[BlogTour] Ninevelove by J.S. Khairen | Review, Giveaway

Cover novel Ninevelove by JS Khairen

Judul: Ninevelove
Penulis: J.S. Khairen
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Penyelia naskah: Sasa
Desain sampul: Kuro_Neko
Desain isi: Nur Wulan
Cetakan: Pertama
Terbitan: September 2016
Tebal: xii + 322 Halaman
ISBN: 978-602-033-418-9

BLURB

Jika cinta bisa tumbuh tanpa alasan, bisakah kebencian juga lahir tanpa alasan? Karena kebencianku padanya sudah bulat dan berkeping-keping bahkan sebelum aku mengenalnya.

Aku tak tahu kenapa laki-laki berbadan kurus ceking itu tak pernah membuat hidupku tenang. Selalu ada saja ejekan dan celaan yang membuat gundukan kebencianku semakin tinggi dan siap meletus kapan pun ia mau. Ya, Joven Sayoeti Chaniago—wartawan junior Majalah Cakrawala sekaligus rekanku di Tinta Kampus—seakan tak rela melihatku bahagia dengan senyum mengembang di pipi.

Aku pun merawat dengan baik kebencian itu. Menyiramnya dengan ledekan juga tawa puasnya, agar suatu hari nanti aku bisa membalasnya. Namun, saat pohon kebencian itu tumbuh dan berbuah, aku benar-benar tercengang. Tak kudapati bara di dalamnya. Hanya candu yang membuat aku terikat, hingga aku tak bisa melepaskan diri darinya.

REVIEW

Di fakultas ekonomi sebuah kampus, tiada hari tanpa pertengkaran Dewi dan Joven. Dewi selalu marah ketika Joven menjadikannya bahan guyonan dan ejekan. Dewi merasa Joven membenci dirinya hingga ia selalu saja mengejek Dewi. Maka Dewi juga lebih lagi membenci Joven dengan segenap jiwa dan raga. Sebagai lelaki, tingkah Joven yang seperti itu seharusnya hanya masuk kategori usil, tetapi tidak bagi Dewi. Ia sudah terlanjur sentimen dengan lelaki tinggi nan dekil itu. Kalau bisa, ia tak usah dekat-dekat apalagi bertemu dengan Joven.

Di sisi lain, mata Dewi tak pernah lepas dari Guruh. Ia menyimpan nama Guruh dalam hatinya. Ia juga selalu peduli pada Guruh, terlebih karena mereka adalah junior di satu divisi yakni Divisi Jurnalistik di organisasi Tinta Kampus dan bekerjasama membuat artikel tentang pemilu Mapres untuk kampus mereka. Suatu kejadian memalukan menghantam kubu Tinta Kampus karena keteledoran Dewi dan Guruh yang telah membuat dan menyebarkan artikel tentang pemilu Mapres dengan isi yang tidak kompeten. Hal itu membuat banyak mahasiswa lain yang membacanya justru melaporkan mereka kepada Gleny (ketua Divisi Jurnalistik) dan kepada Riando (ketua umum Tinta Kampus) hingga ia naik pitam.

Saat Dewi dan Guruh dipanggil untuk ‘disidang’ lantaran keteledorannya tersebut, tak disangka sama sekali oleh Dewi bahwa ada Joven duduk anteng di antara semua anggota dan kandidat pemilu di ruang Tinta Kampus tersebut. Mengapa dia ada di sini? Ada kepentingan apa? Memangnya siapa dia? Anggota Tinta Kampus saja bukan!

Kejadian itu bisa dibilang menjadi awal turning point bagi Dewi kepada Joven. Terbongkar pula kenapa Joven bisa berada di tengah ‘sidang’ anggota Tinta Kampus: karena Joven adalah wartawan junior di Majalah Cakrawala–majalah senior yang sudah sangat terkenal di Indonesia. Namun karena hal itu tak lantas begitu saja membuat Dewi begitu langsung bisa berbaikan dengan Joven. Hingga akhirnya Riando menawarkan–atau lebih tepatnya menyuruh–Joven untuk gabung saja dengan Tinta Kampus karena kemampuan dan idenya yang cemerlang saat memberi solusi pada ‘sidang’ Dewi dan Guruh. Riando merasa Tinta Kampus butuh orang seperti Joven. Hal ini tentu saja tidak diamini oleh Dewi, bahkan Dewi juga dapat dukungan dari Gleny yang tidak mau jika Joven bisa langsung masuk begitu saja ke organisasi tersebut. Nampak sekali Gleny tidak suka pada Joven sejak awal.

Joven sebenarnya malas untuk bergabung, apalagi dia sudah punya kerjaan yang levelnya jauh di atas organisasi Tinta Kampus. Tetapi ada hal lain yang membuatnya bersedia menerima tawaran Riando. Itu karena Dinda, si adik tingkat yang mau bergabung juga di Tinta Kampus. Joven telah mengamatinya sejak pandangan pertama dan Joven langsung suka pada Dinda. Ia ingin mendekati Dinda, maka cara terbaik adalah dengan menjadi anggota Tinta Kampus juga.

“Pipi dan hidung kamu boleh aku petik gak? Buat jadi gantungan kunci nih. Boleh, ya?” — Joven (hlm. 167)

Setelah mereka berdua resmi menjadi anggota Tinta Kampus, Joven dan Dinda makin akrab saja sejak hari pertama. Rencana Joven untuk mendapatkan Dinda tinggal menunggu waktu yang tepat saja karena Dinda pun terlihat sangat terbuka menerima kehadiran Joven yang selalu berusaha berada di sisinya. Tetapi, siapa sangka kalau hubungan mereka ternyata ada yang tak merestui.

Siapa? Mengapa? Bagaimana kelanjutan nasib hubungan mereka?

Novel Ninevelove - J.S. Khairen

LET’S PEEL IT…

Cover

Saya suka cover-nya. Ada 3 siluet di sana yang melambangkan Joven, Guruh, dan Dewi sebagai 3 sahabat baik. Judul Ninevelove memang pelesetan dari envelope, sehingga efek kertas amplop warna cokelat di sana sangat menunjang judulnya.

Tema

Benci-jadi-cinta yang dialami oleh Dewi kepada Joven. I would’ve called it romance tapi ternyata porsi romannya tidak sebanyak yang saya bayangkan. Penulis lebih banyak menitikberatkan pada interaksi antartokoh di kehidupan kampus dan organisasi yang mereka ikuti, khususnya di Tinta Kampus. Persahabatannya justru lebih kental, tapi tentu kurang sedap kalau tidak ada bumbu cinta. Maka dari itulah penulis juga membawa urusan hati di antara mereka.

Tokoh & Penokohan

• Dewi
Sebagai wanita keturunan Jawa, Dewi hidup bak peribahasa alon-alon asal kelakon. Ia melakukan semua hal dengan sangat teratur dan rapi. Ia ingin semuanya serba baik tapi tidak ngotot untuk jadi sempurna. Justru ia yang ingin menyempurnakan orang lain, bukan dirinya. Di awal cerita, ia punya tempramen yang sangat tinggi, terlebih kadar jijiknya pada Joven sudah mencapai limit.

Dewi ini termasuk tokoh yang tidak saya suka pada awalnya, tapi makin lama Dewi berubah jadi lebih baik dan makin membuka hati. Entah ini kebetulan atau apa, saya merasa sedikit/banyak karakter Dewi mirip dengan saya. Terlebih soal dia mudah sekali dipengaruhi oleh omongan orang lain. 😦

“Ah, ternyata benar, hati wanita adalah palung laut terdalam dan memiliki banyak misteri. Satu kastil yang telah ia bangun sekuat tenaga untuk menyamankan hatinya sendiri, hancur hanya dengan satu pendapat orang tak bertuan.” — Joven (hlm. 300)

• Joven
Lelaki kurus tinggi agak dekil dan berbau rokok itu termasuk lelaki yang sangat usil. Terlebih pada Dewi. Joven juga heran mengapa Dewi begitu benci padanya. Joven memang usil, tetapi ia tidak pernah menyimpan dendam terhadap orang yang membencinya seperti Dewi. Aslinya Joven itu baik, bahkan dia tidak segan menawarkan bantuan pada Dewi saat Dewi kena musibah. Sebagai lelaki, dia lebih bisa menjaga emosi saat bertengkar dengan perempuan, tetapi lelaki seperti Joven juga bisa bersikap tak kalah ketus kalau lawannya sudah keterlaluan.

