu pembayaran hutang apabila dapat ditunda. Di sinilah awal mula keseruan dari kisah Jao dan Reina.

Jao Lee itu pebisnis hebat, tegas, dan tidak pernah melibatkan urusan hati dalam deal ini itu. Mau bagaimana pun Reina membujuk, Jao tetap tidak memberi kerenggangan untuk tenggat waktu pelunasan hutang. Sejak itu Reina sangat membenci Jao. Baginya Jao Lee adalah manusia yang tidak punya hati. Tapi, tiba-tiba Jao menawarkan sebuah opsi untuk Reina demi keuntungan bersama. 💡 Jao Lee ingin membantu Reina untuk pembebasan pelunasan hutang perusahaan Hardiansyah Electronics kepada Sylock Indonesia dengan cara mau menikah dengannya. Adakah keuntungan yang bisa Jao dapat dari hal tersebut? Tentu ada dong. Pebisnis tangguh tidak akan luput dari hal itu. Jao ingin memanfaatkan keberadaan Reina sebagai istri supaya bisa merubah pandangan para kolega-kolega tuanya tentang dirinya—seorang pengusaha muda, kaya, hebat berambisi, tapi tidak punya ‘kehidupan’ sendiri—jadi dapat lebih dipercaya dalam hal bisnis karena akhirnya ia sudah punya ‘hidup’ yakni rumah tangga. Apakah Reina begitu saja menerima? Oh, tidak. Itu adalah opsi terburuk—seburuk ia harus memilih neraka dibanding surga. Baginya, Jao itu sudah sama seperti titisan iblis yang keji. 👿 Apakah dengan adanya tawaran itu berarti Jao sedang jatuh cinta pada Reina? Oh, tidak. Sekali lagi, ini demi urusan bisnis. ❗

“Karena lo juga nggak punya hati. Nggak disangka, nggak diduga, lo menipu gue mentah-mentah dengan kabur di hari pernikahan kita. Bahkan sebelum acara resepsi dimulai!” — Jao Lee (halaman 13)

Oleh karena suatu keadaan, Reina akhirnya terpaksa menerima tawaran Jao untuk menikah. Namun, sungguh tidak disangka oleh Jao kalau Reina bakal kabur sebelum acara resepsi pernikahan mereka dimulai. Jao Lee begitu marah sekaligus malu di hadapan tamu. Bahkan ia sering jadi bahan omongan dan joke di antara para sosialita.

“Buat apa merisikokan patah hati untuk orang yang nggak benar-benar bisa membuatmu jatuh hati?” — Reina Hardiansyah (halaman 241)

Setelah enam bulan Reina menghilang sejak kabur dari resepsi pernikahannya, Jao berhasil menemukan Reina di Bali—menjadi volunteer di sebuah panti. Jao memaksa Reina supaya ikut pulang bersamanya ke Jakarta. Awalnya Reina menolak namun Jao selalu punya cara untuk membuat Reina akhirnya menurut.

She is my wife. It’s my duty to keep her safe by my side.” — Jao Lee (halaman 26)

Pasangan ini, ah, sungguh macam kucing dan anjing. Dalam artian kucing dan anjing jaman sekarang—kadang ada yang berantem, kadang ada pula yang akur. Seperti itulah tingkah mereka. Tiada hari dan tiada scene tanpa cekcok pakai urat. Nggak tanggung-tanggung, perang mulut mereka ini benar-benar pedas adanya. Sampai-sampai aku yang cuma jadi pembaca pun jadi ikut emosi dengan mulut lemesh mereka berdua ini. Ketus banget, ish. Rasanya pengin kusumpal mulut mereka pakai adonan cabe rawit. 😆

“Gimana caranya lo bikin dia jatuh cinta? Love is a two-way thing. Lo nggak bisa bikin dia jatuh cinta sama lo kalau lo-nya menolak untuk jatuh cinta sama dia.” — Michael Rumahorbo (halaman 71)

Yup! Jao Lee itu nggak punya niat untuk jatuh cinta, apalagi mau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada perempuan. Jangankan jatuh cinta, ngomongin soal cinta aja dia ogah. Tapi, ada alasan tersendiri kenapa Jao seperti itu. Dan alasan ini menurutku sangatlah masuk akal. Hal itu dijelaskan dan diceritakan di halaman 94-100. Apa alasannya? Bacalah sendiri ya di bukunya. 😛 Tapi, jujur aja ya, pada penggalan flashback di halaman 94-100 itu terdapat konten yang isinya benar-benar menohokku sebagai seorang perempuan. Pada beberapa poin, aku setuju sekaligus membenarkannya. Namun, di sisi lain rasanya aku juga ingin membantahnya. 🙄 😕 :/ 😳

