[BlogTour] Review: Forever and Always by Jenny Thalia Faurine

image003

Judul: Forever and Always
Penulis: Jenny Thalia Faurine
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama
Terbitan: Februari 2016
ISBN: 978-602-027-968-8
Genre: Romance, Young Adult

Bisa dibeli di toko buku online Bukupedia

BLURB

“Aku selalu menatap kamu dari dulu
lebih dari yang seharusnya
sehingga aku terluka sendirian.
Jika aku sudah bisa hidup tanpa menatapmu,
haruskah aku kembali menatapmu?
Aku bukan seseorang
yang suka menyakiti diriku sendiri, Ren.”

Dan ternyata mencintai seseorang lebih menyakitkan dibanding yang selama ini mereka duga. Seva dan Ren, dua orang teman lama yang tak pernah bertemu sejak lima tahun lalu, sore itu akhirnya mereka dipertemukan kembali.

Ada cerita di antara mereka yang belum usai. Perpisahan tak selalu jadi garis akhir sebuah hubungan.

REVIEW

Hanya saja perempuan dan laki-laki punya caranya sendiri untuk mencintai seseorang. Perempuan dan laki-laki punya caranya sendiri untuk menutupi perasaannya.

Sejak di halaman awal, prolog novel ini memang sudah memunculkan aura-aura kesuraman antara dua orang yang sudah lima tahun tidak pernah bertemu lagi dan sengaja saling menjauh karena suatu sebab atau masalah yang tidak bisa dibilang enteng di masa lalu. Seva dan Ren, dua sejoli yang pernah menjadi sahabat baik ini justru terjebak dalam kekakuan saat mereka tidak sengaja bertemu lagi di shelter TransJakarta dan akhirnya end up berbincang-bincang di Coffee Meter–sebuah kafe bersejarah bagi mereka karena sejak dulu mereka sudah jadi pelanggan setia di sana. Aroma kopi yang membawa mereka menyelami semua kenangan yang pernah mereka lewati dulu.

Tadinya saya tidak tahu kalau Forever and Always adalah novel yang dibuat menjadi novel berseri, alias akan ada sekuelnya. Tapi, saat saya baca di e-mail ada yang bertanya soal seri novel ini, saya pun kaget. Jenny Thalia Faurine bikin novel berseri?! Antara senang dan sebal. Senang karena jadinya ada yang akan selalu ditunggu-tunggu dari Jenny. Sebal karena pasti bakal dibikin penasaran mulu oleh ending ceritanya dan harus bersabar nunggu lanjutannya. 😄

Berhubung saya akhirnya tahu kalau ini berseri, maka saat sedang membaca novel ini saya sudah menyadari bahwa ceritanya nggak akan langsung habis sampai di sini saja, dan saya pun harus sudah siap kalau nantinya ada kemungkinan terburuk jika ternyata novel ini punya ending yang bikin kening mengernyit karena lolongan suara hati yang berkata, “Udah? Jen, mau lagi! Lagi! Lagi! Lagi!” Dan ternyata benar saja, pemirsa. Ceritanya ini bikin nagih!

Okay, saya akan bahas poinnya satu persatu, ya.

COVER

Baguuusss! Sukaaa! Seperti lukisan yang artistik. Wanita yang sedang terpejam itu mencerminkan Seva yang aslinya selalu pendiam dan suka memejamkan mata untuk meredakan emosi ketika ia marah. Tersebar beberapa lembar foto hasil jepretan kamera polaroidnya juga menjadi ciri khas kegemaran Seva.

TEMA CERITA

  • Friend zone.
  • Summon alias susah move on.
  • Terjebak dalam rasa bersalah dan kejadian pahit di masa lalu.

