[Review] God.Speed by Ghyna Amanda

God.Speed

Judul: God.Speed
Penulis: Ghyna Amanda
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Ghyna Amanda
Tebal: 224 Halaman
Cetakan: Pertama (Jakarta, Agustus 2014)
ISBN: 978-602-03-0767-1
Genre: Teenlit, Friendship, Family

Tersedia di toko buku online Bukupedia

BLURB

Kai dan Rey–sekilas nggak akan ada yang menyangka kedua jago basket di SMA Serunai Raya ini adalah kembar yang punya kemampuan luar biasa. Kai dengan teknik full speed-nya, dan Rei dengan julukan shooter nomor satunya. Namun, keduanya memiliki rahasia yang semula hanya diketahui oleh sang manajer, Ariana. Ariana kemudian menyusun strategi agar Kai dan Rei dapat bermain dengan baik di setiap pertandingan.

Tapi apakah bisa? Apalagi muncul Leo, yang sepertinya tidak suka kalau harus berbagi posisi dengan Kai. Akhirnya Leo membongkar rahasia si kembar yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat.

Lalu, bagaimana SMA Serunai Raya bisa maju sampai babak final kejuaraan tingkat kota? Apakah Ariana sanggup menggembleng timnya dengan strategi-strategi aneh buatannya?

“Mereka adalah dua sayap yang ditanamkan di punggungku, agar aku terus terbang, dan meraih mimpi-mimpi tinggiku bersama mereka.”

Godspeed, and good luck!

REVIEW

Kai dan Rey memanglah saudara kembar. Mereka suka sekali main basket bersama sejak kecil. Namun, sayangnya orangtua mereka bercerai sehingga mereka harus terpisah jauh. Kai ikut ayahnya ke Singapura, sedangkan Rey tetap tinggal bersama mamanya.

Selamanya kaca yang sudah pecah tak mampu direkatkan kembali. Begitu juga keluarga mereka yang terlanjur berantakan. — (hlm. 143)

Tak disangka ketika menginjak bangku SMA ternyata Kai dan Rey bertemu lagi di satu sekolah, SMA Serunai Raya. Satu sekolah tapu berbeda kelas. Kai kelas X-6 sedangkan Rey kelas X-2. Meski kembar identik, penampilan mereka sangat jauh berbeda sehingga tidak ada yang menyangka kalau mereka kembar. Rey dengan penampilan urakan dan rambut acak-acakan khas anak olahraga. Sedangkan Kai berambut pendek dipotong rapi, memakai kacamata minus, dan sering menggunakan jaket ke mana-mana sehingga ia terlihat seperti anak kutu buku.

Di sekolah itu Rey masuk ekstrakurikuler basket dan berhasil jadi anggota tim inti. Tim basket SMA Serunai Raya ini sering ikut perlombaan yang dimanajeri oleh Ariana, kakak kelas mereka di kelas XI. Kai agak kaget saat tahu ada Rey jadi tim inti di tim basket, tapi tidak heran juga karena Rey memang suka basket dan jago shooting.

Setelah sebuah pertandingan persahabatan di hari itu usai, Kai iseng main ke gedung olahraga dan mendribel bola. Ariana tak sengaja melihat aksi Kai dan langsung terpesona. Ia gencar mengajukan penawaran, mengajak Kai supaya gabung dengan tim basket mereka. Segala upaya bak seorang SPG sudah dicoba Ariana tapi ditolak mentah-mentah oleh Kai. Alasannya bukan karena Kai tidak mau, melainkan tidak bisa. Apa yang jadi penghalangnya?

Ariana merasa wajah Kai seperti seseorang yang sangat ia kenali, tapi ia tidak ingat siapa. Kemudian ketika melihat muka Rey, barulah ia sadar kalau mereka mirip, hanya beda penampilan. Tapi Rey malah terus saja mengelak kalau mereka cuma kebetulan mirip ketika Ariana menduga mereka adalah kembar.

Kemudian Kai mengunjungi gedung olahraga SMA Serunai Raya untuk menyaksikan para anggota tim basket latihan. Rey sangat terkejut. Ia sangat tidak berharap kalau kedatangan Kai itu dengan maksud mau bermain basket apalagi menerima tawaran Ariana untuk bergabung dengan tim, karena Rey mencemaskan keadaan Kai. Rey tidak mau kalau kejadian mengerikan tujuh tahun yang lalu terulang lagi. Ariana justru sangat bersemangat memperkenalkan Kai kepada yang lain dan tetap gencar dengan penawaran awalnya. Tiba-tiba Kai mau mencoba bermain dengan yang lain dan mau satu tim bersama Rey. Hanya bermain. Semua orang terkesima dengan penampilan Kai yang justru di dua menit terakhir saja ia baru mengeluarkan kemampuan aslinya.

