[Review] Bila: Pada Akhirnya Aku Memilihmu by Laini Laitu

p_20161008_124411_1

Judul: Bila
Penulis: Laini Laitu
Penerbit: MediaKita
Penyunting: Dian Nitami
Proofreader: Irwan Rouf
Desain Cover: Budi Setiawan
Penata Letak: Dipa
Penyelaras Akhir: Didit
Tebal: vi + 294 Halaman
Cetakan: Pertama (2015)
ISBN: 978-979-794-497-1
Genre: Romance

Tersedia di toko buku online Bukupedia

BLURB

Bila menatap nanar kedua mempelai yang ada di depan penghulu, duduk dengan tegap, dia adalah Fadli, sahabat Bila. Seharusnya Bila berbahagia melihat sahabatnya mengawali hidup baru. Iya, seharusnya begitu. Namun, faktanya saat ini, hati Bila sesak melihat prosesi itu.

Bukankah seharusnya Bila yang ada di sana-di sampingnya? Seharusnya Bila yang menghabiskan masa tua bersamanya. Seharusnya Bila yang menjadi mempelai wanita. Sedikit egois memang, tetapi faktanya Bila lebih mengenal Fadli daripada wanita itu. Bila lebih mengenal Fadli luar dalam dibandingkan dengannya. Bila tahu rutinitas apa saja yang dia lakukan setiap hari. Bila tahu apa makanan favorit dan makanan yang dibencinya, bahkan Bila juga tahu berat badannya. Bila tahu segala hal dalam diri Fadli, tetapi mengapa justru wanita yang baru satu bulan mengalihkan perhatian Fadli yang kini menjadi pendampingnya. Kenapa, Tuhan?


“Novel dengan tema yang jarang, membuat penasaran untuk dibaca sampai selesai. Pada awalnya, bersimpati pada Bila, tetapi kemudian mengaguminya. Karena tidak mudah mengalami cinta seperti Bila, dan berhasil melaluinya. Worth to read!” – Namarappuccino, Penulis dan Blogger

“Ini cerita yang kaya. Seharusnya kita memang bisa memilih yang kita mau, tapi kadang cinta adalah perihal belajar menerima kenyataan.” – Boy Candra, Penulis “Origami Hati”, “Setelah Hujan Reda”, dan “Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang”

REVIEW

Sakit. Seperti inikah rasanya kehilangan sahabat? Aku bahkan tidak pernah tahu kalau rasanya akan sesakit ini. — (hlm. 7)

Nabila Hasna Amira, biasa dipanggil Bila, diperkirakan berumur 26 tahun (soalnya di novelnya nggak disebutin persis umurnya berapa, cuma pernah disebut dia sembilan tahun lebih muda dari Daffa). Bila adalah seorang wanita karir yang sudah nyaman kerja di kantoran di bidang ekonomi sebagai accounting di Jogja. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah kontrakan, pisah dengan Ayah dan Bunda. Meski di usia 26 tahun itu belum dikatakan telat untuk wanita yang belum menikah, namun nyatanya keluarga Bila sudah ngebet supaya anaknya ini menikah karena Bila adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ia punya 2 adik laki-laki yakni Didi dan Rangga. Capek ditagih seperti orang yang punya utang, akhirnya tercetus ide dari Bila supaya orangtuanya menjodohkannya dengan siapa pun yang mereka kehendaki, namun justru Ayah dan Bunda yang tidak mau menjodohkannya, takut kalau Bila menyesal suatu hari nanti. Maka dari itu, Bila meminta waktu lagi pada mereka sampai dia benar-benar menemukan lelaki yang tepat.

Setengah hatiku ingin mengiyakan, tetapi setengah hatiku tidak menerima dia berbahagia karena orang lain. — (hlm. 4)

Bila punya sahabat karib sedari kecil bernama Fadli. Lelaki tolol yang sama sekali tidak peka kalau Bila selama ini menyimpan rasa untuknya. Waktu Fadli berniat PDKT dengan seorang wanita, Mela namanya, Fadli justru ditantang oleh Mela untuk segera menikahinya. Tak disangka ternyata Fadli menerima tantangan tersebut dan dalam waktu dekat akan segera melamar Mela.