Love isn’t a sure thing—never was and never will. Dan ketika cinta sudah nggak ada lagi di hati, buat apa juga dipertahankan?” — Ai (halaman 96)

“Cinta itu ternyata hanya milik kita, para lelaki. Bagi perempuan, Jao, komitmen nggak lebih hanya sekedar penjamin rasa aman—iya, supaya kita nggak dimiliki orang lain. Sedang pernikahan adalah pemuas fantasi masa kecil mereka.” — Raymond Lee (halaman 98)

“Tahukah kamu, Jao, ketika menikah, kita ini hanya dianggap pencari nafkah? Celengan babi mereka! Apa mereka mengucapkan terima kasih untuk itu?” — Raymond Lee (halaman 99)

Jadi, gimana menurut kalian, guys, terutama yang perempuan? Udah cukup menohok belum kutipan-kutipan di atas? 😥

“Jao pernah bilang, istri adalah cerminan suaminya. Istri yang bahagia adalah cerminan kebahagiaan suaminya. Dan itulah yang Jao lakukan. Bikin gue merasa baik dan betah berada di sisinya. Dan gue juga mengurangi jadi batu empedu bagi hidupnya.” — Reina Hardiansyah (halaman 304)

Just so you know, menikah atau nggak, gue tetep milik diri gue sendiri. Jangan mengira gue ini semacam tiang listrik, yang sah jadi milik lo hanya karena udah lo kencingin.” — Reina Hardiansyah (halaman 307)

Chemistry antara Jao dan Reina begitu unik dan natural sekali mengalir meski pun mereka berdua ini suka berantem aja kerjanya. Progress perubahan rasa yang tadinya dari benci lalu jadi cinta di antara Jao dan Reina sama sekali nggak terkesan buru-buru. Pertengkaran dan hal yang jadi pemicunya pun bukan termasuk konflik murahan. Bikin aku jadi pengin remas-remas bantal akibat kelakuan mereka yang bentar-bentar berantem, bentar-bentar akur, nanti berantem lagi, trus akur lagi. Maka dari itu, rasanya hampa kalau di suatu halaman malah nggak nemuin nama Jao atau Reina di situ. Nggak heran deh kalau Bang Ino bilang dua tokoh inilah yang jadi tokoh favorit dan paling menguras emosinya ketika proses menulis. Kalau begitu, Abang sudah berhasil membuat hatiku terombang-ambing melalui interaksi dua manusia bermulut tajam ini.

quote MNSL

Oh ya, salah satu alasan yang membuat aku selalu suka dengan tulisan-tulisannya Bang Ino adalah karena ia selalu bisa mendeskripsikan sesuatu dengan sangat detil misalnya bagaimana dekorasi dan interior dari setting tempat yang dipakai, apa saja outfit yang dikenakan beserta warna dan merknya bila perlu, juga selembut apa gesture sensual yang dilakukan tokohnya sehingga nggak sulit bagi pembaca untuk membayangkan dalam imajinasi seperti apa yang dimaksud oleh penulis. Hal ini cukup konsisten di lakukan hampir di semua bagian cerita. Mungkin karena itu juga ya yang membuat buku-buku Abang ini jadi buku bantal. 😀

I wish you don’t grow from someone I love to someone I lose.” — Jao Lee (halaman 404)

Plot di novel ini maju. Eh, atau maju-mundur ya? Pokoknya terdapat banyak bagian yang merupakan flashback tentang Jao dan Reina bahkan mereka berdua. Sama sekali nggak membuat bingung kok, just fine. Justru sangat terbantu dan lebih seru saat menyusun puzzle cerita dan membuat isinya jadi nggak terasa monoton. Untungnya pula bagian flashback itu dicirikan dengan font berbeda. Meski pengemasan ceritanya seperti itu, aku tetap bisa menikmati dan memahami alur ceritanya dengan baik dan lancar tanpa harus membolak-balik halaman sebelumnya.