TOKOH

  • Seva Rosella: seorang cewek yang sebenarnya rapuh tetapi ia selalu berusaha untuk tampak tegar dan kuat. Sebelum bertemu dan sekelas dengan Ren di kelas 12, Seva adalah sosok cewek yang sangat pendiam, pelit bicara, minim ekspresi, dan tidak pandai bergaul. Tapi sejak ia dan Ren sering ke mana-mana bersama untuk urusan belajar bareng, Seva mulai bisa membuka diri terhadap lingkungan pergaulannya. Seva menganggap dirinya seorang pecundang karena ia nggak pernah berani ngungkapin perasaannya yang menyukai Ren secara diam-diam. Seva sangat pandai dalam hal menutupi perasaannya ini bertahun-tahun lamanya. Ia tidak ingin persahabatan mereka jadi kacau jika dia tiba-tiba ‘nembak’ Ren.
  • Renardhi Avasa: cowok yang rada keras kepala, pintar dalam pelajaran eksak, loyal terhadap teman, tidak pelit ilmu karena ia suka ngajarin Seva mata pelajaran utama IPA. Ren termasuk cowok summon alias susah move on. Meski Anggi–cewek yang selama ini di taksirnya di SMA–sudah pacaran dengan Andro dan Vito, Ren masih tetap punya hati terhadap Anggi. Kendati saat ia menyatakan perasaannya pada Anggi yang kemudian ditolak, ternyata hal itu tidak sanggup mengubur perasaannya pada Anggi. Hingga ketika Ren sudah menginjak bangku kuliah dan kerja pun, bayang-bayang Anggi tetap ada di benaknya. Ren pun bukan sosok yang peka terhadap Seva yang diam-diam menyukainya. Benar sih kalau Ren itu memang bukan cenayang, jadinya ya wajar aja kalau dia nggak tahu karena Seva nggak pernah bilang atau menunjukkan perasaannya sama sekali.
  • Vito: sahabat akrab Ren semasa SMA. Seorang cowok yang ternyata diam-diam menghanyutkan karena ia berhasil mendapatkan hati Anggi, padahal ia tahu bahwa selama ini Ren punya rasa yang dalam pada Anggi.
  • Anggi: sulit terdefinisikan. 😄 Pasalnya tidak ada porsi khusus yang melibatkan Anggi pada scene(s) yang ada di novel ini. Sepertinya selera cowok idaman Anggi adalah lelaki dengan tipe bad boy dan terkenal di lingkungan sekolah, bukan seperti Ren yang pintar dan nggak banyak neko-neko.
  • Andro: mantan pacar Anggi–sebelum jadian dengan Vito. Ia jadi salah satu anak bandel yang merasa jadi orang paling keren satu sekolah dengan teman-teman satu gengnya.
  • Kegan: teman Seva sejak kuliah di Bandung. Seorang cowok yang sangat perhatian dan penyayang, terutama pada Seva. Tipe lelaki idaman para cewek lah. Ia sangat pandai menjaga perasaan dan menjaga hubungan pertemanan. Lelaki yang bisa bersikap tenang di segala situasi. Kegan ini sama seperti Seva dan Ren, kalau sudah benar-benar menyukai satu orang, maka ia akan terus menyukai orang itu sampai kapan pun.
  • Neo: teman Kegan dari SMA yang sekampus juga dengan Kegan dan Seva di Bandung. Tipe cowok playboy tapi sangat setia kawan dan suka ngomong ceplas-ceplos, to the point terhadap topik pembicaraan.

Jadi, penokohan si tiga tokoh utama (Ren, Seva, Kegan) sudah cukup kuat. Memang sih pemeran pembantu lainnya seperti kurang ‘digarami’ hehe, tapi itu nggak masalah karena menurut saya yang paling penting ya cuma tiga tokoh itu saja yang punya pengaruh besar di novel ini.

ALUR CERITA

Plotnya maju-mundur. Ada yang tentang di masa sekarang dan kembali mengisahkan tokohnya ketika di masa dulu. Tapi yang mendominasi justru di bagian flashback, diceritakan sejak pertama kali Ren dan Seva berkenalan hingga akhirnya makin dekat dan menjadi sahabat baik yang lengket banget.

