[Review] Jodoh untuk Naina by Nima Mumtaz

Jodoh untuk Naina

Judul: Jodoh untuk Naina
Penulis: Nima Mumtaz
Penerbit: Elex Media Komputindo
Editor: Pradita Seti Rahayu
Ilustrasi cover: Muninggar Herdianing
Cetakan: Kedua (September, 2015)
Tebal: 252 Halaman
ISBN: 978-602-02-6348-9
Genre: Romance

BLURB

Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih. Naina ikhlas.
Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengapa Abah begitu yakin dia mampu
menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan sebelum akad nikah?
Apakah dia adalah jodoh untuk Naina?

REVIEW

“Rasanya belum cukup waktu untukku bisa membuat Abah bahagia, belum cukup waktu berbakti pada orangtuaku satu-satunya. Dan kini, jika keinginan Abah hanya ingin melihatku menikah, bisakah aku menolak permintaan beliau?” — Naina Humairah (halaman 4)

Naina Humairah, masih berusia 22 tahun. Belum lama lulus kuliah tapi sudah mengajar di sebuah TK. Ia anak bungsu dari 3 saudara. Kakaknya yang pertama bernama Muthia sudah menikah dan punya 3 anak. Kakaknya yang kedua bernama Salman juga sudah menikah dan punya anak. Naina kini tinggal berdua saja bersama Abah Miftah karena Umi Aminah sudah lama meninggal karena sakit. Jadi, semenjak kakak-kakaknya sudah berumah tangga, Naina-lah yang mengurus Abah di rumah.

“Tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau. Karena Allah telah menuliskan dalam garis takdirmu.” — Abah Miftah (halaman 2)

Kebimbangan yang sungguh tak terelakkan oleh Naina ketika Abah tiba-tiba membicarakan soal perjodohannya dengan seorang lelaki yang ternyata sudah meng-khitbah-nya sejak seminggu yang lalu. Naina merasa belum siap untuk menikah secepat ini. Apalagi umurnya masih 22 tahun. Ditambah lagi ini adalah perjodohan, di mana lelaki itu bukanlah lelaki yang Naina kenal secara dekat. Pada dasarnya Naina memang tidak punya banyak teman lelaki karena ia dulu sekolah di madrasah dan jarang main ke luar. Bisa dibilang seperti ayam yang lagi ngeremin telur, mendem di kamar melulu. Secara halus Naina coba menolak dengan alasan kalau nantinya nggak ada yang akan ngurusin Abah di rumah kalau Naina menikah dan ikut suami, tapi ternyata Abah tidak keberatan dengan itu semua dan berdalih kalau orang-orang terdekat masih bisa membantunya.

Rizal Ayyashi, si anak bungsu di keluarganya. Lelaki ini sudah berusia 32 tahun dan sudah bekerja sebagai salah satu dosen di Universitas Ibnu Sinna. Dulunya tinggal satu kampung dengan Naina. Tapi, 10 tahun yang lalu, Rizal sekeluarga memilih pindah ke Surabaya karena tidak tahan dengan cemoohan orang-orang sekampung. Pasalnya, Rizal dulu pernah digrebek sedang berduaan di rumah seorang wanita beristri yang sedang ditinggal jauh oleh suaminya yang kerja di Jambi. Menurut kabar yang beredar, Rizal telah berbuat zina sampai diarak keliling kampung segala. Keluarganya sangat malu, bahkan usaha toko bahan bangunan milik ayahnya mengalami penurunan omzet sangat drastis.

Bukan hal yang mengherankan kalau Naina ragu terhadap keputusannya menerima perjodohan itu ketika tahu bahwa lelaki yang akan menjadi suaminya adalah Rizal Ayyashi meski Abah bilang kalau lelaki ini agamanya juga bagus. Naina masih sangat bimbang dan ingin sekali menolak tetapi ia tak kuasa jika harus mengecewakan Abah dan membuatnya sedih. Ah, betapa mulia hati Naina ini, sama sekali tidak mau egois. Hingga menjelang akad nikah pun Naina masih saja gamang.

“Dek, bagaimana Allah akan membisikkan jawaban kalau hatimu sendiri sudah menolak. Iya nggak?” — Kak Muthia (halaman 16)

“Kamu punya banyak pilihan. Aku tak akan memaksa. Dan kalau kamu memutuskan untuk tak meneruskan rencana pernikahan ini, aku sendiri yang akan menjelaskan pada keluarga kita. Kamu selalu punya pilihan, Naina.” — Rizal Ayyashi (halaman 22)

Singkat cerita, pernikahan tetap dilaksanakan dan semuanya berjalan dengan lancar. Tak lama setelah resminya mereka jadi suami istri, Naina langsung diboyong oleh Rizal ke rumah pribadinya. Rumah mereka berdua.

