[Review] Take Off My Red Shoes by Nay Sharaya

Cover novel Take Off My Red Shoes

Judul: Take Off My Red Shoes
Penulis: Nay Sharaya
Penerbit: Grasindo
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer kover & ilustrator: Dyndha & Lisa FR
Penata isi: Lisa Fajar Riana
Tebal: 234 Halaman
Cetakan: Pertama (Juni, 2015)
ISBN: 978-602-375-0580
Genre: Psychology, Teenlit, Family, Friendship

BLURB

 Atha

Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.

Alia

Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares

Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.

Kegan

Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabatku sendiri.

REVIEW

Jujur aja nih, sebelum kemunculan buku ini di timeline saya, saya belum pernah dengar atau baca dongeng sepatu merah. Karena kepo, jadi googling deh, dan ternyata ceritanya lumayan seram. Sayangnya saya malah nggak begitu menikmati imajinasi dalam versi dongeng. Karena alasan itu pula yang membuat saya kepengin ngabisin buku ini karena kalau di buku ini kan ceritanya jauh lebih realistis dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa reviewer(s) bilang kalau di buku ini juga ada bagian yang lumayan seram. Lah, saya kira di sini ada aksi potong kaki juga macam serial thriller itu, tapi untungnya nggak ada. XD

Athalia dan Natasha adalah gadis kembar yang sempat dibesarkan di panti asuhan. Meski kembar, fisik mereka justru berbeda satu sama lain. Athalia atau biasa dipanggil Alia berkulit putih dengan senyuman yang cerah, sedangkan Natasha atau biasa dipanggil Atha berkulit sawo matang dengan mata yang teduh (halaman 2).

“Mereka memang mirip, tapi cukup berbeda untuk ukuran dua orang kembar. Tidak banyak orang yang bisa menebak kalau mereka adalah saudara kembar. Natasha dengan rambut lurus sepunggung, sedangkan Athalia berkulit kuning langsat dengan rambut hitam bergelombang hingga bahu. Mata mereka sama-sama lebar dengan bentuk wajah sama-sama bulat, mungkin itulah persamaannya.” (halaman 36)

Alia gadis yang periang dan suka sekali menari ballet dengan lincah. Kalau Atha cenderung pendiam dan lebih suka baca buku terutama buku dongeng. Suatu hari di panti, mereka dapat hadiah dari ibu panti. Atha yang suka membaca ternyata mendapat hadiah buku dongeng tentang gadis bersepatu merah, sedangkan Alia yang gemar sekali menari mendapat hadiah sepatu merah yang cantik. Tapi, Atha justru tidak berhenti memandangi sepatu saudaranya itu, apalagi sepatu itu berwarna merah, warna kesukaannya. Sesekali Alia meminjamkan sepatu kesayangannya itu pada sang kakak. Namun, lama kelamaan sepatu merah Alia itu malah menjadi obsesi sendiri bagi Atha untuk bisa memilikinya.

“Natasha terobsesi dengan benda-benda berwarna merah. Ia sadar betul hal itu tapi tak pernah ingin mengakuinya secara terang-terangan.” (halaman 26)

Keluarga Ibu Ayuning mengunjungi panti dengan maksud hendak mengadopsi seorang anak perempuan. Ia dan Ares—anak lelakinya—langsung suka pada Alia yang lucu dan ceria. Ares menginginkan Alia untuk jadi adiknya karena dirasa sangat mirip dengan Aurelia—adiknya yang tak pernah kembali lagi. Tadinya keluarga Ibu Ayuning hanya ingin mengadopsi Alia, tapi karena anak ini kembar yang sebaiknya tidak dipisah—singkat cerita— akhirnya Atha pun ikut diadopsi oleh keluarga kaya itu.

Sejak dulu Atha tidak terlalu pandai bergaul. Di panti asuhan mereka, entah mengapa teman-teman kecilnya itu enggan mengajaknya bergabung untuk bermain bersama.” (halaman 21-22)

Alia menjadi anak yang begitu disayang di keluarga tersebut. Semua perhatian Ibu Ayuning dan Ares tertuju padanya. Adegan manja ala ibu-anak dan kakak-adik sering mereka pamerkan. Sayangnya, nasib terbalik dialami Atha. Ia seperti terasingkan di keluarga itu, seperti kurang diperhatikan, kurang dianggap ada, kurang saling berinteraksi dengan Mama dan Kak Ares, tidak seperti si adik. Secara fisik, Alia memang lebih menarik perhatian, tapi bagi Atha justru sepatu merah itu yang membuat Alia terlihat menyenangkan sehingga mereka suka pada Alia ketika masih di panti. Menurutnya, sepatu merah itu membawa keberuntungan bagi si pemakainya.

“Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di manapun dia berada dan kamu nggak perlu kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing.” — Atha (halamam 32)

Dari awal hingga sampai setengah buku, tadinya aku mau ngasih 2 bintang aja. First of all, penjabaran di halaman-halaman awal bikin aku pusing sendiri dengan begitu banyak nama berinisial A: Atha, Alia, Ares, Ayuning, Aurelia, Alana, Ameera. Butuh waktu beberapa belas menit untuk menyesuaikan penalaranku karena awalnya aku masih bingung juga bedain nama si kembar; yang mana kakak dan yang mana adik, mana yang suka baca dan mana yang suka menari, mana yang kelakuannya ceria dan mana yang pendiam.

Sayangnya, pemunculan konfliknya rada lama, sampai saya harus nunggu setengah buku dulu, baru deh bisa merasakan keseruan pergulatan batin yang dialami para tokohnya itu. Alangkah lebih baik kalau bisa kasih ‘tendangan’ dari awal biar bisa bikin pembaca lebih penasaran dan mau nerusin langsung sampai habis. Saya sempat menunda agak lama, nunggu mood datang kembali buat ngelanjutin baca buku ini karena ya itu, terasa flat di awal. Bersyukur sekali dengan kehadiran sosok Kegan yang bikin ceritanya nggak totally boring. Kegan ini yang sering—bahkan jadi the one and only—membawa sense humor di cerita ini. Terutama interaksinya dengan Atha seperti waktu ngomongin Ares ngompol, dan juga penafsiran warna seseorang yang dikatakan Atha kalau Kegan itu warnanya biru menggambarkan isi otaknya: blue. XD Saya suka banget dengan karakter Kegan yang bisa dibilang rada-polos-rada-modus-tapi-tulus itu. 🙂

“Menurut buku yang kubaca, setiap orang itu punya warna, aura yang bikin dia menarik.” — Atha (halaman 32)

Okay, itu setengah dari penafsiran saya tentang isi buku ini. Setengahnya lagi ternyata di buku ini banyak kejutan. Rasanya itu seperti… “duh, kenapa nggak dari awal aja ada beginiannya?” heuheuheu. Tadinya aku sama sekali nggak menyangka kalau buku ini menyangkut hal psikologi. Setelah mencium gelagat psikologi itu, nafsu bacaku langsung naik 50%. Psikologi adalah salah satu topik yang pengin sekali saya baca belakangan ini. Yeah, beruntung sekali bisa nemuin buku ini dan dikasih langsung sama penulisnya. Yippie!

“Tidak ada orang di dunia ini yang bisa berbuat adil sepenuhnya. Hati mereka pasti akan memihak pada salah satu, itu adalah sebuah kepastian. Yang ada adalah, mereka yang berusaha untuk berbuat adil.” (halaman 227)

Sejak awal saya bersimpati pada Atha. Saya paham betul bagaimana rasanya jadi dia yang kurang dapat perhatian, yang melakukan hampir semua hal sendirian, lebih suka menghabiskan waktu baca buku sendirian, kadang dapat perlakuan yang tidak adil, jarang dapat kesempatan ngomong atau karena memang lebih memilih untuk diam saja, dan lain-lain. Tetiba jadi ngerasa, “Lah, kok Atha ini kayak saya banget ya?” hehehe. Ini beberapa sikap dari keluarganya yang seperti kurang memperhatikan Atha.

1). Atha sempat mau dipulangkan lagi ke panti asuhan karena saat ada insiden Alia jatuh dari tangga sampai membuat tulang kakinya patah. (Eitsss, ternyata persoalan ini masih ada lanjutannya loh!)

2). Ibu Ayuning tidak begitu perhatian pada Atha seperti perhatiannya pada Alia ketika kamar Alia berantakan. Ia mengomeli Alia sambil bantu membereskan kamarnya lalu balik memeluk Alia. Hal itu membuat Atha sengaja membiarkan kamarnya berantakan, tapi mamanya itu hanya mengomel sebentar kemudian berlalu begitu saja tanpa sweet action yang dilakukannya ke Alia.

3). Ares dan Alia sering bermanjaan ala kakak-adik misalnya mengacak-acak rambut, atau saling semprot pakai air dari keran, atau jalan bareng sepulang sekolah kemudian langsung nonton, dan lain-lain. Tapi, Ares tidak pernah berlaku seperti itu ke Atha sekali pun Atha sudah berlaku manis dan menunggu perlakuan balik dari kakaknya itu.

4). Pernah Atha mau pergi ke suatu tempat, ada Ares lewat yang baru selesai mandi. Ares sempat bertanya mau pergi ke mana. Setelah mendapat jawabannya, ia hanya bilang “hati-hati” lalu masuk ke kamar. Sedangkan tadinya Atha menunggu reaksi lebih dari Ares, berharap Ares mau mengantarnya.