“Mulai dari sekarang sampai lo mati nanti, kalau lo ketemu sama orang Padang dan dia pelit, sorry jangan panggil Padang, tapi panggil Minang. Nah, kalau lo ketemu orang Minang suatu saat nanti dan dia pelit, tolong bawa dia ke depan mata kepala gue saat itu juga! Karena gak ada satu pun filosofi hidup orang Minang yang mengajarkan kami untuk pelit. Kecuali lo emang orangnya rasis!” — Joven (hlm. 24)

Meski bercandaannya sering seperti anak kecil, terutama kepada Dewi, tetapi Joven juga punya sisi kedewasaan dan bijak. Mungkin ini akibat dia sudah pernah ditempa dengan berat sebagai salah satu wartawan Majalah Cakrawala dan kerjaan yang cukup padat meski masih sebagai wartawan junior.

“Kalo elo susah percaya sama orang, orang juga bakal susah percaya sama elo. Kalo elo susah suka sama orang, ya susah juga ada yang suka sama elo. Itu kata-kata gue kutip dari Einstein loh. Rumusnya, hukum timbal balik. Ada aksi ada reaksi.” — Joven (hlm. 88)

Tiba-tiba saya merasa seperti ikut diceramahi oleh Joven saat dia memberi beberapa petuah pada Dewi. Salah satunya tentang rasa percaya pada orang lain. Karena saya juga merasa seperti sedang di posisi Dewi–sulit percaya pada orang lain dan punya sedikit teman. Ah, Joven… mengapa ucapanmu menohok sekali? 😦

• Guruh
Cowok berkacamata yang dianggap sudah sempurna tanpa cela bagi Dewi. Ia sosok yang sangat pantas menjadi pemimpin. Ia cerdas dan tegas. Guruh orang yang tulus membantu demi kebahagiaan sahabatnya, bahkan dia juga ikhlas saat motornya dirusak oleh Joven–walau pada akhirnya Joven memeperbaikinya juga. Peran Guruh lebih sebagai penengah di antara Joven dan Dewi saat mereka masih sering bertengkar tanpa henti. Ia juga yang paling bisa mengerti keadaan keduanya karena mereka bersahabat dekat.

“Penyesalan terbesar adalah ketika kita tidak pernah mencoba sama sekali. Akan makin besar penyeselan itu jika kamu, jika keinginanmu itu hanya sebatas dalam hati. Kami para lelaki bukan penyihir atau ahli pembaca pikiran. Kamu harus kejar dia, Dewi.” — Guruh (hlm. 221)

“Saat sahabatmu menangis, maka kau hanya perlu menghiburnya. Tak usah menasihati terlalu jauh, pasti dia sudah tahu cara terbaik untuk masalahnya sendiri. Tugas yang sederhana, namun tak semua orang mau melakukannya. Karena dia sederhana, karena itulah ia disebut persahabatan.” — Guruh (hlm. 251)

Guruh memang menjadi tokoh paling ideal di sini. Dia nggak pernah yang nganeh-nganeh deh pokoknya. Tapi bagi saya, dia juga bukan tokoh yang paling punya gereget di antara semuanya. Hatiku tetap tertambat pada Joven. 😛

• Gleny
Cewek yang satu ini punya penampilan tomboi. Suka sekali memakai celana sobek-sobek. Tetapi, di balik itu ia punya otak cerdas–meski dia punya memori dengan berjangka pendek alias cepat lupa–dan dia sangat mengutamakan profesionalitas sebagai pemimpin Divisi Jurnalistik di Tinta Kampus. Gleny bukan orang yang pandai menyembunyikan ketidaksukaannya pada orang lain apabila dia memang tidak suka. Itu akan terlihat jelas dari mimik muka dan sikapnya.

• Wira
Kalau Wira justru bukan anggota Tinta Kampus. Dia tergabung dalam klub teater. Berkat bakat aktingnya, Wira terkadang suka mendramatisir suatu keadaan. Padahal nggak penting-penting amat juga. Hahaha! Tapi orangnya lucu dan suka ngebanyol.

Saya nggak tahu mengapa Wira nggak ambil bagian dalam siluet di cover novel ini. Padahal Wira kan juga bersahabat baik dengan Dewi, Joven, dan Guruh. Mungkin bisa dikatakan mereka adalah 4 sekawan. Tapi bisa juga karena peran Wira yang memang nggak banyak di novel ini, atau bisa dibilang Wira itu ibarat petasan dan kembang api yang mampu mencerahkan suasana bagi sahabat-sahabatnya.

• Dinda
Si gadis cantik dan imut, berambut semi keriting, hidung mancung, alis tebal, dan punya pipi bakpao itu baru berusia 16-17 tahun. Tergolong muda sebagai mahasiswa baru. Tapi ia tak bisa pasang tali sepatu dan punya kebiasaan ngomong “ya gimana“. Orangnya usil–entah memang sudah usil dari sananya atau karena ketularan Joven. Suka sekali mencoret-coret pergelangan tangan bahkan wajah Joven dengan pulpen warna-warni di berbagai kesempatan. Dinda anak yang masih lugu tapi cerdas, terbukti ia sudah akselerasi lebih dari satu kali semasa sekolah dan dilihat dari kecepatannnya dalam membuat sebuah rubrik untuk Tinta Kampus. Ia juga tergolong anak manja yang nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah seenteng apa pun, bahkan mengaduk sop dalam periuk saja dibilang pekerjaan berat olehnya. 😧🔫

Karakter Dinda ini cukup unik, tapi masa iya sih anak sejenius dia nggak bisa pasang tali sepatu? Udah diajarin tapi masih aja lola. Bukankah anak yang jenius itu bisa cepet nangkep ya? Hal ini dirasa kurang singkron, kecuali kalau Dinda memang digambarkan sebagai anak yang lemot dan bolot. Dinda, come on! Kemana aja selama ini sampai nggak bisa pasang tali sepatu sendiri? Kalau nggak bisa pasang sendiri, kan bisa belajar dari tutorialnya di google atau youtube gitu. Atau ya ngapain beli sepatu bertali? Beli aja sepatu model lain yang nggak pakai tali biar nggak ribet, ya tho?

Ya pokoknya bawaanku gemes aja sama Dinda. Gemesnya karena dia itu unik–antara polos dan lucu–tapi juga gemes karena dia manja banget sampai kadang jadi oon seperti di chapter Cuka dan Merica serta karena dia nggak bisa pasang tali sepatu dan kagok cuma buat ngaduk sop. Itu sama aja kayak lo hidup tapi nggak bisa ngupil. Masang tali sepatu dan ngaduk sop are not big deal at all, wahai Dindaaa. 😂😂😂

Plot & Sudut Pandang

Novel ini menggunakan alur maju. Sedangkan sudut pandangnya menggunakan POV 1 yaitu penulis sebagai pemeran utama. Tetapi penulis merangkul 4 tokoh sekaligus sebagai POV 1 untuk masing-masing tokoh di beberapa bab yaitu Dewi, Joven, Guruh, dan Dinda. Dengan cara ini, pembaca bisa lebih mengenal masing-masing kepribadian para tokoh dan apa yang mereka rasakan. Tapi tetap saja pada POV Dinda yang paling bikin saya garuk-garuk kepala. Kok ada ya orang kayak Dinda begitu? 😌

