[Review] The Lady in Red by Arleen A

P_20160427_145046_1

Judul: The Lady in Red
Penulis: Arleen A
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor: Dini Novita Sari
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 360 Halaman
ISBN: 978-602-03-2712-9
Genre: Romance

BLURB

Betty…
Sebenarnya tidak ingin bersekolah di private school yang mahal itu.
Bersekolah di sana hanya karena mendapatkan beasiswa.
tidak tahu bahwa itu akan mengubah hidupnya.

Robert…
Sebenarnya tidak suka bersekolah di private school yang mahal itu.
Bersekolah di sana hanya karena disuruh orang tuanya.
tahu bahwa itu memang jalannya ketika ia melihat Betty.

Rhonda…
Tahu ia gemuk.
Tidak tahu bahwa ia menyukai Greg.
Tidak tahu bahwa Greg menyukainya juga.

Greg…
Tahu ia hanya seorang pekerja di peternakan milik keluarga Rhonda.
Tidak tahu apakah ia berhak menganggap tempat itu rumah.
tidak tahu apakah ia berhak menyukai Rhonda.

Tapi sejauh apa pun dirimu pergi
Sejauh apa pun perasaanmu menjauh
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembali

REVIEW

Cover

Desain sampulnya memang sangat sederhana, namun justru di situlah letak elegannya. Siluet wanita berwarna merah yang kontras dengan latar hitam sangat cocok dengan judulnya, The Lady in Red. Menimbulan kesan misterius walau cerita di dalamnya tidak semisterius yang saya bayangkan saat pertama kali melihat novel ini.

Sinopsis

1920-1955

Betty Liu ditawari bersekolah di Rewood High School di Fort Bragg karena kecerdasan dan nilai-nilainya yang sangat baik. Dia terlahir dari keluarga imigran Tionghoa sederhana dan tak akan mampu membayar sekolah swasta itu jika tanpa beasiswa. Di sekolah itu ia bertemu Robert Wotton, anak dari John Wotton yang merupakan pemilik Wotton Dairy Farm di Fort Bragg–sebuah peternakan sapi yang memproduksi bahan olahan susu seperti susu segar dan keju.

Robert telah menyukai Betty sejak pandangan pertama. Rambut Betty yang hitam legam–berbeda dengan teman-teman lainnya yang rata-rata berambut pirang dan cokelat–makin membuat Robert terpesona. Ia sangat ingin menyentuh helaian rambut halus dan wangi itu. Namun selama beberapa bulan sejak masuk sekolah ia tak pernah berani melakukannya. Bahkan hanya untuk menegur Betty pun ia ragu meski di kelas itu Robert duduk tepat di belakang Betty.

Akhirnya pada suatu hari Robert memberanikan diri untuk menyapa dan mengobrol dengan Betty di perpustakaan. Bahkan ia spontan mengajak Betty main ke peternakannya. Robert menunjukkan anak-anak sapi di kandang dan membimbing Betty menyusui anak sapi itu dengan botol khusus. Ternyata Betty sangat menikmati momennya bersama anak-anak sapi itu dan tidak keberatan saat Robert mengajak Betty kembali mengunjungi peternakan Wotton Farm pada hari Sabtu. Robert pun tidak segan menjemput Betty di depan pintu apartemen Betty. Berkat sebuah saran sederhana dari Burk Smith–seorang pekerja di Wotton Farm–Robert sangat diuntungkan oleh hal itu karena telah membuat Huan dan Xing–orangtua Betty–sangat percaya pada Robert selama Betty pergi bersama Robert. Maka sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat dan makin dekat. Bahkan dengan adanya Betty, Robert sangat terbantu dalam memperbaiki nilai pelajarannya di sekolah karena ia sering dipinjamkan catatan pelajaran oleh Betty.

***

Di sebelah Wotton Farm ada sebuah peternakan lagi bernama Stephens Farm milik keluarga Victor Stephens. Mereka sama-sama memproduksi susu dan sangat bersaing dalam bisnis sehingga tak membuat mereka saling akrab. Anak tunggal di keluarga Stephens, yakni Jerry Stephens, tak sengaja bertemu seorang wanita yang menjadi cinta pada pandangan pertamanya saat ia ingin makan di sebuah restoran di San Fransisco. Wanda yang hanya bekerja sebagai seorang pelayan di restoran itu telah mencuri hati Jerry. Lalu Jerry pun mulai menyusun rencana untuk mendapatkan hati Wanda. Butuh waktu berminggu-minggu untuk menjalankan rencananya itu hingga ia bisa membuat Wanda merasa benar-benar menginginkannya juga.

