[Review] Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Kuntilanak Pondok Indah

Judul: Kuntilanak Pondok Indah
Penulis: Lovanisa
Penerbit: Makam
Penyunting: Haidar
Cover Design: Joko Warsito
Penata Letak: Welgrom
Terbitan: 2014 (Cetakan I)
Tebal: 192 Halaman
ISBN: 978-602-1588-95-6
Genre: Horror, Thriller

BLURB

Dia sering menangis di tengah malam dan berdiri mematung di ujung tangga di sebuah rumah yang mewah dan kokoh, dengan cat tembok yang menguning dan mulai memudar serta halaman rumah yang tidak terurus.

Dialah yang sering kalian dengar kisahnya. Sosok kuntilanak menakutkan di Pondok Indah, sosok hantu perempuan yang kerap mengganggu orang-orang di Pondok Indah. Jangan sekali-sekali kalian mencari tahu siapa kuntilanak itu, atau dia sendiri yang akan memberitahukannya lewat teror yang paling menakutkan dalam hidupmu.

REVIEW

Pearly adalah seorang gadis yang berprofesi sebagai penyiar radio, khususnya pada segmen Spooky Night, sangat jago main billiard, dan rutin banget makan sayuran. Ia punya pacar bernama Satria sebagai pemilik four hole yaitu tempat bermain billiard di salah satu mal. Di situ juga tempat pertama kali Pearly dan Satria bertemu saat ada lomba billiard yang diadakan di four hole.

Cherise adalah si cewek modis teman serumah Pearly di sebuah rumah kontrakan. Ia baru saja merintis karirnya sebagai pemilik spa. Dulunya seorang DJ yang gila party tapi sudah berhenti dari profesi tersebut atas kemauan tunangannya, David, si cowok ganteng keturunan Amerika.

Bermula dari saat Pearly sedang mengudara di acara Spooky Night di homey radio, ia mendapat telepon dari Rachel yang tinggal di sebuah rumah di kawasan Pondok Indah. Ternyata rumah itu bukan rumah biasa. Menurut pengakuan Rachel, ia sengaja tinggal di rumah itu supaya ia bisa dengan mudah mendapatkan feel angker dan horor untuk naskah yang sedang ia tulis. Bahkan ia tinggal di kamar yang dulunya pernah terjadi pembantaian di situ. Dulunya di rumah itu sempat ada kasus pembunuhan mutilasi dengan korban seorang perempuan muda masih kuliah bernama Maharani. Namun, pelakunya tidak dapat ditemukan meski sudah 6 tahun berlalu.

Rachel punya kemampuan indera ke-6 sehingga ia bisa dan sudah biasa merasakan kehadiran makhluk-makhluk halus yang berada di sekitarnya. Ia juga sering melihat penampakan Maharani serta seorang nenek yang sedang menyisir rambut di rumah itu. Namun, suatu malam tiba-tiba ia menelepon lagi ke acara Spooky Night tapi durasinya sudah habis. Akhirnya dia berbicara off air langsung kepada Pearly. Ia minta tolong karena saat itu ia sedang diteror dan dilempari barang-barang. Ia mengira kalau penghuni rumah itu sedang marah padanya karena ia sudah takabur dan menganggap enteng mereka semua. Rachel adalah pendatang dari Jogja sehingga ia tidak mengenal lingkungan sekitarnya dan tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Akhirnya Pearly mengajak Satria segera menuju rumah Rachel. Ternyata pagarnya digembok dan ruma itu sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Satria mengira itu hanya telepon iseng yang mencoba mengerjai Pearly, tapi Pearly yakin kalau Rachel memang sedang butuh bantuan. Karena tidak memungkinkan untuk memanjat pagar biar tidak disangka maling, jadinya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.

Besoknya Pearly buka siaran berita di TV. Betapa terkejutnya dia dengan berita yang terpampang di sana karena yang diberitakan itu berhubungan dengan Rachel yang semalam baru saja menghubunginya untuk minta tolong. Rachel dibunuh dengan cara yang sangat tragis yaitu dimutilasi. Sama persis seperti kasus Maharani dulu. Pearly shock dan merasa bersalah karena tak sempat menolong Rachel padahal sebelumnya ia sangat meyakini bahwa Rachel serius meminta tolong, terdengar dari suaranya yang sangat ketakutan.