Gaya Bahasa

Uda Jombang memang cukup terkenal akan kepuitisannya, bukan? Tak heran jika narasi di novel ini pun banyak terselip kalimat puitis dan kata-kata perumpamaan yang halus dan indah. Walau pun ini adalah karya pertama beliau yang saya baca, tetapi setelah melihat update-an di akun twitter dan instagram beliau sudah cukup jelas menyiratkan bahwa Uda Jombang memang raja gombal. Eh, nggak ding. Bercanda! 😛

Berikut ini beberapa contoh narasi yang saya maksudkan:

“Intonasi bicaranya seakan sedang menyenandungkan lagu pujangga. Padahal yang sedang ia bahas adalah kurva permintaan dan penawaran serta harga mobil. Tapi bagiku seperti puisi melayu kuno yang dituturkan para raja.” — Dewi (hlm. 6)

“Guruh mempercepat langkahnya. Ia seperti rusa jantan yang sedang terluka diburu serigala di tengah rimba.” — Dewi (hlm. 9)

“Namun, aku bisa merasakan semerbaknya yang indah menjalar lewat udara hinggap di pelupuk mata.” — Dewi (hlm. 20)

“Aku hanya melihat punggungnya tenggelam dan lenyap bersama matahari yang sirna perlahan ditelan cakrawala.” — Dewi (hlm. 89)

“Aku bukan orang yang mau bertarung di genderang perang yang sudah ditabuh orang lain. Aku adalah Guruh, yang tak mau melawan sinar matahari atau pun percikan api lainnya.” — Guruh (hlm. 114)

Tadinya saya mengira isinya akan penuh dengan kata puitis sampai ke narasinya juga, karena saya pernah baca di internet yang mengatakan bahwa novel ini memang lumayan nyastra. Tapi ternyata tidak terlalu demikian. Kepuitisan si penulis lebih banyak ia tumpahkan pada petikan-petikan singkat sajak puisi yang menghiasi tiap awal bab dan chapter. Sajak-sajaknya juga bagus-bagus semua. Saya sukaaa! 😉

Konflik

Karena novel ini tidak hanya berfokus pada dua orang atau urusan hati saja, konflik yang ada pun cukup beragam. Mulai dari kebencian Dewi terhadap Joven, masalah artikel yang diprotes anak kampus, tentang ungkapan perasaan yang justru agak merenggangkan persahabatan, tentang hubungan yang tak direstui, tentang cinta ditolak, tentang pasangan yang ditikung, hmm apa lagi ya? Pokoknya begitulah.

Ini membuat novel Ninevelove jadi lebih ‘kaya’. Meski memang tidak berpusat pada satu hal saja, tapi itu sangat dimaklumi karena sedari awal penulis memang membawa banyak ‘senjata’ untuk bisa diulas dan memunculkan konflik di sana sini. Apalagi masing-masing konflik itu datang dari para tokoh utama atau sangat berhubungan dengan mereka.

Chemistry

Untuk hal perseteruan hingga keakraban persahabatan mereka satu sama lain, itu tidak usah diragukan lagi. Segala interaksi mereka sanggup membuatku tersenyum bahkan tertawa. Hanya saja untuk bagian romannya kurang ambil bagian. Sekali pun itu dari Joven dan Dinda. Sikap mereka justru lebih mirip seperti kakak adik yang saling mengisengi ketimbang sebagai dua sejoli yang memadu kasih.

Saya berharap si penulis dapat lebih memperkaya bagian roman ini karena tetap saja novel ini masih mengangkat unsur cinta terhadap lawan jenis. Kalau untuk Joven dan Dinda, mungkin itu karena memang bawaannya karakter si tokoh yang suka absurd dan saling usil sehingga cita rasa romannya tidak begitu jelas di antara mereka. Tetapi kalau menilik di bagian ending, bagi saya masih kurang ‘nendang’. Mengapa langsung diakhiri seperti itu saja?

Kesan

• Segala sajak puitis dan narasi indah yang Uda Jombang tulis, itu sudah jadi nilai plus plus plus dari saya. Uda juga dengan sangat telaten mendeskripsikan segala hal yang ada pada organisasi Tinta Kampus dan lika-liku kepengurusannya sehingga saya sangat paham dengan jalan cerita yang dimaksudkan. Bagian yang menyangkut Tinta Kampus termasuk bagian yang saya suka karena Uda mampu membangun emosi dan konflik yang sangat realistis di sana. Entah ini murni fiktif atau memang diangkat dari kehidupan nyata yang pernah Uda alami di kampus?

• Soal beda pendapat penyebutan onde-onde dan klepon antara Joven dan Dewi di halaman 156-158, itu salah satu intermezzo yang menarik–setidaknya untukku sendiri. Sebenarnya saya memihak pada Dewi. Dewi menyebutnya klepon, sementara Joven ngotot itu onde-onde. Karena saya orang Palembang, saya juga nyebutnya klepon lho, sementara onde-onde itu adonan yang isinya kacang dengan baluran wijen di luar lalu digoreng. Bahkan ada juga yang jual namanya onde-onde mini karena ukurannya hanya sebesar ujung jempol tangan. Tapi, Dinda kan ada juga di situ dan ia berasal dari Palembang, mengapa Dinda nggak protes dengan kengototan Joven? Justru Dinda juga menyebutnya onde-onde. Harusnya dia juga tahu soal perbedaan penyebutan ini untuk di daerah lain seperti di daerah asalnya.

• Salah satu hal yang saya suka membaca fiksi dari penulis lelaki adalah saya jadi lebih tahu bagaimana dunia lelaki pada sehari-seharinya. Apalagi di sini ceritanya sangat ‘anak muda’ dan segala tetek bengek tentang lelaki seperti obrolan, umpatan, banyolan khas lelaki juga ada. And those jokes are very entertaining! 😄 Beda sama penulis wanita yang jarang sekali mengangkat dunia keseharian lelaki. Yang pasti hal yang saya tangkap adalah para lelaki paling males bahas soal wanita dengan siapa pun, bahkan sahabat sendiri–itu pun kalau nggak penting-penting amat. Berbanding terbalik dengan wanita, seperti pada POV Dewi dan Dinda, di mana mereka sering curhat soal lelaki–meski baru jadi lelaki idaman–kepada teman dan ibunya. Tapi, saya salut untuk yang satu ini. Uda Jombang mampu mengangkat keseharian Dewi dan Dinda serta mengorek isi hati mereka dengan penuturan yang sangat mulus. Nampak sekali sepertinya Uda Jombang pandai mengerti isi hati wanita. Benarkah? 😛

Kritik & Saran

Berhubung ini pertama kalinya saya baca karya Uda Jombang, saya nggak punya banyak kritik atau saran karena saya sudah sangat menikmati kisah mereka. Tetapi, seperti yang sudah sempat saya singgung di bagian chemistry dan ending novelnya, alangkah lebih baik kalau di bagian akhir bisa menyuguhkan sesuatu yang lebih berkesan bagi pembaca. Yang sudah ada ini bukannya jelek, hanya saja masih kurang ‘dalam’ meninggalkan jejak akhir di benak saya tentang para sekawan ini.