“Buat Abah bangga, hormati suamimu seperti kamu menghormati orangtuamu. Hormati juga orangtua suamimu karena mereka orangtuamu juga. Kami akan selalu menyayangimu.” — Abah Miftah (halaman 38)

Meski sudah tinggal satu rumah, semuanya tidak begitu saja mengalir dengan mudah. Butuh penyesuaian terutama bagi Naina. Masa lalu Rizal yang kelam itu masih saja membayangi benak Naina dan terkadang membuatnya takut. Naina masih ragu apakah Rizal sudah benar-benar berubah? Sebelum mendapat jawaban yang pasti, Naina sangat menjaga jarak dari suaminya itu.

“Boleh aku tahu, kamu nggak menerima ini karena dijodohkan atau karena akulah yang jadi suamimu?” — Rizal Ayyashi (halaman 41)

Jujur, aku sampai termehek-mehek baca novel ini. Rasanya pengin cepet ngabisin buat tahu ending ceritanya tapi di sisi lain malah nggak rela juga kalau kisah Rizal dan Naina habis begitu saja. (Lha, jadi maunya apa tho?) Novel ini jadi salah satu novel favoritku karena setelah selesai baca pun aku masih susah move on. Masih lekat terbayang di ingatan bagaimana Rizal dan Naina melewati kehidupan awal pernikahan mereka. Bahkan saat salat pun aku sampai berdoa kepada Allah supaya bisa dipertemukan dengan lelaki seperti Rizal. (Aamiin!) XD

Melalui sosok Naina di sini aku jadi berkaca akan diriku sendiri dan merasa malu. Mungkin tepatnya minder. Dibanding Naina, mungkin aku cuma butiran debu. Belum ada apa-apanya. Aku belum setaat Naina dalam ibadah, belum setertutupnya Naina dalam hal aurat, belum seberbakti Naina pada Abah, belum serajin dia pada urusan rumah tangga, belum sepasrah Naina pada jodohnya, belum bisa seikhlas Naina ketika masalah menerpa. Pokoknya aku masih jauh deh dari karakter Naina. Apa iya harus jadi kayak Naina dulu baru bisa dapet jodoh kayak Rizal? 😀

Di sisi lain, aku sungguh senang bisa ‘bertemu’ novel ini. Melalui tokohnya, aku bisa introspeksi diri dan punya acuan untuk jadi lebih baik. Aku juga merasa tidak sendiri karena secara kebiasaan aku tidak jauh beda dengan Naina. Naina termasuk perempuan yang kalem, pendiam, pemalu, tapi bisa jadi cerewet banget juga kalau sudah kelewat kesal. Naina juga tidak sering main ke luar rumah, ia lebih sering mendam di kamarnya. Aduh, yang ini malah sama persis. XD Tapi, meski nggak pernah keluar dan nggak punya banyak teman lelaki, ternyata Naina masih bisa tuh dapat jodoh sebaik dan sesempurna Rizal. Tadinya aku sempat pesimis, dengan keadaanku yang kayak ‘begitu’ juga mah bisa-bisa aku akan susah ketemu jodoh. Tapi melalui kisah Naina, aku jadi nggak pesimis lagi. Hahaha. 😛 (Doh, kok malah curcol sih di review?)

Okay, balik lagi bahas bukunya ya. Aku sangat menikmati proses kehidupan yang dijalani oleh Rizal dan Naina. Rasanya seru juga menyimak ‘pedekate’ mereka pasca menikah. Kadang kagok, kadang malu-malu, kadang ‘panas’, kadang lucuk, macem-macem deh. Nggak ada perasaan yang mengganjal juga di hati ini karena apapun yang terjadi pada mereka semuanya sudah halal. 🙂

Aku sangat suka dengan tokoh Rizal. Meski penokohannya yang ‘sekarang’ terasa sangat komplit and too good to be true, but I believe that someone like him is still exist out there. Terkadang, kalau ada penokohan yang terlalu sempurna bisa membuatku jadi batal untuk jatuh cinta sepenuhnya sama keseluruhan ceritanya. Tapi, untunglah di cerita ini Mbak Nima mengakalinya dengan menambahkan sesuatu di masa lalunya Rizal yang sekaligus berpotensi jadi konflik utama yang membuat Rizal jadi tidak seperti Nabi. So, terasa sangat manusiawi.

