[Review] Kabut di Bulan Madu by Zainul DK

Novel Kabut di Bulan Madu by Zainul DK

Judul: Kabut di Bulan Madu
Penulis: Zainul DK
Penerbut: Ellunar Publisher
Penyunting: Nisaul Lauziah Safitri
Penata Letak: Yuniar Retno Wulandari
Pendesain Sampul: Hanung Norenza Putra
Cetakan: Pertama
Terbitan: Agustus, 2016
Tebal: xi + 294 Halaman
ISBN: 978-602-0805-73-3
Genre: Thriller Romance

BLURB

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.

Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu: seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang – Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah: kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya!

REVIEW

Kafe Expose digemparkan oleh satu kasus yaitu peristiwa pembunuhan terhadap seorang preman yang sedang memegang senjata tajam. Setelah diusut, ternyata korban itu mati ditembak oleh salah seorang pengunjung kafe yang telah melarikan diri bersama pacarnya. Preman yang meninggal itu sebelumnya sempat mengganggu Linda, pacar si pelaku, sehingga membuat Roby–nama pelaku penembakan tersebut–jadi emosi dan akhirnya menembak tepat di dada si preman dengan pistol hingga korban mati di tempat.

Setelah melalui berbagai cara pelacakan lokasi pelaku, Iptu Ariel Stallone yang bertugas menangani kasus penangkapan Roby itu harus bekerja keras mengejar sang buronan yang sempat melarikan diri dari tempat persembunyiannya. Mereka sempat adu lari hingga menerobos keramaian di tempat umum. Roby yang bertubuh kurus itu sangat mengenal wilayah tersebut dan lihai melarikan diri. Namun, akhirnya Roby berhasil dilumpuhkan dengan tembakan dari Iptu Ariel.

Di sisi lain, diceritakan juga tentang sepasang sejoli yang masih berstatus pengantin baru. Pasutri tersebut adalah Helena Lizzana–wanita penggila Jepang yang sangat fasih bercakap dengan bahasa Jepang hingga bekerja sebagai news anchor berbahasa Jepang di Jeya TV–dan suaminya yang bernama Ihdina Shirota–seorang pria keturunan campuran Jepang – Timur Tengah dan sangat fasih berbahasa Jepang serta Arab–yang saat ini sibuk mengurusi produksi minuman KULT peninggalan leluhurnya.

Benang merah dari dua kisah tersebut adalah tragedi di kapal pesiar mewah KM Phoenix yang sama-sama mereka tumpangi. Roby Meminta Linda untuk berlibur sendiri dengan menaiki kapal pesiar demi menghilangkan kepenatan dan kesedihan Linda akibat dirinya yang baru kena tembak dan akan ditahan polisi untuk mengusut kasus pembunuhan preman di kafe. Sementara Helena dan Ihdina memang sengaja ingin menikmati masa-masa bulan madu yang romantis di kapal pesiar. Kapal ini mewah, tetapi tidaklah sebesar dan semegah Titanic karena ia hanya menampung total 300 orang yakni 220 penumpang dan 80 kru kapal.

Tetapi, tanpa diduga kapal mewah itu karam karena menabrak karang. Ajaibnya, semua penumpang, kecuali Linda, selamat dari peristiwa nahas itu berkat jaket pelampung dan life boat yang ada. Hingga kabar ini sampai di telinga Roby, ia sungguh tidak percaya bahwa kekasihnya itu telah tiada. Ia menjenguk mayat Linda dan menemukan suatu kejanggalan dari apa yang ia temukan di sana. Dari penalarannya, ia menyimpulkan sendiri bahwa Linda telah dibunuh. Karena hal ini, Roby tidak peduli lagi dengan kasus yang membelitnya. Ia lebih peduli dengan kebenaran atas kematian Linda. Ia sibuk memikirkan rencana bagaimana cara untuk mengungkapkan misteri itu bahkan ia ingin balas dendam terhadap pembunuhnya. Roby ingin kabur dari rutan tempatnya ditahan. Tak peduli jika penjagaannya super ketat, tak peduli jika ia ditangkap dan dihukum lebih berat, ia juga tak peduli jika nyawanya melayang. Roby akan tetap nekat demi membalas kematian Linda.

***

LET’S PEEL IT…

Cover

Nuansa gelap dengan latar back hug sepasang suami istri sangat mewakili genre thriller romance yang diusung oleh si penulis. Ditambah lagi dengan untaian kalung berliontin huruf H itu sangat iconic karena ia memang jadi akar masalah dari konflik yang ada.