SETTING

  • Tempat: Coffee Meter menjadi setting tempat yang lumayan sering disebutkan di novel ini. Para tokohnya sering menghabiskan waktu untuk hang out dan ngobrol di kafe ini. Sepertinya ini memang jadi kafe favorit dari para tokohnya. Selebihnya, pendeskripsian tempat mana saja yang sempat di-mention di novel ini sudah baik meski tidak sebegitu detilnya, tetapi yang penting sudah bisa tersampaikan ke dalam imajinasi pembaca.
  • Waktu: di beberapa bagian cerita, pada awal chapter dan/atau di awal paragraf tertentu tercantum nama lokasi dan jamnya. Menurutku alangkah lebih baik jika keterangan tanggal-bulan-tahunnya, atau minimal bulan dan tahunnya juga ikut dicantumkan supaya memberi keterangan lebih jelas bahwa di bagian itu sedang menceritakan yang di masa kini atau flashback.

KONFLIK

Kebanyakan berkutat pada masalah ego dan perasaan. Dari awal hingga ke tengah, saya tidak menemukan adanya konflik yang berarti. Tapi dari tengah hingga ke akhir, satu persatu konflik cetarnya baru bermunculan. Mulai dari kecemburuan, kehilangan, galau dan depresi, khilaf, salah paham, marah, benci, and another twist that I’ve never expected before. Konflik-konflik tersebut bagi saya sangat menarik karena sudah bisa membuat saya ikut merasa ketar-ketir dan baper gara-gara tingkah Ren dan Seva di sepanjang cerita ini.

CHEMISTRY

Kedekatan di antara tokoh-tokohnya dieksekusi dengan sangat baik oleh Jenny. Karakter Ren dan Seva yang sangat berbeda justru bisa dibuat menjadi seperti saling melengkapi dan cocok satu sama lain. Kedekatan antara Seva dengan Kegan dan Neo pun baik. Tapi herannya, kenapa Seva nggak punya teman dekat cewek ya? Ada Fani yang dulu jadi teman sebangkunya di kelas 12, tapi kehadiran Fani cuma sekilas. Teman dekat dan teman nongkrong Seva semuanya lelaki (Ren, Kegan, Neo). Padahal kan Seva ini aslinya cewek yang sangat menutup diri. Biasanya cewek yang seperti itu akan mencari teman dekat perempuan untuk dijadikan gandengan.

KESAN-KESAN

Karena kemunculan konflik besarnya cenderung lambat, sehingga pada bagian awal hingga ke tengah cerita jadi agak terasa datar saja selama mengikuti kisah masa sekolahnya Ren dan Seva hingga menginjak bangku kuliah. Cukup banyaknya porsi cerita saat mereka masih di SMA itu mungkin dimaksudkan oleh Jenny untuk menyampaikan pada pembaca bahwa progress kedekatan Ren dan Seva tidaklah instan. Mereka bisa menjadi dekat satu sama lain seperti itu memang secara pelan-pelan dan natural.

Saya hanya merasa di bagian tersebut seperti ada ‘bumbu’ yang kurang, sehingga saya harus sabar menyimak hingga akhirnya saya sampai ke titik yang membuat my jaw dropped. Selebihnya saya sangat menikmati novel ini di mana ceritanya bisa mengalir dengan baik dan meninggalkan kesan cukup mendalam. Saya juga suka banget dengan ucapan Ren yang ini…

“Motret pakai kamera polaroid itu sama saja kayak hidup kita. Film-nya terbatas, cuma sepuluh lembar. Nggak bisa dihapus, setting-nya juga terbatas. Dari situ kita belajar, gimana caranya mendapat objek yang memang patut untuk dipotret dengan kapasitas film yang terbatas dan dengan setting manual. Nggak secanggih ponsel yang ada editor-nya. Dari kamera polaroid, kita diajarkan untuk belajar dari kesalahan yang pernah kita buat dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Kesempatan yang mungkin nggak setiap saat ada dan nggak banyak. Berhati-hatilah dalam mengambil keputusan seperti kamu yang berhati-hati ketika memotret. Jangan malu dan belajarlah dari kesalahan yang pernah kamu buat, seperti ketika kita menyimpan hasil foto kita yang mungkin nggak sempurna.” — (hlm. 84)

