[Review] Love on Probation by Christina Juzwar

P_20160512_031646_2

Judul: Love on Probation
Penulis: Christina Juzwar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Ayu Yudha
Proofreader: Yuliyono
Desain sampul: Marcel A.W.
Tebal: 328 Halaman
Cetakan: Pertama
Terbitan: Jakarta, 2016
ISBN: 978-602-03-2721-1
Genre: Romance

BLURB

Janji kencan yang tidak ditepati membuat Alita Mendrofa sakit hati dan ingin melupakan keberadaan Arestyo Miller dalam hidupnya. Namun itu tak mungkin. Mereka bekerja di kantor yang sama dan pria itu pun gigih meminta maaf, bahkan nekat mengajaknya kencan ulang.

Yang tidak Lita pahami, persetujuannya atas usul Ares tentang memberi kesempatan pada hubungan mereka. Percobaan yang awalnya terdengar konyol. A thirty days probation.

Pelan-pelan, Lita membiarkan dirinya mengenal Ares. Ia masuk lebih dalam ke kehidupan pria itu. Ke cerita kelam tentang keluarga Ares dan akhirnya, alasan tentang janji kencan pertama yang tidak ditepati pria itu.

Yang Ares tidak pahami, alasan Lita menarik diri setiap pria itu bertanya tentang masa lalunya. Tentang bekas luka di punggungnya. Lalu bagaimana status hubungan mereka di hari ke-30?

***

Lanjutan dari cerpen Stuck With You dalam kumpulan cerpen Autumn Once More.

REVIEW

Cover

Suka dengan desain sampulnya. Simple but sweet. Tangan cowok dan cewek saling menggenggam itu cocok sekali mewakili isi cerita bahwa Ares dan Lita juga sering gandengan. Tapi saya dibuat rada ngeri dengan manicure kukunya si cewek. First thing that came to my mind was,is she a vampire? Is it a love story between human boy and vampire girl?” Or maybe it’s only because of me yang lebih suka lihat manicure dengan desain french nails.

Tema

Awalnya saya nggak ngeh tentang probation itu tujuannya ke mana. Ternyata ini tentang usulan Ares yang meminta persetujuan Lita supaya mau bersamanya–menjadi pacarnya selama 30 hari saja sebagai masa percobaan menjadi pasangan. Jika setelah 30 hari Lita tetap tidak merasa bahwa Ares adalah the one untuknya, Lita boleh pergi dan Ares janji tak akan menganggunya lagi. Tetapi jika setelah hari ke-30 Lita merasa nyaman dan sudah bisa mencintai Ares, hubungan mereka bisa lanjut ke tahap yang lebih serius.

Ini tema yang unik meski bukan lagi hal yang baru dalam dunia fiksi. Cara mengemas ceritanya pun beda sehingga tidak terkesan pasaran. Kebanyakan di cerita yang sudah ada adalah memaksa diri atau orang lain untuk pura-pura pacaran selama beberapa waktu kemudian diakhiri dengan jatuh cinta. Kalau di sini justru beda. Masa percobaan itu dijalani memang karena kerelaan sendiri dan jatuh cintanya sudah dari awal.

Plot

Karena ini adalah sebuah lanjutan dari cerpen Stuck With You di buku kumcer Autumn Once More, saya harus kembali membuka buku itu agar lebih ingat bagaimana cerita awal pertemuan antara Ares dan Lita, serta supaya lebih nyambung saat lanjut baca Love on Probation ini. Ya, saya memang sudah agak lupa bagaimana pertemuan awal mereka, karena saya baca cerpen itu sudah lumayan lama juga. Yang saya ingat cuma insiden jedak-jeduk di lift kantor yang sering mati.

Bagi yang nggak baca cerpennya, mungkin akan kebingungan. Here, I’ll spoil you a little bit. Lita adalah pegawai baru di kantor Prisma. Hari pertamanya masuk kerja sudah dapat insiden terjebak di lift kantor yang sering mati. Di sana ia kenal dengan Haris dan Ares yang berada satu lift dengannya. Haris sangat terbuka dan ramah, sedangkan Ares justru sangat kaku, dingin, dan jutek. Haris mencoba mendekati Lita tapi Ares tiba-tiba malah sok care dan berkata supaya Lita hati-hati terhadap Haris. Lama-lama justru Lita dan Ares yang makin dekat dengan seringnya mereka makan bersama. Suatu kali, Ares justru mengajak Lita untuk makan malam. Their first date.

