[BlogTour] Ask Author: Jenny Thalia Faurine, Author of Forever and Always

Header banner Forever and Always

What’s up?!

Hello! Saya muncul lagi dalam rangka Blog Tour Forever and Always by Jenny Thalia Faurine di sesi kedua, yaitu tanya jawab bersama Jenny. Yeay! 😀 Mungkin di antara kalian masih ada yang belum tahu tentang novel terbaru Jenny yang satu ini. Jangan khawatir, kalian boleh kenalan dulu kok sama novelnya melalui [BlogTour] Review: Forever and Always by Jenny Thalia Faurine yang sudah saya post pada minggu lalu.

Nah, berhubung saya adalah host di urutan terakhir dan para host lainnya sudah pada banyak yang nanya-nanya soal behind the scene novel ini, jadi sesi tanya jawab saya kali ini lebih ingin mengenal sosok Jenny sebagai author secara lebih dekat. Penasaran kaaan? Yuk disimak wawancara saya berikut ini.

✨✨✨✨✨✨

Untuk karakter Seva dan Ren di Forever and Always, adakah sifat atau kepribadian dari diri Jenny yang Jenny—sengaja atau pun tidak—masukkan sebagai karakter mereka? Biasanya penulis suka lupa dan membuat penokohan karakternya itu malah mencerminkan si penulis sendiri. 😀

Hahaha, ada sih. Seperti Seva, aku nggak bisa parkir motor dengan lurus dan benar. Aku pernah diusir dari area parkir reguler (jadi sekolahku dulu ada kelas reguler dan unggulan) cuma karena pas aku parkir, motorku posisinya miring. Terus bapaknya jahat, aku diusir. Dia bilang kalau nggak bisa parkir jangan parkir di sana. 😦 Akhirnya balik juga parkir ke area parkir gedung unggulan. Datengnya paling pagi, biar bisa langsung parkir di baris depan dan karena emang masih kosong banget. Terus pulangnya belakangan, nungguin nyisa dikit supaya keluarin motornya lebih lega tanpa harus khawatir bikin lecet motor orang. Hahaha.

Genre favorit Jenny untuk ditulis dan dibaca itu kalau boleh tahu genre apa saja ya?

Kalau untuk ditulis, tentu romance sih ya. Hihihi. Nggak menutup kemungkinan juga sih untuk nulis di genre lain. Kalau baca, well, favoritku juga romance. Tapi aku juga baca genre lain. Dulu SMP sih maniak banget sama Fantasi. 😛

By the way, judul Forever and Always ini mengingatkanku pada salah satu lagu kesukaanku dari Shania Twain yang berjudul Forever and For Always. Nah, ngomong-ngomong soal lagu, Jenny pernah nggak terinspirasi membuat novel dari sebuah lagu? Dan biasanya lagu atau musik apa yang jadi teman Jenny selama menulis?

Aw! Forever and For Always-nya Shania Twain itu favoritku juga lho. Coba juga deh dengerin Forever and Always-nya Parachute. Liriknya bagus. #lhamalahpromo
Pernah sih. Tapi kalau yang udah terbit belum ada yang terinspirasi dari lagu. Kalau yang dipajang di Wattpad, ada Better Left Unsaid sama beberapa cerpen gitu.
Wah, sayangnya aku nggak terlalu suka dengerin lagu saat menulis. Lebih milih suara televisi buat nemenin nulis dibanding lagu. Hihihi. Tapi kadang-kadang kalau lagi pengin, musik pop dan R&B jadi yang mendominasi di playlist.

Jenny sering baca komentar dan review orang-orang di blog dan goodreads nggak? Kan banyak tuh penulis yang jadi kebawa emosi kalau baca kritikan orang. Sering nggak Jenny dapat komentar buruk dari pembaca? Bagaimana Jenny mengatasinya?

Sering kok baca komentar dan review orang. Soalnya buka Goodreads itu udah sama seringnya kayak buka Microsoft Word. Hahaha.
Sering juga kok dapet komentar semacam itu. Dari yang masih halus sampai yang bikin ngelus dada ayam. XD
Cara mengatasinya? Well, bagiku itu bukan masalah atau beban atau gimana sih. Aku menulis tanpa tekanan berarti dari pembaca. Jadi bukan masalah besar kalau pembaca mengkritik atau berkomentar tentang bukuku. Aku nggak akan menekan semua orang untuk berkomentar baik tentang karyaku sebagaimana pembaca nggak menekan aku saat aku menulis dengan bebas.
Kalau kritik mereka menjabarkan tentang kekurangan dan solusi untuk karyaku agar lebih baik, tentu akan aku catat hal itu. Supaya ke depannya aku nggak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Seberapa besar peran sahabat, keluarga, dan pembaca setia karya-karya Jenny dalam perkembangan karir Jenny sebagai author?