KRITIK & SARAN

Berasa agak ganjil ketika nama kampus, nama kantor, serta jabatan tokoh-tokohnya tidak sempat di-mention di sini. Saya jadi meraba-raba sendiri sebenarnya se-hectic apa kerjaan mereka sampai-sampai mereka tidak bisa hang out bareng lagi karena jadwal free-nya yang tidak cocok. Menurut saya, ada baiknya jika nama instansi serta jabatannya disebutkan saja, sekali pun nama kampus dan nama kantornya fiktif. Itu bisa membuat ceritanya jadi lebih realistis.

QUOTES

“Aku selalu menatap kamu dari dulu, lebih dari yang seharusnya sehingga aku terluka sendirian. Jika aku sudah bisa hidup tanpa menatapmu, haruskah aku kembali menatapmu dan melukai diri sendiri? Aku bukan seseorang yang suka menyakiti diriku sendiri, Ren.” — Seva (hlm. 7)

“Aku berubah setelah menyakiti orang yang sebenarnya sejak dulu dengan nggak sengaja paling sering kusakiti, karena aku membicarakan perempuan yang kucintai dengannya.” — Ren (hlm. 11)

“Kalau perlu lari, cari treadmill, jangan perempuan.” — Ren (hlm. 24)

“Laki-laki sejati itu nggak ngejadiin perempuan lain sebagai pelarian, Bro,” — Vito (hlm. 24)

“Perempuan nih, begini. Apa-apa dipikirin. Padahal mereka cuma ngomong seenaknya saja. Lagian, selama kita nggak sejelek apa yang mereka omongin, ya santai ajalah.” — Ren (hlm. 34)

Seva tidak  bisa tidak peduli dengan anggapan orang lain. Di depan semua orang, mungkin Seva terlihat cuek  karena lebih banyak diam dan bicara hanya seadanya. Tapi di balik itu semua, Seva adalah tipe orang yang sangat pemikir. Apa pun bisa dipikirkannya hingga berlarut-larut. — (hlm. 34)

Perempuan spesial akan selalu mendapat perlakuan spesial dan berbeda dari laki-laki yang menyukainya. — (hlm. 38)

“Sev, kalau menyangkut perasaan, jangan disamain kayak games. Nggak ada yang harus cepet-cepetan untuk mengklaim seseorang jadi miliknya.” — Ren (hlm. 40)

“Orang jatuh cinta memang terkadang lebih mementingkan perasaan orang yang dicintainya, Sev.” — Ren (hlm. 54)

“Ya, bilang aja, sekarang udah nggak zaman makan hati, yang lagi ngetren itu makan temen.” — Ren (hlm. 56)

“Cinta dan obsesi hanya disekat oleh dinding yang tipis.” — Seva (hlm. 60)

“Ketika seseorang sadar bahwa dia jatuh cinta pada orang yang sedang jatuh cinta juga, harusnya orang itu segera tersadar untuk melepas perasaannya. Selamanya, kita yang mencintai orang yang nggak mencintai kita hanya akan seperti karang yang dihempas ombak. Lama-lama akan hancur.” — Seva (hlm. 61)

“I fall for you. You fall for her. Is it love or dominos?” — Seva (hlm. 87)

Tapi, rencana hanyalah rencana. Sematang apa pun rencana disusun, tidak akan bisa mengalahkan takdir yang dijalankan Tuhan dan semestanya. — (hlm. 97)

“Aku nggak apa-apa kalau kita masih dan akan selalu berteman, yang harus kamu tahu, menghilangkan perasaan itu bukan hal yang mudah.” — Kegan (hlm. 104)