Aku tidak akan berkata seperti orang lain “Aku bahagia jika melihatmu bahagia”, karena faktanya sekarang aku tidak bahagia. — (hlm. 28)

Fadli merengek meminta Bila untuk datang ke acara lamaran dan pernikahannya, tapi tentu saja Bila tidak mau datang dengan memberi berbagai alasan. Hati Bila teriris saat dia terpaksa datang ke acara itu dan melihat Fadli bersanding dengan wanita lain.

Aku bukanlah orang yang terjebak friendzone dengannya, hanya saja aku selalu tidak ikhlas jika melihat dia dengan wanita lain. Mendengarkan cerita tentang wanita idamannya saja sudah membuatku gerah, apalagi sekarang aku harus melihat dia menikah. MENIKAH SAUDARA-SAUDARA! — (hlm. 12)

Daffa Ibnu Hafidz, biasa disapa dengan sebutan Kak Daffa. Bahkan terkadang Bila keceplosan menyebutnya Om Daffa karena jarak umur mereka yang terpaut cukup jauh, sembilan tahun. Ya, Daffa sudah berusia 35 tahun, mapan, bekerja di sebuah perusahaan IT di Bandung dengan jabatan sebagai manager, tapi sayangnya di usia yang sudah sangat matang itu dia masih saja menjomblo. Daffa masih terhitung sepupu Bila. Daffa itu anak tunggal dari Tante Alexa yang tak lain adalah saudara dari bundanya Bila. Kesendirian dan kemandiriannya itu membuat Daffa jadi terlalu asyik dengan kerjaan sampai melupakan urusan wanita dan rencana berumah tangga.

“Kak Daffa udah cocok jadi ayah tahu! Tadi udah kayak ayah yang ngerawat anaknya. Buruan nikah gih, keburu jadi om-om beneran.” — Bila (hlm. 32)

Daffa yang menemani Bila saat datang ke pernikahan Fadli. Kok bisa datang dengan Daffa? Jadi, ceritanya Bila mau ngajak seseorang sebagai gandengan ke acara itu karena males datang sendirian. Ave menyarankan Bila datang dengan Kak Daffa yang saat itu kebetulan sedang berada di Jogja. Daripada nggak ada kecengan, ya sudah, Bila terima saja tawaran itu, meski dirasanya dia kayak pergi sama om-om.

“Kamu lihat di sana, kalau salah satu lampu mati tidak akan berpengaruh. Keindahannya tidak berkurang dan masih banyak lampu lain yang menyala, memberi pencahayaan. Itu berarti kalau kamu kehilangan Fadli masih banyak orang yang menyayangimu. Tidak perlu kamu terpuruk seperti sekarang. Buat apa menangisi orang, yang bahkan mungkin sekarang sedang bersenang-senang.” — Daffa (hlm. 20)

Belum kering luka hati Bila akibat ditinggal nikah oleh Fadli, luka yang masih berdarah-darah itu harus kembali tersiram air jeruk nipis saat Ave memberi tahu kalau dia akan segera menikah dengan Nada. Bila jadi berang. Bila tidak terima dan tidak merestui, seolah Ave sudah mengkhianatinya. Bila yang lebih tua dari Ave dan sudah seharusnya Bila yang menikah duluan, bukannya malah ditikung oleh Ave yang lebih muda darinya.

“Ave hampir setengah gila saat lamarannya ditolak,” — Ayah Bila (hlm. 44)

Eh, sebentar? Ave melamar? Jadi, Ave itu laki-laki? Ya ampun, sumpah, aku baru ngeh di sini lho kalau Ave itu ternyata laki-laki. Dari awal aku mengira Ave itu perempuan. Soalnya namanya Ave, keinget sama lagu Ave Maria sih. Mana aku nggak pernah nemu cowok yang namanya Ave pula. 😄

“Jodoh itu seperti kunci dan gemboknya, tidak bisa ditukar.” — Daffa (hlm. 92)

Sama seperti kejadian saat Fadli ingin menikah, Ave merengek supaya Bila mau datang. Lagi-lagi tentu saja Bila menolak keras. Bujukan dari sana-sini tidak mempan. Bila merasa belum siap jika harus menyaksikan Ave menikah dan mendahuluinya berumah tangga. Sampai akhirnya Ayah Bila datang ke kontrakannya untuk bicara empat mata pada Bila. Daffa juga tidak tinggal diam. Daffa juga datang dan menceramahi Bila hingga Bila merasa dan menyadari bahwa dia sudah jadi orang yang egois. Akhirnya Bila setuju datang ke acara pernikahan Ave bersama Daffa.

