[Review] Girl Talk by Lala Purwono

Cover Girl Talk

Judul: Girl Talk
Penulis: Lala Purwono
Penerbit: Stiletto Book
Editor: Herlina P. Dewi
Desain cover: Ike Rosana & Felix Rubenta
Layout isi: deeje
Proofreader: Tikah Kumala
Fotografer cover: Titi Kharisma (@titi_saja)
Model foto cover: Yeni Puspita (@pusphytaceae)
Tebal: 181 Halaman
Cetakan: Pertama (Juni, 2012)
ISBN: 978-602-7572-05-8
Genre: Romance, Kumpulan Cerita Pendek

BLURB

Mereka bicara tentang cinta, juga tentang sakit hati karena cinta yang mengikat terlampau erat. 

Mereka bicara tentang rahim yang tak pernah menjadi tempat singgah seorang bayi mungil, juga tentang perut membuncit yang bisa berarti akhir dari segalanya.

Mereka bicara tentang ketakutan pada ikatan pernikahan, juga ketakutan menghabiskan seumur hidup mereka dalam kesendirian.

Mereka bicara tentang rasa egois seorang lelaki, tapi mereka mengakui tak bisa hidup tanpanya.

Ya, mereka 60 perempuan ini, berbicara tentang kisah hidup mereka.

Di antara 30 kisah ini, yang manakah kisah hidupmu?

REVIEW

Benar-benar nggak terasa kalau di dalamnya ada 30 kisah menarik. Tahu-tahu sudah habis saja. Serasa masih kurang dan masih ingin menguak cerita-cerita apa lagi yang sering dialami oleh para perempuan. I believe, there are million awesome cases remaining out there. Tapi, nggak mungkin juga kan kalau semuanya mau ditumplekin dalam satu buku? Kalau yang di dalam sini memang cuma ada 30 kisah yang mewakili kasus-kasus yang paling sering dialami oleh para perempuan di belahan bumi bagian mana pun.

Seperti yang sudah saya cantumkan di data buku, genre di sini mengusung tema romance. Ada 30 kisah atau problematika wanita tapi tidak semuanya didasari oleh konflik cinta. Kalau konflik cinta misalnya ada yang belum bisa ngelupain masa lalu, ada yang cinta sama yang beda agama, ada yang naksir sama orang kece baik kaya pintar tapi sendirinya malah minder karena merasa cuma butiran debu, ada yang selingkuh, ada yang tetap memilih jadi simpanan, dan lain-lain. Kalau yang nggak berdasarkan cinta tapi sangat kental dengan masalah wanita di jaman sekarang misalnya banjir pertanyaan soal alasan kenapa belum nikah, atau mempertanyakan kenapa belum juga punya anak, meragukan Tuhan tentang waktu kapan yang tepat untuk dikasih momongan, ada tentang rahasia masa lalu, ada tentang keperawanan, dan sebagainya.

“It’s a never ending question, Dik. Belum menikah, ditanyain kapan nikah. Setelah menikah, ditanyain kapan punya anak. Setelah punya anak, ditanyain kapan punya momongan lagi. Nanti kalau sudah punya anak yang usianya siap kawin, ditanyain kok belum punya cucu…” — (halaman 172-173)

Yang mana kisah hidupku? Haha, aku sendiri malah nggak bisa menentukan yang mana. Kayaknya kisahku sendiri itu blasteran. Maksudnya mix antara cerpen yang ini dan yang itu. Mungkin kisah hidup kalian juga nyangkut di salah satu dari 30 kisah di sini atau mix kayak aku. Those are so realistic. I even thought that all of them are based on true story from somewhere. Tapi yang penting menurutku semua cerpennya itu berkesan.

Awalnya aku nggak nyangka kalau tiap bab isinya sependek itu. Kalau yang paling panjang itu cuma ada 6 halaman per bab atau per cerita. Tapi pas ngecek lagi, ya wajar aja lah, kan totalnya cuma 181 halaman, trus ada 30 kisah yang dibeberkan. Justru itu yang bikin aku nyaman selama membacanya. Aku nggak perlu capek-capek menyimak kisah tokohnya dari awal dan harus menunggu beberapa halaman dulu untuk bisa mencapai konflik. Ini yang aku suka kalau baca cerpen. Ada banyak hal yang bisa kunikmati dalam 1 buku saja dalam waktu yang singkat.

Hmm, memang sih di buku ini nggak ada action, maksudnya pengungkapan semua masalah para wanita itu hanya dibeberkan dalam scene percakapan, obrolan, chat time. Bukan cerita atau aksi yang on going. Semacam mereka berdua lagi rumpik di kubikel kantor atau lagi ngafe di siang bolong atau lagi iseng ngobrol pas jalan ke parkiran atau curcol pas lagi belanja di mal. Tiap cerpen sangat to the point. Meski ceritanya sangat singkat, tapi konflik utama ditambah hikmah ditambah amanat ditambah twist pada tumblek di situ. Bisa kubilang kalau tiap cerpen terasa sangat berbobot.

Kekurangannya adalah karena 1 buku ini ditulis oleh 1 penulis saja, sehingga taste di tiap cerpen terasa sama saja. Beberapa orang mungkin akan mengatakan seperti kurang variasi, tapi bagiku itu tidak terlalu masalah karena dari awal sampai habis aku suka semua isi ceritanya.