Ariana masih saja menawari Kai supaya ikut gabung tapi Kai tetap tidak mau sehingga Ariana menuduh Kai orang yang sombong dan jual mahal. Rey sebagai orang yang tahu dan paling mengerti dengan keadaan semua ini justru membela Kai dan mengejarnya ke luar gedung. Kai sudah ngos-ngosan akibat bermain tadi. Tapi Rey yang sangat khawatir dengan keadaannya. Terjadilah obrolan dan sedikit perdebatan soal keputusan Kai ingin bergabung. Kai sangat ingin bermain, tapi Rey tidak mampu melarang meski ia takut kalau kejadian tujuh tahun yang lalu akan menimpa Kai lagi.

Benar, mereka orang yang berbeda, walaupun terkadang Rey merasa Kai bagian dari dirinya. Rey selalu ingin ikut campur apa yang menjadi urusan Kai. Bukan karena sengaja ingin mencampuri, tapi karena Rey tahu kondisi Kai saat ini. — (hlm. 137)

Ternyata di balik tembok ada Ariana yang menguntit dan menguping pembicaraan mereka. Ia tidak menyangka kalau Kai mau ikut gabung. Namun, dari situ pula akhirnya ia tahu semua penyebab dasar kenapa Kai awalnya menolak ikut di tim basket. Sungguh, itu bukanlah perkara biasa atau perihal yang mudah untuk ia tangani ke depannya. Ariana harus benar-benar memutar otak demi menjaga performa Kai tetap prima.

***

Setiap orang berhak punya mimpi. Semustahil apa pun, setinggi apa pun, meski tanpa kedua tangan yang mampu menggapainya, setiap orang berhak punya mimpi besar. — (hlm. 7)

Mempersembahkan sebuah cerita yang menggebu, manis, namun ada juga kehangatan di dalamnya. Aku cukup bisa terbawa suasana tegangnya pertandingan basket yang mereka laksanakan karena dunia olahraga itu bukan dunia yang asing bagiku meski aku tidak rutin memantau olahraga basket. Aku biasanya memantau bulutangkis namun atmosfer pertandingan dan ketegangan selama memantau hasil pertandingan selalu saja bisa membuat jantung berdegup kencang.

Ini bukan soal ambisi, impian, atau apalah yang semacam itu. Ini soal menghargai siapa saja yang telah bekerja lebih keras, berlari lebih kencang, melompat lebih tinggi, hanya untuk bisa bermain bersama. — (hlm. 189-190)

Aktivitas anggota tim basket ketika latihan dan bertanding dijabarkan dengan cukup rapi. Tidak terlalu mendetil, tapi dengan disebutkannya beberapa istilah dalam olahraga basket maka suasana latihan dan pertandingan itu seperti tersampaikan dengan baik ke imajinasi pembaca. Novel ini secara samar layaknya buku motivasi untuk para anak muda yang menggeluti olahraga supaya tetap semangat dan tidak mudah menyerah. Melalui keseluruhan ceritanya membuat pembaca lebih menyadari arti perjuangan dan kebersamaan, arti dari kerja keras tim dan saling percaya satu sama lain, tidak untuk menonjolkan diri sendiri, serta saling percaya pada kelebihan dan kemampuan anggota lainnya. Jika mengutip perkataan seorang Michael Jordan yang jadi pebasket terkenal sedunia, “There is no ‘I’ in ‘team’ but there is in ‘win’.”

Memang yang namanya takdir kebiasaan itu aneh. Dua orang yang punya identitas identik saja kemampuannya busa berbeda jauh. — (hlm. 96)

Di cerita ini Rey dan Kai memang sama-sama menyukai basket, namun mereka punya kemampuan yang berbeda. Rey sangat jago shooting bola ke ring, tapi ia tidak lihai menggiring bola dengan cepat melewati lawan. Sedangkan Kai justru begitu gesitnya bergerak menggiring bola hingga lawan tidak menyadari pergerakannya, tetapi ia tidak pandai menembakkan bola ke ring. Kalau pun masuk, itu hanya kebetulan. Keunikan ini sangat ditonjolkan dalam cerita sehingga menambah nilai plus. Ditambah lagi dengan adanya keterbatasan pada diri Kai yang membuat semuanya terasa tidak biasa dan manusiawi bagai reality.