Nah, itulah yang mengawali cerita di novel ini. Ares yang mengajak dating malah membuat Lita menunggu sampai 3 jam dari waktu yang dijanjikan tanpa memberi kabar sedikit pun. Saat akhirnya mereka bisa bicara di telepon, Lita menanyakan alasan kenapa Ares tak datang, tetapi Ares malah enggan membahasnya dan justru membentak Lita dengan kasar. Lita marah besar dan membenci Ares. Lita tak mau memaafkan lelaki itu meski Ares tetap memohon maaf dan memaksanya dating lagi.

“Apa yang harus kulakukan supaya aku jadi orang yang tepat buat kamu?”

Aku menghela napas. “Kamu nggak harus melakukan apa-apa, Res. Kita… cuma nggak tepat. Hatiku nggak klik sama kamu.”

“Aku akan melakukan apa saja supaya menjadi tepat. Juga klik.”

(hlm. 88)

Tadinya saya kira kalau cuplikan cerita yang ada di cerpen akan kembali disisipkan di awal novel, tapi ternyata tidak. Saya hanya khawatir apabila ada pembaca yang tidak membaca cerpennya duluan, maka ia akan bingung tentang siapa Haris. Beberapa kali nama Haris di sini disebutkan, tetapi tidak dijelaskan dia itu siapa. Selebihnya tidak ada masalah. Novel ini mulus menggunakan plot maju, tanpa ada flashback sedikit pun meski sudah disodori dengan kemisteriusan masa lalu Lita. Couldn’t get any clue of it. Tapi tenang saja, semua akan terungkap di akhir buku.

“Gegabah dari mana sih? Lo bisa bilang gegabah kalo lo mau aja diajak kencan orang yang nggak lo kenal sama sekali! Kayak sama orang yang cuma lo kenal di Facebook. Ini? You already knew him him, Lita. Semua orang memulai dari kata ‘asing’. Nggak kenal. That’s why ada yang namanya penjajakan.” — Adriana (hlm. 71)

 Tokoh dan Perwatakan

Ares awalnya dikenal sebagai lelaki dingin yang sangat jutek. Suka bicara kasar dan tukang paksa. I didn’t expected he could do any romance thing. Tapi kalau soal keras kepala ya Ares juaranya. Terlihat jelas dengan kegigihannya yang tidak mau menerima penolakan, nggak lelah mengejar Lita sampai Lita berkata “ya” atas ajakan kencannya yang ke-2. Ares juga pencemburu berat, tidak mudah menerima penjelasan. Saya pun mengira kalau Ares akan jadi sosok lelaki misterius dengan kejutekannya itu. Ternyata saya salah besar. Justru Ares yang sikapnya lebih blakblakan–perkataan mau pun sikap–daripada Lita. Sedangkan Lita itu nggak kalah ‘batunya’ dengan Ares. Ya, mereka memang sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah. Sikap mereka berdua sampai bikin saya gigit jari karena ego mereka sama-sama besar. Terlebih Lita yang lebih banyak bersikap denial terhadap kata hatinya sendiri, pesimis berlebihan, kebanyakan rasa takut dengan segala kemungkinan terburuk padahal belum dicoba, dan rada plin-plan. Misalnya saja untuk bicara jujur soal masa lalu dan bekas luka di punggungnya, dia masih suka mengurungkan niatnya dan beralih ke topik lain.

“He’s not the one, Adri. Gue nggak sreg. Gue nggak bisa menemukan momen yang bikin hati gue klik.” — Lita (hlm. 68)

Tapi untungnya ada Adriani (sekretaris Ares sekaligus sahabat baiknya Lita), Leo (kakak kandung Lita), dan Jasmine (pacar Leo) yang menjadi penetral di antara konflik Ares dan Lita. Duh, nggak kebayang deh kalau nggak ada orang-orang ini. Pasti makin panas dan berapi-api melebihi film Avatar.