Good Quotes

“Senyuman adalah make-up terbaik bagi seorang wanita.” — Ibu Dewi (hlm. 19)

“Menulis adalah mengungkapkan kebenaran. Di dunia ini kejujuran sudah langka dan mahal harganya. Tapi, kita masih punya pena dan kertas untuk merekam semua kegelisahan dan kegundahan dalam sebuah tulisan.” — Joven (hlm. 47)

“Aduh Dewi, kalau mau dicintai manusia, harus kejar dulu cinta Allah. Ndak ada yang lebih hebat daripada cinta-Nya.” — Ibu Dewi (hlm. 73)

“Dewi kan nanti lulus, bekerja, jadi istri orang. Mengabdi. Nah, Dewi harus serahkan semua urusan itu ke Allah. Kalau mau mencari ridho Allah, ya harus rajin ibadah. Harus menjalankan apa yang Allah perintahkan. Jangan berdoa minta pacar, lebih baik minta seseorang yang bisa jadi imam Dewi.” — Ibu Dewi (hlm. 73)

“Dewi jangan cari musuh. Di rantau harus punya banyak teman untuk menolong kamu kalau sedang susah.” — Ibu Dewi (hlm. 74)

“Kalian berdua, jangan mau dibodoh-bodohi laki-laki. Makanya sekolah yang tinggi. Tapi jangan kesusu, jangan ngejar-ngejar. Kita ini wanita hakikatnya ya ditemukan,” — Ibu Dewi (hlm. 198)

“Kagum adalah ibarat saat melihat mahkota emas para raja, memang gagah terlihat, tapi aku tak menginginkannya. Mahkota sudah terlalu indah dan sempurna. Sementara perasaan sayang, ibarat mengenai batu besi dan melepuhnya pada api panas untuk membuat pedang. Aku merasa aku adalah api itu, yang harus membantu Joven mencari versi terbaik dari dirinya, menjadi pedang terbaik. Sekarang, ia masih retak-retak.” — Dewi (hlm. 216)

***

Akhir kata, saya sungguh enjoy dengan segala sajian kisah di novel ini. Saya cuma agak terganggu dengan tokoh Dinda, mungkin ini cuma soal selera ya, karena saya sering dongkol dengan karakter yang—kalau orang Palembang bilang sih—enyek-enyek. Hahaha!

Novel ini cocok dibaca oleh rentang usia berapa pun, kecuali yang masih anak-anak sih hehehe. Untuk remaja, cocok. Untuk dewasa juga cocok. Karena si penulis telah menyuguhkan cerita dan konflik di sini tidak terlalu memihak pada limit usia tertentu. Pokoknya novel Ninevelove ini sudah melebihi ekspektasi saya sebagai pembaca yang baru pertama kali membaca karya Uda Jombang. 😉

OVERALL RATING
★★★★☆


GIVEAWAY

Banner blog tour novel Ninevelove by J.S. Khairen

Kamu mau menangin buku ini secara gratis? Sudah tersedia 1 eks novel Ninevelove untuk 1 peserta beruntung dari blog ini. Simak syarat dan ketentuannya sebagai berikut:

1. Giveaway ini berlaku untuk semua warga Indonesia atau yang mempunyai alamat kirim di wilayah Indonesia.

2. Follow blog ini melalui akun (W) atau bisa juga lewat e-mail. Klik tombol follow di sidebar kanan paling bawah.

3. Follow akun twitter dan/atau instagram penulis @JS_Khairen dan host @murniaya. (Boleh di twitter aja, boleh di instagram aja, atau silakan keduanya).

4. Bagikan link giveaway ini di media sosial punyamu, bebas mau di mana saja. Jika kamu share di twitter, cantumkan hashtag #Ninevelove dan mention 2 akun di atas.

5. Jawab pertanyaan berikut ini pada kolom komentar di bawah dengan menyertakan nama, domisili, akun media sosial atau alamat e-mail (agar kamu bisa dikabari jika menang nanti).

Pertanyaan: setelah membaca review di atas, apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?

6. Pemenang ditentukan berdasarkan isi jawabannya, bukan dari random. Jadi, berikanlah jawaban terbaikmu.

7. Giveaway ini dibuka hingga tanggal 09 Oktober 2016 pukul 23:59 WIB. Iya, kamu nggak salah lihat. Giveaway ini berlangsung selama 3 hari saja.

Pengumuman pemenang nantinya akan saya lakukan melalui new post di blog ini dan dikabari dari mention di twitter atau e-mail langsung ke pemenang. Pengumuman diusahakan dilakukan secepatnya atau paling lambat 3 hari setelah giveaway resmi ditutup.

Masih adakah rule yang kurang jelas? For fast response, jangan sungkan tanya langsung ke saya melalui mention di twitter @murniaya.

Nah, tunggu apa lagi? Ini cuma berlangsung selama 3 hari, lho! Yuk pada ikutan jawab dan jangan lupa berdoa, ya. Semoga keberuntungan kali ini berpihak pada kamu. Iya, kamu!😉


Baca juga artikel di bawah ini jika kamu ingin lebih mengetahui tentang fakta-fakta di balik proses penulisan novel Ninevelove.

Ninevelove: Kisah Sang Mantan, Simak Wawancara Eksklusif Bersama Penulis

Advertisements

28 thoughts on “[BlogTour] Ninevelove by J.S. Khairen | Review, Giveaway

  1. Nama : Ratna
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Domisili : Jepara
    E-mail: kazuhanael_ratna@yahoo.co.id

    Apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?

    Saya pikir itu wajar dan kerap terjadi, khususnya di drama juga novel. Tapi di dunia nyata pun ada seperti itu. Karena kebencian yang berlebih itu sejatinya berdampingan erat dengan cinta. Begitupun cinta yang berlebihan bisa berakhir dengan kebencian. Karena itu jangan membenci dan mencitai secara berlebihan. Sewajarnya saja.

    Like

  2. Nama : Pida Alandrian
    Domisili : Aceh
    Email : shafrida.alandrian@gmail.com
    Twitter : @PidaAlandrian92
    Link Share : https://twitter.com/PidaAlandrian92/status/784307872603574272

    Jawaban>>
    Hubungan dari benci menjadi cinta itu unik, hubungan yang sangat terkesan bagi yg menjalaninya. Krn benci dan cinta bagaikan sebuah KOIN KEHIDUPAN dengan 2 sisi yang saling bersatu tetapi tetap merupakan 2 sisi yang berbeda “ yaitu sisi benci dan sisi cinta.

    benci dan cinta itu beda tipis loh. Orang yang pada awalnya membenci sesorang dan selalu mencari ribut jika bertemu bisa berubah saling suka. Memang tidak semua orang bisa mengalami fase benci menjadi cinta sih dan banyak juga yang tidak percaya akan jatuh cinta karena benci. Perasaan yang ada pada pasangan yang satu ini yang bermula dari benci memang berbeda dengan mereka yang melalui proses pedekate.

    Ketika dua manusia membenci satu sama lain, mereka akan cenderung saling menjatuhkan satu sama lain. Nah, untuk menjatuhkan orang yang benci pastinya harus tahu kekurangannya kan, ya? Otomatis kita dan siapapun yang sedang membenci akan menjadi stalker dadakan untuk merobohkan kubu lawan. Setiap gerak gerik dan kekurangan yang ada mesti dihafal sampai di luar kepala sebagai senjata andalan untuk melawan musuh, perang nih ceritanya? Artinya nih, kamu bakal ingat setiap kebiasaan buruk dan baik yang dimiliki lawan kamu. Semua kekurangannya bukan urusan kamu. Bekal dari hubungan “terima pasanganmu apa adanya” sudah dikantongi oleh mereka yang awalnya membenci, plus sesi pedekate secara tidak sadar sudah dilakukan. Seperti seorang hatters dgn artis yg dibencinya. Semua hal yg positif maupun negative dr sekecil apapun kekurangan kita pasti mereka bakal tahu. Sangking perhatiannya. Begitu pula dgn hubungan yg berawal dr benci jadi cinta.

    Tentunya orang yang membenci satu sama lain akan lebih sering ketemu, berasa nih dunia kecil banget. Sedikit-sedikit ketemu. Jalan dikit ketemu, heleh. Dengan kata lain, kamu bakal melihat setiap sisi dirinya, salah satunya kebaikan dan sisi dewasa yang sebelumnya gak dapat dibayangin bakal dia miliki. Ujung-ujungnya, tanpa kamu sadari hal tersebut mampu meluluh-lantakkan rasa benci kamu, karena rasa simpati yang ada. Ini nih tanda cinta sudah mulai nongol di hati.

    Sekian pendapatku mengenai hubungan benci jadi cinta yang terjadi ketika seseorang membenci orang lain hingga tahu luar dalam seesorang, dari kepribadian hingga perilaku. Bukan berarti ini patut dihindari loh, tapi menikmati dan menerima cinta yang datang akan menghadirkan rasa nano-nano dalam hidup lewat rasa benci sebagai pintunya. Dan satu lagi tak urung hubungan ini bisa menimbulkan banyak rasa loh dlm suatu hubungan, ada sisi romantis yg berbeda dari hubungan yg berawal pedekate.

