[Review] (Never) Looking Back by Elvira Natali

NOvel (Never) Looking Back karya Elvira Natali

Judul: (Never) Looking Back
Penulis: Elvira Natali
Penerbit: GagasMedia
Editor: Tesara Rafiantika
Penyelaras aksara: Putra Julianto
Desainer sampul: Agung Nugroho
Tebal: viii + 272 Halaman
Cetakan: Pertama
Terbitan: Jakarta, 2016
ISBN: 978-979-780-867-9
Genre: Romance

BLURB

Si Casta bersahabat sejak kecil dengan Kevin, lalu menjadi sepasang kekasih ketika mereka remaja. Namun, keduanya berpisah untuk mengejar mimpi masing-masing. Mereka bertemu kembali ketika keduanya sudah mapan dengan mimpi mereka dan memiliki pasangan baru. Kevin sudah memiliki Misca dan Casta sudah memiliki Philip, seorang seniman patung pasir. Mereka ada dalam pertaruhan hati; apakah akan terus menjaga cinta mereka dengan pasangan yang baru atau kembali menjalin cinta lama. Di sanalah keteguhan hati mereka diuji.

Casta dan Philip bertemu di sebuah toko souvenir di London. Akhirnya, mereka berteman dan saling memercayakan kisah hidup mereka. Kehilangan di masa lalu menjadi persamaan mereka untuk saling menguatkan.

(Im)Perfection adalah kisah tentang bagaimana seseorang yang bersungguh-sungguh berusaha akan dapat menggapai mimpinya. Juga bercerita tentang cinta sejati akan selalu memaafkan dan menerima. Tentang hati yang selalu mencoba bersetia, tetapi selalu saja ada hal yang mematahkannya. Tentang cinta yang sulit sekali ditebak dan dicari ujungnya.

REVIEW

“Karena satu hari bersamamu jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain.” — Phillip (hlm. 103)

Sebagai seorang desainer yang sangat sukses di negeri orang, Casta Abigael sungguh menikmati hidupnya berkarya di Paris meski semua pekerjaan itu menyita waktunya. Terlalu menikmati rutinitas padatnya, Casta hampir tak punya waktu untuk sekadar berkencan dengan lelaki mana pun. Sampai suatu ketika sebuah kesalahan kecil di sebuah toko di London yang berhasil mempertemukan Casta dengan Philip Bouvier, seorang seniman Pasir dari Paris. Kantung belanjaan mereka tertukar dan terdapat barang-barang penting Casta di kantung belanjaan tersebut. Berbagai upaya Casta lakukan agar dapat menemukan si pemilik kantungnya agar ia mendapatkan kembali barang-barangnya.

Bagi Casta, Philip adalah lelaki menyebalkan karena mengacaukan harinya oleh keteledorannya yang telah mengambil kantung belanjaannya. Tetapi Casta akhirnya tak bisa menyangkal bahwa terdapat sisi manis dari Philip yang tulus membantunya meski ia selalu marah-marah padanya. Sedangkan bagi Philip, Casta adalah perempuan mungil yang sangat cerewet namun mampu membuat hari-harinya kembali berwarna setelah selama ini ia sangat menutup diri dari trauma masa lalu.

“Awalnya, aku merasa dunia begitu kejam, tapi lambat laun aku mengerti. Di dunia ini kita tidak bisa menghindari apa pun, termasuk masalah dan duka. Ketika itu terjadi, kita hanya perlu menerima. Karena hal-hal tersebutlah yang akhirnya mendewasakan pribadi setiap manusia. Jadi, tak perlu sedih dan menyesal berlarut-larut. Yang sudah terjadi, biarlah menjadi pelajaran berharga.” — Casta (hlm. 97)

Kedekatan Casta dan Philip makin menjadi pasca Casta mau menghadiri undangan pameran dari Philip. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, banyak obrolan yang mereka bahas, banyak tawa canda yang mereka bicarakan. Rasa nyaman yang saling mereka berikan satu sama lain membuat mereka sama-sama bingung, apakah ini rasa nyaman sebagai sahabat atau lebih?