“Kamu kira cuma kamu yang belum siap? Kamu kira aku juga siap? Kamu kira cuma kamu yang dikejar-kejar masalah pernikahan? Lalu, bagaimana denganku?” — Daffa (hlm. 51)

Tibalah mereka di acara pernikahan Ave dan Nada. Bila mencengkram erat tangan Daffa karena takut pertahanannya roboh saat itu juga. Akibat kedekatan itu, Tante Alexa (ibu Daffa) dan bundanya Bila malah menggoda mereka untuk segera ‘menyusul’ Ave dan Nada ke pelaminan. Bila keheranan, bagaimana bisa dia disandingkan dengan om-om setengah tua seperti Daffa? Apalagi mereka itu masih sepupuan, kan nggak boleh! Begitu pikir Bila.

Tak lama sejak kejadian itu, tiba-tiba Ayah dan Bunda memberi tahu Bila kalau mereka sudah punya calon yang tepat untuk jadi jodoh Bila. Dengan alasan kalau Bila sudah terlalu lama tidak kunjung mengenalkan seorang calon pun, maka saran Bila tentang perjodohan yang waktu itu pun diterima Ayah dan Bunda. Benar saja, ternyata yang dijodohkan itu adalah Daffa, si om-om setengah tua yang menurut Bila penampilannya nggak banget dan buta fashion.

Setelah debat dan diskusi panjang, akhirnya dipilih satu keputusan yaitu sepakat akan menikahkan Bila dan Daffa, tentunya dengan kesediaan dari kedua calon mempelai karena adanya simbiosis mutualisme di mana mereka sama-sama membutuhkan status ‘menikah’.

Ikhlas itu mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dijalankan. — (hlm. 214)

***

Novel Bila + tote bag

Hadiah #GANovelBila yang sempat kuikuti di blog Mbak Alya (Laini Laitu): novel Bila + tote bag cantik.

First of all, sebagai informasi aja bagi yang belum tahu nih. Cerita Bila ini awalnya di-post oleh penulisnya di wattpad lho. Kalau sekarang sih pastinya sudah dihapus karena sudah jadi buku. Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah baca duluan di wattpad ya. Kalau aku sih untungnya belum, bahkan aku orang yang jarang banget mantengin wattpad. Alhamdulillah aku berjodohnya bisa baca lewat buku. 😄

Okay, mari bahas bukunya. Berawal dari konflik friendzone dan sumon alias susah move on, Bila sebagai tokoh ‘aku’ di novel ini seolah jadi orang yang paling tersiksa di dunia. Sebagian orang mungkin akan menganggap sikapnya lebay, tapi sebetulnya itu sangat wajar bila mengingat posisinya yang seperti itu. Bila memang dikarakterkan sebagai wanita labil dan susah mengerem mulutnya yang cerewet. Karena kelabilannya itulah yang akhirnya membuatku terus saja mengutuk “Bila bodoh! Bila bodoh! Bila bodoh! Bila bodoh! Bila bodoh!” tiap kali timbul sikap kekanakannya dan tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Benarlah jika disebutkan Bila ini egois. Ah, emosiku benar-benar diuji oleh tokoh Bila. Uugghh!!! 😡

Jangan terkecoh dengan blurb-nya ya. Itu hanya menggambarkan sebagian kecil dari kisah awal hidup Bila di sini. Bukan bermaksud spoiler, tapi sebagian besar isi novel ini memang menceritakan perjalanan kehidupan pernikahan Bila dan Daffa. Masih heran kenapa Daffa bisa menikahi Bila padahal mereka masih sepupuan? Makanya baca novel ini ya biar bisa tahu lebih jelasnya bagaimana. 😀

Tanpa pernah ada hubungan pacaran, tanpa adanya rasa cinta, tanpa pernah cocok sebelumnya—which is mereka itu selalu saja adu mulut dan Bila yang selalu kalah telak kalau debat dengan Daffa—mereka setuju saja untuk menikah. Bahkan Bila masih saja sumon dari Fadli. Tapi, justru di bagian inilah yang membuatku merasa excited mengikuti kisah Bila dan Daffa. Tentu saja perjalanan di awal pernikahan mereka tidak berjalan lancar begitu saja. Konflik lain muncul misalnya karena kerjaan, kebiasaan Daffa yang jarang kasih kabar, soal izin pergi, Bila yang mati kebosanan di rumah karena tidak ada kegiatan, Bila yang masih sumon, mereka yang galau mau menetap di mana (Jogja atau Bandung), belum lagi pertemuan Bila dan Fadli yang tidak disengaja.