“Setiap orang berhak untuk egois, Sev. Nggak ada orang yang bisa benar-benar seratus persen hanya memikirkan perasaan orang lain.” — Kegan (hlm. 104)

“Kamu nggak akan tahu rasanya, gimana sakitnya ketika tahu orang yang kamu cinta akan nikah sebentar lagi. Dan hal terburuknya adalah dia nikah bukan sama kamu. Hahaha.” — Ren (hlm. 115)

“Love is what you’re fighting for, Ren. If you love her, fight for her.” — Seva (hlm. 120)

“Sahabat itu bukan berarti yang selalu  mendukung kamu, Ren. Dia yang memberi tahu kapan kamu harus berputar balik  ke arah yang benar.” — Seva (hlm. 122)

“Coba pikirkan nasihatmu untuk orang lain dan lakukan dulu terhadap dirimu sendiri, baru kamu boleh menasihati orang lain.” — Ren (hlm. 122)

Tujuh tahun saling kenal dan bersahabat, ternyata tak cukup untuk membuat mereka saling kenal dan mengerti satu sama lain. — (hlm. 123)

Pada awalnya, mereka adalah orang asing. Pada akhirnya, mereka kembali menjadi orang asing. — (hlm. 123)

“Kamu tahu, katanya lebih mudah hidup dengan orang yang mencintai kita dibanding dengan yang kita cintai.” — Kegan (hlm. 125)

“Memaafkan, jatuh cinta, dan melupakan mempunyai satu kesamaan. Yaitu sulit untuk dilakukan. Namun, bukan berarti hal itu tidak bisa kita lakukan.” — Ren (hlm. 142)

OVERALL RATING

★★★★☆


Oh ya, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Jenny dan tim pelaksana blog tour Forever and Always yang telah mengajak serta mengizinkan saya menjadi salah satu first reader sekaligus membuat review untuk novel yang belum beredar ini. Suatu kehormatan buat saya pribadi. Sangat ditunggu lho, Jen, lanjutan ceritanya. Penasaraaaaan akikaaaaa! 😄

Review ini memang termasuk dalam rangkaian blog tour. Mungkin kalian ada yang pada bertanya-tanya, “kalau blog tour kan biasanya ada giveaway juga. Kok ini nggak ada?” Eits, bukannya nggak ada. Giveaway-nya ada kok, tapi itu nanti ya, sebagai puncak blog tour. Masing-masing host akan membagikan satu eksemplar si novel cantik Forever and Always persembahan Jenny dan Elex Media secara gratis untuk satu orang pemenang yang beruntung. Nanti juga akan ada sesi wawancara di mana kalian bisa kepo ikutan nanya-nanya selama satu hari penuh ke Jenny. Pertanyaan kalian akan langsung dijawab langsung oleh Jenny. Nah, lebih seru kan? Jadi, tunggu tanggal mainnya aja, ya. 😉

Kalau ada yang masih penasaran bagaimana pendapat first reader lainnya tentang novel ini, kalian juga bisa baca-baca review Forever and Always dari host(s) blog tour sebelumnya yang ada di banner di bawah ini.

Header banner Forever and Always

Advertisements

35 thoughts on “[BlogTour] Review: Forever and Always by Jenny Thalia Faurine

  1. Wow…lengkap banget reviewnya. Good Job!
    Baca reviewnya jadi ngiler juga pengen baca novelnya. Penasaran banget apa yang terjadi antara Ren dan Seva before and after. Tokohnya lumayan banyak yah, mudah2an semuanya bisa terekplor dengan baik dan pas. Well, another romance novel that i should read, i think.