Suatu hari, kurang dari 24 jam, banyak hal terjadi dalam hidup Wanda yang tak pernah ia duga. Lelaki asing yang belakangan ini selalu mengisi pikiran Wanda tiba-tiba muncul di hadapannya dan menawarkan diri untuk mengantar Wanda pulang ke apartemennya yang sangat sederhana. Semuanya tidak hanya sampai di situ. Pria tinggi besar bernama Jerry itu kemudian membawa Wanda ke kehidupan baru yang tak mampu Wanda tolak.

***

2003-2012

Rhonda Roth punya teman bermain yang telah ia kenal sejak lahir. Orang itu selalu setia menemani Rhonda ke mana pun dan di mana pun. Gregory Drew, atau biasa dipanggil Greg, hanya lebih tua 2 tahun dari Rhonda. Greg si pemilik mata biru itu merasa dirinya hanyalah salah satu pelayan bagi keluarga Wotton–walau memang sedari kecil ia telah bekerja di peternakan tersebut karena sudah turun menurun sejak kakek buyutnya dulu, Burk Smith, selalu mengabdi pada keluarga Wotton. Oleh karena itu, Greg sangat melayani Rhonda sebagai majikan seperti membawakan barang-barang dan tasnya, membuatkan roti lapis isi selai kacang dan keju, serta telah terbiasa berjalan 3 langkah di belakang Rhonda.

Seumur hidupnya ia selalu berjalan di belakang Rhonda dan Henry, kecuali bila mereka sedang menjelajah. Saat menjelajah, ia selalu berjalan di depan mereka sebagai penunjuk jalan. Seorang teman tidak membawakan barang temannya seperti ini. Hanya pelayan yang melakukan hal ini. Seorang teman berjalan di sisi temannya. Hanya pelayan yang berjalan di belakang seperti ini. Jelas dia memang hanya pelayan. Dan pikiran itu membuatnya sesak napas seolah kedua hidungnya dijejali selai kacang dan keju. — (hlm. 118)

Jika Greg merasa dirinya sebagai pelayan, Rhonda justru menganggap Greg sebagai temannya, teman bermainnya selain Henry–kakak kandung Rhonda yang lebih tua dari Greg. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama menyusuri hutan redwood di Wotton Farm, serta melakukan berbagai jenis permainan yang ditentukan Henry sebagai leader.

Tak hanya Greg dan Henry yang menjadi orang penting di hidup Rhonda. Ia sangat menyayangi papanya, Kakek Thomas dan Nenek Lily, serta nenek buyutnya–biasa dipanggil Nana Betty–yang sudah berusia 88 tahun. Rhonda sudah tak memiliki ibu. Ibu kandungnya meninggal setelah melahirkan Rhonda.

Saat akan melanjutkan sekolah, Rhonda memilih Boston. Tempat yang sangat jauh dari Fort Bragg. Hal itu membuat Greg sedih namun Greg tak punya kuasa untuk menahan keinginan Rhonda karena Greg bukanlah siapa-siapa. Greg merasa bahwa ia akan kehilangan Rhonda jika Rhonda akhirnya bertemu pria Boston, memulai hidup di sana, dan tak kembali lagi ke Fort Bragg.

“Kau tidak akan bisa meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kau sendiri tidak yakini,” — Peter (hlm. 178)

Di Boston, Rhonda bertemu Brandon Resensky. Lelaki dewasa dan tampan itu bekerja di JT Norman Investmen Bank dengan posisi yang cukup tinggi. Rhonda tak sengaja berkenalan dengan Brandon di acara pembukaan pameran lukisannya. Berawal dari karangan bunga, hal itu mengantarkan kedekatan Rhonda dan Brandon di pertemuan selanjutnya hingga memperkenalkan Brandon pada keluarga Rhonda di Fort Bragg. Sebelum ada Brandon, dahulu pun ada mantan kekasih Rhonda yang memaksa ikut ke Fort Bragg dan berkenalan dengan keluarganya, yaitu Peter yang langsung bersin-bersin sesampainya di peternakan.