BESAR banget. Hihihi. Karena mereka semua terus mendukungku—baik saat aku di atas atau saat aku di bawah sekali pun. Terutama sahabat dan keluarga. Mereka nggak marah kalau aku batalin janji untuk balas dendam tidur setelah tiga hari kejar deadline misalnya. Mereka juga yang nggak akan segan ngomongin isi novel-novelku di depan aku sendiri, seakan-akan aku bukan penulisnya. -_-

Pertanyaan terakhir. Apa sih yang sebenarnya ingin Jenny capai dalam karir menulis ini?

Apa ya? Untuk yang lebih spesifik, mungkin aku belum bisa menjelaskan. Tapi setidaknya, aku ingin menemukan ‘jati diriku’ sebagai penulis (?) dan gayaku dalam bercerita.

✨✨✨✨✨✨

Yak, itulah pertanyaan-pertanyaan dari saya sekaligus jawaban dari Jenny. Puas atau masih kurang puas? Kalau masih penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Jenny atau novelnya, silakan tinggalkan komentar kalian di bawah ini karena nanti Jenny akan jawab pertanyaan kalian satu persatu.

Fyi, Jenny adalah salah satu penulis muda Indonesia yang sangat produktif. Saya masih ingat ketika tahun lalu usianya baru menginjak 19 tahun saja ternyata dia sudah merilis 10 buku. Whoa! Bahkan saat ini dia dinobatkan sebagai bestseller author di Penerbit Elex Media Komputindo. Cakeeep! Pertahankan dan tingkatkan ya, Jen. 😉

Jangan lupa ya nanti mulai tanggal 15-20 Februari 2016 akan berlangsung sesi giveaway dari setiap host. Karena saya host yang paling buntut, jatah saya ngadain giveaway ada di tanggal 20 Februari 2016. Ayo pada ikutan ya, gaes. Save the date! Tersedia 1 eksemplar novel Forever and Always persembahan Jenny dan Elex Media Komputindo untuk 1 pemenang yang beruntung dari tiap blog. Urutan host-nya bisa dilihat di banner paling atas. Bagi yang mau baca-baca review dan interview dari host lainnya silakan mampir ke blog(s) tersebut.

See you next week! (˛•̃•̃)/\(•̃•̃¸)

Advertisements

42 thoughts on “[BlogTour] Ask Author: Jenny Thalia Faurine, Author of Forever and Always

  1. Huaaaah, keren Kak Jen.
    Aku ada pertanyaan nih, Kak. Gimana caranya supaya selalu semangat menulis? Maksudnya biar nggak stuck mulu gitu.

    Like

    • Hai! Aih, makasih sebelumnya :’D

      Tingkatkan motivasimu saat menulis :’D Terus, inget juga, gimana rasa puasnya saat berhasil selesai menulis sebuah cerita. 😀 Tapi yang paling penting, berkomitmenlah dengan naskahmu. Berjanjilah sama dia, kalau kamu akan mengakhiri apa yang kamu mulai. #eaaa

      Like

  2. 1.kak Jenny, kamu kan cukup sering menulis cerita berdasarkan pengalaman pribadi atau pun pengalaman teman”nya, Nah kalau berdasarkan pengalaman teman, terus teman kakak ada yg ikut baca. Gemana sih Reaksi mereka setelah membaca ?

    2.kenapa judulnya Forever& Always?

    Like

    • 1. Kadang ada yang ngikik nggak jelas karena kesenengan cerita hidup dia aku tulis. Kadang ada yang ngomel: kok gue jadi orang jahat sih di novel lo? XD

      2. Kenapa ya? Karena tiba-tiba judul ini nge-pop up gitu aja sih di kepala. Dan sebenernya, dua kata ini adalah termasuk kata-kata yang paling sering orang-orang ucapkan kepada yang mereka sayangi :’D

      Like

  3. […] 5. Simak dan beri komentar di Review Forever and Always (wajib) serta ajukan minimal satu pertanyaan di Ask Author with Jenny Thalia Faurine (optional). […]

    Like

  4. Selamat ya Jenny atas novel terbarunya! 😉
    Salut deh masih muda udah banyak karyanya.

    Kasih dong tips & triknya dalam menulis. Bagaimana mengatur waktu untuk menulis di sela-sela kegiatan harian? Apakah ada waktu khusus? Karena setahuku menulis itu kan butuh konsentrasi dan fokus.