Bagaimana dengan Naina? Ah, wanita ini memang pantes jadi sosok istri idaman oleh para lelaki kebanyakan deh pastinya. Bahkan aku iri sama Naina bisa dapat jodoh macam Rizal (tetep!). Dan, syukurlah Mbak Nima juga membuat tokoh Naina jadi sangat sesuai dengan umurnya, konflik batin yang dia alami juga terasa pas dengan pembawaannya yang kalem dan pemalu. Walau kadang sebel juga sih sama Naina yang suka mendramatisir suasana dan ujung-ujungnya malah bikin makin runyam. Tapi, kalau nggak ada itu kan jadinya nggak seru juga, ya nggak? XD (Kumat lagi deh!). Naina Humairah, sesuai dengan namanya, kalau digoda dikit langsung deh pipinya merah kayak tomat. 😀

“Naina, aku berpendapat kalau apa pun yang kita berikan pada orangtua tidaklah cukup untuk menggantikan apa yang orangtua berikan pada kita. Mungkin waktu masih tinggal bersama, kita bisa menunjukkan bakti dengan melayani, mengurus, atau memberikan apa yang orangtua mau. Tapi, saat sudah terpisah jauh atau sudah menikah, belum tentu juga kita bisa selalu ada saat orangtua membutuhkan.” — Rizal Ayyashi (halaman 55)

“Tidak ada harta bersama dalam pernikahan. Yang ada hanya harta suami dan harta istri. Suami punya kewajiban memenuhi semua kebutuhan rumah tangga juga kebutuhan istrinya, sedang harta istri bebas dibelanjakan semau istri.” — Rizal Ayyashi (halaman 56)

Novel ini… apa bisa kusebut novel islami? Karena isinya memang sarat sekali dengan nilai dan norma-norma agama yang disampaikan dan diterapkan oleh para tokohnya. Nggak cuma soal pernikahan, melainkan ada juga misalnya soal moral, soal mana yang boleh dan mana yang nggak dilakukan dalam hidup, soal mandiin anak perempuan yang masih kecil pun sebaiknya jangan dicampur sama anak lelaki yang udah mulai gede meski itu kakaknya sendiri. Atau yang paling menggelikan itu ya tentang prosedur ibadahnya suami istri. Mbak Nima bisa banget deh mengemasnya dengan guyonan yang spontan. Aku sampai ngikik nggak jelas dibuatnya. Apalagi celotehan dari Bang Salman yang kayak nggak kenal tempat dan sikon. Ampun deh! Blak-blakan banget tapi asli bikin geli. Sampai aku jadi bingung sendiri mengategorikan novel ini jadi romansa islami atau romantic comedy sih? ❓

“Biarin mereka pacaran dulu. Kan, kalau pacaran halal lebih berasa nikmatnya daripada sebelum nikah udah pacaran.” — Marina (halaman 76)

“Alangkah sombongnya kita sebagai manusia jika tidak mau menerima manusia lain yang ingin berubah. Sedangkan, Allah saja menerima setiap pertobatan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang ingin kembali pada-Nya. Masa kita sebagai manusia malah menyalahi kehendak-Nya? Tidak ada yang terlalu kotor atau terlalu bersih di mata-Nya. Apalgi belum tentu kita lebih baik daripada orang tersebut. Itu namanya takabur.” — Abah Miftah (halaman 80)

“Namanya orang ya begitu. Apalagi kalau lagi kumpul-kumpul di acara begini, ada aja yang ditanyain. Kalau belum nikah, pasti pada rajin nanyain ‘kapan nikah?’. Udah nikah ntar ganti deh pertanyaannya jadi ‘kapan nih punya anak?’. Kalau udah ada anak nih, pasti ganti lagi, ‘kapan nambah lagi?’. Satu-satunya hal yang nggak ditanyain cuma ‘kapan mati?’. Padahal dari semua pertanyaan tadi, cuma itu yang paling pasti.” — Kak Muthia (halaman 84)

Kalau ditanya tentang bagian mana yang jadi favoritku, duh, jawabannya mah ada buanyak! Tapi yang paling aku suka adalah intensitas dan keintiman antara Rizal dan Naina, soalnya awalnya mereka itu kan terasa kayak stranger banget. Nah, makanya momen berharga bagiku adalah ketika Rizal dengan pandainya menggoda Naina sampai pipinya bersemu merah (yang ternyata tanpa disadari pipiku juga malah ikutan panas dibuatnya!) trus bikin mereka jadi tambah dekat. Contohnya ada beberapa nih:

“Katanya ada yang kangen, makanya aku pulang sekarang.” — Rizal Ayyashi (halaman 139)

“Duit bisa dicari. Tapi, istriku jarang-jarang ngomong kangen, kan. Jadiii … aku pulang. Siapa tahu bisa denger orangnya ngomong langsung.” — Rizal Ayyashi (halaman 140)

“Ini hanya rumah. Hanya bangunan, Naina. Bagiku, di mana pun sama saja, yang penting sama kamu.” — Rizal Ayyashi (halaman 171)

“Apa pun yang kamu masak, pasti kuabisin. Apalagi kalau makannya disuapin.” — Rizal Ayyashi (173)

Hayooo, wanita mana yang nggak bakal jungkir balik kalau dibeginiin sama lelaki meski pun udah jadi suaminya sendiri? Aku aja bacanya sampai remas-remas selimut dan ngempas guling ke muka sendiri.