    Sekian.
    Salam,
    Pida Alandrian

    Like

  3. Nama: Nurwahidah Ramadhani
    Domisili: Medan
    Twitter: @wawha_Cuza
    Link share: https://mobile.twitter.com/wawha_Cuza/status/784333973069496321?p=v
    Email: wawcuz@gmail.com
    Instagram: dearlangit

    Jawaban:
    Benci dan cinta itu emang susah dipisahkan baik di novel maupun dunia nyata.
    Dalam kehidupan sehari-hari, kesan pertama nggak selalu bagus, nah, jika terus menerus terjadi hal yang gak enak, kita bisa benci pada seseorang. Awalnya memang benci tapi lama-lama kita suka memperhatikan.. dan saat kita sadar bahwa penilaian itu salah, kita sudah keburu punya perasaan ‘lain’ padanya. Kita tak bisa mengabaikannya. Ia menjadi sangat menarik. Perasaan itu mulai berkembang dan mekar.. hingga kita merasa jatuh cinta.. makanya banyak orang yang bilang, “Jangan benci seseorang berlebihan, kita tak tau kapan dia akan berubah jadi cinta.”

    Like

  4. Nama : Noor Annisa
    Domisili : Banjarmasin
    Twitter : @Tepssa06
    Link share : https://twitter.com/TepSsa06/status/784342812057751552

    Entah kenapa ya, kalau benci jadi cinta itu kadang bener-bener susah untuk dijabarkan, Meski begitu, aku emang berpendapat hal itu memang wajar adanya, karena benci kadang berarti (Benar-benar cinta) membenci itu artinya kita terlalu memperhatikan, kenapa benci? karena memang pada dasarnya terlalu mencintai, namun tak bisa digapai hingga menjadi benci. Bagiku sendiri sih, hal itu emang benar adanya, aku aja beberapa kali benar-benar terjerumus dalam hal Benci jadi Cinta, karena pada akhirnya aku sadar, lho, kalau aku benci ngapain aku perhatian sama dia, meski perhatianku padanya semata untuk mencari keburukannya, tapi ya kalau namanya benci–yasudah nggak peduli mau apa dia, mau gimanapun. jadi intinya benci jadi cinta adalah hal yang wajar, memang susah untuk dijabarkan dengan kata-kata, tapi aku cukup mengerti lah hal ini.

    Like

  5. Nama: AInhy Edelweiss
    Twitter: @PrinceesAsuna
    Domisili: Makassar
    Email: nuraeniamir7@gmail.com

    jawaban:
    Benci jadi cinta?
    Sepertinya bukan hal yang lazim lagi. Tapi, hal ini menurutku unik dan memang sering terjadi terhadap dua orang yang awalnya saling membenci perlahan tumbuh perasaan suka, kemudian cinta. Bukankah cinta dan benci berbanding lurus?

    Dan menurutku itu hal yang wajar jika terjadi pada beberapa orang, dan aku sangat suka jika unsur ini ada dalam sebuah novel. Menarik!

    Like

  6. Nama: Rohaenah
    Domisili: Jakarta
    Twitter: @rohaenah1
    Email: rohainalilis@gmail.com
    Jawaban: menurut saya benci jadi cinta adalah hubungan sebab akibat. Kenapa demikian,karena kadang rasa benci membuat orang jadi penasaran atas segala hal yg dibencinya itu. Lama-lama perasaan itu berubah menjadi keingintahuan dan tak sedikit yg berbalik rasa menjadi cinta. Tak semua seperti itu, tapi memang kenyataan menunjukan kalau batas antara cinta dan benci itu sangat tipis hingga kadang tak kasat mata. Makanya saya percaya kalau memang benci jangan berlebihan karena siapa tau dibalik hal yg kita benci itu tersimpan suatu kebaikan untuk diri kita. Untuk cinta pun jangan berlebihan karena kalau sudah berlebihan bisa membutakan mata dan hati yg menimbulkan sisi egois dirinya. Dan kala rasa cinta itu hilang bisa berbalik pula menjadi kebencian.
    Kesimpulan saya membencilah secukupnya,mencintapun seperlunya kecuali cinta pada Yang Maha Pencipta. Karena sejatinya manusia dibekali akal dan pikiran untuk memilah kebaikan dan keburukan. Sehingga bisa mengontrol rasa benci ataupun cinta didalam hatinya.
    Demikian pendapat saya,
    terimakasih.

    Like

  7. Nama: Kurnia Lidyaningtyas
    Domisili: Purwokerto
    Twitter: @_detektifhati
    E-mail: Kurnialidyaningtyass@gmail.com

    Jawaban:
    Pendapatku tentang hubungan benci jadi cinta, menurut aku sih benci jadi cinta itu hubungan yang klise tapi unik dan romantis. Dan merupakan hubungan cinta yang tidak biasa-biasa saja.
    Kenapa?
    Karena ketika seseorang bisa mencintai orang sebelumnya dia benci maka secara otomatis cinta yang dia berikan ke orang itu pasti cinta yang tulus. Bayangkan saja, pertama-tama kita membencinya dengan seribu alasan yang merujuk pada satu alasan bahwa dia terlalu banyak kekurangan yang menurut kita patut untuk di benci. Dan mustahil untuk kita bisa mencintainya (awalnya). Akan tetapi, kemudian kita mulai mencintainya maka secara tidak sadar sebenarnya kita telah mencintai segala kekurangannya dan ketika kita mencintainya hati kita kan lebih bisa menerima segala kekurangannya.
    Karena kita sudah pernah membencinya dengan banyak alasan maka ketika kita mencintainya kita sudah tak bisa membencinya untuk kedua kalinya, untuk apa? toh dari awal kita sudah membencinya dengan seribu alasan, sudah kita habiskan segala alasan untuk membencinya di awal maka yang tersisa di akhir, kita hanya bisa mencintainya tanpa mampu berbuat apa-apa, hanya bisa menerima kemudian mencipta hubungan penuh dengan romantika tanpa banyak drama dan tanpa rahasia. Kita telah saling menemukan banyak hal yang membuat kita saling membenci kemudian kita mampu saling mencintai, bukankah itu hal yang luar biasa? Betapa cinta seperti itu bisa dibilang adalah cinta yang nyaris sempurna.

    Like

  8. nama: Noer Anggadila
    domisili: Probolinggo
    twitter: @noeranggadila

    Pertanyaan: setelah membaca review di atas, apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?

    Benci itu hak semua orang, begitu juga cinta. Karena cinta itu fitrah manusia, jadi gak ada yg bisa melarangnya untuk muncul. Benci jadi cinta itu gak mustahil, karena Allah Maha membolak-balikkan hati, jadi sekarang kita bisa benci banget sama orang itu tapi besoknya kita malah jatuh hati setengah mati sama dia, itu gak mustahil bagi Nya. Benci jadi cinta bisa juga karena mereka saking bencinya sampai selalu memerhatikan gerak gerik orang yang dibenci, mencari celah untuk menjatuhkan orang tersebut, tanpa kita sadari secara tidak langsung kita udah mau secara sukarela untuk memerhatikan dia yang kita benci. Karena keseringan memerhatikan bisa jadi lama-kelamaan kita bakalan luluh sama dia karena dari usaha kita ‘memerhatikan secara tidak langsung’ itu akan memberi tahu kita hal yang selama ini belum kita ketahui tentangnya, sisi baiknya. Karena faktor sering ketemu juga, hal ini yang sangat menunjang tumbuhnya rasa cinta, karena ‘tresno jalaran soko kulino’, kata orang jawa :3. Mungkin kaya Joven sana Dewi nanti, karena sering ketemu meskipun dgn cara bertengkar, tapi setidaknya mereka tetap terus berhubungan, dan tidak menutup kemungkanan bila pertemanan antara cowok dan cewek, setidaknya salah satu atau kedua-duanya akan merasa jatuh cinta.

