[Review] Bulan Nararya by Sinta Yudisia

23552944

Judul: Bulan Nararya
Penulis: Sinta Yudisia
Penebit: Indiva Media Kreasi
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan & Naafi Nur Rohma
Cetakan: Pertama
Terbitan: September 2014
Tebal: 256 Halaman
ISBN: 978-602-1614-33-4

BLURB

Aroma mawar makin tercium tajam.

Aku menundukkan kepala, gigi gemeletukan. Rahang saling beradu. Kedua kaki berdiri tanpa sendi, namun betis mengejang kaku. Berpegang pada kusen pintu, perlahan tubuh melorot ke bawah. Ada sebaran kelopak mawar yang tercabik hingga serpihan, di depan pintu ruang kerja. Sisa tangkai dan batang serbuk sari teronggok gundul, gopeng terinjak. Cairan. Cairan menggenang, berpola-pola.

Aku bangkit. Terkesiap. Otakku memerintahkan banyak hal tumpang tindih. Lari keluar, berteriak. Atau lari ke dalam, mengunci pintu. Atau lari masuk, menyambar telepon. Tidak. Anehnya, istuisiku berkata sebaliknya. Tubuhku berbalik, meski melayang dan tremor, dengan pasti menuju tas. Merogoh sisi samping kanan, hanya ada pulpen dan pensil. Merogoh sisi kiri, ada tas plastik kecil, bekas tempat belanjaan yang kusimpan demi eco living.

Segera kuambil tas plastik kecil, membukanya, menuju arah pintu.

Halusinasiku harus menemukan jawaban.

REVIEW

Permusuhan menciptakan kesepian—juga kekuasaan. Aku merasa lebih bertahta meski terisolasi. Membangun dinding, mengunci diam. – (hlm. 7)

Nararya Tunggadewi atau biasa disapa Rara adalah seorang terapis di media health center di Surabaya milik Bu Sausan. Ia dan sahabatnya, Moza, menjadi terapis andalan di sana. Mereka menjadi orang kepercayaan Bu Sausan. Rara punya suami bernama Angga. Lelaki tampan yang dinilai sangat bertolak belakang dengan Rara, seperti air dan minyak. Lelaki yang sempat ditolak oleh orangtua Rara karena ketidakseimbangan di antara mereka berdua. Lelaki gagah yang berprofesi sebagai dosen ini sangat digilai banyak orang, namun Angga tetap memilih Rara sebagai wanita yang disuntingnya.

Ya, menurutku air dan minyak selamanya tak akan bercampur. Tapi, tak mengapa selama tak dipanaskan di atas wajan, bukan? – (hlm. 21)

Ternyata, tak perlu memiliki pasangan yang sempurna. Cukuplah memiliki seseorang yang ada saat kau butuhkan dia. Menjadi pendengar, menjadi bahu tempat bersandar. Kita akan sanggup keesokan hari menghadapi dunia yang tak ramah. – (hlm. 25)

Rara seringkali berinteraksi dengan kliennya ketika ia sedang penat dari kegiatan atau masalah pekerjaan. Ada 3 klien pengidap skizophrenia yang paling sering Rara datangi. Sania, si gadis kecil yang beranjak remaja dengan boneka kelinci kesayangannya. Pak Bulan, si bapak tua dengan gigi kuning keroposnya yang sering memandangi dan menunggu bulan purnama serta mencintai kebun mawarnya. Yudhistira, lelaki tampan yang begitu pandai melukis namun sangat mejaga kesterilan sekitarnya dengan selalu membawa cairan desinfektan ke mana pun ia berada. Kadang hanya dengan mendengar celotehan mereka atau memandangi Yudhis melukis sudah cukup membuat Rara tenang. Ia belajar banyak dari orang-orang seperti mereka.

Lama kemudian baru kusadari, orang-orang dengan kekurangan fisik dan mental adalah manusia paling jujur dan welas asih. – (hlm. 17)

Bu Sausan dahulunya adalah dosen sekaligus mentor Rara. Tanpa Rara sadari ternyata Bu Sausan sangat membanggakan Rara sebagai murid sekaligus terapis andalannya. Selama ini Rara justru merasa sebaliknya karena Bu Sausan sering menolak metode terapi yang Rara usulkan—seperti metode terapi transpersonal—untuk diterapkan pada klien mereka. Sudah 8 tahun Rara bekerja di mental helath center dan ia sangat menikmati pekerjaannya sebagai terapis.