Tokoh & Penokohan

• Iptu Ariel Stallone
Lelaki ini dikenal sangat cekatan. Disesuaikan dengan namanya yang diambil dari nama belakang aktor Hollywood terkenal, Sylvester Stallone si pemeran film Rambo. Ariel pandai bercakap bahasa Inggris pada taraf exellent. Suka mendengarkan lagu-lagu metal. Rajin berolahraga sehingga dia punya otot bisep yang lumayan walau tidak besar seperti binaragawan. Selalu memanggil orang lain dengan kata “you” daripada “anda”, “kau”, atau “kamu”.

Di halaman 241, Ariel sempat bilang, “Kalau saya panggil kamu ‘you‘, itu artinya kamu termasuk bajingan yang wajib ditangkap!” Saya simpulkan kalau panggilan “you” darinya adalah khusus untuk para bajingan. Padahal Ariel selalu memanggil “you” ke rekan kerja dan bawahannya (kecuali pada atasan) serta pada stranger sekali pun. Apa itu berarti mereka semua adalah bajingan di mata dia? Lho, berarti Iptu Ariel nggak sopan banget nih!

Menurut saya, hal ini jadinya aneh. Untuk seorang polisi yang sangat taat peraturan, penuh rasa hormat terhadap sesama rekan kerja, dan sangat disiplin atas segala hal, rasanya sangat tidak etis jika Ariel menggunakan sebutan “you” untuk lawan bicaranya, sekali pun itu untuk bawahan. Toh tidak disebutkan Ariel ini ada darah bule atau sempat tinggal lama di luar negeri, sehingga sangat tidak beralasan jika ia punya kebiasaan seperti itu.

• Roby
Pemilik tubuh kurus yang sudah terlanjur cinta mati pada kekasihnya, Linda. Ia bisa sangat lembut pada sang pujaan hatinya itu, sampai-sampai ia selalu memanggil Linda dengan sebutan “Adinda”.

“Hanya karena Adinda dicolek preman, tanpa disengaja saya membunuhnya. Tak mampu membayangkan andaikan ada yang berani menyentuh dan melukaimu. Eye for an eye! Nyawa dibalas nyawa!” — Roby (hlm. 34)

Tapi, di mata saya karakter Roby malah abu-abu. Kadang ia ramah dan bersikap sopan, kadang ia romantis, kadang ia puitis, kadang ia emosian, kadang ia sampai meledak-ledak, kadang ia licik, kadang ia bengis, kadang ia buta oleh nafsu, kadang ia mellow, kadang ia gampang nangis, kadang ia bisa tegar, kadang ia cuek, kadang juga ia seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri. Pokoknya campur aduk jadi satu. Pembentukan karakternya tidak konsisten. Saya tidak menemukan keunikan apa pun dari sosok Roby yang notabennya jadi tokoh sentral di novel ini.

• Linda
Nampak sebagai wanita baik-baik. Sangat sayang dan setia pada pasangannya, yakni Roby. Meski Roby telah jadi tersangka dan tertembak oleh polisi, Linda masih setia menemani di ruang perawatan tahanan. Tapi, Linda juga bisa berubah jadi licik jika telah mendapat instruksi dari Roby.

• Helena Lizzana
Wanita kaya dan cantik berpipi montok. Ia tidak pernah ketinggalan memakai kalung berliontin huruf H, bahkan ia punya banyak koleksi kalung huruf H yang bisa dipakai bergantian. Baginya, kalung itu merupakan bagian dari jati dirinya karena huruf H menunjukkan inisial namanya, Helena. Ia juga sangat tergila-gila pada semua yang berbau Jepang. Ia rajin mempelajari bahasa Jepang saat me time-nya. Ia juga suka sekali belajar berbagai bahasa, termasuk bahasa Korea.

“Pria boleh saja datang dan pergi untuk menyakiti hati wanita, tetapi bahasa Jepang takkan pernah menyakitiku dan hati semua wanita!” — Helena (hlm. 6)

Helena digambarkan sebagai sosok wanita yang pintar dan periang. Ia adalah primadona sejak masih sekolah karena keelokannya yang memesona. Terbukti dengan seringnya ia menerima kado dan surat cinta tanpa nama. Pekerjaannya sebagai news anchor berbahasa Jepang sangat dinikmati karena hal itu sesuai dengan hobby-nya. Tetapi, Helena juga bisa rapuh dan mudah bimbang jika sudah terpikir akan sesuatu. Kadang ia bisa sangat tertutup dan pandai menyembunyikan hal yang tak ingin dia bagi, bahkan kepada suaminya sendiri.