Ada lagi bagian lain yang aku suka di Jodoh untuk Naina. Yang ini bener-bener bikin aku tergelak. Gara-gara ulahnya Bang Salman yang super usil. Tepatnya sih mulutnya yang super ember! Pas Rizal dan Naina lagi kumpul di rumah Abah, ada Bang Salman dan Kak Muthi juga. Di situ pertama kalinya Rizal lihat Naina nggak pakai jilbab. (Ngebayangin gimana tatapannya Rizal yang kayak orang puasa ketemu es dogan di siang bolong!)

Rizal kan lagi puasa sambilan nungguin magrib. Trus tiba-tiba Bang Salman membuyarkan ‘kemesraan’ Naina dan Rizal. Kira-kira gini omongannya:

“Kalian berdua pasti nggak denger deh dari tadi aku ngomong apaan. Malah asik saling remes-remesan tangan. Magrib, Zal. Minum tuh tehnya. Atau jangan-jangan kamu buka puasanya mau pakai yang lain, Zal?”

Glek!!! Bagian ini bikin mataku membulat penuh. Tuh kan, Bang Salman ih, saklek banget deh! Kalau aja aku yang di posisi Naina saat itu dan Bang Salman memang beneran jadi abangku, beuh, udah kusiram kalik si Bang Salman pakai air teh di gelas itu. 😈

Masih ada serentetan scene lainnya sih, tapi takut spoiler ah, dan beberapa di antaranya rada malu juga buat diungkapin di sini. Jadi, buat kalian yang belum baca, baca sendiri aja ya biar puas dan lega. 😉

“Sepertinya masih ada banyak sunah Rasul yang bisa membawa kita mencapai rida Ilahi. Nggak cuma dengan poligami. Kenapa dia nggak sempurnakan saja salatnya, zakatnya, puasanya, sedekahnya juga amalan-amalan lainnya daripada sibuk memikirkan istri kedua.” — Kak Muthia (halaman 200)

“Aku ingin membencimu. Begitu ingin. Aku ingin mengutuk semua keragu-raguanmu namun yang kulakukan hanya memberi maaf padamu.” — Naina Humairah (halaman 213)

Aku acungi 4 jempol untuk ramuan konfliknya yang sukses bikin emosiku teraduk-aduk. Satu pihak, aku sebel dengan kegegabahan Naina, di pihak lain sebel juga sama Rizal yang terkesan plinplan. Apakah aku sudah segitu jatuh cintanya ya sama Rizal, sampai aku ngerasa kalau orang yang paling ngenes di sini adalah Rizal? Padahal seharusnya posisi Naina yang lebih sulit dan paling ‘sakit’. Ya nggak sih?

Oh ya, kalau boleh saran nih, ada baiknya kalau diberi catatan kaki untuk beberapa istilah yang agak asing bagi orang awam. Novel ini terasa banget nuansa islaminya, trus banyak istilah agama dan bahasa Arab yang dipakai langsung misalnya untuk doa. Pembaca novel ini kan nggak semuanya muslim, mungkin kebanyakan dari pembaca yang non-muslim itu nggak bisa memahami langsung. Misalnya seperti dien, doa jama’, zafaf, khitbah, dan lain-lain.

Well, cukup segini dulu ya review dariku. Awalnya sempat speechless mau komentar apa soal buku ini saking aku sukanya. Trus berubah jadi excited banget mau review dan kuharap ini nggak bablas sampai ngasih spoiler ya.

5 kata untuk para calon pembacanya: Gilak, novel ini bagus banget!

OVERALL RATING

★★★★★

Advertisements

3 thoughts on “[Review] Jodoh untuk Naina by Nima Mumtaz

  1. sama mba, ini juga novel favorit saya dan blm bisa move on juga hehe

    Like

  2. […] Berhubung sekarang aku bukan lagi penganut relationship lewat pacar-pacaran, jadinya aku paling excited kalau ada buku fiksi dan non-fiksi bertema ta’aruf atau pernikahan. Salah dua yang paling aku favoritkan adalah Ayat-Ayat Cinta dan Jodoh untuk Naina. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s