Tokoh & Penokohan

  • Betty Liu — Seorang gadis keturunan Tionghoa yang mempunyai kecerdasan melebihi anak seusianya sejak kecil. Ia sudah bisa membaca saat usianya belum genap 2 tahun, pandai bercakap tentang hal yang biasanya tidak dipahami anak-anak, dan nilai-nilainya di sekolah sangatlah memuaskan sehingga ia dapat beasiswa bersekolah di sekolah swasta Redwood High School di Fort Bragg. Betty termasuk murid yang tak pernah ambil pusing meski ia diperlakukan berbeda oleh teman-temannya di sekolah itu lantaran ia mendapat beasiswa. Sebagai keturunan Tionghoa, sedari kecil Betty sudah banyak sekali mempunyai baju warna merah hingga warna itu jadi warna kesukaanya. Setelah tua dan punya cicit, Betty memang menjadi yang paling dituakan, yang paling bijaksana dan menjadi penengah dalam urusan apa pun termasuk membantu tetek bengek di Wotton Farm.
  • Robert Wotton — Lelaki ini sangat mencintai Wotton Farm. Ia suka sekali ikut membantu memerah susu sapi dan menjalankan mesin penampung untuk memanen gandum. Bahkan ia menganggap sapi-sapi di sana jauh lebih menarik daripada wanita–itu sebelum ia bertemu Betty. Robert lebih suka menghabiskan waktu dengan sapi-sapinya dan jarang bergaul dengan teman-teman seusianya. Hal itu membuat ia lebih penyendiri dan tidak punya teman dekat seperti geng lain.
  • Burk Smith — Pria sederhana yang setia mengabdi pada Wotton Farm. Ia sangat baik dan mengayomi Robert yang telah menganggapnya seperti kakak sendiri.
  • Jerry Stephens — Anak dari pemilik Stephens Farm ini sangat tidak suka dengan sapi kendati ayahnya punya peternakan sapi. Baginya, sapi adalah hewan yang menjijikan. Ia juga tak suka jika harus memerah susu dengan tangannya sendiri. Ia lebih cocok jika bekerja di belakang layar daripada terjun langsung di lapangan untuk mengurusi sapi-sapi itu. Karakternya agak absurd di sini. Bukan orang yang serius dan tekun. Ia seolah hanya mencari kesenangan tanpa benar-benar peduli pada Stephens Farm. Jerry mengurus Stephens Farm hanya karena kewajibannya pada sang ayah sebagai pemilik tempat itu.
  • Wanda — Wanita muda yang belum genap berusia 20 tahun itu memang bertubuh tinggi dan cantik. Ia sering digoda oleh pengunjung restoran yang suka menyolek tubuhnya ketika ia lewat. Namun ia tak pernah ambil pusing karena ia harus tetap bekerja demi menghidupi dirinya sendiri. Wanda pandai memasak, pekerja keras, dan setia. Namun sifat jeleknya adalah saat sesuatu yang telah ia sayangi direbut orang lain maka ia bisa menjadi penghasut agar mendapatkan haknya kembali.
  • Henry — Seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Ia juga  punya jiwa pemimpin sedari kecil karena merupakan anak tertua, sangat bertanggung jawab mengurus Wotton Farm hingga tak punya waktu untuk urusan wanita.
  • Rhonda — Sama seperti Nana Betty, Rhonda juga penyuka warna merah. Ia pandai melukis, ia suka sapi, dan ia cinta Wotton Farm. Tetapi ia tidak pandai mengenali perasaannya sendiri terhadap lawan jenis, terutama pada Greg. Ia tak mengerti apa arti dari dentuman jantungnya yang ia rasakan saat ada Greg. Cinta atau bukan? Selama ini ia selalu bersikap dominan kepada Greg yang selalu menuruti semua perintahnya. Rhonda merasa bahwa Greg hanya menganggapnya sebagai majikan, tidak lebih.
  • Greg — Ia tak pernah jauh-jauh dari urusan sapi di Wotton Farm. Ia sudah menganggap Wotton Farm sebagai rumahnya. Ia adalah pria setia yang tak banyak menuntut dan sangat pekerja keras. Loyalitasnya sangat tinggi terhadap Wotton Farm. Ia rela melakukan apa saja demi sesuatu yang baginya penting dan kepada orang-orang yang ia sayangi, termasuk pada Wotton Farm dan Rhonda. Tetapi sayangnya ia bukan sosok yang peka apalagi pemberani dalam menyatakan cintanya.
  • Brandon — Lelaki tampan yang menjadi suami idaman bagi setiap wanita. Pekerjaan mapan, wajah aduhai, sikap manisnya sangat memabukkan, rayuannya sungguh romantis, pandai meluluhkan hati wanita mana saja hingga jatuh di pelukannya. Contohnya seperti Rhonda.
  • Peter — Untungnya ia bukan jenis mantan yang bermusuhan pasca putus dari pacar secara tiba-tiba. Ia cukup dewasa menyikapi sesuatu dan rela melepaskan apa yang memang bukan miliknya dengan baik-baik.
  • Huan & Xing — Mereka masih sangat percaya pada tahayul dan kepercayaan soal keberuntungan. Seperti Xing yang masih menyimpan almanak kadaluarsa untuk menentukan langkah pertama suaminya setiap hari di pagi hari.