Bang Ino juga selalu sukses membuat pemeran pembantu yang begitu ‘hidup’. Pembantu ini maksudnya bukan pelayan macam Francois atau Mamat atau Mono. Oh, mungkin tepatnya pemeran pendukung gitu ya istilahnya. Kalau di salah satu novel #jboyfriend sebelumnya yang sudah pernah aku baca, aku suka sama Anye—sahabat Sarah—di novel All You Can Eat. Kalau di novel ini aku suka banget dengan kehadiran Sari dan Char, terutama Char deh. Dia itu ibaratnya jadi tokoh utama ketiga di cerita ini setelah Jao dan Reina karena karakternya itu membuat isi buku ini jadi lebih berwarna. Mulai keluar deh bahasa khasnya si Abang yang centil kinyis-kinyis dan unik melalui ocehannya Char. 😆 Penggunaan dan penulisan kata-kata yang nggak sesuai EYD udah nggak sebanjir dan se-mbleber dulu lho, misalnya “fo sho” (for sure), “gurl” (girl), “owhkayyy” (okay), “dunno” (don’t know), “eibiji” (ABG, abege).

Sebelum kemunculan Char, nampaknya Abang nggak bisa sepenuhnya menumpahkan kecentilan itu lewat tokoh besties cap tokai nya Reina yaitu Alluna, Dora, Haci, dan Tommy. Char ini jenis sahabat yang bener-bener sahabat. Dia nggak ragu atau segan ngungkapin hal yang menurut dia benar meski itu terdengar harsh bagi yang bersangkutan. Toh, itu demi kebaikan orang itu sendiri. Hal lain yang jelas kurasakan adalah rasa dongkol sama Reina yang gensinya ini minta ampun tingginya nggak ketulungan. 😡 Kalau aku yang jadi salah satu besties-nya Reina, pasti udah aku jitak-jitakin deh dia, haha. Ketimbang dengan adanya tokoh antagonis, aku justru lebih sering dibikin emosi gara-gara karakter Reina yang kayak gini. Tapi, thanks to Char darling yang bisa jadi ‘penampar’ ego Reina tanpa harus ada scene tarik urat segala di antara mereka karena Char ini omongannya nggak kalah bikin ngilu sampai ke ulu hatinya Reina.

“Karena Jao berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik. Seseorang yang yakin betul dengan perasaannya, bukan yang terus-terusan meragu dan mempertanyakan isi hatinya kayak yang lo lakukan saat ini.” — Char (halaman 385)

Aku juga suka dengan peranan Michael Rumahorbo sebagai teman baiknya Jao. Meski sibuk dengan jadwal keartisannya, dia selalu menyempatkan diri untuk jadi pendengar yang baik atau tempat curhat sekaligus dokter cintanya Jao. Saran-saran dari dia itu emang top deh. Nggak heran kalau seorang Jao Lee yang aslinya buta banget soal treatment kepada cewek dan jarang banget bersentuhan dengan hal-hal yang berbau romantic and cheesy malah sampai rela searching segala di internet tentang tutorial jadi pacar yang baik atau disebut boyfriend experience.

“Cewek-cewek itu butuh connection, Jao. Mereka butuh merasa dicintai dan dinomorsatukan oleh pasangannya.” — Michael Rumahorbo (halaman 189)

“Kalau lo pengen Reina melihat lo sebagai suami yang sebenarnya, buat dia nyaman sama lo dulu selayaknya seorang pacar.” — Michael Rumahorbo (halaman 190)

Aha! Sebenarnya tadinya ada dua hal yang kusayangkan di cerita dalam novel ini. Pertama, kisah romance kalau nggak dibumbui aksi cemburu tuh rasanya kurang afdol kan ya? Ada kok bagian itu, tapi menurutku porsinya kilat banget. Apalagi si tokoh Roman yang dicemburui oleh Jao malah kesannya kayak datang dan pergi begitu saja. Agak nggak adil nih kalau cuma Jao aja yang tersiksa oleh api cemburu. Coba Reina juga ngerasainnya. 😈 Kedua, dalam suatu cerita itu tokoh antagonis sangat penting kehadirannya. Di novel ini ada juga kok, yaitu Alluna Pribadi. Sayangnya, bagiku perannya sebagai tokoh antagonis di situ masih kurang nendang, masih kurang greget, belum bisa mancing emosiku sampai ada rasa pengin lempar barang atau jedotin kepala ke dinding gitu. Tapi, ya nggak apa-apa lah karena sudah ada Reina yang bisa bikin hatiku panas, haha. Lagipula cukup dapat dimengerti dengan telah adanya setumpuk konflik lahir mau pun batin antara Jao dan Reina yang masih pada mengatung di udara harus segera dibereskan. Apalagi bagian jeles-jelesan itu adanya di bab 9, bab yang menurut pengakuan Abang paling favorit sekaligus paling susah ditulis. Duh, dicubitnya pula nanti aku. :mrgreen:

quote MNSL

Agak sulit menemukan titik kekurangan lain di novel ini. Entah karena aku udah kepalang suka sama premisnya atau karena aku yang nggak begitu paham sama urusan perusahaan dan para brand mahal. 😆 Yeah, buat kalian pecinta barang bermerk dari designer terkenal mungkin nggak merasa asing lagi dengan berbagai merk yang disebutkan di dalam ceritanya. Hal itulah yang membuat novel ini jadi terasa high class. Kalian nggak akan menemukan scene Jao dan Reina lagi makan di warteg atau belanja di pasar tradisional atau nyangkul di taman belakang. Ugh, big no, jauh banget dari itu. Sedangkan untuk typo yang nggak disengaja, seingatku dari awal sampai akhir mah bebas bersih bersahaja.

By the way, novel ini nggak cuma cocok untuk dibaca perempuan—soalnya kan rata-rata kaum perempuan itu kan gampang banget kelepek-kelepek dengan suguhan tokoh cowok yang yummy macam di #jboyfriend ini. Buat para lelaki di luar sana, nggak ada salahnya lho ikutan ‘meraba’ isi novel ini. Banyak tips yang bisa kalian dapatkan atau bahkan dipratikkan bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan baik supaya dia jadi suka juga sama kalian. 😆

cuplikan scene MNSL

Cuplikan scene di Marry Now, Sorry Later

Ngomong-ngomong soal scene di atas, aku sempat salah paham lho mengartikan perkataan Jao Lee yang terakhir. Jao bilang ke Reina, “You said nothing about kissing.” Aku kira maksudnya itu si Reina pernah mengungkapkan kalau sebuah ciuman tidak berarti apa-apa baginya. Lalu aku jadi mikir, emang kapan ya Reina sempat ngomong kalau sebuah ciuman itu nggak ada apa-apanya buat dia? Seingatku, sebelum adanya scene itu—bukan dari cuplikan bagian depan, melainkan yang ada di tengah buku—aku nggak nemuin Reina pernah bilang kayak gitu. Eh, beberapa hari kemudian—iya, butuh beberapa hari sampai akhirnya bisa nyambung—aku baru ngeh ternyata maksudnya Jao itu Reina sebelumnya nggak pernah nyebutin deal apa-apa yang menyangkut ciuman. Syaratnya cuma satu: no sex. ^^’

Novel ini sudah dilabeli NOVEL DEWASA di cover belakang di bawah barcode. Memang sudah seharusnya ada label itu karena di dalam novel ini terdapat konten dewasa—bahkan ada adegan intim lain yang ditulis secara lebih eksplisit daripada screenshot di atas. Dan memang sudah jadi trademark-nya Bang Ino kalau selalu ada adegan-adegan yang sering bikin pembaca sampe kipas-kipas di setiap novel dewasanya. Wajar dong, karena novel ini memang termasuk genre roman kontemporer untuk pembaca dewasa. Udah dikasih label di cover belakang dan dipajang dengan cover depan yang hot plus yummy nyum-nyum gitu, kelewatan deh kalau masih ada yang clueless ini novel apaan. :mrgreen: Jadi, bagi yang belum cukup umur, hayooo selektiflah dalam memilih bacaan, okay?! 😉

Contoh salah satu busana Jao dan Reina di paperdoll Marry Now, Sorry Later

Contoh salah satu busana Jao dan Reina di paperdoll Marry Now, Sorry Later

Masih sama seperti novel-novel #jboyfriend sebelumnya, nggak lupa terselip paperdoll alias bongkar pasang alias bepe dengan couple Jao dan Reina di sana. Buat yang masa kecilnya bahagia pasti tahu deh sama mainan ini. Nilai tambah untuk tiap novelnya Abang, karena nggak cuma dapat bacaan, melainkan juga dapat mainan. 😆 Tapi, kalau aku pribadi, nggak ada satu pun paperdoll dari novelnya Bang Ino yang aku guntingin dan nggak terbesit pula niat buat maininnya. Bukannya nggak suka lho, melainkan terlalu sayang karena takutnya nanti malah rusak dikacauin oleh ponakan seandainya mereka sampai lihat pajangannya. 😛


Sekian resensi dariku. Apalabila terdapat kesalahan dalam penggunaan kata-kata, penyampaian kalimat, ada yang menyinggung perasaan, dan masih belum bisa memuaskan rasa penasaran kalian, diriku mohon maaf ya.