Ada satu cerpen yang paling aku suka, judulnya Drop. Dead. Love yang isinya tentang mencintai seseorang tapi tak akan mampu memilikinya. Alasan aku menyukainya karena aku sama sekali nggak nyangka deh kalau fakta di balik ceritanya ternyata begitu. 😀 Aku kan suka sekali dengan cerita yang punya twist, dan di cerita itu si penulis memainkan 2x twist di ending dalam satu tembakan. Jaw-dropper. *kasih 2 jempol*

Oh ya, di tagline disebutkan, “60 Perempuan. 30 Kisah. Yang Manakah Kisah Hidupmu?” Ya, memang benar ada 30 kisah. Di tiap kisah ada 2 wanita yang sedang saling mengobrol, jadi totalnya 60 perempuan. Tapi, setelah ditelisik lagi, ternyata bukan 60 perempuan lho. Misalnya ada Dinda dengan cerita tentang Jose tersayangnya itu yang muncul di 3 cerpen berbeda. Berarti itu sudah ngurangin jatah dan nggak sampai 60 perempuan dong. 😀

Okay, lupakan saja, sebenarnya ini fakta yang nggak terlalu penting sih. 😛

Anyway, gini deh, kalau kalian lagi bosen sama novel dan pengin nyoba baca kumcer yang to the point konfliknya, aku sangat menyarankan kumcer ini untuk kalian baca. At some point, you’ll realize that you’re not the only one who feels and through the hardest time of your love story. 🙂

Atau bisa juga nih buat para lelaki di luar sana yang ingin lebih mengerti bagaimama sudut pandamg wanita dalam menanggapi masalah cinta dan rumah tangga sehingga kalian jadi bisa lebih memahami perasaan wanita. #tsaaah 😄 Meski isinya 100% dari sudut pandang wanita, tapi nggak ada salahnya lho kalau para lelaki juga ikutan baca.

Nah, berikut ini adalah beberapa kutipan yang aku suka dari buku ini. Cekidot!

“Setiap orang punya ruang-ruang di hatinya. Tak mutlak hanya diisi oleh satu orang aja kok.” — (halaman 5)

“Terkadang, ada beberapa hal yang nggak perlu kita pertanyakan. Why we’re here, why it happened. Sadar nggak sih, kalau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bertanya ini-itu, kita malah lelah sendiri? Apalagi setahuku, setiap kali kita bertanya, sebetulnya kita tahu apa yang ingin kita dengar. Nah, kalau masalahnya, sampai kapan kita menemukan jawaban dari pertanyaan yang sebetulnya kita sendiri pun nggak pernah tahu?” — (halaman 9)

“Cinta bukan kompetisi; siapa lebih hebat dari siapa. Siapa yang lebih pintar? Siapa yang lebih hebat? Siapa yang lebih kaya? Siapa yang lebih sukses? Kalau cinta adalah semacam kompetisi, pada akhirnya nanti akan menghasilkan seorang pemenang. Dan… tentu saja, ada seseorang yang akan kalah. Kalau sudah begini, apa masih disebut cinta?” — (halaman 25)

“Jujur, gue paling males ngurusin orang lain. Everyone may wear any shoes. But if they use them to step in my feet, baru gue bakal teriak.” — (halaman 48)

“If you get envy or jealous with someone, then it means you feel insecure about yourself. Menurut gue, kalau elo udah yakin dengan kapasitas dan kemampuan diri elo sendiri, elo nggak bakal mengkhawatirkan apapun.” — (halaman 49)

“Cinta nggak ada urusan sama umur, sama gelar  sama status sosial… sama apapun, Gi. Mau dia profesor atau tukang sol sepatu, cinta ya cinta aja. Hati mereka tetap berkerja selayaknya manusia yang sedang jatuh cinta, tidak bekerja sesuai dengan latar belakang edukasi, pekerjaan, suku, agama, atau semua hal-hal itu.” — (halaman 52)

“Cinta nggak ada urusannya sama seberapa banyak uang yang kamu punya, lulusan sekolah mana, berapa umur kita. Cinta itu sesuatu yang datang mengetuk pintu hati siapapun, tanpa mengenal semewah atau semelarat apa rumahnya.” — (halaman 53)

“Nggak fair ah, kalau kamu pengin move on, tapi sebel kalau dia bahagia.” — (halaman 66)

“Why don’t they just leave me alone and let me deal my own war? Thus is how I deal with my life… Harusnya mereka nggak usah sok ikut campur.” — (halaman 76)

“Tiap orang dateng dalam kehidupan kita, pasti punya misi dan tujuan, Lor. Mau nyebelin seperti apa, orang-orang itu pasti punya maksud dan ngasih hikmah setelah semuanya lewat.” — (halaman 140)

“Ketika lo memilih untuk menikahi seseorang, itu artinya lo menerima orang itu, lengkap seluruh paketnya. Masa lalunya, masa kininya, masa depannya.” — (halaman 155)

“First of all, kamu musti ngerti, kalau marriage material itu cinta. Bukan kebiasaan masak, kebiasaan menjahit oakaian, bukan juga tentang panjang rok seorang perempuan. Cinta itu ounya spesifikasi tersendiri buat masing-masing orang. Nggak ada aturan bakunya.” — (halaman 159)

“Dan wife material itu  tidak selalu harus perempuan kalem, pinter masak, pinter jahit, dan sebagainya. Wife material bisa jadi adalah perempuan yang mau diajak kerja sama membangun usaha, yang mau mengerti kalau pejerjaan kantor akan sangat menyita waktu, yang bisa memahami kalau merokok mungkin adalah jalan keluar suami untuk melepaskan stresnya.” — (halaman 159)

Last words, selamat menemukan kisah mana yang mirip atau bahkan sama dengan kisah hidupmu. 😉

OVERALL RATING

★★★★☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s