Sejak kejadian itu Pearly jadi tak pernah bisa tidur dengan nyaman. Ia seperti selalu diteror oleh suara tangisan lirih Rachel di dalam mimpinya dan dia sering parno sendiri seperti merasa selalu ada orang yang mencoba membunuhnya. Meski begitu, Rachel nekat dengan caranya sendiri ingin mencoba mengungkapkan misteri pembunuhan Rachel dan Maharani. Bagaimanakah nasib Rachel? Apakah ia juga akan terlibat dalam bahaya? Berhasilkan ia mengungkapkan siapa pembunuh yang sebenarnya?

***

Buku ini dulu kudapatkan dari sebuah lomba yang menyuruh pesertanya supaya membuat cerita horor berdasarkan pengalaman pribadi. Nggak disangka ternyata saya terpilih jadi salah satu pemenangnya dan rebutan milih judul buku horor yang diinginkan. Ternyata saya jodohnya sama buku ini. Alhamdulillah rupanya ini dikirim langsung oleh si penulis dan dapet tanda tangannya. Terima kasih. 😉

Dari judulnya aja udah ketar-ketir nyebut nama tante K, ditambah pas buka kavernya di halaman pertama langsung terpampang muka seremnya tante K yang lagi ngangak di bawah kasur dengan mata putihnya. >,< Untuk urusan packaging, buku ini oke banget karena kaver depannya dibuat seperti jendela yang bisa dibuka dan ketika terbuka akan langsung terlihat wajah tante K yang seram itu. >,<

Kalau dari segi ceritanya sih lumayan serem juga lah ya, apalagi kalau dibaca malam-malam. Berhubung saya nggak begitu pemberani, ya jadinya cuma baca pas pagi-siang-sore aja deh. 😀 Sayangnya, masih kurang terasa greget karena karakter tokoh utamanya kurang tergali. Bagian horornya juga porsinya kurang banyak. Malah menurut saya lebih dominan lawaknya yang terasa. Akan lebih mencekam rasa ngerinya jika porsi horornya itu sendiri diperbanyak. Mungkin karena jumlah halaman yang tidak terlalu banyak (tidak sampai 200), ukuran hurufnya lumayan gede, dan aktivitasnya cukup runut dijabarkan sehingga porsi horor itu jadi agak terkikis. Tadinya saya juga sempat meragukan sebenarnya genre ini lebih ke horror atau thriller ya, karena misteri pembunuhannya itu terasa lebih dominan juga ketimbang bagian para hantu yang gentayangannya.

Layaknya cerita thriller, novel ini juga punya twist. Saya cukup dibuat penasaran menebak siapakah pembunuh Maharani dan Rachel? Penulis dapat membuat pikiran pembaca mengarah pada satu orang sebagai tersangka, namun ternyata di ending-nya malah diputar sedemikian rupa hingga membuat saya terbengong-terbengong. Tidak menyangka dengan conclution yang disajikan. Maksudnya saya suka dengan eksekusinya. Sepertinya sudah sering saya sebutkan kalau saya suka sekali dengan cerita yang punya unexpected twist.

Kalau untuk tulisannya masih banyak yang harus dibenahi. EYD banyak yang berantakan. Penggunaan huruf kapital, tanda titik koma, dan lain-lain itu masih sangat tidak rapi di sini. Yang fatal itu di bab awal di bagian deskripsi pertemuan dan perkenalan pertama antara Pearly dan Satria. Ada repetisi di situ, seharusnya cukup disebutkan sekali saja. Apalagi ada salah penulisan nama. Saya kaget waktu muncul nama Karina. Saya pikir dia itu masa lalunya Satria yang sama-sama jago main billiard. Eh, rupanya Karina yang dimaksud itu adalah Pearly. Mungkin awalnya si penulis mau memakai nama Karina sebagai karakter utama ceweknya tapi di bagian itu lupa diedit dan lolos pula dari pengawan editor. Mohon bagian ini harus diperbaiki jika bukunya cetak lagi supaya pembacanya nanti nggak bingung juga kayak saya. 😀

OVERALL RATING

★★☆☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s