5). Pulang sekolah Atha pura-pura  nggak enak badan dan ingin cepat pulang. Tapi, bukannya langsung inisiatif mau mengantar pulang langsung, si Ares malah menyuruh Kegan yang antar pulang Atha pakai motor. Sedangkan ia pulangnya nanti dengan Alia naik mobilnya sendiri.

6). Ibu Ayuning hanya membelikan oleh-oleh untuk Alia karena Alia memang sudah menginginkan benda itu sejak yang lalu-lalu. Tapi, Ibu Ayuning tidak membelikan oleh-oleh untuk Atha dengan alasan ia tidak tahu apa yang Atha mau dan ragu apakah yang ia belikan akan cocok dengan selera Atha.

7). Ibu Ayuning memasak masakan spesial dalam rangka foto jepretan Alia masuk nominasi 10 besar di lomba fotografi, dan band Ares dapat jadwal manggung. Tapi mereka semua tidak ada yang tahu dan/atau berinisiatif untuk merayakan juga keberhasilan Atha lolos di tim cheers di sekolahnya.

“Kata Atha, tim cheers itu memiliki aura seorang putri yang tak kenal lelah. Mereka menari dengan lincah dan penuh semangat. Kegan tidak paham, putri macam apa yang menari seagresif itu? Setahunya putri-putri dalam film Disney menari dengan anggun. Mereka berdansa dan tak pernah sekalipun membuat formasi piramida.” (halaman 87)

Si penulis pandai sekali memainkan emosi pembaca melalui kisah ini. Kalau saya, pertama dibuat kasihan kepada Atha yang seperti terasingkan dan saya juga dibuat sebal dengan Ibu Ayuning serta Kak Ares yang kentara sekali pilih kasihnya, juga sikap Alia yang seperti kelewat manja dan jadi anak yang sering mengeluh. Tapi, makin ke tengah buku, makin banyak konflik disuguhkan, maka persepsi itu makin memudar. Saya jadi mulai netral. Kemudian makin ke akhir makin terungkaplah kebenarannya dan kepada siapa pembelaan saya itu sepantasnya ditujukan. Apalagi ditambah cerita-cinta-garis-lurus-dengan-empat-titik  yang makin mewarnai persahabatan dan persaudaraan mereka itu bikin ceritanya jadi lebih menarik.

“Jangan mendekat. Tetaplah di sana dan jangan berharap lebih.” (halaman 18)

Ya, memang bukan cinta segi empat. Ini sih namanya cinta garis lurus karena si A suka sama si B, si B suka sama si C, si C suka sama si D, tapi si D suka sama yang lain. XD Meski dari sisi romantisme remajanya tidak terlalu menonjol, tapi si penulis mampu memikat pembaca—ehem, maksudnya saya—dengan suguhan utama non-romantis yang cukup apik.

“Lo nggak berhak marah sama orang yang cinta sama lo, seburuk apa pun dia. Seandainya dia bisa milih, dia bakal milih orang lain. Tapi lo tahu kan kalau dia nggak pernah diberi kesempatan untuk memilih?” — Kegan (halaman 212)

Tapi ada hal kecil lain yang terkadang membuatku bingung. Terdapat banyak flashback di buku ini, baik yang jarak waktunya baru atau sudah sangat lama. Ada bagusnya setiap ada flashback meski sedikit itu bisa dibedakan dengan jenis font secara keseluruhannya, bukan cuma dialognya. Itu hanya saranku ya.

Ada dua hal lagi yang agak janggal. Pertama, kemana suami dari Ibu Ayuning setelah anak-anaknya itu beranjak dewasa? Saya tidak menemukan satu pun scene yang ada ayahnya misalnya makan bersama di meja makan. Seingatku juga tidak disebutkan misal ayahnya itu pindah kerja keluar kota atau sudah meninggal. Eh, atau aku yang terlewat ya? Dan yang kedua, siapa Keyra? Menjelang ending buku, muncul nama ini di percakapan antara Kegan dan Alana. Di situ juga tidak disebutkan Keyra itu siapa. Oh ya, masih ditemukan dua typo, ada kata yang kurang dan ada juga yang kelebihan kata, tapi lupa halaman berapa aja. It’s okay, masih bisa dimaafkan dan dimengerti. Hehehe.

Jadi, tentang niat dan keputusanku yang tadinya cuma mau kukasih 2 bintang akhirnya naik jadi 3 bintang! Eh, 4 bintang ding untuk sosok Kegan yang sudah menghidupkan suasana. Love you, Kegan! ♥

OVERALL RATING

★★★★☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s