Bu Sausan, kepala mental health center, sesungguhnya orang paling tidak pragmatis yang pernah kukenal. Beliau sering tak tega menolakklien—kami menolak sebutan pasien yang berarti pesakitan—apa pun kondisinya. Semula rehabilitasi ini hanya ditujukan bagi skizophrenia, orang-orang dengan gangguan struktur otak dan beragam tekanan luar biasa dalam hidup yang menyebabkan mereka kehilangan kemampuan berpikir normal dengan salah satu ciri yang spesifik: halusinasi. Ilusi, delusi, waham mengikuti. Tetapi yang paling membedakan dengan gangguan kepribadian lain adalah perilaku halusinasi parah yang menyebabkan mereka harus diasingkan, sebab tak mampu membedakan realitas dan khayalan. – (hlm. 17-18)

Rara harus menghadapi keluarga klien yang beragam sikapnya. Seperti Sania yang mempunya ayah bernama Robin yang ternyata seorang pemabuk dan memaksa ingin bertemu anaknya. Ada juga Diana—istri Yudhis—serta ibu dan 3 kakak perempuan Yudhis yakni Ibu Weni, Utari, Kandi, dan Anjani yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Bukan hanya masalah klien dan pekerjaan saja yang mendera Rara, tetapi ia juga harus bertahan menghadapi kerikil tajam yang menghampiri bahtera rumah tangganya bersama Angga.

“Tapi pernikahan itu ibarat kita mendayung kano bersama-sama. Harus tahu pasangan kita menggunakan dayung yang mana, bagaimana cara mengayuhnya. Kalau yang di depan begini maka yang di belakangnya harus begitu untuk mempertahankan keseimbangan.” – Angga (hlm. 201)

“Nggak ada perempuan yang senang suaminya sangat akrab denagn perempuan lain, meski sebatas sahabat. Perasaan perempuan mudah khawatir, mudah curiga.” – Rara (hlm. 203)

“Hidup yang bertanggung jawab itu memang berat, tapi jauh lebih menyenangkan dari hidup bebas melanglang dalam kesendirian.” – Rara (hlm. 204)

Tetapi, suatu ketika kredibilitas Rara sebagai terapis harus dipertanyakan saat ia mengalami halusinasi yang terus membayanginya. Ia sering melihat kelopak bunga mawar merah berceceran di depan ruang kerjanya dan digenangi darah. Siapa yang melakukan ini padanya? Apakah ini semacam teror atau iseng belaka? Mengapa dia melakukan ini kepada Rara? Melalui kejadian ini, penulis memancing intuisi pembaca untuk ikut menyelediki dan menebak siapa pelakunya.

“Terapis yang hebat, bukan mereka yang mampu menangani segala. Tapi yang tahu kapan harus meminta bantuan dari orang lain, di titik tertentu.” – Bu Sausan (hlm. 101)

Apakah yang akan terjadi antara Rara dan Angga dalam rumah tangganya? Bagaimana pula dengan usulan terapi transpersonal yang Rara ajukan kepada Bu Sausan, akankah diterima? Hikmah apa saja yang dapat kita petik dari novel ini? Ah, sesungguhnya ada banyak sekali.

Titik aku menyadari, bila bukan ketangguhan jiwa dan kemampuan mencari solusi maka manusia bisa menjadi gila. Cinta dan benci, ingin dan hampa, tetap atau pergi. Bneturan-benturan harapan dan realitas memungkinkan perasaan meluncur menuju jurang terdalam kesedihan. Dan, dalam samudera kesedihan, otak manusia seringkali menipu demi memanipulasi rasa. Terlampau duka maka tertawalah untu mengobati. Orang-orang dengan rasa yang mati berperilaku tak sesuai tempat: terbahak senantiasa meski mereka lusuh di tepi-tepi jalan. – (hlm. 33)

***

Tema utama yang mewarnai novel ini adalah kehidupan Rara sebagai terapis para penderita skizophrenia. Hal yang coba disampaikan oleh penulis melalui novel ini yaitu bagaimana manusia bisa berdamai dengan dirinya ketika ia menghadapi berbagai tekanan dalam hidupnya seperti yang dialami oleh para klien Rara dan apa yang sedang dijalani oleh Rara. Bergumul dengan orang-orang yang punya gangguan mental dan harus berhati-hati saat berinteraksi dengan mereka membuat saya seperti merasa sedang menjadi Rara. Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka akan lakukan oleh satu hal kecil saja yang kita ucapkan. Sebagai manusia yang normal, kita harus lebih paham dan menyederhanakan diri ketika sedang bersama mereka.

Di novel ini, penulis sebagai orang pertama yaitu sebagai Rara. Meski memakai POV 1, tetapi penulis sangat pandai menjelaskan situasi yang ada dan menuangkan segala analisa keadaan atas nama Rara. Begitu lancar meluncur pikiran-pikiran yang dicetuskan oleh Rara sehingga membuat saya terkesima dengan segala logika dan analoginya.