• Ihdina Shirota
Lelaki tampan dengan darah campuran Jepang dan Timur Tengah. Meneruskan bisnis produksi minuman KULT yang merupakan warisan dari leluhurnya. Melalui beberapa fakta ini, nama Ihdina Shirota sangat aneh bin lucu bagi saya, in a good way. Mungkin bisa disebut unik juga. “Ihdina” adalah lafal yang selalu kita ucapkan saat membaca surat Al-Fatihah ayat 6 yang berbunyi, “ihdinash shiraathal mustaqiim“. Sedangkan “Shirota” adalah nama penemu bakteri Shirota Strain yang dipakai pada minuman keluarga merk Y*KULT yang terkenal itu. Nggak heran kalau Ihdina di sini sedang sibuk menjalankan bisnis minuman turunan dari leluhurnya. Lah, kakek buyutnya ternyata memang si penemu bakterinya. Hahaha!

Ihdina yang pandai berbahasa Jepang dan Arab ini sangat sering memberi untaian kata pepatah atau peribahasa yang berisi motivasi untuk sang istri yang ditulis dan disampaikan dalam bahasa Arab atau Jepang. Itu sangat membantu kondisi psikis Helena setelah kejadian traumatis di kapal pesiar. Ihdina adalah sosok suami yang cukup romantis, suka gombal, suka bercanda, dan sangat perhatian pada istrinya.

Cuplikan peribahasa motivasi di novel KDBM

Quotes motivasi dari Ihdina untuk Helena dalam bahasa Arab. (Halaman 86)

Cuplikan peribahasa motivasi di novel KDBM

Pepatah motivasi dari Ihdina untuk Helena dalam bahasa Jepang. (Halaman 113)

• Wandi Rekzen
Pengacara Roby yang sangat suka pakai cincin akik. Ia dibayar oleh orangtua Linda untuk mengurusi kasus Roby lantaran Roby sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Tapi pengacara ini kadang bisa oon juga. Bisa-bisanya dia dimanfaatkan dan dibodohi oleh kliennya sendiri.

• Jan Damuda
Detektif senior yang terkenal asal USA. Metode briliannya sudah jadi bahan acuan bagi pihak kepolisian untuk mengungkap sebuah kasus misteri yang sulit dipecahkan. Sebagai seorang detektif yang cukup dikagumi dan disegani, mengapa pemilihan nama tokohnya harus demikian? Itu plesetan dari “janda muda” kan? Saya yang tadinya sudah membayangkan sosok gagah layaknya Vin Diesel yang macho dan berwibawa, eh tiba-tiba ekspektasi saya itu hancur lebur setelah membaca nama Jan Damuda. Drag me down!

Kalau ditilik lagi, kedatangan Jan ke Jeyakarta tidak punya pengaruh banyak terhadap perkembangan kasus yang ditangani oleh Iptu Ariel. Memang, Iptu Ariel mengagumi Jan, tetapi saya sangat menyayangkan mengapa kedatangan tokoh Jan yang brilian ini malah terkesan sia-sia saja dan tidak ada kontribusinya terhadap konflik utama?

• Rudy
Dia adalah adik Roby satu-satunya yang sekolah di luar negeri. Rudy hanya sempat muncul sebentar saat scene Roby masih dirawat akibat luka tembak. Tetapi pembawaan sikap Rudy terhadap Iptu Ariel saat itu tidaklah ramah dan malah melemparkan tatapan sinis seperti tidak suka. Tidak tahu sebabnya apa.

Setting

Bisa dikatakan (mungkin) hampir semua setting tempat serta nama-namanya adalah fiksi. Mulai dari Kota Jeyakarta (ini sebutan lama dari nama Jakarta bukan ya?), Perumahan Indah Sekali, Segiempat Emas, Rutan Matrix, Kafe Expose, Apartemen Austin, Kafe Bares Cream, dan lain-lain yang saya yakini bahwa mereka itu aslinya tidak ada, if I’m not mistaken. Correct me if I’m wrong.

Saya cukup mengapresiasi keberanian penulis untuk menggunakan nama tempat yang tak nyata atau bahkan tak lazim dalam novelnya ini karena kebanyakan penulis biasanya menggunakan setting tempat yang benar-benar ada. Tetapi, beberapa nama yang dipakai itu ada yang dirasa seperti sembarangan memilih dan malah menimbulkan kesan tidak real, seperti nama Perumahan Indah Sekali. Masih lebih enak didengar jika diberi nama Perumahan Indah Permai atau Pondok Indah kalau mau sekalian menyantumkan nama tempat yang real.