    Thanks before untuk jawabannya ya Jenny 🙂

    Like

    • Terima kasiih :’D *kuterharu*

      Wah, nggak ada tips dan trik khusus kok. Kalau aku, biasanya menulis di sela-sela waktu kosong kuliah dan kerja. Kadang pas jam istirahat, nunggu kereta yang Masya Allah lamanya dan penuh itu :’D Tapi, lebih sering menjelang tengah malam aku baru ‘bisa’ menulis. Setelah selesai sama tugas kuliah dan pekerjaan, hehehe. Coba manfaatkan waktu luang yang minim itu ya, kadang-kadang kita bisa nulis banyak kok walau waktunya nggak sampai berjam-jam 😀 Tetap semangat yaaa.

      Like

  5. Kazuhana El Ratna

    Wah mumpung boleh bertanya pada penulisnya, ^_^

    1. Menurut Kak Jenny, bagaimana membuat setting tidak terkesan tempelan?
    2. Berapa lama biasanya Kak Jenny melakukan riset dalam membuat novel?
    3. Kesusahan apa yang dialami ketika menulis novel ini?
    4. Dari beberapa novel yang sudah Kak Jenny terbitkan, mana yang paling berkesan dan mengapa?
    5. Bagiamana cara Kak Jenny mengatur waktu antara menulis dan kegiatan sehari-harian lainnya, misal sekolah atau kesibukan yang dimiliki. Apakah Kak Jenny memiliki waktu khusus untuk menulis sendiri atau, sewaktu-waktu pada ada ide?
    6. Yang mau disampaiakan dari novel ini apa, Kak?

    Duh, maaf kalau kebanyakan nanya 😀 Sebelumnya terima kasih dan sukses selalu ^_^

    Like

    • Wah, terima kasih untuk pertanyaannya yang banyak :’D

      1. Jangan asal copas dari sumber, seperti wikipedia, blog, dan lain-lain. Hayati dulu, bagaimana rasanya lokasi tersebut bagi kamu. Bayangkan juga kalau kamu ada di sana, apa yang kamu lihat, apa yang kamu akan dengar di sana (apakah suara cicitan burung atau bisingnya kendaraan), kira-kira anginnya kencang nggak ya, dan hal-hal lain yang melibatkan panca indra kamu. Kalau sudah tahu, tuliskan! 😀
      2. Nggak ada waktu tertentu dalam riset, kadang bisa cepat, bisa juga lama. Tapi biasanya aku melakukan riset seiring dengan proses menulis 😀
      3. Kesusahannya? Memantapkan ending! Hehehe.
      4. Duh, aku berasa pilih kasih kalau ditanya begini :’D Yang paling berkesan… novel Forever and Always ini. Terlalu banyak kepahitan, Nak. #hiks #keceplosancurhat
      5. Aku biasa menulis kapan saja kalau ada ide dan saat sempat. Biasanya pas istirahat kuliah atau kerja. Jam makan siang gitu. x)) Tapi biasanya lebih konsen kalau sudah menjelang tengah malam 😀
      6. Cuma satu kok: Wahai kalian yang friendzone, kalian nggak sendiri kok! Yuk berbagi perasaan kalian dengan Seva :’D

      Sukses juga buat kamu yaaa.

      Like

  6. Setiap hari kamu menargetkan diri kamu harus menulis berapa halaman? Kalau misalnya sehari tidak menulis nih, apakah kamu akan melipatgandakan tulisan kamu di hari berikutnya?