Setting

  • Waktu — Dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu pada tahun 1920-1955 (menceritakan tentang masa sekolah dan perkenalan dari Robert-Betty dan Jerry-Wanda), 2003-2012 (menceritakan tentang kehidupan masa kecil dan awal pertemanan Rhonda-Greg), dan 2019-2020 (masa di mana Rhonda dan Greg sudah benar-benar dewasa).
  • Tempat — (1) Wotton Dairy Farm dan Stephens Dairy Farm di Fort Bragg. Dulunya kedua lahan ini adalah ladang gandum yang luas totalnya 270 hektar. Namun berkembang menjadi peternakan sapi karena hasil menjual susu lebih untung banyak daripada hanya memanen gandum. (2) San Fransisco. Kota ini kerap jadi persinggahan, seperti Jerry yang rencana awalnya hanya ingin jalan-jalan di SF demi menghindari kesibukan di Stephens Farm sebelum akhirnya ia bertemu Wanda, atau seperti Rhonda sekeluarga dan Greg yang sering bolak-balik ke SF untuk mengantar atau menjemput Rhonda di bandara. Perjalanan dari Fort Bragg ke SF melalui perjalanan darat adalah 4 jam. (3) Los Angles. Tempat Greg melanjutkan sekolah sekaligus pelariannya saat hatinya sedang kalut karena Rhonda. (4) De Jong Dairy Farm. Sebuah peternakan sapi di Wildomar, LA, seluas 300 hektar dan menjadi rumah kedua bagi Greg setelah Wotton Farm. (5) Boston. Tempat Rhonda menuntut ilmu dalam bidang seni dan melukis. Ia tinggal di sana selama 6 tahun lamanya sebelum kembali ke Fort Bragg.

Tema Cerita

Sebelum memasuki bab baru, ada beberapa bab interlude yang disisipkan di novel ini. Berisi penggalan cerita tentang gadis berkerudung merah yang tinggal di rumah tua dengan neneknya di tengah hutan. Kemudian dari situ saya baru menyadari bahwa novel ini sepertinya merupakan sebuah retelling dari dongeng Gadis Bertudung Merah yang dikejar oleh srigala. Hal itu makin dikuatkan dengan kemiripan judul yang sama-sama mengandung unsur merah. Mungkin benar adanya bahwa novel ini terinspirasi dari dongeng tersebut.

Plot

Sebagian besar berplot maju, namun di beberapa bab berisikan kilas balik yang terlewat dari bab sebelumnya. Progres ceritanya memang sangat cepat dan tidak bertele-tele, mengingat cerita ini diceritakan dalam 3 bagian rentang waktu.

Konflik

Meski bertema romance, tapi konflik yang dihadirkan tidak melulu soal cinta antara Rhonda dan Greg. Hal ini juga melibatkan dendam masa lalu, kisah persahabatan, dan kecintaan para tokohnya pada Wotton Farm yang telah dijalankan dan dirawat oleh generasi keturunan keluarga Wotton demi menjaga warisan keluarga dari kakek buyut mereka ini.

“Terkadang risiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan,” — Nana Betty (hlm. 278)

Chemistry

Kedekatan antartokohnya dijelaskan dengan cukup baik. Mulai dari jamannya buyut mereka hingga ke masanya Rhonda dan Greg, keterikatan antartokohnya dibeberkan dengan kalimat yang lugas dan terkesan manis saat dibayangkan.

Gaya Bahasa

Berhubung novel ini berlatar di luar negeri, memang sangat wajar apabila pemakaian gaya bicara antartokoh serta narasinya terkesan kaku dan mirip novel terjemahan. Bila si pembaca tidak begitu mengenali kiprah sang penulis, mungkin akan ada banyak orang yang mengira beliau adalah penulis dari luar negeri dan menganggap ini merupakan novel terjemahan. 😀

Kesan dari Pembaca

Saat membaca bab bagian satu di rentang waktu 1920-1955, saya sempat bingung karena cerita mereka berakhir begitu saja tanpa konflik yang berarti. Lalu ketika masuk ke bagian dua di rentang waktu 2003-2012, saya baru paham benang merahnya dengan cerita di bagian satu tadi. Memasuki bab tiga di rentang waktu 2019-2020, saya jadi makin mengerti konflik utama yang saling berkesinambungan dengan yang sebelumnya. Menurut saya ide cerita yang seperti ini sangat menarik karena si pembaca tidak hanya menyimak kisah si cicit, melainkan juga telah mengintip cerita si buyut di masa mudanya.