Plot & Sudut Pandang

Novel ini menggunakan plot maju dari awal hingga akhir, dan dijelaskan dengan sudut pandang orang ketiga yaitu si penulis sebagai pengamat.

Gaya Bahasa

Untuk narasinya, penulis menggunakan bahasa baku. Tetapi pada percakapan antar tokoh justru campur-campur. Dialognya sebagian besar adalah non-baku tetapi di beberapa bagian justru tiba-tiba jadi baku dan cenderung puitis lalu kembali jadi non-baku bahkan ber-haha-hihi lagi. Misalnya di halaman 148, dialog antara Ihdina dan Helena.

“Say, tak biasanya dirimu lemas begini. Apa robek sanubarimu? Doushite?”

“No problem. Lirik lagu yang kudengar tadi maknanya sangat dalam. Singgah di hatiku.”

“Setelah cukup lama, senang melihatmu di sini lagi. Nice,” ucap Ihdina memotivasi.

Jurnalis Jeya TV itu tersentuh oleh pujian suaminya. “Hihihi, thanks. Beberapa hari lagi aku balik jadi news anchor. Pak Teddy yang minta.”

Selain itu, tiap tokoh dibuat dengan cara bicara yang berbeda-beda. Ada yang seperti Iptu Ariel suka pakai kata “you”, ada pula atasan Iptu Ariel yang pakai sapaan “Abang” & “Adik”, ada pula Roby yang kadang puitis tapi juga suka menyumpah, ada pula teman tahanan Roby yang pakai “lo” & “gue”, ada pula Ihdina yang suka pakai panggilan “Say” & “concertina”.

Tema Cerita & Konflik

Jika menengok genre-nya, novel ini adalah perpaduan antara thriller (kenekatan Roby yang ingin membalas dendam atas kematian Linda) serta romance (kehidupan pernikahan Helena dan Ihdina).

Sebetulnya premis dan idenya ini menarik untuk dikembangkan. Sayangnya, menurut saya kedua genre ini malah kurang padu saat dijadikan satu di novel ini. Malahan nuansa romance-nya kurang terasa. Tidak ada hal yang membuat hati saya bergetar saat menyimak cerita cinta Roby-Linda dan Ihdina-Helena. Hal romantis yang ditunjukkan oleh kedua pasangan pun tidak ada yang teramat spesial karena mereka tidak dilibatkan dalam suatu konflik yang menyangkut urusan hati. Konflik di sini hanya berpusat pada rencana pembalasan dendam Roby kepada pembunuh Linda.

Chemistry

Romantisme dari kedua pasangan sudah lumayan ‘dapet’, tetapi untuk Ihdina dan Helena agaknya malah terasa lebay dengan adanya kata “mmuuaacchh” yang beberapa kali diselipkan di antara dialog mereka. I was like… “what is it, dude?! Are they kissing or just teasing or something?” 😕

Kesan Pembaca

• Keunggulan
(+) Sepanjang saya menyimak cerita di novel ini, saya terus berharap bahwa akan ada kejutan di luar ekspektasi yang bisa saya temukan. Karena sedari awal semuanya berjalan biasa saja dan cukup mudah ditebak. Untungnya si penulis menambahkan sebuah twist tepat menjelang ending buku yang memang tidak saya perkirakan sama sekali. Suddenly I said to myself, “nah, ini dia yang ditunggu-tunggu dari sebuah novel thriller. An unexpectable twist!

(+) Selain itu, karena ceritanya si tokoh pasutri ini sangat menguasai bahasa Jepang dan Arab, penulis banyak sekali menyisipkan kata dan kalimat dalam dua bahasa tersebut. Tak lupa disertai arti pada catatan kaki sehingga pembaca juga bisa belajar beberapa kata atau kalimat yang lumayan umum dalam dua bahasa tersebut.