“Kalau bilang lo berdua beda, memang lo pikir semua pasangan itu harus sempurna? Memangnya tiap pasangan itu orang yang punya kepribadian sama? Bukannya tiap pasangan itu harus melengkapi ya?” — Adriana (hlm. 70)

“Tipe itu bukan patokan. Yang ada lo bedua suka sama suka. Titik. Ikuti apa kata hati lo, jangan apa kata tipe lo. Udah nggak musim pake tipe-tipean. Jangan denial.” — Adriana (hlm. 70)

Jujur saja, saya lebih suka dengan tokoh Adri ketimbang si Lita. Bersama Adri, suasana jadi lebih hidup dengan caranya bercakap. Khas chick-lit metropop tapi selalu penuh petuah. Dan saya langsung membayangkan ekspresi Adri yang dibilang Lita kalau dia mirip kucing di film Alice in Wonderland gara-gara senyum merekahnya, ear to ear. Antara lucu, seram, atau malah aneh? 😀

Gaya Bahasa

Lincah dan tidak terlalu eksplisit di bagian tertentu. Aman kok buat anak SMA kalau ada yang nekat baca. Tidak banyak memakai majas yang berbelit-belit. Menggunakan POV 1 alias dituturkan dari sudut pandang Lita sebagai orang pertama. Meski begitu, penulis tidak serta merta langsung menelanjangi isi pikiran dan hati Lita kepada pembaca, sehingga saya pun masih sering bertanya-tanya karena penasaran, sebenarnya maunya Lita ini apa sih ke Ares? Apa sih masa lalu Lita yang ia sembunyikan itu?

Setting

Deskripsi soal tempat yang ada di cerita memang tidak begitu detail disebutkan, misalnya di tempat itu ada apa saja dan dekorasinya seperti apa. Tapi tidak apa-apa, karena si penulis lebih menggiring pembacanya untuk konsentrasi pada kisah dan insteraksi tokohnya daripada sibuk membayangkan bagaimana isi ruangannya.

Konflik

Perseteruan antara Ares dan Lita berawal dari batalnya kencan pertama mereka karena ketidakhadiran Ares yang tanpa kabar. Selanjutnya dihiasi oleh ke-keras kepala-an mereka berdua dengan keinginan masing-masing. Lalu ditambah pula dengan masalah di keluarga Ares dan masa lalu yang selalu coba disembunyikan Lita akhirnya terbongkar.

“Aku bisa belajar dari masa lalu kamu. Karena aku ingin bisa menjadi lelaki yang terbaik buat kamu. Aku hanya ingin hubungan kita berjalan baik. That’s all.” — Ares (hlm. 268)

Untunglah konflik di sini tidak hanya satu, sehingga kita bisa melihat sisi kekurangan dari kedua belah pihak. Mau setampan dan sepintar apa pun sesrorang, tak ada yang sempurna pada diri seseorang atau latar belakangnya. Mau serapi apa pun ia menutupi dan menyembunyikan masa lalunya, pasti suatu saat akan ketahuan juga. Tetapi saya masih merasa ada yang gantung. Untuk urusan masa lalu Lita bisa disebut selesai setelah kejadian yang terakhir ‘itu’, namun bagaimana dengan masalah di keluarga Ares? Saya masih dibuat penasaran dengan konklusinya.

Chemistry

Jika Lita melihat Ares dari kejauhan, Lita akan menganggap bahwa Ares adalah sebuah magnet sehingga banyak wanita yang mau saja lendot-lendot manjah di sisi Ares. Tetapi lain untuk Ares. Semenarik apa pun wanita yang mepetin dia, magnetnya Ares ya cuma Lita. Kalau diibaratkan obat, Lita itu addictive sekali, apalagi bibirnya yang membuat Ares makin menggila dan kehilangan akal. He’s too sweet for a cool dude like him. Can I have one, Mbak Tina? XD

Sejak BAB pertama saya selalu menduga-duga apa yang menyebabkan Ares begitu menggilai Lita? Padahal Lita tidak semenonjol yang lainnya di kantor Prisma. Awalnya mereka ibarat magnet satu kutub yang selalu berjauhan. Ketika Ares mendekati Lita, maka Lita yang akan kabur karena kekesalannya pada Ares tak kunjung hilang. Namun si penulis dengan mulus menipiskan kerenggangan itu secara perlahan dan dengan adanya scene ajaib si nasi campur yang mampu menyatukan keduanya.