Sayangnya, penyampaian cerita oleh si penulis di novel ini membuatku sedikit bosan karena sebagian besar berisikan narasi daripada dialog antartokoh. Hal itu membuat suasananya jadi tidak terlalu ‘hidup’. Saya seperti sedang membaca buku diari seseorang karena isinya lebih banyak penyampaian secara telling daripada showing. Padahal saya banyak menunggu apa saja yang bisa dibicarakan oleh antartokohnya saat mereka mengobrol meski itu hanya suatu obrolan yang tidak penting dibahas. Namun, ternyata novel ini memang mengambil atmosfir cerita yang agak ‘serius’ sehingga saya tidak bisa mendapatkan banyak celetukan lucu dari tokohnya. Salah satu dialog yang saya suka yaitu di halaman 238 antara Greg dan Bryan saat Greg meminjam laptop Bryan. 😄 Saya berharap dialog lucu yang seperti di halaman itu ada lebih banyak lagi.

Ketika mulai memasuki seperempat akhir buku, rasa antusias untuk menyelesaikan novel ini meningkat 50% karena saya baru mendapat titik menariknya di sana. Tapi di beberapa bagian ada yang mudah tertebak jalan ceritanya. Termasuk si misteri paling besar yang sepertinya memang dimaksudkan untuk menjadi twist-nya. Sayangnya karena saya sudah menduga hal itu, jadinya tidak ada surprise yang berarti. Kalau saja saya tidak terpikir sebelumnya, mungkin saya akan terbengong-bengong saat tiba di bagian twist itu. 🙂

Hikmah Cerita

Dari keseluruhan kisah mereka yang telah saya baca melalui novel ini, maka dapat saya simpulkan beberapa hal sebagai pelajarannya:

  1. Tata krama yang seharusnya tetap dijaga hingga sekarang. Sebagai seorang lelaki sejati haruslah menunjukkan sikap gentle untuk sekecil apa pun urusan itu. Misalnya saat pria menjemput teman wanitanya di rumahnya, sebaiknya izin dulu dengan orangtua atau wali si wanita itu supaya Anda dinilai sebagai pria yang sopan dan bertanggung jawab.
  2. Jangan mau langsung begitu saja menerima seseorang sebagai pasangan tanpa kita tahu bagaimana asal usulnya dan latar belakang keluarganya. Jangan sampai kita tertipu hanya dengan penampilan luarnya saja. Jangan hanya mengandalkan cinta atau rasa suka karena kita juga butuh logika.
  3. Katakanlah cintamu pada dirinya sebelum terlambat atau akhirnya kau kehilangan orang yang kau sayangi. Katakanlah meski pun dia sudah menjadi milik orang lain karena siapa pun tetap berhak mengungkapkan perasaannya.
  4. Tidak boleh minder hanya karena status sosial. Cinta adalah masalah hati, ia tidak pernah memandang kasta atau rupa seseorang saat hatinya sedang jatuh. Kalau cinta ya cinta saja.
  5. Harus bisa lebih peka terhadap orang yang kita cintai. Jangan biarkan diri sendiri terlihat bodoh karena sama sekali tidak bisa membaca situasi yang sebenarnya.
  6. Menghindari sesuatu atau seseorang dengan pergi jauh dan berharap dapat melupakannya itu bukanlah solusi terbaik. Apa yang kita anggap sebagai masalah sebaiknya tetap dihadapi.
  7. Pertahankanlah apa yang memang pantas untuk dipertahankan. Bertahanlah di sisi orang-orang yang memang kita sayang demi menjaga mereka agar tak lagi kehilangan.

Kritik & Saran

Bagi saya, kekurangannya hanya satu hal yaitu nuansa cerita yang kurang ‘hidup’ akibat minimnya interaksi antartokoh melalui dialog-dialog spontannya. Sebaiknya hal ini dapat lebih diimprovisasi lagi agar pembaca tidak mudah merasa bosan demi menghabiskan buku setebal 360 halaman ini. 😉

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s