[Review] My Wedding Dress by Dy Lunaly

image

Judul: My Wedding Dress
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Pustaka
Penyunting: Starin Sani
Perancang sampul: Titin Apri Liastuti
Ilustrasi isi: Dy Lunaly
Pemeriksa aksara: Fitriana STP & Septi Ws
Penata aksara: refresh.atelier
Cetakan: Pertama
Terbitan: Oktober, 2015
Tebal: vi + 270 Halaman
ISBN: 978-602-291-106-7
Genre: Romance, Travelling

BLURB

Apa yang lebih mengerikan selain ditinggalkan calon suamimu tepat ketika sudah akan naik altar? Abby pernah merasakannya. Dia paham betul sakitnya.

Abby memutuskan untuk berputar haluan hidup setelah itu. Berhenti bekerja, menutup diri, mengabaikan dunia yang seolah menertawakannya. Ia berusaha menyembuhkan luka. Namun, setahun yang terasa berabad – abad ternyata belum cukup untuk mengobatinya. Sakit itu masih ada, bahkan menguat lebih memilukan.

Lalu, Abby sampai pada keputusan gila. Travelling mengenakan gaun pengantin! Meski tanpa mempelai pria, ia berusaha menikmati tiap detik perjalanannya. Berharap gaun putih itu bisa menyerap semua kesedihannya yang belum tuntas. Mengembalikan hatinya, agar siap untuk menerima cinta yang baru.

REVIEW

Abigail Kenan Larasati sedang berbahagia karena sebentar lagi ia akan menikah dengan pujaan hatinya, Andre Danadyaksa, yang saat itu sudah sangat dinanti kedatangannya. Abby, sapaan akrab Abigail, sudah terlihat anggun dengan gaun pengantin bertabur batu swarovski dan dempulan make-up yang membuatnya makin cantik bak seorang putri. Tetapi, hari bahagia itu justru menjadi hari dukanya karena sang mempelai lelaki tidak datang ke gereja tempat pernikahan mereka akan berlangsung. Bayangkan saja betapa sedih dan malunya Abby pada undangan yang telah hadir. Bahkan orangtua Andre sendiri tidak tahu bahwa Andre tidak akan datang dan pergi ke mana.

Setahun telah berlalu, tetapi pertanyaan besar masih menghantui tentang alasan Andre meninggalkannya seorang diri dan tanpa kabar sama sekali. Jakarta membuat Abby merasa gerah dengan semua kenangan tentang Andre. Semua barang-barang kenangan atau pun hadiah dari Andre dibuangnya. Tapi, ada satu benda yang tidak bisa dienyahkannya begitu saja, yakni gaun pengantinnya. Gaun yang dulu ia pilih sendiri, gaun yang telah membuat Abby langsung jatuh cinta bahkan sejak gaun itu masih dalam bentuk sketsa.

Aneh rasanya aku bisa membenci sesuatu yang dulu aku sukai, tapi memang batas suka dan benci itu sangan tipis, bukan? — h.16

“Terlalu sering kita sengaja membuka kenangan menyakitkan atau menyedikan dan menyesapnya kembali. Membuka luka yang belum benar-benar mengering. Luka yang tidak akan pernah kita biarkan mengering karena kita mencandu rasa sakit itu. — h.17

Berkat saran Gabriella Karen Saraswati alias Gigi, adik Abby, Abby setuju untuk travelling ke Penang sendirian. Abby melakukan sesuatu yang agak ‘gila’ yaitu selama perjalanan di Penang ia akan memakai gaun pengantinnya dengan harapan gaun putih itu akan menyerap semua kesedihannya dan berubah menjadi hitam.

“One bad day is just that; one bad day. Jangan sampai satu hari buruk merusak kebahagiaan yang sedang mengantre untuk menghampiri kehidupan kita. So, smile and don’t ever stop.” — h.18

“Travelling ngajarin kamu untuk mensyukuri hal-hal kecil dan mengajari kamu melihat kebahagiaan dari sudut pandang yabg berbeda.” — Gigi (h.22)

Perjalanan di Penang ternyata tidaklah seburuk perkiraan Abby. Bukan karena dia bisa menikmati suasana baru, tetapi dia bertemu seseorang yang akan sangat-sangat mempengaruhi hidupnya di hari-hari selanjutnya selama ia di Penang. Lelaki itu bernama Wira. Lengkapnya Wirasana Pieter Smit. Punya mata berwarna biru gelap dan rambut pirang gelap serupa warna madu. Wira mempunyai darah Belanda yang membuat wajahnya khas ras Kaukasia. Ia seorang traveller sejati dan banyak mengetahui tempat-tempat seru di Penang. Meski strangers, mereka tidak sungkan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan makan di tempat-tempat menarik. Akankah perjalanan ini hanya sebuah perjalanan? Atau adakah benih cinta yang akan tumbuh di antara mereka?

***

image

Novel ini masuk di lini Wedding Lit, tetapi justru bukanlah kisah sebuah pernikahan yang jadi sorotan utama, melainkan tentang pergolakan hati Abby yang ditinggal pergi oleh calon suaminya. Selain kisah patah hatinya Abby, ceritanya juga dihiasi dengan keseruan travelling-nya Abby dimulai dari Penang.

