[Review] Tuhan untuk Jemima by Indah Hanaco

Tuhan untuk Jemima

Judul: Tuhan untuk Jemima
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Gita Savitri
Perwajahan Isi: Ayu Lestari
Perwajahan Sampul: Shutterstock & Mulyono
Cetakan: Pertama
Terbitan: Jakarta, 2015
Tebal: 305 Halaman
ISBN: 978-602-03-1660-4

BLURB

Jemima, gadis gelisah yang merindukan Tuhan, tapi tidak tahu harus mencari ke mana. Diberi kebebasan memilih agama, Jemima malah makin bimbang. Apalagi sederet tragedi sedang mengintai gadis itu dan keluarganya.

Kenneth, pria belia yang sangat tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini, sibuk berjuang untuk kelestarian lingkungan. Saat menyaksikan paus-paus kesayangannya dibantai, dia berkesimpulan tidak memercayai keberadaan Tuhan adalah keputusannya yang paling cerdas.

Kala keduanya bertemu di Selandia Baru, negara cantik berangin dengan berjuta keajaiban, otak dan hati mereka seolah diadu. Di antara keindahan pohon rimu, di antara pertarungan hidup dan mati, serta tamu khusus berwajah cahaya, akankah mereka menemukan hidayah-Nya?

REVIEW

Jemima Damarys adalah putri bungsu dari Raphael dan Feby yang baru lulus SMA. Ia punya seorang kakak perempuan yang cantik bernama Ashlyn Damarys. Karena mereka cuma dua bersaudara, Jemima sangat dekat dan menyayangi Ahs. Ia juga menganggap Ash adalah panutannya dalam berbagai hal.

Mereka berdua menjadi bayangan satu sama lain. Ashlyn adalah sahabat, kakak, sekaligus, panutan untuk Jemima. Apa pun yang dilakukan oleh sang kakak, nyaris selalu ditiru gadis itu. Ashlyn adalah kompas berjalan untuk Jemima. Meski kadang arah yang ditunjuk tak selalu benar atau sesuai dengan keinginan sang adik. — (hlm. 21)

Jemima percaya dengan adanya Tuhan, hanya saja dia bingung untuk percaya dan memeluk pada ajaran agama yang mana. Ia memang pernah belajar sholat tetapi itu sudah lama sekali dan sudah lupa apa bacaannya. Ia juga tidak pernah ke gereja. Ketika Ash sudah lama memantapkan hatinya sebagai pemeluk Kristen, Jemima malah masih cuek. Sampai akhirnya ada panggilan dari hatinya untuk memiliki Tuhan.

Selama ini dia meributkan bagaimana cara menemukan Tuhan. Bagaimana kalau ternyata Tuhan tidak pernah ke mana-mana? Tuhan selalu ada di sisinya, menemaninya berduka. Dia hanya tidak pernah menyadari itu dengan sungguh-sungguh. — (hlm. 245)

Dunia Jemima dan keluarganya tiba-tiba jumpalitan karena kematian Ash akibat kecelakaan mobil. Mereka tidak pernah mengira Ash akan pergi secepat itu. Semua sangat syok dan kehilangan. Terlebih mamanya yang paling tertekan. Bahkan ia tak pernah absen sholat dan tidur di kamar anak sulungnya itu karena masih sangat merindukan Ash.

“Hidup memang seperti itu. Enggak bisa diprediksi dan penuh kejutan. Mirip buku yang plotnya berliku. Kadang kejutannya sama sekali bukan hal yang menyenangkan,” — Daisy (hlm. 200)

Di tengah kesedihan yang belum surut dan sebuah keputusan berani yang telah dia ambil menyangkut masa depannya, Jemima ingin mengasingkan diri sejenak. Sekalian saja jadikan ini perjalanan untuk mencari Tuhannya, begitu pikir Jemima. Dan akhirnya takdirnya tertuju pada si negara kiwi–New Zealand.

