[Review] Calon Imam: Kebetulan itu Tidak Pernah Ada by Laini Laitu

Novel Calon Imam oleh Laini Laitu

Judul: Calon Imam
Penulis: Laini Laitu
Penerbit: MediaKita
Penyunting: Irwan Louf
Penyunting Akhir: Sudarma S.
Penata Letak: Sasono Handito
Desain Cover: Budi Setiawan
Tebal: viii + 176 Halaman
Cetakan: Pertama
Terbitan: 2015
ISBN: 978-979-794-501-5
Genre: Romance

BLURB

Awalnya aku menjalani kehidupan normal seperti remaja lain. Namun, semua berubah sejak aku bertemu dengan Nada, gadis manis yang mampu mengalihkan duniaku. Dia selalu mengacuhkanku, yang justru membuatku semakin penasaran.

Saat muncul ide untuk menikahinya, bukannya mendukungku, papa malah mengatakan aku sudah gila. Bocah 20 tahun dan masih kuliah bisa apa, katanya.

Well, akan kubuktikan kalau aku bukan seorang bocah, melainkan seorang Calon Imam!

REVIEW

“Tidak perlu alasan kenapa mencintai seseorang karena hati yang telah menentukan.” — Nada (hlm. 96)

Ave, pria berusia 20 tahun yang masih mengenyam bangku kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta. Saat ia sedang libur kuliah dan pulang ke Surabaya, Ave diminta Mamanya untuk menemani pergi ke rumah Eyangnya di Malang karena di sana akan ada acara keluarga. Di sana Ave bertemu dengan sosok bidadari yang langsung memikat hatinya. Wanita cantik itu adalah Nada, dia cukup akrab dengan Ken dan Caca (adik-adik Ave) serta Bila (sepupu Ave). Selama ini Ave tidak pernah bertemu dengan Nada secara langsung karena ia kerap menolak jika diajak oleh Mamanya untuk berkunjung ke Malang ke rumah Eyangnya. Kini barulah Ave menyesal mengapa ia dulu selalu menolak ajakan itu, padahal kalau tahu ada wanita secantik Nada di Malang, pasti sudah dari Dulu Ave mau ikut.

Setiap kali Ave bertemu Nada pada pertemuan yang tak terduga, Ave selalu terkesima sampai bengong tak bersuara. Ia seperti orang bodoh yang hanya bisa melamun tanpa menyadari keadaan di sekelilingnya. Sejak saat itu Ave sangat menginginkan Nada. Ave ingin Nada menjadi miliknya. Berhubung Ave sangat dekat dengan Bila–meski Bila itu super cerewet di matanya–tetapi demi pendekatan kepada Nada, ia ingin minta bantuan Bila untuk mencomblangkan, atau lebih tepatnya membantu mempertemukan Ave dengan Nada berdua saja. Selanjutnya biarlah Ave yang beraksi sendirian.

Ketika Ave berhasil duduk berdua dengan Nada di sebuah tempat makan, Nada justru menghindar. Di kesempatan lain saat Ave mengajaknya kembali pergi bersama, jawaban Nada justru mengejutkannya: “kita bukan muhrim”. Ave terkejut. Bagaimana bisa Nada bicara demikian padahal selama ini Nada selalu terlihat sangat mesra ke mana-mana dengan Andra pakai motor?

Tunggu, siapa Andra sebenarnya? Mengapa Nada bisa begitu membatasi diri terhadap Ave yang bukan muhrimnya? Bisakah Ave menaklukan hati Nada? Mampukah Ave menjadi calon imam untuk Nada padahal umur mereka masih 20 tahun dan masih sama-sama duduk di bangku kuliah?

LET’S PEEL IT…

Waktu pertama kali melihat penampakan novel ini yang kupinjam dari teman, saya nggak nyangka kalau ternyata novelnya cukup tipis–nggak sampai 200 halaman. Padahal dulu saya mengira akan sama tebalnya atau bisa lebih tebal dari pada novel Bila: Pada Akhirnya Aku Memilihmu. Setelah saya baca, kesan yang paling melekat di benak saya cuma satu: all about a happy ending story.

Kalau dari tema ceritanya, sebenarnya ini adalah tema yang sangat memungkinkan bagi para anak muda yang masih menjomblo jadi pada baper. Novel ini menstimulasi imajinasi pembaca jomblo tersebut untuk berharap agar mereka juga bisa mengenal pria seperti Ave yang berani membuktikan bahwa ia tak main-main dengan anak orang. Saya jadi mikir deh, masih ada nggak ya cowok seperti Ave yang berani melangkah demikian? Ada sih, tuh contohnya kayak anaknya si ustaz kondang itu. Tapi, pasti jarang banget ada cowok ‘biasa’ yang seperti Ave.

“Siapa bilang menikah muda itu enak dan menyenangkan? Katanya ada hal yang busa dibanggakan, jika kita sudah memiliki pasangan di saat yang lain masih sendiri. Menurutku semua itu tidak seratus persen benar, masih ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menikah di usia muda. Setiap hal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan hal tersebut.” — Ave (hlm. 131)

Melalui cerita Ave dan Nada, penulis ingin menyampaikan pesan tentang konsekuensi dari menikah muda supaya para anak muda tidak gegabah untuk memandang pernikahan di usia belia adalah suatu kebanggaan. Karena pada nyatanya hidup dalam sebuah pernikahan di usia muda, terlebih jika seperti Ave dan Nada yang masih sama-sama kuliah, itu bukan hal mudah untuk dijalani meski pun Ave sudah punya usaha sendiri yang masih kecil-kecilan. Semua harus mandiri meski masih dapat asupan dari orangtua untuk biaya pendidikan.