    Thank you

    Like

  2. Terimaqasi qaqa, reviewnya jadi bahan belajar lagi buat saya, ehe. Serinq-serinq biqin eaps. Hmm.

    Like

    • Ya, sama-sama. Sebenarnya saya bikin review model begini baru pertama kali sih. Biasanya nggak pakai poin. Tapi gara-gara baca review The Golden Roads punyamu waktu itu, aku coba ulas satu-satu. Begini deh jadinya. 😄

      Liked by 1 person

      • Hahaha, duh jadi tersanjung. Tapi jujur lebih enak dibaca kayak gini, lebih rapih gitu. Tapi balik lagi ke selera sih. Keren!! Kecuali di bagian kumpulan quotes, agak gimana gitu.

        Like

      • Sulit untuk menyelipkan quotes kalau format review-nya kayak begini, nggak kayak format review yang biasanya saya tulis. Per paragrafnya bisa saya sempilin quotes. Kalau di sini kan susah soalnya pake poin-poin. Makanya quotes itu saya kumpulin jadi satu aja biar yang lain bisa gampang bacanya.

        Like

  3. […] terbaru Jenny yang satu ini. Jangan khawatir, kalian boleh kenalan dulu kok sama novelnya melalui [Blog Tour] Review: Forever and Always by Jenny Thalia Faurine yang sudah saya post pada minggu […]

    Like

  4. Hadeugh Reviewnya kak Aya keren bangett dech ;* ,biasanya saya kalau baca review” yg panjang ,pasti bakalan berhenti ditengah jalan 😀 karna ya itu sedikit membosankan…
    Tapi punya kak aya TOP dech, lengkap pake banget buat ketagihan *hehe xD
    Dibuat penasaran dengan tokoh” di Forever& Always ini,
    apalagi dengan karakter Ren yg kata kak Aya itu ‘Summon; D dan gak peka Juga ;( ,lelaki seperti ini enaknya diapai yaa?

    Like

    • Hihihi thank you. Aku pun kadang bosan buat ngecek review sendiri kalau kutulis terlalu panjang. 😄 Berarti kamu lebih suka kalau review-ku ditulis dengan format seperti ini ya daripada kayak yang biasanya?

      Like

  5. […] Simak dan beri komentar di Review Forever and Always (wajib) serta ajukan minimal satu pertanyaan di Ask Author with Jenny Thalia […]

    Like

  6. Wow reviewnya detail bgt! Rapi dan berisi poin-poin penting. Good job! Boleh niy jd referensi. 😉
    Tapi kalau boleh saran jangan terlalu detail penjelasannya, takutnya yg baca sudah nggak penasaran lagi, pengalaman diri sendiri soalnya 😀

    Like

  7. Kazuhana El Ratna

    Wah, reviewnya lengkap banget. ^_^

    Suka pas baca ini. Hanya saja perempuan dan laki-laki punya caranya sendiri untuk mencintai seseorang. Perempuan dan laki-laki punya caranya sendiri untuk menutupi perasaannya.

    Dari tiga tokoh sentral yang digambarkan, Kegan, Ren dan Seva, sepertinya aku akan salut sama Kegan. posisi cowok kayak dia itu selalu memiliki kesan. Mungkin peran utama tokoh memang keren dan bisa dengan mudah disukai, tapi sosok orang ketiga macam dia yang tidak neko-neko juga memiliki kesan sendiri pada pembaca.

    Jadi penasaran banget nih buat membacanya.

    Like

  8. Kaget, reviewnya paket komplit nih. Rapi dan detail hehheeh
    aku sudah ikutan blogtour ini belum beruntung juga heheh.
    Terkait plus minus novel ini, saya yakin penulisnya sudah berusaha menuliskanya dengan penuh cinta.

    Salam

    Like

  9. bacaan baru dari Jenny Thalia F dengan tema friendzone dan kebaperan lagi… 😀 ini novel berseri ya? waduh… novel sebelumnya juga seperti itu dari friendzone dulu tapi ending yg diberikan biasanya manis bgt. 🙂 Sukses untuk novel terbarunya.