• Kekurangan
(-) Saya menangkap kesan bahwa penulis mencoba menumpahkan beberapa joke atau humor di novel ini. Misalnya di halaman 9, saat sedang menggrebek tempat persembunyian Roby, Iptu Ariel tiba-tiba bilang, “Jangan ada dusta di antara kita!” kepada Linda yang sedang memberi penjelasan di mana keberadaan Roby. Ada lagi di halaman 12, ketika Linda terjatuh karena disenggol oleh Iptu Ariel yang memaksa masuk, Linda tahu-tahu nyeletuk, “Sakitnya tuh di sini.” Duh, yang kayak gini sangat tidak pas dengan situasi dan kondisi yang harusnya sedang tegang karena lagi digeledah. Kok ya malah sempet-sempetnya mau ngelucu? Kan garing banget jadinya. Ada pula di halaman 26, saat ada ibu hamil yang tiba-tiba nyamperin Iptu Ariel di RS dan memintanya untuk memberi nama pada calon bayinya. Lalu si jabang bayi dikasih nama JAMAL NARKO (Jangan Mau Lagi Narkoba). Mengapa ada kata “lagi” di situ? Berarti ngedoain si anak supaya kesampaian nyicipin narkoba dong?!

(-) Beberapa jokes lainnya yang saya ingat yaitu tentang TBC dan SUPERMAN. Sorry to say, tapi jokes itu lagi-lagi tidak terasa lucu karena saya sudah terlanjur terkonsen kepada cerita dan rencana Roby sehingga saya terbawa serius untuk menyimak kelanjutnya. Jadi, ketika bertemu dengan satu joke yang kurang nendang dan bahkan ada yang sudah sangat lumrah, rasanya jadi hambar sekali. Kalau meminjam istilah dari acara SUCA Ind*siar: punch line yang itu nggak ada gedumbrangnya, gggrrr-nya nggak berantakan. Mungkin yang agak lucu buat saya adalah yang paling terakhir, tentang SAITO. Karena saya belum pernah dengar joke itu sebelumnya. 😛

(-) Hal lain yang agak menganggu adalah penggalan lirik lagu dari penyanyi atau band luar yang sempat diselipkan di beberapa scene di novel ini. Misalnya lagu yang didengar oleh Pak Boim saat di mobil selagi menunggu Helena dan lagu yang dinikmati oleh Iptu Ariel saat patroli itu lebih baik dipotong saja karena tidak ada korelasinya dengan jalan cerita utama. Jadinya pembaca malah agak terdistraksi oleh lagu-lagu itu.

(-) Mengapa peribahasa “bukanlah yang berkilau itu emas” bisa muncul dari mulut dua orang yang berbeda? Peribahasa ini bukan jenis peribahasa pasaran yang sering diucapkan oleh banyak orang, lho. Awalnya kan peribahasa ini disampaikan oleh Ihdina sebelumnya. Nah, ketika hal yang sama tiba-tiba diucapkan juga oleh Iptu Ariel di halaman 232-233, rasanya jadi aneh. Kalau saya jadi Helena di situ, saya pasti kaget saat mendengar Iptu Ariel berucap demikian, dan saya akan langsung bilang padanya, “dari mana kamu tahu tentang peribahasa itu? Itu sama persis dengan yang pernah suamiku ucapkan padaku.” Namun, di sini Helena justru tidak bereaksi apa-apa. Lagipula, pada halaman tersebut, peribahasa itu tidak cocok jika disangkut pautkan dengan tubuh atletis yang berotot. Korelasinya jauh sekali.

(-) Di bagian akhir, sepertinya tidak masuk akal jika suara tembakan di dalam rumah tidak terdengar sama sekali oleh si penghuni rumah yang sedang berada dalam kamar meski pintu kamarnya tertutup dan dilingkupi suara dengungan mesin kipas AC. Memangnya sekedap apa kamarnya? Sebesar apa mesin kipas AC di rumahnya hingga suara tembakan yang menggelegar itu sampai tidak terdengar? Kecuali jika disebutkan kalau si penembak memakai tambahan alat peredam di ujung pistol. Saya nggak tahu alat itu apa namanya, cuma sering lihat di film, pemainnya suka pakai itu untuk meredam suara tembakan pistolnya. 😀

(-) Satu lagi. Saya memang bukan orang yang sangat paham soal hukum, tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal. Di novel ini dikatakan bahwa orang yang berbuat kriminal secara terpaksa atau dalam istilahnya disebut force majeure tidak bisa dijatuhi hukuman, misalnya seorang polisi yang tidak sengaja menembak mati si pelaku yang sedang melarikan diri. Tapi, bukankah pada kenyataannya sudah sering kita lihat kasusnya di TV atau koran, bahwa si tersangka yang telah melakukan tindak kriminal karena ia sedang terdesak (misalnya hampir diperkosa atau akan dianiaya atau ingin dibunuh oleh si korbannya) tetapi ujung-ujungnya tetap saja dijerat hukuman penjara. Why?! Kalau ada yang bisa jelaskan, silakan kasih komentar di bawah supaya saya jadi lebih paham. 🙂

