[Review] As Seen On TV by Christian Simamora

IMG_20150920_125438

Judul: As Seen On TV
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: TWIGORA
Editor: Alit Palupi
Designer sampul: Dwi Annisa Anindhika
Petata letak: Gita Mariana
Ilustrator paperdoll: Amel Santoso
Ilustrasi isi: Mailoor
Cetakan: Kedua
Terbitan: 2014
Tebal: xii + 484 Halaman
ISBN: 978-602-703-621-5
Genre: Contemporary Romance

TAGLINE

Aku ingin jadi orang yang kamu ingat saat gembira, bukan yang kamu hubungi saat sedanf kesepian saja.

BLURB

Dear pembaca,

Jujur saja, sekali ini, aku benar-benar bingung harus mulai bercerita dari mana dulu tentang novel ini. Apakah harus kumulai dari pengakuan pribadiku bahwa novel ini yang paling melibatkanku secara emosional dibanding karya-karya sebelumnya? Ataukah tentang ide dasar ceritanya yang merupakan ketakutan terbesarku?

Mungkin kamu familier dengan alur cerita novel ketiga belasku ini. Bisa jadi, aku malah mengingatkanmu pada seseorang di masa lalu atau malah yang kau kenal sampai sekarang. Kukatakan padamu, novel ini memang tentang dia. Tentang seseorang yang setengah mati ingin kamu benci—karena mungkin hanya dengan begitu kamu bisa berhenti peduli. Tentang dia yang teramat berarti sekaligus yang sering membuatmu menangis seorang diri.

Jadi, apa keputusanmu? Apakah kamu siap berbagi tawa dan luka bersamaku sekarang? Aku tidak akan menjanjikan apa-apa lagi padamu… selain bahagia menanti di halaman akhir novel ini.

Selamat jatuh cinta.

CHRISTIAN SIMAMORA

REVIEW

Javier Bungsu Vimana, atau panggil saja Javi. Cowok ini adalah ‘papa’ bagi dua anaknya, yaitu Jake (anjing husky jantan) dan Vierra (anjing teacup yorkie betina). Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, keturunan dari konglomerat Roberto Vimana yang satu ini orangnya rada insecure dan agak minder dari saudaranya yang lain, karena hanya dia yang cuma buka usaha sebuah kafe bernama Tolstoy di sebuah mall daripada mengurus sebuah proyek besar beromzet miliyaran bahkan triliunan dari ayahnya. Alasan Javi menolak itu karena Javi nggak minat berkecimpung di bisnis keluarga.

As usual, tokoh cowok berinisial huruf J ini juga memang superduper hawt! Javier Bungsu Vimana memiliku penampilan fisik yang mengagumkan. Wajah persegi dan maskulin, dengan facial hair bergaya, seperti yang sedang tren di kalangan selebritas cowok akhir-akhir ini. Dadanya bidang dan atletis seperti model iklan celana dalam, mulus hingga ke happy trail di daerah pusar–yang kemudian berlanjut ke ‘terra incognita‘ alias unknown land yang tersembunyi dengan baik sekali di balik bedcover. (Halaman 13)

Bukan hal yang tabu lagi kalau seorang Javi adalah player kelas kakap yang cenderung nggak pilih-pilih untuk ‘melahap’ wanita mana pun untuk jadi teman tidurnya, terlebih bagi mereka yang punya dada besar. Tapi, soal tidur-meniduri itu, ada pengecualian untuk seorang sahabat perempuan terbaiknya yang tidak pernah ia ‘sentuh’ sekali pun.

Kendra Rey, atau biasa dipanggil Ken, adalah salah satu cewek yang addicted banget sama Peter Pan–bahkan mungkin sudah ratusan kali dia nonton Peter Pan dari DVD yang dia punya. Ken juga nggak hobby dandan, tapi Ken sangat menyayangi Jake dan Vierra. Kalau Javi sebagai ‘papa’ buat Jake dan Vierra, maka Ken adalah ‘mama’ mereka. Ken bekerja di Tolstoy sebagai operational manager. Ya, Javi adalah atasan sekaligus sahabat lelaki terbaik yang pernah Ken punya.

Kendra memang nggak cocok dikategorikan tomboi, tapi dia juga nggak segitu excited-nya dengan kosmetik atau tren fashion terbaru. Padanan pakaian favoritnya pun nggak jauh-jauh dari kaus-celana jeans, dengan sesekali meng-spice up penampilannya dengan sweater atau jaket distro. (Halaman 19)

Ada sebuah kutipan–uhm, I read it somewhere–yang mengatakan bahwa tidak mungkin hanya ada sebatas pertemanan di antara lelaki dan perempuan. Apalagi kalau kasusnya sudah kayak Javi dan Ken yang udah dekeeettt banget. And it’s true, karena itulah yang dirasakan dan terjadi pada Ken. Selama ini–entah sejak kapan–Ken memendam rasa pada Javi namun ia tidak pernah berani untuk menyatakannya.