    Like

  10. Wah, bikin ngiler nih reviewnya

    Like

  11. Wah! Baru kali ini aku ketemu blog buku yang membahas per point tentang buku yang sedang di-review 😀 Buat yang punya tugas tentang meresensi buku, paling cocok deh ke blog ini, tapi jangan copas ya hahaha~ Nice review 😉

    Like

  12. reviewnya keren banget, lengkap, rapi
    makin penasaran sama isi bukunya 😀 apalagi dapet rating 4 bintang
    quotesnya kok bikin baper ya hiks

    Like

  13. ini nih bacaan yang cocok banget untuk malem minggu 😀 , dengan review yang lengkap dari kak aya bikin penasaran plus plus deh sama bukunya… sukses terus ya kak 🙂

    Like

  14. Holla Kak Aya! ;D Muncul lagi nih. Review-nya komplit. Sejak pertama membaca karya Jenny, Saya memang udah sangat fallin love dg karyanya, dan penulis muda produktif ini ternyata lagi-lagi berhasil mengabrek-abrek perasaan Saya setelah dulu lewat karya Wedding Rush. Kali ini Saya penasaran dg tema yg jadi patokannya; FREINDZONE, karena jujur tema ini dekat banget dg kehidupan Saya. Semoga berkesempatan mencicipi ini, ngarep banget ;D

    Like

  15. Wuihihi.. gilaa! reviewnya komplit banget. Setidaknya bikin readers jadi punya gambaran mengenai cerita ini melalui tokoh2nya *duilee, gambaran*.. Tema yang sebenarnya paling kuhindari sih, cuma emang ternyata terkadang tema FRIENDZONE ini bikin nagih, penasaran dan summon *gubrak*

    Like

  16. Salut banget dgn cara ngereview-nya. Completed.
    Selama aku berada di beberapa host blogtour atau yg ada review nya jarang loh yang buatnya seperti ini.. Rata2 cara reviewnya langsung secara keseluruhan nggak dibuat satu2 gini.
    Salut banget utk kak aya.
    Boleh kan yaa kalau aku nanyak2 tentang cara penulisan review sama kakak…
    hehehhe

    Oke sekian..
    Salam kenal yaa kak.. 😉
    Pida Alandrian

    Like

  17. Friendzone *stiker nangis di pojokan*

    Kenapa tema friendzone nggak abis-abis buat dijadiin cerita sih?

    And … thanks a lot banget sangat, dsb., atas reviewnya. Ampun dah, baca review aja bikin gue pingin menangin GA. Jadi, menangin gue yak. bhak /salah

    Baca review aja pingin cepet-cepet dapet novelnya. Duileh, bener banget emang. Aura-aura kesuaraman emang udah ada kalau temanya friendzone :v

    Like

  18. Enak ya jadi Seva, dikelilingi banyak cowok keren gitu *salah fokus.
    Okey, novel dengan tema friendzone. And summon. Teens problem nowadays XD. Untung aku belum pernah kejebak dalam lubang laknat macam itu ya *digeplak. Tapi tetap saja aku rasanya penasaran sekali dengan novel Forever And Always ini. Apalagi dengan karakter Seva Rosallina. Menurutku, sebelas dua belas dia mirip sama aku dari segi sifat. Pendiam, susah bergaul, dll. Untung dia ketemu Ren yang bisa merubah sifatnya menjadi lebih baik. Trus Ren ku sekarang kemana dong kok belum disamperin? 😦 wkwkwk. Pokoknya ini novel masuk wishlistkuuuu.

    Like

  19. Ooh, jadi ini novel berseri? Baru tauu.. haha
    Reviewnya lengkap dan dibahasnya per poin, suka deh. Kebetulan sekarang lagi suka novel tema summon, ya setidaknya ada temennya lah. Nggak galau sendirian 😀
    Sukses terus ya, Jen. Salut banget, masih muda tapi produktif banget. Semoga Forever and Always laris maniisss..