    Like

  7. apa yang membuat kak jenny menyukai kegiatan menulis/ menjadi penulis, sejak kapan ?
    kesulitan apa yang dialami kak jenny selama menjadi penulis ?

    terimakasih…

    Like

    • Yang membuat aku menyukai kegiatan menulis adalah membaca! 😀 Aku suka nulis sejak SD, tapi bener-bener serius itu sejak SMP kelas 2 😀

      Kesulitan? Nggak banyak sih, mungkin kalau ditolak penerbit aja :’D

      Like

  8. Jenny ini penulis yg suka baper sama teman atau sahabatnya sendiri keknya. haha…
    abis baca novelnya tokoh2nya pada baper kesahabat. JENNY jujur iya enggak? Kalau suka baper keteman cowoknya? 😀 -v

    Like

  9. 1. Apakah kak Jenny biasa mulai menulis outline dulu atau tidak?
    2. Apa resep kakak untuk konsisten menulis?

    Like

    • 1. Halo! Aku biasa menulis dengan outline dulu 😀
      2. Wah, nggak ada resep khusus sih. Tapi, ini yang selalu kubilang tiap kali ditanya dengan pertanyaan ini. Berkomitmenlah dengan naskahmu! Berjanjilah kepada dia dan diri kamu sendiri untuk menyelesaikannya 😀

      Like

  10. Oaaa, Bravo buat Jenny Thalia Faurine. Kapan2 ajarin nulis yak *plakkk ;D. Oea, kali ini Saya nggak ngajuin pertanyaan tapi permintaan. Permintaannya adalah … Jeenngg … Jeenngg … Tlg sebutin satu kata yg selalu memotivasi Jen untuk terus berkarya (menulis)! Itu saja, makasih ;D

    Like

  11. Hai Jenny, masih ingat dong sama aku *awas aja kalau nggak ingat*..
    Jenny aku cuma mau nanya hal yang simple sih.. Dan kuharap jawabannya juga simple..

    Kamu lebih suka ending sebuah cerita itu happy ending atau sad ending atau ngegantung? Kasih alasannya yaa.. Thank you, Jenny.. *cubit pipi Jenny*

    Like

    • HAI! YA MASIHLAH, WKWKWKWK.

      Bagiku, Happy Ending atau Sad Ending bukan masalah besar sih. Aku percaya, semua urusan di dunia ini nggak ada yang selalu berakhir bahagia. Termasuk di novel. Mungkin kadang kita ngutuk penulisnya ya; Ini ngapa Sad Ending sih? Udah tau hidup di dunia udah susah, masih aja disusahin.

      Well, sad ending kan sama saja seperti awalan untuk kisah bahagia lainnya yang mungkin nggak dituliskan penulisnya di situ. Lagipula, aku terbiasa untuk lebih menyukai proses menuju endingnya daripada ending itu sendiri. Apalah sebuah akhir kalau kita nggak bisa memaknai proses pendewasaan masing-masing karakter dalam sebuah cerita. #eaaa

      Like

  12. Haii Jenny… Salam kenal dari aku..
    jujur, aku sangat penasaran banget ini dengan kehidupan pribadinya jenny sebagai sosok seorang penulis.
    hehhe
    nggak apa2 kan yaa kepoin jenny.
    Aku mau nanyak, Selama ini kan jenny nulis cerita/novel ttg berbagai macam kisah percintaan kan ya ada friendzone dll.
    Nah yg buat aku penasaran nihh, ada gak sih sosok spesial bagi seorang jenny??
    dan mungkin ada gak sih beberapara novel/cerita jenny yg uda terbit atau yg belum terbit terinspirasi dr kisah perjalanan cintanya jenny?
    heehhe

    Sekian..
    Semoga jenny nya nggak marah yaa aku tanya gituan. habisnya penasaran. 😉
    *Peaceee jenny

    Like

    • Hai! Salam kenal yaaa. Boleh kok dikepoin 😀

      Ahahahaha, aduuuh pertanyaannya. *gelundungan di kamar*

      Ada, satu orang. Hehehe. Dia yang jadi inspirasiku di novel Forever and Always, Wedding Rush, dan A Little Agreement. :’D Tiga novel ini juga yang agak terinspirasi dari kisah cintaku sendiri, tapi nggak dalam porsi yang besar sih. *tutup muka*

      Ya ampun, aku nggak akan marah kok, tenang aja 😀

      Like

  13. 1. Kak Jen, tantang terberat dan paling berkesan waktu buat novel ini apa?
    2. Berapa lama nulis novel ini?
    3. Ada sequelnya, kan?

    Salam ketje, ketjup cantik, Ismaa. *tebar lope-lope*

    Like

    • 1. Terberat? Memantapkan endingnya :’D Yang paling berkesan saat nulis novel ini adalah, aku nulis endingnya sambil nangis karena keinget sosok Ren di dunia nyatanya. *cengeng banget lo, Jen*
      2. Sekitar 3 bulan 😀
      3. Yap, ada sekuelnya. Ditunggu aja yaaa hihihi.