    Like

  9. Nama ; Yohana
    Domisili : Siantar
    T :@MrsSiallagan
    J : Benci bisa berubah menjadi cinta. Yah, apa saja bisa berubah . Namanya juga manusia, perasaan bisa berubah menjadi apa saja. Perasaan Dewi yang selalu bertemu dengan Joven selalu membuat nya merasa memberncinya. Padahal, perbuatan Joven masih bisa dikatakan usil. Perasaan dewi inilah yang membuat nya anti- joven. intinya semakin dia bertemu joven, semakin benci hatinya. Namun, bila tidak bertemu dengannya, maka akan ada dirasa kosong. Kekosongan yang mencari-cari Joven. Maka dari sinilah tumbuh benih cinta. Kerinduan terhadap sosok yang kita benci perlahan berubah menjadi rasa suka dan cinta. Saya rasa sah-sah saja jika hal itu terjadi. Apalagi Joven takes care about Dewi. Tak ada yang perlu disalahkan. Terkadang cinta datang dengan cara yang berbeda, termasuk dari kata benci.

    Like

  10. Ten Alten | Magelang | @ten_alten | regulus_noel@yahoo.com
    “apa pendapatmu tentang hubungan benci jadi cinta?”
    –>>
    hmm, masalah perasaan dan hati itu nggak ada yang tau sih ya..
    menit pertama dia cinta, tapi menit berikutnya bisa langsung benci.. pun sebaliknya.
    menurutku bisa aja sih, soalnya benci dan cinta itu beda tipis.
    orang yang cinta, nama dan wajah/sosok si dia bakalan sering muncul di pikiran, pun dengan orang yang benci. orang yang benci menghabiskan waktunya untuk memikirkan si dia yang nggak disuka. kan sama tuh, sama-sama menyita perhatian. cuma beda konten. karena terbiasa, konten itu lama-lama juga bisa berubah. di sanalah benci bisa berubah jadi cinta. ‘tresna jalaran saka kulina’, kalo kata pepatah jawa.

    by the way… OOT nih ya..
    aku jleb betul pas baca review bagian quote si joven. karena aku orangna susah suka sama orang (konteks lover). masa sih kek gitu? TTwTT

    “….Kalo elo susah suka sama orang, ya susah juga ada yang suka sama elo. Itu kata-kata gue kutip dari Einstein loh. Rumusnya, hukum timbal balik. Ada aksi ada reaksi.” — Joven (hlm. 88)

    Like

  11. Dian Haerani
    Bandung
    @saimamzahra
    dhaerani781@gmail.com

    setelah membaca review di atas, apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?
    jawab: Buat aku itu hal yang udah biasa, sering banget terjadi di kehidupan nyata. menurutku ada benarnya juga ungkapan yang bilang kalau benci dan cinta itu bedanya tipis banget. Cinta ataupun benci keduanya biasanya sama besar dalam mendominasi pikiran seseorang. Jadi ya wajar aja kalau perasaan benci itu berubah jadi cinta. Karena benci itu sebenarnya singkatan dari “benar-benar cinta”. hehehehe

    Like

  12. mariyam
    surabaya
    twitter: @mariyam_elf
    email: mariyam.riya96@gmail.com

    benci jadi cinta, aku pernah ngerasain hal itu. yg awalnya saling membenci tp akhirnya malah saling jatuh cinta. sebagai manusia, tentulah kita punya rasa benci terhadap seseorang, untuk itu kalau benci ya janganketerlaluan biar nantinya pas jatuh cinta mlah jdi canggung, malu, dll. membenci seseorang tetap pada kadarnya, begitupun dengan mencintai seseorang. apapun yg berlebihan itu tidak baik.
    balik lagi benci jadi cinta, klo menurutku ya yg namanya cinta kan buta. walaupun awalnya benci tp klo udh cinta ya mau gmna lgi.

    Like

  13. Nama: Christina
    Domisili: Surabaya
    Twitter: @chrstna_a
    Email: chrstnaa16@gmail.com

    Menurut aku, benci jadi cinta itu merupakan hal yang unik serta wajar juga karena sekarang banyak di drama / cerita / kehidupan nyatapun yang seperti itu. Terutama saat perasaan ‘cinta’ itu muncul tanpa disengaja karena kedua orang tersebut sering beragumen / berdebat.

    Like

  14. Elsita F. Mokodompit

    Elsita F. Mokodompit
    Gorontalo
    @sitasiska95
    elsitafransiska@gmail.com

    Benci jadi cinta buatku wajar. Dalam novel, buku2 roman atau bahkan kehidupan sehari2 banyak yang kita temukan dr awalnya sling membenci lama2 justru cinta setengah mati. Terkesan unik dan ‘wah nggak nyangka’ gitu. Tapi sebenernya buatku bkn krn kita benci lantas kita cinta, atau kayak yang org2 bilang ‘awas benci lama2 cinta loh’. Sebenernya yg bikin kita cinta itu adalah karena biasa berinteraksi atau biasa memikirkan bagi yg jarang berinteraksi dengan musuh atau org yg djbencinya. Kalau sahabat jadi cinta karena keseringan bersama, kalo benci jadi cinta itu krn keseringan interact to each other. Ledek2an awalnga benci lama2 kangen. Krn kt udh terbiasa diledek, makanya ketika itu hilang, serasa ada yg kurang. Atau dia nggak ngeledek tapi tiap lihat muka atau denger namanya, tb2 pengen muntah aja :v. Saat itu tb2 hilang, kt nggak ada objek lagi untuk dipikirkan, terasa ada yg kurang. Dari situlah cinta mengambil peran. Buatku benci dari cinta itu adalah salah satu hasil dari ala bisa karena biasa 😀

    Like

  15. nama: Aulia
    domisili: Serang
    twitter: @nunaalia
    e-mail: auliyati.online@gmail.com

    Setelah membaca review di atas, apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?

    Benci jadi Cinta itu bisa saja terjadi. Ketika membenci seseorang kita tanpa sadar selalu memperhatikan apa saja tentang orang itu, yang biasanya lebih mecari kesalahannya untuk dijadikan bahan ejekan atau balas dendam. Dari keterbiasaan selalu memperhatikan itu, kita menjadi lebih tahu bagaimana orang yg dibenci itu. Dan terkadang menemukan hal-hal tak terduga dan membuat kita berbalik kagum. Akhirnya tanpa sadar ada rasa berbeda yg tumbuh.
    Ada ungkapan batas antara benci dan cinta itu tipis. Juga cinta karena terbiasa. Dan jangan lupa cinta pun suka datang tanpa diduga. Jadi hubungan Benci jadi Cinta tidaklah mustahil.

    Like

  16. Nama : Humaira
    Domisili : Purwakarta
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Alamat e-mail : humairabalfas5@gmail.com

    Pertanyaan: setelah membaca review di atas, apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?

    Ga aneh dan hal wajar menurutku, karena cinta dan benci hanya setipis selaput. Maaf bukannya mau membawa-bawa hal-hal yang diajarkan oleh agama, tapi aku pernah diberi tahu mengenai sabda (pernyataan) Rasul yang bunyinya seperti ini, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” aku rasa hampir semua orang pernah mendengernya.

    Ga aneh, karena saat membenci seseorang kita akan mencari tau segala hal tentang orang tersebut, semuanya, sama seperti halnya kita saat jatuh cinta. Karena itulah suatu saat jika perasaan benci itu luruh begitu saja dan berganti rasa menjadi cinta itu hal yang masuk akal juga.

    Jadi, janganlah berlebihan dalam mencintai dan membenci seseorang.