Kesan

Saya kurang sreg dengan karakter Lita yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, sangat spekulatif, pesimistis, dan plin-plan. Tapi ini bukan nilai minus kok, karena menurut saya ini merupakan suatu kebebasan penulis untuk membuat tokohnya seperti apa. Kedongkolan saya pada Lita tertutupi oleh karakter Ares yang tak pantang menyerah demi mengejar cintanya. Ya, saya suka sekali dengan sikapnya, kecuali cemburu berlebihannya itu. Ares termasuk nekat sampai-sampai berani mengusulkan ide konyol masa percobaan 30 hari. Kalau saya jadi Lita, saya nggak akan pikir dua kali kok menerima tawaran itu. 😛

Kritik & Saran

Novel ini menggunakan tanda pagar (#) sebagai pemisah scene.  Namun saya temukan ada yang tidak menggunakan tanda (#) ini, seperti di halaman 299 di antara paragraf 4 dan 5. Seharusnya di situ dipisah dengan (#) karena scene-nya sudah menunjukkan tempat yang berbeda. Saya sempat bingung karena ternyata Ares dan Lita saat itu sudah bukan lagi sedang di kamar.

Masih ditemukan beberapa typo, misalnya “… dengan sama …” padahal bisa pakai ‘dengan’ saja, atau ‘sama’ saja. Ada juga harusnya tertulis ‘senyum’ malah jadinya ‘senyu’. Saya lupa mencatat itu ada di halaman berapa saja, karena menurut saya tidak terlalu mengganggu. Semoga di  cetakan berikutnya bisa diperbaiki lagi typo-nya ini. 🙂

Favorite Quotes

“Bagiku nggak ada yang salah tiap mencintai seseorang, yang salah cuma perjalanan cinta itu aja. Kalau kamu yakin aku salah, toh nggak akan melenceng terlalu jauh. Mungkin aku nggak akan bisa berubah terlalu banyak, tapi aku akan menyesuaikan. Dan pastinya aku akan tetap belajar untuk mencintai kamu lebih dalam lagi. Itu harapan terbesarku. Dan aku harap kamu juga mau melakukannya.” — Ares (hlm. 129)

Bagaimana bisa mencintai seseorang dalam sekejap? Jujur, buatku agak meragukan. Pasangan yang sudah saling mengenal sangat lama saja nyatanya masih bisa menyimpan rahasia terburuk mereka, gimana yang baru kenal? — (hlm. 135)

“Aku harus belajar bahwa setiap orang memang punya rahasia. Dan aku harus  mulai menerima mungkin saja orang yang aku cintai merahasiakan sesuatu karena punya alasan tertentu. Apa pun masa lalu yang kamu punya, Lita, seburuk apa pun, jangan menyimpannya sendiri. Aku akan ikut membopong masa lalu itu supaya beban kamu berkurang. Kalau perlu kita buang sama-sama supaya nggak mengganggu lagi.” — Ares (hlm. 327)

Nah! Kutipan yang terakhir itu sukses bikin saya meleleh maksimal. Ares, memang benar bahwa setiap orang punya rahasia. Bahkan saya pun punya rahasia yang tak sudi saya bagi ke orang-orang yang tidak dekat. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Dan saya pun bakal mikir dulu apakah saya akan katakan jujur kepada pasangan saya kelak tentang rahasia itu?

Tapi setelah baca novel ini saya jadi makin menyadari bahwa tidak seharusnya saya simpan rahasia itu terus-menerus, apalagi dari pasangan sendiri. Memang kasus saya tidak separah punya Lita dan berbeda jauh dengan kasusnya Lita, tetapi tetap saja setiap manusia pasti punya rahasia dan aib tersendiri. Mungkin benar juga kalau rahasia dan aib itulah yang dapat membuktikan pasangan kita memang mencintai kita dengan tulus atau tidak setelah dia mengetahui semuanya. 🙂

Overall Rating

★★★★☆

Advertisements

One thought on “[Review] Love on Probation by Christina Juzwar

  1. […] Kiss termasuk di lini Amore. Sebelumnya terakhir kali saya baca novel Mbak Tina adalah Love on Probation yang termasuk di lini Metropop. Memang ada perbedaan mencolok dari 2 lini ini. Yang saya rasakan […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s