Cerita Ave dan Nada dituturkan dengan POV 1 dari sudut pandang Ave. Ada bonus POV Nada kok di halaman paling belakang. 😀 Saat membaca ini, saya seperti kembali membaca novel Bila karena di novel Bila juga memakai POV 1 dari si tokoh utama Bila. Apakah Mbak Alya memang nyaman dengan cara bercerita yang demikian? Memang sih keuntungan POV 1 adalah kita bisa lebih mengetahui isi hati dan jalan pikiran si tokoh utama ini. Tetapi justru akan ada banyak pertanyaan menggantung pula terhadap tokoh lainnya. Misalnya saja pada Nada dan Andra. Sebenarnya aku berharap bisa membaca cerita dari Mbak Alya dengan POV 3. Hehehe.

Cukup cepat untuk menyelesaikan cerita di novel ini karena ukuran tulisan di tiap lembarnya memang lumayan besar. Gap pada plotnya juga sangat renggang mejelang akhir buku dan cepat berganti dengan rentang waktu yang disingkat-singkat. Selain karena gap plot yang banyak kosong, mungkin ini juga penyebab mengapa novel ini tidak sampai 200 halaman: saya tidak merasakan konflik yang mencolok yang bisa dikatakan benar-benar jadi masalah pelik dalam hidup Ave dan Nada atau pun antara Ave dan keluarganya. Sebagai pembaca, saya kurang bisa ikut menjiwai kepelikan hidup Ave dan Nada karena bisa dibilang semua itu hanya muncul sekilas dan tidak alot.

Saran saya, lebih baik baca novel Bila dulu baru baca Calon Imam karena ada nama yang akan dirasa asing jika belum membaca Bila. Misalnya ada nama Fa yaitu teman Bila sejak kecil yang memutuskan menikah duluan dengan wanita lain padahal Bila sudah lama suka padanya. Novel ini sangatlah berkesinambungan dengan Bila. Bahkan timeline-nya juga sangat mengikuti alur di novel Bila. Beberapa bagian di novel ini saat menyangkut-pautkan Bila dan Daffa, otomatis saya jadi teringat scene apa yang ada di novel Bila.

Beberapa hal di novel ini yang jadi issue tersendiri buat saya yaitu:

1. Mengapa memilih nama panggilan Ave? Di review novel Bila, awalnya saya sempat salah mengira Ave itu wanita, lho. Tapi saya baru nyambung saat Ave bilang kalau dia naksir sama Nada. Oh, berarti Ave adalah nama lelaki. Saya membayangkan, mungkin nggak cuma saya–pembaca yang langsung baca versi buku, tanpa tahu dulunya ini pernah ditulis di wattpad–yang keliru dan salah tanggap soal nama ini. Ave itu mengingatkan saya pada sebuah judul lagu “Ave Maria”. Makanya langsung mengira Ave itu wanita. 😛

2. Sehubungan dengan POV 1 sebagai Ave yang digunakan oleh penulis, saya merasa sisi kewanitaan si penulis masih tertumpah jelas pada diri Ave, padahal Ave adalah lelaki. Mungkin ini salah satu kelemahan untuk setiap penulis perempuan yang membuat POV 1 dari tokoh lelakinya secara penuh. Jika tidak benar-benar jeli, maka si tokoh lelakinya jadi terasa agak aneh. Terlebih karena Ave adalah anak tertua di keluarganya tapi dia justru suka merengek, manja dengan mamanya, suka curhat dengan papanya soal cinta, dan sama cerewetnya kayak Bila. Buat anak cowok, kayaknya curhat cinta sama bapak sendiri rada gimana gitu ya? Cowok tu biasanya buat ngomongin cewek dengan sesama teman cowok aja males bahasnya, apalagi mau curhat sama orangtua. Meski lelaki, kayaknya karakter Ave memang aslinya manja. Dia bisa merengek kayak anak kecil kepada orangtuanya, bahkan Andra pun mengatainya anak manja. Kok ya bisa anak seperti Ave ini membuat keputusan mencengangkan untuk segera melamar anak orang? :O

3. Masih sama seperti di novel Bila. Berhubung mereka ini masih dalam ikatan kekeluargaan, ada banyak nama yang muncul. Papa ini, Mama itu, Tante ini, Om itu, saudara ini, sepupu itu. Saya agak sulit membayangkan dan mengingat status mereka semua. Mungkin alangkah lebih baik jika penulis menyediakan bagan atau silsilah keluarga di buku ini sehingga bisa dimengerti secara lebih jelas dan seksama. 😀

Anyway, novel ini adalah kombinasi yang pas untuk melengkapi kisahnya Ave yang sempat disinggung di novel Bila. Intinya sih, mending baca novel Bila dulu, baru deh Calon Imam. Kalau sudah baca Bila, jangan sampai ketinggalan baca Calon Imam juga, karena pasti nggak afdal kalau nggak ikutan menilik kisahnya Ave sama Nada yang tahu-tahu malah ‘nikung’ Bila. 😄

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

2 thoughts on “[Review] Calon Imam: Kebetulan itu Tidak Pernah Ada by Laini Laitu

  1. kok kayaknya bakalan bikin nangis yah ini buku haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s