[Review] Interlude by Windry Ramadhina

Cover novel Interlude

Judul: Interlude
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Editor: Gita Ramadhona & Ayuning
Penata Letak: Gita Ramayudha
Desain & Ilustrasi cover: Levina Lesmana
Tebal: 372 Halaman
Cetakan: Pertama (2014)
ISBN: 978-979-780-722-1
Genre: AdultRomance

BLURB

Hanna,
listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak. Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.” Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri. Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu? Hatiku baru saja patah…

REVIEW

“Rambutnya hitam pekat bergelombang, panjang terurai hingga melebihi bahunya, kontras dengan kulitnya yang luar biasa putih. Bibirnya kemerah-merahan. Garis-garis wajahnya amat lembut. Sepasang matanya berkilat takut-takut.” (halaman 43)

Hanna berubah menjadi sosok yang sangat penakut karena trauma yang dia alami akibat kejadian pemerkosaan yang menimpa dirinya setahun yang lalu. Bukan hanya takut kalau kejadian menjijikan itu akan terulang kembali, dia juga takut dengan opini publik terutama teman-teman kampusnya yang menganggap dirinya kotor. Hanna diperkosa oleh kakak kelasnya sendiri, tentu saja berita itu langsung tersebar ke penjuru kampus, tapi mereka menilai kalau Hanna bukan diperkosa, melainkan karena mereka melakukannya karena suka sama suka. Hanna jadi lebih suka menundukkan pandangan, menjauh dari kerumunan, menyendiri ke tempat sepi, kikuk, gagap dan tidak banyak bicara.

“Dia takut berada di tengah-tengah mahasiswa-mahasiswa lain, takut berhadapan dengan mereka, takut membayangkan apa yang mereka pikirkan mengenai dirinya, takut jika mereka menganggap dia… kotor.” (halaman 28)

Kai Risjad, anak bungsu dari tiga bersaudara, anak dari pasangan Ito Risjad yang seorang dokter bedah dan Inne Risjad berprofesi sebagai pengacara ternama. Kai adalah gitaris di band Second Day Charm beraliran jazz. Pria ini tidak bisa disebut lelaki baik-baik, tepatnya sebut saja dia itu kacau. Suka mabuk, malas-malasan di studio, tidak peduli masa depan, dan doyan main perempuan.

“Perempuan suka menjadi objek lelaki. Perempuan mana pun. Karena itu, Kai tidak pernah menganggap serius sikap malu-malu perempuan.” (halaman 59)

Kai memang ahlinya dalam urusan memikat perempuan. Meski begitu, tidak usah heran jika banyak gadis yang menyerah hingga rela dibawanya ke ranjang karena Kai ini memang good-looking.

“Wajahnya tampan, memikat. Garis rahang, tulang pipi, juga alisnya tegas dan sempurna menyerupai hasil pahatan. Rambutnya bergerak-gerak pelan dibelai angin, sesekali menutupi matanya, sesekali menampakkan sepasang bola cokelat yang menawan.” (halaman 34)

Kai menjadi seperti ini bukanlah tanpa sebab. Dia merasa kosong di jiwanya karena bermula dia tidak mampu menemukan kebahagiaan di rumahnya sendiri. Oleh karena itu ia lebih sering menginap di apartemen Gitta—teman satu band—daripada pulang ke rumahnya sendiri.

“Memangnya, mahasiswa yang punya indeks prestasi 4 selama enam semester tidak boleh bangun pada pukul satu pagi dengan perasaan muak?” — Kai Risjad (halaman 76)

Yeah, jangan kaget dengan pernyataan di atas. Aslinya Kai itu pintar dan berambisi. Dia sendiri yang mau menempuh jurusan hukum di Universitas Indonesia. Tapi karena beban di hatinya yang kian lama kian menggunung, dia jadi malas kuliah dan mengambil cuti.

Kai merintis band beraliran jazz bernama Second Day Charm bersama dua orang temannya, Jun dan Gitta. Jun pada bass, sedangkan Gitta di piano sekaligus vokalis. Gitta beruntung sekali diapit oleh dua lelaki yang sama-sama mampu mempesona wanita dalam sekejap. Jun tidak kalah tampannya.