Good Quotes

If you educate a man, you just educate A MAN. If you educate a woman, you educate A GENERATION. — (hlm. 74)

“Bukankah kepercayaan itu fondasi terpenting dalam membangun satu hubungan?” — Helena (hlm. 84)

“Teori orang ialah… punya istri cantik, digoda orang. Istri tak cantik, disindir orang. Punya banyak istri, digunjing orang. Tidak punya istri, dikasihani orang.” — Kanit Resmob, atasan Iptu Ariel (hlm. 99)

“Jangan terbuai oleh kilauan, karena belum tentu itu emas. Wajah dan fisik bisa menipu, sama halnya kilauan yang memperdayai mata. Bila tertipu fisik, kadang cinta nggak elok lagi.” — Ihdina (hlm. 151)

Cinta itu tak gampang dan mesti saling percaya. — (hlm. 169)

“Sadari selalu… a son is my son until he gets a wife, but a daughter is always my daughter till the end of my life,” — Papa Helena (hlm. 224)

“Bukanlah yang berkilau itu emas. Apa yang terlihat indah di luar, belum tentu sama indahnya di dalam,” — Iptu Ariel (hlm. 232)

Mencintai itu mengagumi dengan perasaan. Mengagumi itu mencintai dengan pikiran. — (hlm. 248)

Bonus CD

Ketika mendapatkan novel ini, di dalamnya memang tersedia sebuah CD berisi lagu yang dibuat oleh sang author. Isinya ada 6 track tapi tidak semuanya adalah lagu karena ada yang hanya suara instrumen musik tanpa lirik. Jika ditanya lagu mana yang paling saya suka, saya pilih yang judulnya Jangan Lagi Ada. Sebenarnya semua lirik lagu di CD itu sempat terselip dalam novel ini sebagai bagian dari cerita. Sayangnya, dari CD yang saya dapat, suara yang dihasilkan malah kecil sekali, agak kabur seperti radio kurang sinyal sehingga saya tidak bisa menikmati betul musik yang disajikan. Entah memang error dari CD-nya atau mungkin disc player saya yang sedang rusak? Hmm…

***

Overall, sebenarnya novel ini bisa dihabiskan dalam sekali duduk saja karena konflik yang disuguhkan tidak terlalu berat atau berbelit-belit. Jika kamu belum pernah membaca genre thriller romance, mungkin kamu bisa coba baca dari novel ini dulu. Masih cocok dibaca untuk teenager karena isinya tidak ada yang aneh-aneh kok. 🙂

Masih ada beberapa hal yang ingin saya paparkan, tapi nantinya akan jadi terlalu panjang dan saya tidak mau sampai spoiler berlebihan. Jadi, cukup sampai di sini saja yang bisa saya bahas. Semoga si penulis nggak menyesal nemu reviewer super senewen macam saya hehehe. Cerewet dan kritisnya saya ini tidak bermaksud menyudutkan, tapi saya hanya ingin jujur pada review yang saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan. Semoga review ini bisa membantu sebagai bahan koreksi untuk penulis. Sekian dan terima kasih. 🙂

OVERALL RATING
★★☆☆☆

Advertisements

9 thoughts on “[Review] Kabut di Bulan Madu by Zainul DK

    • Apanya nih yg great? Bukunya? XD

      Like

      • Reviewnya laaah haha… bukunya kan belum baca. Udah baca reviewnya mba Truly sih, komentarnya juga kurang lebih sama. “Premisnya bagus, eksekusinya kurang.”
        Kok gak ada giveawaynya mba? hahahangarep.

        Like

      • Hahaha kalo soal giveaway, itu lebih baik tanyakan langsung pada author atau penerbitnya. 😛
        Tapi kalau kamu mau, kamu bisa coba hubungi langsung ke author-nya lewat DM twitter misalnya, bilang aja kalau kamu tertarik mau baca ini dan bersedia bikin review. Kayaknya beliau nggak keberatan ngirim paket bukunya ke kamu. Mungkin aja kan 😀

        Like

  1. Murniaya: suruh aja dia di atas itu kontak si Ra*fi*n agar dikirimi buku.. klop deh.

    Like

  2. […] resensi novel ini di blog saya. Mungkin kalian sudah pernah baca. Tapi jika belum, silakan baca di sini. Nah, kali ini mengapa saya posting lagi resensinya? Karena menurut penuturan penulis bahwa buku […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s