Manusia biasanya akan terlalu cerewet untuk mengajukan pertanyaan. Mendebat apa yang dirasa tidak cocok dengan pendapat mereka. Tapi Tuhan yang Mahatahu itu tidak pernah bersikap sok tahu. Tuhan selalu menjadi pendengar sempurna saat orang berdoa, bukan? Itulah yang hilang dari hidup Jemima. — (hlm. 83)

Kenneth Nigel Kincaid. Lelaki berusia 20 tahun, berambut merah, dan bermata hijau ini merupakan seorang aktivis lingkungan laut dan tergabung dalam organisasi SWC (Sea World Conservacy) untuk melindungi ikan-ikan yang diburu secara berlebihan oleh kapal-kapal seperti Yao Maru, pukat cincin, dan seruit. Kenneth dkk. akan ‘memburu’ kapal-kapal yang suka membunuh paus dengan jumlah melebihi batas maksimal demi kepentingan mereka sendiri, sehingga ini sangat mengancam kelangsungan populasi hewan itu. Kenneth sangat menikmati hidupnya dengan berlayar di tengah laut bersama pamannya, Lockhart Kincaid, serta sepupunya si rambut pirang yang lebih tua 6 tahun saja darinya, Alec Kincaid, meski ia jauh dari keluarganya.

“Kita akan selalu berupaya mencegah manusia mengambil untung dari hasil pembunuhan terhadap mekhluk lainnya. Ikan atau bukan, mereka berhak hidup bebas dan enggak diburu,” — Lockhart (hlm. 9)

Saat di New Zealand, Kenneth bersama dua orang temannya sesama anggota SWC yakni Stu si penganut Kristen dan Remy yang seorang mualaf muslim. Kenneth? Dia sendiri ateis. Kondisi Kenneth agak berbeda dengan Jemima. Kenneth tidak punya agama dan tidak percaya adanya Tuhan. Pun kalau ditanya soal siapa pencipta alam semesta yang indah ini, ia lebih percaya pada teori ilmuwan daripada kuasa Tuhan.

Pertemuan Jemima dan Kenneth terjadi di New Zealand. Berawal dari tatapan aneh si rambut merah pada Jemima bersama Nick–rekan seperjalanannya selama berlibur di New Zealand–karena dinilai aneh, Kenneth dan dua temannya terdorong rasa penasaran dan berani menghampiri meja Jamima untuk mengajak kenalan.

Perkenalan itu pun berlanjut makin akrab. Mereka saling bertukar informasi soal kegiatan yang sedang dijalani. Jemima terkesan sekali dengan organisasi SWC. Tawaran Kenneth dkk. untuk menjadi ‘tour guide’ Jemima dan Nick selama berkeliling di New Zealand disambut hangat dan antusias.

“New Zealand is not just about Maroi, hongi, bungee jumping, or location of The Lord of The Rings. Banyak sekali yang bisa dilihat di negara ini.” — Stu (hlm. 91)

Kira-kira bagaimana kelanjutan dari keakaraban Jemima dan Nick bersama Kenneth dkk. di New Zealand? Keindahan apa saja yang mereka nikmati selama liburan ini? Apakah Jemima akan menemukan apa yang ia cari di New Zealand?

***

Awalnya saya mengira novel ini berisi sangat ‘galau’. Maksudnya lebih fokus pada kebimbangan hati Jemima dalam menemukan Tuhan. Ternyata dugaan saya salah besar. Novel ini tidaklah seberat yang mungkin langsung muncul dipikiran orang-orang ketika baru membaca judulnya saja. Justru isi novel ini jauh lebuh seru dari bayangan karena setting tempatnya tidak hanya di Indonesia, melainkan memperkenalkan keelokan alam di New Zealand yang sangat menarik dan sayang jika tidak dikunjungi.

Tidak hanya itu. Belumlah habis liburan Jemima di New Zealand, ternyata sudah ada masalah lain yang menunggunya di Indonesia. Ada ancaman yang selalu mengintainya di mana pun ia berada. Jemima pun harus waspada. Bagian ini makin menambah keseruan ceritanya karena memancing rasa penasaran pembaca akan kebenaran yang kelak akan terungkap di ujung cerita. Mirip-mirip bacaan suspense sehingga kita diajak untuk menebak begini dan begitu.