“Tubuh pemuda itu tinggi. Rambutnya cepak, tetapi tidak sependek rambut tentara. Matanya agak sipit, mengintip dari balik lensa minus yang tidak berbingkai. Dagunya kecil. Bibirnya tipis. Pemuda itu menyembunyikan tangan kirinya di saku celana.” (halaman 45-46)

Balik lagi ke Hanna ya. Hanna punya kebiasaan membawa perekam suara ke mana pun dia pergi. Dia suka merekam suara kebisingan di sekitarnya untuk dia dengarkan lagi ketika pulang. Anggaplah ini salah satu hiburannya karena dia selalu sendiri dan merasa kesepian. Tapi, saat terapisnya yang bernama Lorraine mencoba mendengarkan isi rekaman itu, dia menangkap suara petikan gitar yang indah. Itu melodi yang dimainkan oleh Kai, tanpa sengaja terekam saat mereka sama-sama mengunjungi Kofilosofi. Dari suara petikan gitar itulah Hanna mengenali Kai di pertemuan mereka selanjutnya.

***

Fiuh, akhirnya kesampaian juga nih buat baca novelnya Mbak Windry. Ini novel pertama dari Mbak WR yang aku baca. Hasil pinjeman dari temen yang minjem sama temennya lagi. 😀 Jadi, kesan pertamaku pada buku Mbak WR adalah… SUKA BANGET! Nggak salah deh kalau penggemar karya Mbak WR ada di mana-mana. Mereka selalu memuji, menanti dan berburu karya Mbak WR yang selanjutnya. Bikin aku penasaran pengin icip-icip karyanya, dan ternyata memang sedap. Novel ini termasuk page turner banget. Kalau bukan karena mengantuk dan ada kerjaan lain, harusnya aku bisa saja menghabiskannya hanya dalam satu hari atau beberapa jam. 😀

“Masa lalu seperti belenggu, memang. Mengikat. Terlalu mengikat, kadang. Seperti menjadi bagian baru di diri kita. Bagian baru yang membebani.” — Lorraine (halaman 254)

Kisah antara Hanna dan Kai agak tarik ulur. Awalnya Kai yang semangat mendekati Hanna tapi Hanna yang ragu karena traumanya masih membayangi. Lalu ada pula momen ketika mereka akur jadi teman, lalu saling menjauh, lalu mendekat lagi, lalu menjauh lagi, lalu mendekat lagi. Meski begitu, sama sekali tidak membosankan. Justru membuat variasi cerita yang istimewa karena tidak hanya satu konflik yang disajikan. Ceritanya tidak melulu tentang Hanna dan Kai, tapi juga ada dari yang lain, namun Hanna dan Kai tetap jadi yang utama. Porsinya mererka masing-masing sangat pas. 🙂

Aku suka dengan pembentukan karakter Hanna dan Kai. Kalau Hanna terasa sekali sifatnya yang kikuk dan gagap dari caranya berbicara dan deskripsi gesturnya. Sikapnya juga bikin gemas, antara takut dengan jaim mungkin. Takut kalau Kai akan melukainya tapi juga malu untuk mengakui apa yang dia rasakan sesungguhnya pada Kai. Lama-lama jadi sebel juga sih, Hanna tetap saja jadi wanita lemah yang sangat penakut padahal sudah ada terapis yang menanganinya, dan dia juga tidak berusaha atau ngasih effort lebih untuk menghalau trauma itu. Tapi, ternyata aku tidak merasakan kekesalan itu sendirian karena Gitta pun merasakan hal yang sama. 😀 Bahkan ayahnya Hanna sempat menasehati putrinya itu dengan sindiran yang sangaaat halus.

“Di dunia ini, beberapa orang hidup tenang, beberapa orang sebaliknya—mengalami kejadian buruk. Kedengarannya tidak adil, memang. Tapi, Hanna, mereka yang mengalami kejadian buruk dan bertahan dari semua itu akan menjadi lebih kuat dari yang lain. Mereka spesial.” — Ayah Hanna (halaman 304)

Kai sosok yang bandel tapi sekalinya nemu yang bisa menyentuh hatinya, dia akan sulit berpaling. Meski sudah entah berapa wanita silih berganti yang ia kencani, ia tidak pernah peduli dengan apa yang dirasakan wanita-wanita itu setelah ia campakan. Eh, pas sama Hanna malah dia jadi serba salah.