novel MNSL + lipstick REVLON

Langsung foto pas paketnya baru nyampe

Eh, hampir kelupaan. Semua host blog tour—yang perempuan—mendapat mandat untuk upload selfie dengan bibir merah merona merekah membahana memakai lipstick REVLON CREME 725 LOVE THAT RED pemberian Bang Ino. Hohoho thank you so much, Bang. Inilah hasilnya…

Selfie with Marry Now, Sorry Later

Selfie with Marry Now, Sorry Later

Eits, jangan ke mana-mana dulu karena masih ada sesi terakhir di post ketiga dari blog tour di blogku ini. Siapa mau ikutan GIVEAWAY??? So, stay tune, guys! 😎


blog tour MNSL

Jangan lewatkan sesi wawancara, resensi, dan giveaway dari host lainnya. Ikuti giveaway dari setiap blog untuk memperbesar kesempatanmu dapetin buku ini. Berikut adalah jadwal blog tour selengkapnya:

20 Mei 2015: Luckty Giyan Sukarno
21 Mei 2015: Nurina Widiani (Kendeng Panali)
22 Mei 2015: Sri Sulistyowati (Peri Hutan)
23 Mei 2015: Stefanie Sugia
24 Mei 2015: Oky Septya
25 Mei 2015: Destinugrainy
26 Mei 2015: Dhyn Hanarun
27 Mei 2015: Ira Elvira
28 Mei 2015: Rizky Mirgawati
29 Mei 2015: Aya Murning (you are here)
30 Mei 2015: Hanifah Dien F
31 Mei 2015: Afifah Mazaya
1 Juni 2015: Martina Sugondo (Nana)
2 Juni 2015: Ariansyah

Advertisements

35 thoughts on “[BlogTour] Review: Marry Now, Sorry Later by Christian Simamora

  1. Buh,,, mantap Reviewnya mbak Aya Murning…
    Complete yang aku dapatkan dari gambaran Novel MNSL di blog kakak
    Penggambaran kakak dari atas sampe penjelasan terakhir sudah membuatku gemas bin tambah penasaran buat baca karyanya bang Ino ini… 😀
    Sukses terus buat Kakak 😀

    Like

  2. Lengkap. Lengkap banget. o.o

    Saya jadi tahu alasan Reina benci Jao itu karena sikap Jao yang kelewat dingin. Saya pikir awalnya karena dia merasa dimanfaatin atau gimana gitu.

    Dan saya jadi penasaran sama cuplikan adegan itu. Apa itu terjadi setelah sikap Jao semakin manis kepada Reina? Apa itu bagian dari cara dia meluluhkan hati Reina? Tapi tapi kalau iya Jao jadi menyebalkan dong. (Kalau saya mencoba berada di posisi Reina, ya. Mengambil kesempatan gitu kan berarti? :()

    Btw, saya baru tahu ada karakter sahabat sekaligus dokter hati Jao di blog ini. Selama ini yang lain bilang soal sahabat-sahabat Reina doang, ga ada soal sahabat Jao. Artis pula dia. Wkwk. Dia ga player kan ya? Harusnya sih enggak kalau dari dia Jao dapat cara meluluhkan hati Reina. Duh jadi penasaran sama Michael.

    Like

  3. Reviewnya keren kak, bikin saya makin pengen baca novelnya. Semoga saya dapat rejeki novel ini, biar penasaan saya terbayar =)

    Like

  4. Review y panjang and complete. Kyk y asyik dijadiin FTV deh. Terus tambah asyik banget klo aku yg dpt giveaway book novelnya…ngarep.com pisan.

    Like

  5. karakter Jao ini keren yah, tipe-tipe orang kaya banget gitu, dan Reina nya yah sama tipe-tipe cewe orang kaya kan gitu. Makin penasaran sama novelnya bang Christian 🙂

    Like

  6. Duuuhh… Jao kawinable banget ya!! Bawa aku maas :v

    Like

  7. Penuturan plot ceritanya bagus, nambah sedikit kepingan isi dari buku ini. Aku suka sama penggambaran tokoh-tokoh karya Bang Ino yang kreatif ditambah profesi yg tiap tokoh kerjakan pasti variatif.
    Yang bikin aku penasaran ending cerita Jao Lee dan Reina happy ending gak ya?
    Bocorin dikit dong kak 🙂

