[Review] Being Henry David by Cal Armistead

img_20161117_203702

Judul: Being Henry David
Penulis: Cal Armistead
Penerbit: Spring
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penyunting: Novianita
Proofreader: Seplia
Layour Cover: @teguhra
Tebal: 279 Halaman
Cetakan: Pertama
Terbitan: September, 2016
ISBN: 978-602-71505-7-7

BLURB

‘Hank’ tersadar di Stasiun Penn, New York tanpa ingatan. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu tidak tahu namanya, siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah sebuah buku berjudul ‘Walden’ karya Henry David Thoreau yang ada di tangannya. Menggunakan buku itu, ia mencoba mencari jati dirinya. Dapatkah ia mengingat kembali siapa dirinya?

Atau lebih baik ia tidak mengingatnya sama sekali?

REVIEW

Saat terbangun di Stasiun Penn, ‘Hank’ tidak bisa mengingat siapa dirinya, siapa namanya, bagaimana wajahnya, dari mana asalnya, di mana rumahnya, dan mengapa dia ada di sana? Ia sama sekali tidak ingat apa-apa. Yang ia punya hanya pakaian yang dikenakannya, uang sejumlah $10 di kantungnya, dan sebuah buku berjudul ‘Walden’ yang tergeletak di dekat bangkunya.

“Orang lain mungkin akan menyerah, melangkah pergi dan membeli buku. Tapi, orang lain tidak muncul begitu saja di sebuah stasiun kereta tanpa kartu identitas dan barang bawaan. Tanpa ingatan, bahkan tanpa sebuah nama. Hanya ada sebuah buku. Buku yang mungkin mengandung petunjuk…” – hlm. 8

Ia mengasumsikan buku itu adalah miliknya karena sedang berada di dekatnya. Hank mengira bahwa mungkin di buku itu bisa ditemukan petunjuk tentang dirinya. Meski sempat bergulat untuk merebut buku itu dari orang gila di Stasiun Penn, Hank berhasil mendapatkannya lagi.

“Bagiamana jika ingatanku tidak pernah kembali? Kurasa aku punya dua pilihan: Menciptakan hidup tanpa masa lalu, memulainya di sini dan sekarang. Atau pergi ke Departemen Polisi Concord dan menyerahkan diri.” – hlm. 151

Apa saja yang ia lalui selama ia lupa ingatan? Akankah ia berhasil mengingat kembali jati dirinya?

LET’S PEEL IT…

“Amnesia bisa disebabkan oleh trauma fisik seperti pukulan di kepala, kata buku-buku ini. Atau, akibat trauma emosional. Seperti jika ada sesuatu yajg benar-benar buruk terjadi, terlalu traumatis untuk dihadapi, otakmu memblokirnya. Otak melindungi dirinya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan diri. Keren sekaligus aneh, kalau dipikir-pikir.” – hlm. 150

Sejak kalimat pertama, aku bisa langsung merasakan diriku ikut masuk sebagai lelaki amnesia ini yang awalnya menamai dirinya sebagai Henry David–nama itu ia ambil dari nama pengarang buku ‘Walden’ yang sejak tadi dipegangnya. Penggunaan POV 1 di mana penulis sebagai ‘aku’ memang sangat tepat untuk novel ini.

Uniknya, ada tokoh orang gila bernama Frankie yang berkeliaran di Stasiun Penn dan ia suka memakan barang-barang tak lazim, salah satunya seperti kertas pada buku ‘Walden’ itu. Henry berusaha keras untuk mendapatkan kembali bukunya yang direbut paksa dan dimakan oleh Frankie. Yang aku herankan, kenapa Frankie dibiarkan saja berkeliaran di tempat umum kalau keberadaannya sangat mengganggu bahkan bisa merugikan para pengunjung atau penumpang? Padahal banyak polisi berjaga di sekitar stasiun itu.

“Kenangan terlarang terakhir meledak dalam diriku seolah aku menginjak ranjau.” – hlm. 243

Sebuah perjalanan yang sangat kunikmati bagaimana Hank melewati masa-masanya sebagai orang tanpa identitas. Lebih dipersulit keadaannya ketika ia tak bisa mengingat apa pun tentang dirinya. Sebagai remaja yang rawan dengan rasa bimbang dan niat kabur sebagai pelarian, aku juga mampu merasakan itu semua.

“Aku adalah orang yang paling palsu, berlari ratusan kilometer dengan sepatuku untuk melarikan diri, bermain gitar hingga jari-jariku yang kapalan pun berdarah, karena itu juga sebuah pelarian. Dari luar, aku anak yang sempurna seperti patung pualam yang sempurna, tenteram, dan tidak nyata. Di dalam, isinya ular-ular dan belatung-belatung dari pecahan kaca.” – hlm. 193

Setelah membaca ini aku jadi menyadari bahwa sebuah buku milik Hank yang berjudul ‘Walden’ karya Henry David Thoreau itu sebenarnya ibarat secercah sinar terang dalam hidup Hank yang saat itu gelap dan tak ingat apa-apa. Melalui bait-bait dari Thoreau itulah yang dapat menuntun Hank menemukan jalannya sendiri. Penulis tidak serta merta langsung memberi petunjuk gamblang pada Hank untuk menemukan jalan pulangnya.

“Memilih hidup berarti menghadapi rasa sakit dan aku tidak cukup kuat. Kematian adalah akhir, pelarian pamungkas bagi kita yang berada dalam pelarian. Jadi inilah akhirnya: berpegangan pada batu dan hidup. Atau melepaskan dan mati.” – hlm. 272

Ending yang cukup menyentuh, menurutku. Hanya saja terasa begitu cepat terselesaikan. Tadinya aku mengharapkan ada scene yang lebih dramatis, tapi ya tidak apa-apa. Tetap ada kesan khusus yang melekat di benakku melalui jalan ceritanya. Melalui kisah ini aku seperti berkaca tentang diriku pada 6 atau 7 tahun yang lalu. Suddenly I shed my tears when I remember all those hard times.

Thank you, Hank, for your memorable story!

OVERALL RATING
★★★☆☆ 

Advertisements

3 thoughts on “[Review] Being Henry David by Cal Armistead

  1. ceritanya agak-agak berfilsafat, tapi dengan gaya remaja… suka dengan novel ini

    Like

  2. Penasarann :3

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s