[Review] The Man Next Door by Angelique Puspadewi

IMG_20151013_155216

Judul: The Man Next Door
Penulis: Angelique Puspadewi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Irna Pemanasari
Desain & ilustrasi cover: HEVNgrafix.com
Cetakan: Pertama
Terbitan: Jakarta, 2013
Tebal: 304 Halaman
ISBN: 978-979-22-9255-8
Genre: Romance

BLURB

Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata tetangga baru sebelah rumah adalah mantan pacar yang sudah belasan tahun kamu tunggu… dan ternyata dia sudah menikah dan memiliki satu anak?

Itulah yang dialami Kanaya. Kehadiran Revano mengguncang dunianya yang sudah tenteram sebagai dokter di klinik kecantikan. Namun kenangan mencuatkan kembali memori yang salah.

Dulu pernah ada janji yang terikrar antara Kanaya dan Revano. Janji yang tak pernah disangka Kanaya akan benar-benar ditepati Revano, yang kini hadir dengan tampilan yang sungguh lebih menggoda.

Akankah Kanaya menerima ajakan Revano untuk kembali ke pelukannya dengan risiko dicap sebagai perebut suami orang? Ataukah ia harus melepas harapan yang belasan tahun ia simpan dan melupakan impian masa remaja mereka?

REVIEW

Kanaya telah memendam cintanya selama lebih dari 10 tahun sejak SMA untuk sang kekasih yang telah berjanji akan menikahinya suatu hari nanti. Lelaki itu bernama Revano Aditya. Namun setelah Revano pergi ke luar negeri untuk kuliah bisnis, Revano justru menghilang tanpa kabar, meninggalkan Kanaya sendirian bersama janji-janjinya. Meski sudah belasan tahun berlalu, Kanaya masih belum bisa sepenuhnya menghapus bayang Revano di hatinya. Sekali pun ada Dokter Olan yang menyukai dan masih berusaha mendapatkan cinta Kanaya, tapi Kanaya tetap tidak merespon.

Di mana logikanya sebagai seorang berpendidikan tinggi? Di mana kewarasannya sehingga tetap menunggu hal yang mungkin tidak ditepati? Bertahun-tahun ia sia-siakan sisa usianya untuk sebentuk rasa tak bernama, yang terus memaksa hinggap di hatinya bagai benalu. Tak mau pindah, meski sadar semua tak bermanfaat, bahkan merugikannya. Hanya untuk sebuah nama: Re-va-no… — (hlm. 60)

Di usianya yang kini menginjak 29 tahun, Kanaya telah menjadi dokter kecantikan di sebuah klinik dari perusahaan RZ. Tanpa disangka, Revano datang kembali dan menempati rumah tepat di sebelah rumah Kanaya. Tetapi Revano tak sendiri, ia memboyong seorang wanita dan seorang gadis kecil. Siapa pun pasti akan menyangka pasti itu anak dan istrinya. Betapa remuk hati Kanaya mendapatkan fakta itu. Terlebih lagi ternyata Revano adalah salah satu pemegang saham PT Medika Pratama di perusahaan RZ tempat Kanaya bekerja. Revano selaku direktur operasional mengadakan inspeksi mendadak ke tiap klinik dan bersikap sangat tegas hingga tak segan memecat pegawai yang tidak kompeten menurutnya.

Garis-garis di wajah pria itu terpahat lebih sempurna, hidungnya makin menjulang tinggi, bibirnya melekuk eksotis, postur tubuhnya makin menjulang atletis, ditambah dada bidang dan perut rata, serta senyum hangatnya yang jauh lebih menggoda. — (hlm. 42)

Sanggupkah Kanaya menata hatinya ketika harus bertemu Revano hampir setiap hari, bahkan bertetanggaan dengan Revano serta keluarga kecilnya? Benarkah Revano sudah melupakan semua janji dan cintanya pada Kanaya dulu?

*****

Jangan pernah berpikir bahwa pagi yang akan kamu jalani itu buruk. Sebab sugesti itu bisa jadi membuat semesta mendukung, mendukungmu untuk jatuh. — (hlm. 257)

Kalau dari ide ceritanya menurutku memang menarik. Jika saya yang berada di posisi Kanaya, mungkin saya nggak bisa tidur nyenyak setiap malam ketika mengetahui sosok seperti Revano kembali berkeliaran di sekitar rumah dan tempat kerja. Orang yang masih sangat membekas di hati, tetapi justru sudah punya anak dan istri. Apa yang bisa Kanaya harapkan lagi?

“Seburuk-buruknya kejujuran, lebih baik daripada kebohongan.” — Olan (hlm. 255)

Saya agak menyayangkan karena saya berharap cerita di sini bisa lebih fokus pada Kanaya dan Revano, bukan pada Kanaya saja. Memakai sudut pandang ketiga, tetapi gaya penuturannya seolah seperti dari sudut pandang Kanaya saja. Semuanya berputar tentang Kanaya. Tidak ada pandangan lain dari Tiwi atau Farah atau Bianca atau Revano. Hal ini membuat saya cukup frustasi karena saya merasa benar-benar buta tentang Revano. Karakternya agak kabur dan saya tidak bisa membaca lebih jauh apa yang ada di benak Revano. Tapi di sisi lain justru itu menimbulkan kesan misterius pada Revano.

Karena profesi Kanaya sebagai seorang dokter kecantikan–sama seperti profesi si penulis novel ini–sehingga ada banyak sekali istilah-istilah asing bagi orang awam. Kebanyakan memang diberi foot note, tapi sayangnya todak semua istilah ada foot note-nya sehingga ada beberapa yang masih tidak saya pahami artinya apa.

Oh ya, Revano punya panggilan khusus kepada Kanaya, yakni Putri Ubur-Ubur. Nah, apa alasannya Revano memanggilnya begitu? Seingatku tidak dijelaskan sebabnya mengapa. Atau mungkin saya yang lupa itu ada di bagian mana hehehe. ^^’

Sejak awal membaca novel ini, saya tidak punya ekspektasi di akhir ceritanya akan dibuat seperti apa. Saya pasrah saja apa yang akan saya temukan, karena saya benar-benar tidak punya ide bagaimana nasib Kanaya dan Revano selanjutnya dalam keadaan seperti itu. Tetapi ternyata ada sebuah twist yang sempat saya duga sebelumnya. Hmm, it was nice. Tapi saya masih kurang bisa memahami apakah hal yang dilakukan Revano itu memang legal dan diperbolehkan di sini? 😕

“Kadang hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Tapi aku percaya Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan,” — Kanaya (hlm. 277)

Kesimpulannya, saya cukup menikmati cerita Dokter Kanaya. Meski flashback jaman mereka SMA itu terasa cheesy banget–ya dimaklumi lah, namanya juga tingkah anak SMA haha–tapi tertolong sekali dengan adanya satu twist itu. Setidaknya itu jadi titik terang bagi hidup Kanaya. 😉

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

6 thoughts on “[Review] The Man Next Door by Angelique Puspadewi

  1. awalnya ceritanya memang sepertinya menantang utk dibaca ya…

    Like

  2. jadi ikut menduga-duga, dan teringat pada satu serial Thailand kalo nggak salah ya… dulu di TPI hehe…

    Like

  3. […] kata dan kalimatnya terasa lebih mengalir. Sebelumnya saya sudah pernah baca novelnya yang berjudul The Man Next Door. Tetapi bagi saya, gaya penuturan si penulis di novel In Between ini jauh lebih lincah. Tidak […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s