    Like

  8. Review kakak lengkap banget dari awal sampe akhir. Bukannya memuaskan rasa penasaran, malah makin penasaran aja dengan Marry Now Sorry Later. Tapi, itu kan gunanya review? Memancing rasa penasaran orang lain haha.
    Terimakasih kak udah meluangkan waktu untuk mereview sepanjang lebar ini. Aku jadi makan penasaran dan ga sabar untuk baca novel ini hihi😘😘

    Like

  9. Itu kenapa mukanya nggak kelihatan? 😄

    Like

  10. Disetiap halaman bang ino selalu selipkan kata-kata yang aku suka banget apalagi karakter dari reina dan jao membuatku tau perasaan mereka berdua dan terima kasih juga buat review nya aya murning keren banget jadi makin paham dengan jalan ceritanya walaupun banyak tetapi bikin penasaran dengan jalan ceritanya dan pengen baca sampai habis.

    Like

  11. Dari review kakak ternyata tema-tema yang tersirat soal menikah kelihatannya bakal menarik yaa untuk disimak xD terima kasih untuk reiewnya kak…

    Like

  12. Reviewnya lengkap kak, kalau boleh tau selain kisah percintaan apakah kisah tentang kehidupan pribadi dari sahabat Reina cukup banyak diungkit di novel ini? Karna kalu dipikir-pikir pasti bosan juga kalau kisahnya hanya disorot antara Reina dan Jao aja. thank you 🙂

    Like

    • Ada juga kok sekilas dibahas tentang kehidupan temennya Reina, yaitu Char. Masih soal percintaannya. Tapi ya sekilas aja, nggak terlalu makan banyak spot di dalam novel ini. 🙂

      Like

  13. Quotes yang diulas disini emang menohok hati banget. Dan menurut saya hal-hal seperti detail setting biasanya memang kurang terlalu diperhatikan oleh beberapa penulis, jadi sewaktu membaca review dari novel ini kalau setting tempatnya dideskripsikan dengan detail, ada kesenangan tersendiri.

    Like

  14. Waw, resensinya komplit banget. Jadi makin penasaran dan pengen baca novel ini. Membaca runut resensi ini kayak naik rool coaster yang ingin ikut merasakan sensainya 😀 Tapi paling penasaran sama ending novel ini hehe…

    Like

  15. Michael Rumahorbo kayaknya bijaksana banget ya? Ah, jadi jatuh cinta sama dia juga. ho ho ho …
    Btw selama enambulan kabur ngapain aja ya tuh Reina? Menurutku kelamaan. Harusnya Jao bisa nemuin Reina dalam waktu yang lebih singkat. Mengingat Reina di Bali yang notabene kota besar. Bukan melarikan diri ke daerah pedalaman. Setuju sama Mbak Aya, mungkin novel selanjutnya kadar cemburunya besok-besok dinaikin jadi 24 karat kali ya? Biar akin seru.

    Like

    • Yes, he is. 🙂

      Kan udah disebutin di atas kalau Reina jadi volunteer sebuah panti di Bali sejak dia kabur. 😀 Reina menutup semua akses dengan kehidupan lamanya jadi nggak ada yang bisa nemuinnya termasuk Jao. Itu pun Jao bisa nemuin keberadaan Reina secara nggak sengaja loh.

      Like

  16. […] Tata di cerita ini, nggak kayak sosok sahabat lainnya yang pernah saya baca di All You Can Eat atau Marry Now, Sorry Latter. Masih kurang greget aja gituh rasanya. Perannya sebagai sahabat yang always there for her masih […]

    Like

  17. […] I like it! Berhubung Marry Now, Sorry Later sudah kubaca duluan sebelum GF ini, maka GF ini jadi cerita #jboyfriend kedua yang paling aku suka […]

    Like

  18. […] yang membandingkan novel TOMB dengan Marry Now, SorryLater. Mereka berpendapat bahwa storyline di TOMB kurang kuat (nggak mendominasi) dan konfliknya […]

    Like

  19. […] Yang paling saya ingat itu setidaknya ada dua kali scene dewasa yang dideskripsikan cukup intens di Marry Now, Sorry Later dan lumayan bikin kipas-kipas. Kalau di sini malah ada lebih banyak dan lebih […]

    Like

  20. […] Can Eat (Jandro), Guilty Pleasure (Julien), Come On Over (Jermaine), As Seen On TV (Javi), dan Marry Now, Sorry Later (Jao). Pada tahun 2015, dia merilis seri kedua yang diberi nama #vimanasingles. Tiger On My Bed […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s