Tentu saja Kai ingin bermain. Ralat, sangat ingin bermain. Ia ingin menggerakkan kaki dan tangannya, kembali bergerak cepat, kemudian saling mengoper bola dengan Rey, dan membuat saudaranya itu mampu mencetak skor terbaik. — (hlm. 103)

Sejak halaman-halaman awal, aku sungguh dibuat penasaran dengan kejadian tujuh tahun yang lalu. Apa sih itu? Sering sekali disebutkan namun belum juga dijelaskan. Penulis pandai memainkan rasa penasaran pembacanya sehingga ingin tetap meneruskan ini sampai habis. Membuat kita menerka dan membuat kesimpulan sendiri hingga akhirnya dikejutkan dengan apa yang ada pada diri Kai dan masa lalu dari Kai dan Rey.

Kalau harus berbeda seperti ini, kenapa mereka harus dilahirkan kembar? — (hlm. 202)

Agak disayangkan pada tokoh Leo karena perannya di sini tidak dieksplor lebih jauh. Harusnya ia bisa lebih maksimal menjadi tokoh antagonis di sini. Ya, memang cukup nampak dari sikapnya yang tidak menyukai kehadiran Kai di tim mereka. Namun, ternyata apa yang ada di dalam cerita tidak begitu sama dengan blurb. Leo tidak membongkar rahasia si kembar, melainkan rahasia itu yang terbongkar dengan sendirinya akibat adanya Leo di situ.

Masih ada hal yang membuatku bingung. Misalnya, kenapa di awal-awal cerita waktu Ariana dan yang lainnya mengira Rey dan Kai kembar justru si kembar ini malah mengelak kebenaran itu? Terutama Rey yang sempat tidak mau mengakui punya kembaran. Memangnya apa yang salah jika mereka memang saudara kembar? Meski orangtua sudah bercerai dan mereka hidup terpisah, bukankah seharusnya mereka senang bisa bertemu kembali setelah lama pisah? Tapi pertemuan yang dijelaskan di sini malah keduanya merasa saling awkward.

Ada pula soal tangan kanan Ariana yang hilang karena harus diamputasi akibat kecelakaan dan akhirnya ia selalu memakai tangan palsu namun selalu ditutupi oleh kardigan yang kedodoran. Kai yang baru mengetahui hal itu setelah diberitahu oleh Rey malah tidak menyadari ini sebelumnya. I mean, bagaimana bisa Kai tidak menyadari itu padahal sebelumnya dia sudah sering bertemu dan berinteraksi dengan Ariana. Bahkan mereka pernah main bersama dan saat itu Ariana bermain dengan tangan kiri saja. Jika tangan kanannya itu memang tangan palsu dan tidak bisa digerakkan, harusnya langsung bisa terlihat aneh dari awal, bukan?

Dijelaskan pula kalau Ariana mengalami kecelakaan dan amputasi itu di kelas X. Untuk ukuran luka besar semacam amputasi, bukankah itu memerlukan waktu recovery dan adaptasi yang cukup lama? Tapi, justru sekarang ia yang duduk di bangku kelas XI sudah memakai tangan palsu dan menjadi “ibu manejer” bagi tim basket sekolah. Aku hanya merasa hal itu sepertinya terlalu cepat bagi seorang Ariana. Mungkin akan lebih masuk akal jika Ariana bukanlah salah satu siswa di sana, melainkan alumni atau rekrutan dari mana yang sangat berambisi membuat tim basket ini sukses dan menang, namun tetap mempunyai history (insiden kecelakaan dan kecacatan) yang sama.

Setiap orang berhak punya mimpi, bahkan jikalau mimpinya terlalu egois dan hampir mencelakakan orang lain. — (hlm. 218)

Aku cukup puas dengan atmosfer olahraga yang dihadirkan di sini. Benar-benar cocok sebagai bacaan remaja apalagi remaja yang aktif bergelut di bidang olahraga, terutama basket. Di novel ini sengaja tidak menyinggung masalah percintaan sama sekali. Justru kehangatan akan kerinduan pada keluarga dan saudaralah yang dapat menutupi kekosongan itu. Novel ini sangat aku rekomendasikan bagi teenager yang mungkin lagi bosan dengan fiksi teenlit percintaan. 😀

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

One thought on “[Review] God.Speed by Ghyna Amanda

  1. bagai mana sudut pandang nya ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s