Ya, benar. Novel ini memang lebih konsen ke keseruan perjalanan Abby dan Wira. Sedikit demi sedikit identitas dan rahasia hati mereka masing-masing mulai saling terkuak. Semakin dalam mereka saling mengenal latar belakang masing-masing misalnya pekerjaan, keluarga, dan masa lalu. Dalam hitungan hari saja mereka sudah makin dekat dan saling bergantung. Seolah mereka tidak bisa melangkah lebih jauh jika tanpa si travelmate-nya ini. Meski Wira sering menggoda Abby dengan kata-kata yang cheesy dan Abby berlagak kesal, tetapi sesungguhnya itu membuat pipi Abby terasa panas. Wira sering melontarkan perhatian kecilnya yang lama-lama jadi perhatian yang makin besar. Hati Abby makin jumpalitan dibuatnya.

Awalnya aku berpendapat bahwa Abby itu beruntung sekali bertemu Wira yang bisa sedikit demi sedikit membantunya mengubur insiden menyedihkan tentang Andre, serta mengajaknya ke tempat-tempat yang mungkin tidak akan Abby kunjungi kalau dia berwisata sendirian. Tetapi makin ke ending buku aku mulai menilai kalau Wira juga beruntung bertemu Abby. Mereka saling menutupi kesedihan masing-masing.

Tadinya aku punya ekspektasi besar kalau novel ini akan menyajikan berbagai adegan manis, tetapi sayangnya karena Abby dan Wira masing sama-sama strangers jadinya masih kurang ‘nendang’, terutama pas bagian mereka sedang berada dalam pesawat dan duduk sebelahan, serta waktu Abby dan Wira sedang menemani Cacha main di taman. Di bagian itu harusnya bisa lebih ‘aw aw aw’ lagi supaya makin so sweet. Tapi, tetaplah julukan Raja Gombal buat Wira masih tersemat dengan apik di jidatnya. 😛

“Ngobrol sama orang asing selalu jadi pengalaman yang luar biasa karena kita nggak pernah tahu siapa yang kita ajak ngobrol, gimana kehidupan yang kereka jalani, cerita apa yang mereka punya. Itu ngajarin aku buat nggak cepat menghakimi, dan itu nyenengin.” — Wira (h.65)

Sosok Wira di sini terkesan agak misterius. Hal tetsebut karena novel ini menggunaoan POV 1 dari sudut pandang Abby. Sehingga pembaca sama sekali tidak bisa menerka apa yang ada dalam hati dan pikiran Wira mengenai Abby. Wira suka sekali menggoda Abby. Apa arti dari godaan dan gombalan itu. Apakah Wira sebenarnya memang playboy dan player sehingga dia suka sekali berbuat demikian kepada wanita, atau jangan-jangan dia suka beneran dengan Abby? Kadang-kadang hal inilah yang bikin aku gemas kalau baca fiksi yang pakai POV 1. Nggak bisa ngintip ke dalam hati dan pikiran tokoh lainnya. 😀

Oh ya, novel ini juga lumayan quotable. Terbukti di catatanku ada beberapa poin yang bisa dijadikan quote. Meski masuk lini Wedding Lit, novel ini cocok juga kok untuk bacaan remaja. Nggak terlalu dewasa yang gimana-gimana. Kadang buat yang masih teenager jadinya sungkan untuk menyentuh bacaan yang sudah berbau pernikahan. Justru di sini beda banget. Kental dengan travelling, nggak melulu soal cinta-cintaan, tetapi juga terselip poin tentang pelajaran hidup yang bisa diambil hikmahnya. Kehadiran Wira di novel ini yang lebih dominan dalam membuka paradigma Abby untuk mengatasi masalah di hidupnya. Good job, Wira!

“Hidup ini rangkaian kejadian yang terjadi karena pilihan yang pernah dan akan kita buat. Dan, itu yang membentuk kita yang sekarang. Jadi, kalau kamu tanya apa ada yang aku sesali, ada. Tapi, apa aku ingin memperbaikinya? Nggak. Aku nggak pengin memperbaiki apa pun dalam hidupku.” — Wira (h.119)

“Some people come into our lives just to teach us how to let go.” — Wira (h.120)

“You should not put you happiness in someone else’s hands,” — Wira (h.130)

“Don’t judge others before you try walking in their shoes.” — Wira (h.130)

Novel yang bertema travelling seperti ini sering membuatku berpikir dan penasaran dari awal, apakah mereka akan berpisah atau tetap bersama setelah perjalanan ini selesai? Itulah yang membuat aku susah berhenti untuk menyelesaikan. Makanya itu pas ikutan #TemanBaca di twitter, batas bacaanku malah paling duluan habisnya. 😀 Ditambah pula dengan misteri menghilangnya Andre di hari pernikahannya, itu yang menjadi pertanyaan besar di benakku dan juga kalian ketika membaca novel ini. Tapi, jangan khawatir, karena alasan yang sesungguhnya akan terkuak nantinya di buku ini. 😉

image

Sebagai penutup, aku mau ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Mbak Dy Lunaly beserta ‘panitia’ blog tour dan #TemanBaca #MyWeddingDress yang sudah mengizinkan aku bergabung di grup rumpik. Hihihihihi~ 😛 Aku juga turut senang bisa meramaikan event promosi novel My Wedding Dress bahkan sebelum peresmian launching-nya di tanggal 13 Desember 2015. Anyway, selamat atas kelahiran novel barunya, Mbak Dy! 🙌🙆

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s