“Kita itu tinggal di dunia yang dibangun dengan nilai moral yang nggak fair. Cowok nembak, biasa. Cewek nembak? Hanya di manga saja yang seperti itu dianggap wajar adanya. Kenyataanya, cewek yang nyatain perasaannya duluan biasanya end up dicap agresif dan kegatelan.” — Kendra (h. 36)

Javi memang sering show up, menceritakan bagaimana dia menghabiskan malam bersama para Merlot Girl–sebutan dari Kendra untuk wanita-wanita yang mau hook up one night stand sama Javi–pada Ken, tapi Ken hanya bisa mengernyit jijik dengan segala deskripsi dari Javi. Dia tidak pernah mau dengar kalau sudah menyangkut urusannya Javi yang berbau ranjang. Meski begitu, Ken malah tidak pernah menunjukkan sikap dan rasa cemburu atau ketidaksukaannya pada rutinitas Javi yang satu ini.

Laura Winarno adalah teman kuliah Kendra. Laura sudah jadi salah satu teman terbaik Ken selain Javi. Di sini ceritanya Laura sudah dilamar oleh Mario Hardiansyah. Laura dan Mario memang bukanlah pemeran utama, tapi mereka punya peran yang cukup berpengaruh bagi hubungan Javi dan Kendra. Oh, jangan lupakan Orion Sentosa dan Niagara yang kelak akan hadir pula di cerita ini.

Untuk merayakan kebahagiaan Laura yang baru saja dilamar Mario, Laura mengajak Ken dan Javi untuk ikut mereka ke villa keluarganya di Puncak sambil BBQ-an. Siapa yang sanggup menolak, apalagi untuk Ken. Namun, sebuah acara yang harusnya bisa bikin happy-happy itu justru harus berakhir menyakitkan bagi Kendra akibat permainan truth or dare dan pertanyaan yang dilontarkan Mario kepada Javi menyangkut Ken. Sebuah jawaban yang tidak pernah Ken sangka akan keluar dari mulut Javi mengenai dirinya dan itu membuatnya sangat tersinggung. Ken tentu saja marah dan memutuskan untuk pulang nebeng bareng Laura dan Mario saja ketimbang nebeng di mobil Shylock Xelhua milik Javi.

“Luka luar mungkin bisa gampang diobati, tapi luka di dalam hati kan sulit diprediksi kapan sembuhnya.” — Niagara (h. 417)

Apakah Javi menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada Ken? Usaha apa yang dilakukan Javi demi mendapat maaf dari Ken? Akankah Ken memaafkannya dengan mudah? Lalu apakah mereka akan kembali sebagai sahabat lagi atau bisa lebih dari itu seperti harapan Kendra? Silakan temukan jawabannya dan kelanjutan kisah selengkapnya di novel ini.

***

“Sudah terlalu banyak lo menangis, Ken. Dan gue berutang besar untuk setiap tetes air mata yang jatuh itu.” — Javier (h. 465)

Great job untuk Bang Ino yang lagi-lagi berhasil membawa saya terhanyut dalam dilema hidup Javi-Kendra-Orion-Nia. Kalau ada yang bilang ini soal cinta segitiga, salah deh kayaknya. Yang benar justru segiempat menurut saya. Isi ceritanya nggak melulu soal deskripsi ketertarikan fisik dan seksual dari Javi dan Ken, tetapi beberapa surprise juga diselipkan dan konflik yang cukup alot. Pokoknya nggak jauh-jauh dari empat orang di atas itu.

“Gue yang sekarang bukan orang yang sama, Ken. Gue yang sekarang mau berusaha memperjuangkan lo tetap ada di sisi gue.” — Javier (h. 465)

Javi yang selama ini denial bahwa dia punya debar-debar halus pada Kendra akhirnya menyadari ketertarikannya pada Ken saat rasa cemburu mulai membakarnya ketika melihat Ken dan Orion asyik bercengkrama. Oh ya, saya suka banget dengan perwatakan dan peran Orion di sini. Bang Ino memasukkan tokoh baru menjadi pendamping utama sebagai kompor untuk Javi. Tapi, meski Orion di sini dideskripsikan sebagai player juga–sama seperti Javi–tapi saya nggak merasa Orion seperti itu. Mungkin karena tidak ada disisipkan satu scene ‘nyata’ bahwa Orion sedang flirting atau make out misalnya, bukan dari deskripsinya Javi. Saya justru merasa peran Orion di sini lebih cocok sebagai cowok baik-baik yang nggak pernah main-main sama perempuan. Image nakal itu yang nggak saya dapatkan dari Orion.