    Like

  20. Review-nya lengkap kak Aya. Jadi penasaran dan bakal bikin baper kalau baca novel Forever dan Always…

    Like

  21. Efek baca Review yang bagus ya gini! Bikin makin penasaran sama novelnya. Tanggung jawab mbak! Sini novelnya buat saya *eh

    Like

  22. Wow, reviewnya lengkap banget.
    cara penulisannya juga bagus dan gak bikin bosen baca hehe xD
    aku suka bgt sama covernyaaa, manis.
    dan tema friendzone itu salah satu genre favorite, apalagi ada secret admirernya gitu, pengalaman aku bgt xD

    (btw, aku lagi dpt tugas suruh bikin resensi novel, postingan ini boleh ya aku pelajarin supaya bisa bikin resensi yang menarik.)

    ありがとう!

    Salam kenal.

    Like

  23. Ada dua alasan kenapa orang menyukai suatu novel, pertama: novel itu benar-benar bagus, kedua: novel itu mirip dengan apa yang terjadi pada si pembaca. Dan dengan membaca reviewnya, aku termasuk si pemilik alasan kedua. Aku merasa kisah friendzone Seva dan Ren ini agak mirip dengan hidupku. Semoga berkesempatan baca deh >_<

    Like

  24. Reviewnya jelas dan mudah saya pahami, jadi penasaran dengan novel forever and always dari jenny thalia faurine kaya nya seru banget dan bikin penasaran yang bacanya banyak yang bilang novel ini bikin ketagihan sekali baca novelnya pasti ingin tau kelanjutannya.

    gara-gara blog dari aya murning, saya jadi pengen ngereview sebuah buku di blog saya jadi tau jalan cerita dari novel itu kepada teman-teman yang lain. 😉 🙂

    Like

  25. woow review-nya lengkap sekali, detail. keren ka aya;) Bisa jadi referensi untukku membuat review.
    review yang lengkap ini jadi membuatku ingin cepat-cepat membacanyaaa.

    Like

  26. Wow, review-nya lengkap dan detail, jadi semakin tambah penasaran!
    Covernya cantik! Kalau lihat novel ini di toko buku, pasti bakal langsung diambil dan dibaca cover belakangnya. Dan ternyata blurb-nya sudah menggoda buat buka dompet.
    Salah satu hal yang saya suka saat baca novel adalah mengumpulkan quotes. Tapi di sini quotes-nya sudah dikumpulkan, dan semuanya bagus-bagus! Saya yakin saya nggak bakal bosen baca buku ini kalau punya 🙂

    Like

  27. Review Forever and Always terlengkap yang pernah kubaca selama ikut GA … suka banget baca reviewnya 🙂 nggak ngebosenin. pokoknya joss bangetlah.

    kadar baper saya nambah ;( … Ren … terimakasih ,sudah mengingatkanku akan sosoknya.

    Like

  28. Saya suka pendeskripsian tokohnya. Jadi tahu kalo ternyata Ren punya saingan. Dan saya benar-benar berharap si Kegan ini bisa ‘menendang’ Ren dari hati Seva. Aishh,, jadi gak sabar sekuelnya keluar… *yang ini aja belum dibaca lho ndah -__-*

    Terima kasih reviewnya Aya ^^

    Like

  29. Kak aya reviewnya lengkap sekali . Diantara Beberapa host blogtour forever and always punya kaka yang paling komplit . Detai , rinci , bahkan dijelasin per point . Aku makin jatuh cinta dengan buku ini.

    Like

  30. Review-nya malah tambah bikin nggak kuat pengen segera baca novel ini (> <)
    Aku suka cover novelnya. Benar, sangat artistik. Saat aku masuk gramedia, hanya sekilas saja, cover ini sudah menarik perhatian. Sayang, bagian dalam dompet yang harusnya ditarik nggak ada (T T)
    Tema cinta yang belum tersampaikan atau cinta kepada sahabat memang banyak dijadikan ide cerita yang menarik. Aku penasaran bagaimana penulis membuat tema ini menjadi lebh dalam dan gaya bahasa penulis untuk membawakan kisah Ren-Seva yang terkesan kelam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s