Semua masalah itu yang justru menuntun Bila dan Daffa jadi makin dekat. Chemistry yang terjalin pun terasa sangat natural. Kekurangan yang ada pada diri mereka masing-masing membuat cerita jadi terasa seperti realita. Proses inilah yang menggambarkan bagaimana mereka harus belajar menerima si pasangan dan ikhlas menjalani kehidupan mereka berdua sekarang hingga cinta itu pun tumbuh dengan sendirinya.

Aku sungguh salut dengan sosok Daffa. Ia begitu dewasa, begitu mengayomi, begitu mentolerir apa yang masih ada pada diri Bila meski ada yang ia tidak suka. Ia sudah sering berkorban banyak demi Bila. Bayangin aja, Bandung-Jogja rela ia tempuh tanpa rasa berat atau ragu kayak seenteng perjalanan dari rumah mau ke pangkalan ojek aja. Luarnya saja ia bersikap cuek sampai rasanya mau lempar sendal ke kepalanya, tapi ternyata dalemnya perhatian banget, cuy! 😀 Ia juga begitu sabar menghadapi Bila, namun tentu saja bukannya ia sendiri tidak pernah punya atau melakukan kesalahan kepada Bila. Jadi, porsinya di sini cukup berimbang. Penulis tidak memojokkan satu tokoh saja.

Sayangnya, terlalu banyak nama tokoh yang disuguh di novel ini. Mulai dari papa ini, mama itu, tante ini, om itu, saudara ini, sepupu itu. Sungguh, aku sampai tidak bisa mengingat semua. Apakah mungkin ini karena memang akunya yang susah konsentrasi kalau sudah ada banyak nama ya? Mudah terdistraksi oleh hal itu. Meski pun di cerita ini memang melibatkan keluarga besar, tapi nyatanya orang-orang itu tidak semuanya berperan banyak dalam kehidupan Bila dan Daffa. Meski sering disebut pun aku masih susah untuk mengingatnya. Kurasa cukup sebut saja ayahnya siapa, mamanya siapa, anaknya siapa, saudara apa, begitu. Tapi, ini cuma saran sih. 🙂

Ada lagi nih yang terasa kurang. Memang sih disebutkan kalau Bila dan Daffa itu punya pekerjaan atau karir masing-masing. Tapi, tidak disebutkan secara lebih rinci mereka itu bekerja di mana dan sebagai apa? Masih mending loh Daffa sempat disebutkan berjabatan manager di kantor IT, walau nggak dijelasin juga itu kantor IT yang mana dan apa namanya. Sedangkan Bila, sama sekali nggak di-mention soal jabatannya di kantor itu sebagai apa dan di kantor apa. Poin ini membuat cerita jadi kurang terasa nyata dari sisi latar belakang dan kehidupan sehari-hari.

By the way, yang namanya cerita dengan tema pernikahan itu kayaknya selalu saja ada komedinya ya. Nggak hanya pas di bagian pernikahannya saja lho. Sejak awal juga ada. Selalu bisa membuat pembaca jadi senyum-senyum sendiri. Beberapa bagian membuatku tertawa tapi ada juga sebagian kecil yang masih terasa garing. :/ But, it’s okay lah, semua itu tertutupi kok dengan suguhan keseluruhan yang menarik. 😉

Berikut ini adalah beberapa kutipan yang aku suka dari novel Bila:

“Asal kamu yakin dalam hati, tidak perlu belajar untuk melakukannya. Menutup aurat itu sudah kewajiban, jadi jangan berkata belum siap. Kamu belum siap karena kamu sendiri yang membuatnya tidak siap.” — Daffa (hlm. 109)

“Orang yang menutup aurat itu bukan berarti tingkah lakunya sudah sempurna, justru dengan kamu menutupnya akan lebih menjaga sikap karena malu dengan penampilan.” — Daffa (hlm. 109)