“Tapi jika kamu melepaskan sesuatu dengan mudah, itu artinya kamu memang enggak benar-benar menginginkannya. Jadi, enggak perlu merasa aneh atau apalah. Kebahagiaanmu adalah yang paling penting dalam hidup. No sweat. Remember Jemima, your happiness is down the pike. Go get it before you late.” — Kenneth (hlm. 128-129)

Kalau kata orang sekarang sih, wanita memang bawaannya mudah baper. Sama seperti Jemima yang mudah sekali pipinya merona akibat perhatian dan ucapan dari Kenneth. Chemistry mereka berdua terjalin cukup baik meski tidak ada hal yang bisa disebut oh-so-sweet. Yah, bagi yang mengharap adanya adegan-adegan romantis ala-ala di film, sayangnya hasrat itu tak bisa terpenuhi. Jadi, ada baiknya jangan pasang ekspektasi tinggi terhadap romansa dua sejoli dari novel ini. 😀

“Aku senang menceritakan pengalamanku pada orang lain. Bukan untuk pamer atau apalah. Aku hanya berharap ceritaku berguna untuk orang lain. Aku selalu sedih kalau melihat orang putus asa karena menghadapi masalah. Dulu aku juga begitu sih, tapi aku bisa melewati fase itu.” — Daisy (hlm. 203)

Tokoh Daisy menambah warna dalam kisah pencarian Jemima terhadap Tuhan. Kehadiran Daisy yang dikenal Jemima saat menemani mamanya terapi seperti sekantong hotpack bagi Jemima. Apalagi setelah ia mendengar cerita masa lalu Daisy cukup tragis. Hal ini membuat Jemima sangat berempati pada Daisy, sekaligus menjadikan ceritanya itu sebagai renungan dan cerminan di hidupnya. Ada hikmah yang bisa kita petik dari kisah Daisy di sini. 🙂

Tuhan tidak perlu membuktikan diri betapa berkuasanya Dia. Jemima seharusnya membuka mata hati, melihat betapa banyak sekali tanda-tanda kebesaran-Nya di sekitar gadis itu. — (hlm. 247)

Remy menjadi tokoh kedua yang saya sukai. Saya kagum dengan sikapnya yang teguh membedakan mana yang baik dan mana yabg tidak. Contohnya seperti saat dia tidak masalah walau makan sayuran saja supaya tidak terkontaminasi dengan makanan yang diharamkan bagi muslim. Pun ketika Kenneth kelaparan setengah mati dan mengajaknya makan apa pun makanan yang ada. Pengetahuannya juga bagus. Remy bisa mnejelaskan ini dan itu tentang aturan sebagai muslim kepada Kenneth dan Stu. Dasar alasan mengapa ia harus begini dan begitu. Sikap Remy patutlah dicontoh bahwa ia belajar banyak hal dulu sebelum ia berani masuk Islam. Bukan hanya masuk saja tanpa belajar apa pun dengan serius.

“Semua bahasa itu Tuhan yang menciptakan. Kalau Dia menempatkan bahasa Arab di posisi yang paling mulia, bagaimana dengan bahasa lain? Padahal semua adalah hasil ciptaan-Nya, kan? Itu baru aoal bahasa. Belum soal warna kulit, budaya, dan lain-lain. Tuhan yang mengutamakan manusia hanya berdasarkan bahasa dan ras adalah Tuhan yang rasis. Dan aku sangat yakin Tuhan kita bukan rasis.” — Jemima (hlm. 303)

Novel ini cukup bersih dari typo. Aku malah tidak mengingatnya jika ada typo karena penuturan kalimat yang disampaikan oleh penulis sangat mudah dicerna. Bahasanya tidak ngejelimet walau pun terasa masih agak kaku karena adanya para tokoh buleleng alias bule di sini. Tak lupa ada banyak catatan kaki sehingga sangat membantu pembaca dalam memahami beberapa kata yang tidak lazim serta berisi penjelasan tentang suatu benda atau suatu tempat. Yang sebelumnya tidak tahu, jadi makin tahu.

Menurut saya kekurangannya cuma satu, yaitu rasa kesepian yang dialami Jemima ketika Ash baru-baru meninggal. Di bagian itu saya kurang bisa ikut merasakan kesepian yang Jemima rasakan karena deskripsi interaksi antara Jemima dan keluarganya serta bagaimana keadaan orangtuanya saat itu lebih banyak disampaikan secara ‘telling’, bukan ‘showing’. Bagi saya itu saja kurangnya. Selebihnya aman-aman saja.

Saya tidak tahu harus mengkategorikan novel ini pada genre apa. Tetapi novel ini cocok sebagai salah satu pilihan bagi yang sedang bosan dengan bacaan bertema roman. Atau mungkin ada yang sedang mengalami keadaan seperti Jemima dan Kenneth yang mempertanyakan keberadaan Tuhan? Semoga novel ini bisa menginspirasimu. 🙂

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

One thought on “[Review] Tuhan untuk Jemima by Indah Hanaco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s