“Satu kali tatapan saja ke arah lo, hati gue langsung mengerti. Gue baru saja menemukan rumah yang hangat dan nggak perlu mencari ke mana-mana lagi.” — Javier (h. 466)

Another thing yang saya suka banget di novel ini adalah the sweetness from the puppies as their children dan panggilan Papa-Mama itu. Duh, rasanya gemes deh sama tingkah Javi dan Ken yang menganggap the puppies jadi kayak anak mereka beneran. Sebutan Papa-Mama itu juga, ya ampun, I love that idea!

Konflik-konflik yang ada dapat diselesaikan dengan apik dan tentu saja berakhir happy. Tidak cuma untuk Javi dan Ken, untuk Orion dan Nia pun dapat ending sendiri. Untunglah, kukira dua cameo ini akan terlupakan begitu saja. Tapi, apa kabar Laura dan Mario ya? Jadi nikah nggak sih mereka itu? Kok malah hilang dari peredaran ya? 😀

Saya suka cara Bang Ino menyisipkan beberapa detil yang khas pada tiap tokoh misalnya seperti Ken yang suka dengan nasi goreng ikan asin, eggs benedict, dan punya kebiasaan sering nyomotin makanan di piring Javi. Atau seperti Javi yang langsung berbinar matanya kalau dikasih cupcakes dari Ken. Atau seperti Laura yang ceplas-ceplos, fashionista, dan sampai bela-belain bejajo di tempat diskonan. Kekhasan seperti ini membuat para tokoh mudah diingat dan melekat lama di hati saya sebagai pembaca.

Seperti biasa, peran seorang teman dari tokoh utama menjadi tokoh yang begitu hidup di novel Bang Ino. Rasanya tidak lengkap kalau tidak ada karakter best friend cablak dan cerewet–macam Laura gini–yang disisipkan oleh Bang Ino di novelnya. Seperti tidak ada penyokong dan pengompor untuk mempersatukan kedua tokoh utama. This is the thing that I like the most from his novels.

“Hati boleh bodoh, Ken, tapi otak jangan.” — Laura (h. 76)

Sempat tersebut nama Oleander Vimana sebagai kakak perempuan Javi yang tinggal dan berbisnis di London. Hmm, saya jadi penasaran sama si Lea ini. Kayaknya sih cocok banget deh buat jadi next project Bang Ino untuk seri #vimanasingles sebagai pemeran utamanya. Apalagi Lea kan tinggal di London, mungkin ini bisa jadi hal baru dan tantangan tersendiri untuk Bang Ino membuat novel yang setting-nya dominan di luar negeri, iya nggak? 😉

Anyway, intinya saya suka sama keseluruhan isi di novel ini. Meski konfliknya masih kalah complicated sama salah satu seri #jboyfriend sebelumnya yang sudah pernah saya baca, tapi yang ini cukup memuaskan kok. Nggak nyesel deh milih beli buku ini pas dapet hadiah voucher buku dari Kang Opan tahun lalu. Makasih banyak, ya, Kang! 😄

So, buat kalian yang ngakunya penyuka novel dari Bang Ino, nggak afdol dong kalau nggak baca yang satu ini. Dijamin balal ‘kenyang’ deh . Kenapa? Ya, kamu lihat aja tuh jumlah halamannya berapa, hehehe. 😛 Untuk penikmat novel dewasa dan ingin mencoba tulisan yang sweetsexy-hot-spicy karya penulis dalam negeri, yang satu ini boleh banget dicoba. 😉

OVERALL RATING

🌟🌟🌟🌟

SEX-O-METER

👙👙



INTERMEZZO

Setelah selesai baca, saya iseng buka winamp di laptop dan sempat keputer sebuah lagu. Liriknya langsung mengingatkan saya pada kisah Ken dan Javi yang baru saja saya tamatkan. Here it is, lagu dari The Corrs berjudul What Can I Do.

Sebuah lagu jadul dari akhir tahun 90-an and throw me back ke jaman SMP. Weits, maksudnya saya baru kenal lagu ini pas di kelas 7 di awal tahun 2000-an. 😀 Sengaja saya pilih versi yang ini karena saya memang lebih suka sama versi Unplugged. Silakan dicoba didengerkan di video tersebut bagi yang belum pernah tahu sama lagunya.

Lagu ini bisa jadi alternatif sebagai teman pengiring selama baca novel ini. Menurutku liriknya cukup mewakili isi hati Kendra kepada Javi yang bertepuk sebelah tangan. One of my favorite song from this siblings group. Selamat menikmati. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Review] As Seen On TV by Christian Simamora

  1. […] yang buka usaha dan stay di London–kakaknya Javi yang sempat saya rekomendasikan di review As Seen On TV? Hmm, I hope she’s one of […]

    Like

  2. […] With You (Jere), All You Can Eat (Jandro), Guilty Pleasure (Julien), Come On Over (Jermaine), As Seen On TV (Javi), dan Marry Now, Sorry Later (Jao). Pada tahun 2015, dia merilis seri kedua yang diberi […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s