    Like

  17. jawahirularifah

    Nama : Jawahirul Arifah
    Domisili : Kudus – Jawa Tengah
    Akun twitter : @jawarifah
    Email : djawakudus@gmail.com

    Jawaban :
    Benci jadi cinta. Sesuatu yang wajar. Begitu juga cinta jadi benci. Itu hakNya 100% untuk membolak balikkan hati, mengubah hati dan menjadikan hal yang tak mungkin menjadi mungkin.
    Jadi sewajarnya saja kalo membenci seseorang, begitupun juga kalo mencintai seseorang. Seperti kata pepatah ” Cinta itu ngga bisa dipaksakan, cinta iu sesuatu yang tulus dan ngga bisa dicemari apapun (Dua Rembulan)”

    Like

  18. Nama: Diah P
    Twitter: @She_Spica
    Domisili: Bekasi
    Email: pujiawati747@gmail.com

    Benci jadi cinta adalah campur tangan Tuhan Sang Pembolak-balik Hati manusia. Pada dasarnya akibat kebencian yg berlebih, membuat kita kepo untuk terus menerus mncari kekurangan dia untuk kita caci sehingga kegiatan stalking pun tidak bisa dihindari. Tapi dari stalking tersebut kebanyakan justru kita malah menemukan kebaikan2 dia yang kemudian mmbuat simpati kita muncul, dan lama2 berubah jadi cinta. Maka dari itu saya sangat menyukai sebuah hadist Rasulullah Saw: “Bencilah orang yg kamu benci sekedarnya, karena bisa jadi dia akan mnjadi orang yang kamu cintai suatu hari nanti, pun sebaliknya. Cintailah orang yang kaucintai sekedarnya, karena bisa jadi dia akan menjadi orang yang kaubenci suatu hari nanti.”
    Mungkin begtu pendapat saya. Terima kasih.

    Like

  19. Nama: Rinita
    Twitter: @RinitAvyy
    Email: rinivir90@gmail.com

    “benci jadi cinta”? apaan sih itu?? oke, pertanyaannya bikin aku langsung flashback sama drama2 korea yg romantis banget itu lhoo, Sassy Girl, Princess Hour, atau Pinnocchio atau dll yg gak mungkin ki sebut semuanya.
    Tetapi Kalau dari sudut pandangku sendiri, mungkin begini, benci dan cinta itu mirip sebuah kompas yg lagi mencari jati diri, mencqri arah jalan pulang dimana ia melabuhkan hatinya. Dua hal tersebut ialah Perasaan yg sesungguhnya saling bertolak belakang namun selalu searah dalam urusan hubungan. Bedanya ada pada bagaimana cara cinta datang melalui komunikasi & keterbiasaan, sedangkan benci datangnya dari arah kesalahpahaman yg belum ada penjelasan. Ditinjau dari sisi itu, aku pikir-pikir ulang Benci Jadi Cinta ya gara-gara itu tadi: komunikasi dan keterbiasaan bersama dalam metode eyes to eyes atau berbekal media sosial. Inget pepatah jawa “Witing Tresno jalaran saka kuliono” ?
    Nah itu salah satu contoh konkrernya benci jadi cinta. Ya, meski ku akui sebenarnya benci dan cinta bisa sangat dekat dengan sejejap, bahkan batasannya hanya setipis tisu transparan. Kalau kita bicara soal unsur kimia, dimana sebuah atom dan elektron walaupun punya ion positif dan negatif bisa dipersatukan kok, bener nggak? kalau dalam fisika menjelaskam bahwa, magnet bermuatan positif dan negatif aja akan saling tarik menarik, bagaimana dengan manusia yg punya akal dan pikiran tidak peka dengan hal tetsebut? All right. Anggap aja dalam hubungan juga begitu. Saling tarik menarik biarpun ada rasa benci/beda pandangan diantaranya tapi berkat cinta semua benci sudah bukan apa-apa lagi. Alias luntur jadi butiran debu yg Satu tarikan napas tertiup ilang di bawa angin.
    kesimpulan yg dapat ditarik, sebenarnya cara pandang dan kesimpulan benci jadi cinta itu luas kok, tergantung bagaimana cara kita menyimpulkan, cara pandang dari dua hati yg terikat di dalamnya karena pada dasarnya mereka berdualah yg menjalankan.
    Di akhir jawaban aku mau menyarankan beberapa hal terutama bagi yg lagi fase ‘itu’–benci jadi cibta–
    SATU: jangan benci-benci amat sama orang, takut kena karma bahwa kamu bakal mengalamo fase dimana kamu bakal menyukai orang yg kamu benci.
    DUA: nyetel lagu Radja yg “Jangan Benci Bilang Cinta” emang membuat kita sadar, cinta yg abadi berawal dari ketidaksukaan.

    RnT
    salam dari orang jawa asli. btw, thks kuisnya kak Aya, dan ‘I hope’ banget bisa jadi pemenangnya!

    Like

  20. Nama: Rinita
    Twitter: @RinitAvyy
    Email: rinivir90@gmail.com

    “benci jadi cinta”? apaan sih itu?? oke, pertanyaannya bikin aku langsung flashback sama drama2 korea yg romantis banget itu lhoo, Sassy Girl, Princess Hour, atau Pinnocchio atau dll yg gak mungkin ki sebut semuanya.
    Tetapi Kalau dari sudut pandangku sendiri, mungkin begini, benci dan cinta itu mirip sebuah kompas yg lagi mencari jati diri, mencqri arah jalan pulang dimana ia melabuhkan hatinya. Dua hal tersebut ialah Perasaan yg sesungguhnya saling bertolak belakang namun selalu searah dalam urusan hubungan. Bedanya ada pada bagaimana cara cinta datang melalui komunikasi & keterbiasaan, sedangkan benci datangnya dari arah kesalahpahaman yg belum ada penjelasan. Ditinjau dari sisi itu, aku pikir-pikir ulang Benci Jadi Cinta ya gara-gara itu tadi: komunikasi dan keterbiasaan bersama dalam metode eyes to eyes atau berbekal media sosial. Inget pepatah jawa “Witing Tresno jalaran saka kuliono” ?
    Nah itu salah satu contoh konkrernya benci jadi cinta. Ya, meski ku akui sebenarnya benci dan cinta bisa sangat dekat dengan sejejap, bahkan batasannya hanya setipis tisu transparan. Kalau kita bicara soal unsur kimia, dimana sebuah atom dan elektron walaupun punya ion positif dan negatif bisa dipersatukan kok, bener nggak? kalau dalam fisika menjelaskam bahwa, magnet bermuatan positif dan negatif aja akan saling tarik menarik, bagaimana dengan manusia yg punya akal dan pikiran tidak peka dengan hal tetsebut? All right. Anggap aja dalam hubungan juga begitu. Saling tarik menarik biarpun ada rasa benci/beda pandangan diantaranya tapi berkat cinta semua benci sudah bukan apa-apa lagi. Alias luntur jadi butiran debu yg Satu tarikan napas tertiup ilang di bawa angin.
    kesimpulan yg dapat ditarik, sebenarnya cara pandang dan kesimpulan benci jadi cinta itu luas kok, tergantung bagaimana cara kita menyimpulkan, cara pandang dari dua hati yg terikat di dalamnya karena pada dasarnya mereka berdualah yg menjalankan.
    Di akhir jawaban aku mau menyarankan beberapa hal terutama bagi yg lagi fase ‘itu’–benci jadi cibta–
    SATU: jangan benci-benci amat sama orang, takut kena karma bahwa kamu bakal mengalamo fase dimana kamu bakal menyukai orang yg kamu benci.
    DUA: nyetel lagu Radja yg “Jangan Benci Bilang Cinta” emang membuat kita sadar, cinta yg abadi berawal dari ketidaksukaan.

    RnT,
    salam dari orang yg tinggal di pulau jawa.

    Like

  21. Nama: Hani Kartika Sari
    Domisili: Sragen, Jawa Tengah
    Twitter: @haniktsr
    E-mail: hannikartikaa@gmail.com

    Pendapatku tentang hubungan benci jadi cinta itu merupakan hal yang nggak salah alias wajar-wajar saja. Hal itu sering terjadi pada hubungan beberapa orang, baik dalam cerita fiksi maupun nyata, benci jadi cinta memang sulit terlepas dalam suatu kisah percintaan.