“Sebelum ini, dia tidak pernah memusingkan anggapan gadis-gadis mengenai dirinya. Dia tidak peduli gadis-gadis itu menamparnya atau menyebutnya berengsek. Hanna tidak menamparnya, tidak pula menyebutnya berengsek. Gadis itu menajuhinya beberapa langkah, itu saja, tetapi Kai berani bersumpah barusan dadanya terasa sesak.” (halaman 129)

“Minta maaf dan menjaga perasaan perempuan, itu tidak seperti Kai sama sekali. Kau tahu, Hanna? Kai yang kukenal selama ini tidak peduli walau gadis yang dia sakiti menangis meraung-raung di depannya. Gadis itu gantung diri pun, barangkali, dia tidak ambil pusing. Heran. Kepadamu, dia berbeda.” — Gitta (halaman 167)

Ketertarikan Kai pada Hanna bermula karena Kai menganggap kalau pembawaan Hanna yang rapuh itu hanyalah sandiawara, padahal Hanna itu rapuh beneran. Kai tidak pernah bertemu dengan wanita seperti ini sebelumnya.

“Perempuan tidak perlu diberi hati, itu yang dia percayai selama ini. Rengekan, tangisan, penampilan lemah mereka; semua itu hanya topeng. Di balik topeng tersebut, ada makhluk munafik yang sangat pintar berpura-pura, yang jauh lebih berbahaya daripada lelaki paling binatang sekalipun.” (halaman 23)

“Ah, kau spesial, itu jelas. Aku sudah lama kenal Kai. Tidak biasanya pemuda itu bawa gadis yang sama ke kafeku dua kali. Kalau bukan karena lupa, maka berarti dia sedang tergila-gila. Aku berani bertaruh untuk yang terakhir.” — Pra (halaman 150)

Meski ini cerita romance yang sangat kental romansanya, tapi Mbak WR nggak lupa menyisipkan sedikit humor dengan caranya sendiri. Tidak sampai tertawa terbahak-bahak sih, tapi setelah mengikuti nuansa keseriusan seorang Hanna akhirnya bisa juga novel ini mengajak pembaca tersenyum geli.

“Hanna memandangi buku menu di pangkuannya sambil mengerutkan alis. Nama-nama makanan dan minuman yang tercantum di buku tersebut membuatnya bingung. Itu bukan nama-nama makanan dan minuman, kecuali Nigel’s sungguh-sungguh menyajikan Louis Armstrong yang legendaris di piring mereka.” (halaman 145)

“Pra pakai nama musisi-musisi jazz kesukaannya untuk makanan dan minuman. Stanley Turrentine, lumpia. Pee Wee Russel, steik iga. Renee Oelstad, puding karamel. Shirley Temple, soda rasa delima. Sok keren, kan?” — Kai Risjad (halaman 145-146)

Wait, kalau Hanna sampai nggak bisa milih menu dari buku menu itu, apa iya di buku menu itu hanya ada urutan nama menu tanpa gambarnya sekalian? Sampai-sampai Kai harus menjelaskan lagi ke Hanna arti dari nama-nama menu itu. Hanna jadi bertanya pada Kai, apakah ada menu sup krim dan steik ayam? Yah, logikanya sih hari gini di kafe kelas atas masa sih di daftar menunya itu nggak nyamtumin gambar makanannya juga? Kan kafe, bukan restoran thok. Hehehe 😉

Tapi, over all, novel ini nggak mengecewakan. Kalau ibarat makanan sih very tasty. Novel Interlude ini justru bikin aku ketagihan mau baca karya Mbak WR yang lainnya. Mau pinjem lagi aaahhh~ 😄

OVERALL RATING

★★★★☆

Advertisements

4 thoughts on “[Review] Interlude by Windry Ramadhina

  1. kayaknya keren. jadi pengen baca buku ini

    Like

  2. Udah baca! Beneran, bukunya bikin nyesek 😦 Mungkin gara-gara gaya penulisan Windry yang gimana gitu yah.
    Btw, udah baca Orange? Buku pertama Windry yang udah di repacked… bagus, (eh, semua buku Windry bagus kok 😀 ain’t?)

    Like

    • Tulisan Mbak WR ini rada dalem, halus penggambarannya. Apalagi panggilan antar tokohnya pake aku/saya/kamu/kau. Belum baca Orange. 😥 Target utamaku selanjutnya adalah minjem Orange dan Metropolis. Semoga temennya temenku punya dua-duanya. Hohoho. 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s