Hingga akhirnya teman masa kecil Casta, Kevin Ivander, datang menemui Casta di kantornya. Sebuah reuni yang sangat tak terduga dan membuat rindu yang selama ini tertahan makin membuncah. Mereka terbawa suasana, mereka melupakan siapa sesungguhnya mereka? Dan malam itu menjadi awal mula bagi kekacauan hidup Casta selanjutnya…

Jadi, bagaimana hubungan Casta dengan Philip selanjutnya? Apakah pertemuan Casta dan Kevin berpotensi menjauhkan Casta dari Philip? Akankah Casta kembali lagi dengan Kevin meski Kevin sudah bertunangan dengan Misca?

LET’S PEEL IT…

Kalau di post sebelumnya saya memang nggak bahas lebih detil tentang novelnya karena post utamanya memang harus membahas tentang hal lain, tidak terpaku pada review saja. Maka saya bikin post baru yang khusus membahas kelebihan dan kekurangan novel NLB ini. Check it Out!

Tadinya saya mengira kalau novel ini akan kental dengan tema persahabatan, tetapi untungnya tidak. Di sini memang lebih terfokus pada kisah Casta sebagai desainer yang jarang dekat dengan lelaki mana pun. Namun pertemuannya dengan Philip justru dapat mengubah hari-harinya dan sifatnya yang selama ini mandiri malah jadi sering ketergantungan pada Philip. Saya pun tadinya mengira Kevin–sahabat kecil Casta–yang sempat disebut di epilog akan ambil banyak bagian di novel ini. Oh, ternyata saya lagi-lagi salah. Meski begitu, jalan ceritanya tidak membuat saya kecewa karena saya lebih suka dengan kehadiran Philip dibanding Kevin. 😀

Alur ceritanya berjalan cukup cepat karena ada beberapa bagian yang memang tidak dijelaskan secara rinci oleh penulis, melainkan hanya sekilas pernah diucapkan oleh Elsa, sahabat Casta. Tapi, gap plotnya tidak terasa senjang karena penulis mampu menutupi hal itu dengan keunikan lain misalnya kelucuan karakter Ed–teman sekaligus penjahit andalan Casta–yang sempat membuat saya tertawa. Di beberapa bagian juga terdapat punch line jokes yang bikin saya tergelak sendiri. Ya, hanya beberapa, meski tidak banyak tapi itu cukup menghibur.

Diksi yang digunakan oleh Elvira Natali sangat mudah dicerna dan dibayangkan. Ia pun pandai mendeskripsikan keadaan sekitar si tokoh utama dengan baik dan tidak berlebihan karena peran penulis di sini adalah sebagai POV 3. Tetapi hal yang agak disayangkan adalah tidak adanya catatan kaki atau arti dari bahasa Perancis yang ditulis di sana. Mungkin saja bagi sebagian orang kata-kata itu adalah kalimat umum, tapi saya sangat awam dengan bahasa Perancis sehingga tidak mengerti apa arti dari kalimat yang tokohnya ucapkan dalam bahasa tersebut.

Saya sangat menikmati keseluruhan ceritanya. Saya suka karakter dari tokoh-tokohnya seperti Elsa yang sangat fokus dan pekerja keras terhadap karirnya sebagai desainer terkenal di Paris, seperti Philip yang sangat baik dan perhatian minta ampun terhadap orang-orang yang menang ia sayangi, seperti Elsa yang sama tak kalah care-nya dengan Casta sebagai sahabat sekaligus teman satu flat, seperti Ed yang saya sama sekali tidak menyangka kalau dia ternyata seperti itu haha. Saya suka lelucon yang diselipkan penulis, saya suka cara penulis menuturkan ceritanya sehingga sangat mudah diserap oleh imajinasi saya, dan saya juga suka dengan ending yang disuguhkan.

OVERALL RATING
★★★★☆


PS: kalau kamu mau dapetin novel ini secara gratis, masih berlangusng giveaway-nya di blog saya di sini. Hanya berlangsung hingga 27 November 2016. Silakan ikuti giveaway dari blog lain juga untuk memperbesar kesempatanmu menang. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s