      *ketjup balik*

      Like

  14. Kenapa suka banget nulis tentang friendzone? Wedding Rush juga gitu kan? Apa jangan-jangan penulisnya lagi kejebak zona ini ya? *ups *kabur 😀
    Trus gimana tips ala Jenny untuk memberikan ‘sentuhan lain’ pada naskah dengan tema yang sering diangkat seperti friendzone ini?

    Like

  15. Baru 19 tahun tapi sudah merilis 10 buku? Hebat Jenny. Aku jadi ngiri 🙂
    Boleh tanya dong. Novel Forever and Always ini based true story nggak? Atau ide awalnya dari pengalaman? Atau sama sekali imajinasi?

    Like

  16. Kak Jenny >_< tanya, yaa. Gimana sih biar menulis kita menjadi teratur dan sesuai dengan target awal kita?

    Like

    • Wah, sering-sering latihan dan mendisiplinkan diri sendiri ya 😀 aku sih menerapkan reward-punishment. Jadi kalau tepat waktu, aku menghadiahi diri sendiri dengan 7 hari marathon film, misalnya. Kalau telat dari deadline, janji nggak beli buku sebulan. X)))

      Liked by 1 person

  17. Wahhh hebat bgt kak Jen, keren ya udah rilis 10 buku 😀
    Pgn nanyaa, Sejak umur berapa kak Jenny suka nulis?

    Like

  18. Halo apa kabar Jenny, mau tanya dong? moga dijawab ya…
    Menjadi seorang penulis itu cukup sulit karena butuh kosentrasi dan ketaletenan dan waktu yang panjang untuk membuat sebuah buku yang dapat dinikmati pembaca.

    Pertanyaannya:
    1. Bagaimana jenny menjaga konsentrasi, ketaletenan dan waktunya ketika menulis sebuah novel?

    2. Apa saja kendalanya yang dihadapi dalam membuat novel Forever and Always ?

    itu saja pertanyaan dari saya moga bisa dijawab, biar saya gak penasaran seumur hidup saya … 😉

    Like

    • Halo!

      1. Mendisiplinkan diri sendiri sih. Juga karena aku sudah berkomitmen untuk menyelesaikan naskah ini, ketika aku males aku ‘memecut’ diriku sendiri untuk tetap semangat. Juga inget sama orang-orang yang memotivasi aku untuk nggak berhenti nulis :’D
      2. Nggak banyak sih, tapi ya memantapkan endingnya cukup sulit. Banyak pertimbangannya, huhuhu.

      Semoga kamu nggak penasaran seumur hidup ya :’D

      Like

  19. aaah pertanyaannya sudah diborong semua sama yang diatas:( hiksss. tapi tetep pengen nanyaaaa..
    Jadi, siapa sih orang yang paling menginspirasi dalam pembuatan novel #foreverandalways ini? Kenapa orang tersebut?

    Like

  20. Saya ada pertanyaan nih kak, hehehe~
    Kalau menurut kakak, bagaimana sih cara membuat pembaca ‘tenggelam’ dalam suasana cerita, terutama adegan sedih? Lebih mudah mendeskripsikan suasana cerita lewat dialog atau deskripsi? Terima kasih sebelumnya 🙂

    Like

    • Bangun suasananya dengan seimbang, melalui dialog dan narasinya. Pemilihan kata dan kalimat juga perlu diperhatikan, biasanya yang bertele-tele justru bikin feel-nya hilang XD

      Hm, menurutku untuk mendeskripsikan suasana, porsi dialog atau deskripsinya harus seimbang. Kalau hanya lewat salah satu, takutnya nanti berujung kepada ‘lebih banyak telling’ atau ‘lebih banyak showing’. 😀

      Like

  21. Kak adakah tips supaya bisa produktif nulis seperti kak jen ?

    Like

  22. Hai jane..
    Masih muda tapi udah produktif salute bingits dah..
    aku mau nanya nih.. ini ttg ren..
    Apakah ren di novel sm di dunia nyata sama2 memberikan ending yg gak enak??
    Hihihi maaf yah nanya nya agak personal abis yg lain udah dborong semua.. n aku tipe org yg lbih suka baca dari pada nulis hahaha..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s