    Benci dan cinta hidup dalam kisah yang sederhana, namun bermakna dalam setiap detail perasaan yang muncul ketika insan bertemu. Perasaan benci jadi cinta terkadang melingkup suatu kebohongan yang disebabkan oleh gengsi. Kata orang, mereka itu relatif, jika saat ini kau membenci setengah mati, maka kelak kau akan mencintai setengah mati pula.

    Tidak akan pernah ada penyesalan mencintai saat kebencian datang di masa lalu.

    Like

  22. nama : Thia
    domisili : Sulawesi Tengah
    media sosial : @insomnisa_thia (twitter)
    alamat e-mail : thiayusuf11@gmail.com

    Pertanyaan : setelah membaca review di atas, apa pendapatmu tentang hubungan “benci jadi cinta”?

    Jawaban :
    Benci jadi cinta? Mungkin gak sih?
    Kalau aku boleh berpendapat, itu punya kemungkinann cukup besar. Bukan sekedar karena banyak cerita atau film tentang itu.
    Adakalanya kasus seperti ini, awalnya kita biasa saja tapi lama-lama mulai suka. Pendektan, lama-lama kalo jodoh pasti dapet juga. Intinya perasaan itu dateng pelan-pelan. Seperti pepatah jawaalon alon waton kelakon.
    Itu sih enak pendekatannya asik tapi kalo si calon pasanagn itu saling benci (mungkin kata benci terlalu ekstrim kalau begitu katakan saja tidak saling suka) beda lagi proses pendekatannya. Menurut pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah. Untuk beberapa situasi orang-orang yang tidak saling suka itu punya intensitas yang cukup untuk saling berkomunikasi meski gak secara baik. Mungkin istilahadu bacot bisa digunakan.
    Berusaha mencari kejelekan, kelemahan pokoknya apapun yang bisa buat saling menjatuhkan. Tapi ada juga yang malah seperti makan buah simalakama. Ketika mencari sesuatu yang bikin makin sebel atau sesuatu yang bisa bikin saling menjatuhkan kita malah menemukan sesuatu yang bikin kita simpati. Nah kalau sudah seperti itu kesempatan buat benih-benih cinta tumbuh.Lebay ya?
    Juga ketika orang yang kita benci gak ada, kita pasti nyariin. Dan secara gak sadar merasa kehilangan. Menurutku itu salah satu perasaan yang sangat gak nyaman. Sadar ketika semua sudah menghilang.
    hubungan benci bilang cinta ini tidak masalah.. Kadang seseorang itu khilaf dari kesalahannya kan.. Mungkin dlu mreka sring berantem, sering di usilin .. Contohnya sperti tokoh Joven dlam novel #Ninevelove dia wataknya emng suka ngusilin orang tapi bukan berarti dia itu membenci kan.. Nah toko yg satunya lagi namanya dewi. Emng sih mreka kurang akur, tapi ngga ada yang tau kan kedepannya nanti bakal gimana alurnya. Makanya kita jgn sering berantem tkutnya nanti jadi BENCI BILANG CINTA.

    Like

    • Nama : Rosa Claudia Rosidi
      Domisili : Mojoagung-Jawa Timur
      Account Twitter : @RosaClaudia_R
      E-mail : rosaclaudia888@gmail.com

      benci jadi cinta?
      Hal yang wajar menurutku. karena, hati dan perasaan manusia dapat berubah seiring berjalannya waktu. mungkin perasaan dulu membenci yang begitu hebat dapat sirna dengan sendirinya karena keadaan sudah berbeda bahkan berubah. Kita dapat melihat dari sisi padang yang lain “ketika dulu kita membecinya, pasti semua yang dilakukan baik hal sebaik apapun pasti semua akan jatuh atau tak berarti apapun di matamu” dan ketika kekuatan cinta menyapa mu. Itu semua akan menyembuhkan luka mu, segala kebencian itu musnah dan berganti keceriaan dan kebahagiaan karena cinta.

      Like

  23. Nama : Heni Susanti
    Domisili : Pati – Jawa Tengah
    Akun twitter : @hensus91

    Benci jadi cinta selalu jadi tema cinta favoritku. Kisah dimana kita mengenal seseorang dari segala hal buruk yang kita anggap dia miliki dan semua rasa tidak suka tentangnya, tapi justru membuat orang itu selalu menyita lebih banyak porsi pikiran.

    Rasa benci itu hanya setingkat lebih rendah dari cinta, maka bukan hal aneh kalau banyak yang merasakan rasa itu bermetamorfosis jadi cinta. Karena setelah espektasi tentang ketidaksukaan dipatahkan oleh satu dua hal yang ternyata salah, maka rasa terkejut oleh sikap baik atau manis akan sangat membekas.

    Saat segala debat, caci maki dan kemarahan ditemukan dengan simpati, maka debaran dan sengatan listrik akan terasa demikian hebat.

    Sentuhan dan perhatian kecil oleh orang yang kita benci tapi sudah menumbuhkan simpati adalah tangga untuk menaikkan rasa benci itu ke dalam tingkatan teristimewa. Cinta.

    Maka dari itu, benci jadi cinta menurutku adalah awal yang menyakitkan dari kisah cinta, tapi dengan akhir paling indah yang mungkin bisa diterima. Kita tidak perlu merasa dibohongi dengan sifat dan sikapnya karena kita sudah tahu semua keburukannya sejak awal.

    Demikian dan terima kasih 🙂

    Like

  24. Sayekti Ardiyani
    @sayektiardiyani
    Magelang

    Hubungan benci bisa saja jadi cinta sebab seseorang yang membenci itu sejatinya memperhatikan orang yang dibencinya. segala gerak gerik orang yang dibencinya tak akan luput dari perhatiannya. ia juga akan terus memikirkan orang yang dibencinya. karena segala hal diketahuinya, termasuk segala yang baik yang dilakukannya, juga terus-menerus memikirkan orang yang dibencinya, lama-lama perasaan itu akan mencapai klimaksnya. benci akan berubah menjadi cinta.

    Like

  25. Nama : Mifta Rizky Wiratnasari
    Twitter : @keyminoz
    Email : keyminoz@yahoo.com
    Domisili : Gresik

    Benci jadi cinta itu kayak tom & jerry, setiap kali bertemu pasti nggak lengkap rasanya kalau nggak membuat perdebatan kecil, saling adu argumen sampe gak ada yang mau ngalah, tapi disitulah ternyata Tuhan selalu punya cara mempersatukan dua orang anak manusia dalam ikatan batin juga cinta. Seiring berjalannya waktu, perdebatan atau permusuhan lah yang membuat dua anak manusia ini bisa mengerti satu sama lain, dan paham bagaimana saling mengisi kekurangan.

    Like

  26. nama: pramestya
    domisili: temanggung
    Twitter/e-mail: @p_ambangsari/pramestya23@gmail.com

    Setelah baca reviewnya, Benci jadi cinta adalah suatu proses dimana ketidak-inginan berhubungan dengan seseorang yang menjelma menjadi candu seiring waktu. Dan ini adalah hal normal. Manusiawi.

    Yup. Orang yang benci karena perilaku seseorang sama saja didoktrin untuk terbiasa akan tingkah orang tersebut.

    Seseorang yang awalnya tak suka itu pun akan menjadi terbiasa dengan kehadiran orang lain yang notabene adalah orang nyebelin. Setelah terbiasa, orang yang benci itu juga mulai larut dalam kebiasaan-kebiasaan si nyebelin dan merasa kalau setiap tingkah si nyebelin adalah normal.

    Ketika kebiasaan-kebiasaan itu menghilang, orang yg benci akan merasa kehilangan. Merasa aneh karena rutinitasnya tdk dapat berjalan, merasa aneh karena ia tak lagi “normal”.

    Orang yang benci itu pun akan merasa kalau “s/he is the one” yang akan selalu ada di sampingnya.

    Jadi begitulah teori benci jadi cinta. Benci-merasa normal-kecanduan-cinta.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s