Mengenal dapur. Memahami bagaimana harus menceplok telur. Apa makna sabar ketika berdiri di depan kompor. Apa yang dinamakan sabar saat mencoba berdamai dengan sesuatu, seperti terinjak kaki, gosong masakan, terciprat minyak panas, atau masakan yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Sabar adalah ketika dia mampu mengendalikan diri, tidak berteriak-teriak menjerit ketika berhadapan dengan sesuatu yang asing. – (hlm. 169)

Pengkarakteran tiap tokoh di sini sangat baik. Masing-masing dari mereka mempunyai ciri khas. Rara yang sangat penyabar dan pengertian, sedikit keras kepala, tapi terkadang ia pun tak bisa memendam emosinya terus-terusan. Angga yang kalem dan penyayang namun ternyata punya daya pikat super untuk menarik siapa pun untuk takluk di kakinya. Moza yang kadang berperan sebagai sahabat sekaligus lawan sengit Rara untuk berargumen. Pak Bulan dengan bulan purnama dan mawarnya. Sania dengan keluguan dan boneka kelincinya. Yudhis yang pendiam namun sangat hygene. Diana yang sangat dinamis dan kadang tak tetap pada keputusannya. Ibu Dewi yang anggun dan terbiasa hidup mewah tapi sangat menyayangi putra bungsunya. Serta kakak-kakak Yudhis yang seperti tidak bisa akur satu sama lain.

Perasaan buruk tak harus disangkal. Mengakuinya jauh lebih baik untuk mulai memperbaiki apa yang masih bisa diluruskan. – (hlm. 44)

Romansa cinta memang tidak mendominasi di novel ini, tetapi penulis menyampaikan pertumbuhan cinta itu dengan cara lain. Cara yang halus, lembut, dan tidak biasa. Mungkinkah kau hanya akan jatuh cinta pada orang yang normal? Terbayangkah jika kau dapat jatuh cinta dengan orang yang punya gangguan mental? Anehkah jika sesama pengidap gangguan mental dapat mempunyai rasa yang lebih dari sekedar kasih sayang? Sanggupkah kau tetap mencintai dan merawat orang terkasih yang kini tak lagi sama? Mampukah kau bertahan mendampinginya hingga ia bisa sembuh seperti sedia kala?

“Kadang, sikap tulus dapat menyelamatkan kita dari carut-marut dunia yang tidak kita pahami.” – Rara (hlm. 205)

Saya? Sepertinya penulis telah sukses membuat saya jatuh cinta pada sosok Yudhistira. Baru kali ini saya dibuat jatuh cinta dengan tokoh yang tidak normal. Bukan karena ketampanan atau kepandaiannya melukis yang membuat saya terpesona, melainkan kecintaannya pada Diana, kelembutannya pada Sania, keakrabannya dengan Rara dan Pak Bulan, serta cara dia menerima dan mengatasi keadaan untuk tetap tenang dan berjuang sembuh. Ini semua tak lepas dari peran Rara sebagai terapis, ide-ide yang Rara usulkan agar para kliennya dapat segera normal, serta peran keluarga yang terus mau mendampingi.

Kehidupan tak pernah mudah. Secara kepribadian, itu yang akan mengasah kami. Bukan masa lalu yang menghancurkan seseorang, bukan orang lain yang mencelakakan, tapi sejauh mana manusia mampu memperkaya dirinya dengan hal-hal yang ditemui sepanjang jalan. – (hlm. 251)

Kekurangan? Ah, rupanya saya melewatkan hal ini. Saya begitu asyik menyelami kehidupan Rara dan para kliennya sehingga tak begitu tanggap dengan kekurangan yang mungkin ada. Penulis mampu membuat saya hanyut tidak hanya dalam problemanya Rara, tetapi juga pada kelanjutan nasib dari klien Rara terutama Yudhis yang paling sering dibahas, apalagi Rara terlibat langsung dengan istri dan keluarga Yudhis.

Novel ini membuat saya salut kepada Rara serta profesi sebagai terapis orang-orang yang mempunyai gangguan mental. Entah si penulis memang aslinya terbiasa berkutat di dunia yang dijalani Rara atau ini memang fiktif belaka, tetapi penulis seperti sangat mengerti seluk beluknya. Kalau pun penulis bukanlah seorang terapis, pasti risetnya tidak mudah. Membaca novel ini membawa nuansa baru dalam hari-hari saya. Sungguh saya menyukai ceritanya. Sedikit/banyak saya dapat memetik beberapa amanat yang sarat dengan nilai kehidupan, sangat quotable. Kalian juga harus baca ini jika ingin mencicipi fiksi bertema slice of life diluar kentalnya bumbu roman.

OVERALL RATING

★★★★★

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s