… tetapi bagaimana pun juga seseorang tidak akan bisa merasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang lain. Sekeras apa pun kita mencoba mengerti, tetapi pasti hasilnya akan berbeda karena bukan kita yang mengalami. — (hlm. 147-148)

Terkadang tidak cukup memberi jawaban hanya dengan sikap dan perbuatan, karena tidak semua orang peka serta mampu membaca isi hati dari sikap yang kita tunjukkan. — (hlm. 277)

Meski masih ada kekurangan yang sudah kusebutkan di atas, tapi itu nggak menggugurkan niatku untuk tetap ngasih rating 5 bintang buat novel Bila. Over all, setelah baca ini nggak bikin aku kecewa. Sampai-sampai setiap bab pun kubaca dengan teliti, nggak mau melewatkan satu kata pun.

Setelah menghabiskan ceritanya, aku juga jadi pengin baca Calon Imam deh. 😄 Itu yang kutahu cerita tentang Ave kan yang jadi tokoh utamanya? Wah, penasaran nih, soalnya di novel Bila ini setelah Ave menikah, si Ave dan tetek bengeknya kayak hilang gitu aja. Nggak kedengeran lagi kabarnya. Lain dengan Fadli yang masih aja nyerempet muncul di saat-saat kritis. Hihihi.

So, buat para pembaca yang lagi doyan fiksi dengan tema pernikahan, novel ini sangat saya rekomendasikan buat kalian. Jangan dulu langsung ilfeel gara-gara Daffa disebut om-om ya. Dia itu sebenarnya cukup tampan kok. Umur 35 kan masa-masanya lelaki lagi hot-hot-nya gituh. Tapi, ya cuma gara-gara fashion-nya yang rada jadul itu sih yang bikin dia kayak terasa tua. 😛

Yo wis, kalau begitu selamat menikmati kelabilan Bila, selamat berburu sosok Daffa, dan selamat menyelami dilema pernikahan mereka. 🙂

OVERALL RATING
★★★★★

Advertisements

8 thoughts on “[Review] Bila: Pada Akhirnya Aku Memilihmu by Laini Laitu

  1. Aaaaaa, terima kasih ya Aya udah dibuatin reviewnya :* #kecup…
    Suka, suka pokoknya suka sama bahasa kamu dan makasibh juga ya atas sarannya.
    Btw boleh koreksi dikit : Sebenernya profesi Bila udah disebutin Accounting deh, walaupun emang gak dbahas banyak, cuma disinggung waktu salah bikin giro..
    Noted ya, lain kali mungkin bisa diperjelas kalau buat setting 🙂

    Terus sama kalimat yg halaman 156 mungkin bisa dikoreksi atau dihapus? Soalnya itu quote dr novel favorit Bila yaitu di sini aku ambil dr novel Relationshitnya Mas Alitt. Takutnya ada yg salah mengartikan…
    Oke itu aja si, sekali lagi makasih ya udah dibuatin lapak di sini #kecupjauh

    Like

    • Iya, Mbak. Sama-sama. Makasih juga udah ngasih bukunya gratisan waktu itu. Hwehehehe. 😀

      Kalau soal dia sebagai accounting itu ya memang ada sih, Mbak. Cumannya aku masih bingung accounting-nya itu jabatannya apa dan di kantor mana. Untuk profesi Daffa juga nggak dijelaskan lebih jauh. Soalnya akhir-akhir ini kalau aku baca fiksi selalu ada detil soal itu. Makanya di sini aku pointing out tentang kerjaannya itu. 😉

      Oke deh, Mbak. Nanti yang bagian itu aku hapus aja. Makasih ataa koreksinya. Duh, yang nge-review malah review-annya di-review lagi nih. Hihihi. Jadi mayuuu akika. 😳

      Like

  2. Makasih sarannya sist☺😂

    Like

  3. Ahh kak daffa mah emang gitu…susah move on dari nih novel..jadi pengen jga dpt sosok imam sprti kak daffa hhaha sprti biasa stiap baca review’an yg d buat d blog in pasti penasaran pgen baca novelny. D tnggu review’an slnjutny^^

    Like

  4. […] 200 halaman. Padahal dulu saya mengira akan sama tebalnya atau bisa lebih tebal dari pada novel Bila: Pada Akhirnya Aku Memilihmu. Setelah saya baca, kesan yang paling melekat di benak saya cuma satu: all about a happy ending […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s