[Review] Fated Love: Age is Just A Number by Yulia Ang

p_20161027_121530_1-600x666

Judul: Fated Love
Penulis: Yulia Ang
Penerbit: Ellunar Publisher
Penyunting: Nasaul Lauziah Safitri
Penata Letak: M. Nasihin
Pendesain Sampul: M. Nasihin & Hanang Norenza Putra
Cetakan: Pertama
Terbitan: Agustus 2016
Tebal: ix + 353 Halaman
ISBN: 978-602-0805-70-2
Genre: Romance

BLURB

Apa yang terjadi jika kamu mencintai laki-laki yang sepuluh tahun lebih muda darimu? Cellonita Clara adalah pegawai hotel yang harus berada dalam situasi tersebut. Ia dipertemukan dengan seorang pemuda SMA bernama William Albert―alias Will, yang notabene adalah seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat. Belenggu cinta tak dapat dihindari oleh kedua insan tersebut. Mereka memadu kasih layaknya pasangan-pasangan lain. Hingga tanpa disadari, masalah demi masalah  datang bertubi-tubi menghadang hubungan percintaan mereka. Belum lagi mengenai Adam―sahabat baik Cello yang belakangan memendam perasaan pada sang karib. Lalu, akankah Cello mempertahankan hubungan cintanya dengan Will yang penuh dengan masalah pelik? Atau, akankah ia berpaling pada Adam, sahabat yang sangat disayanginya? Ke manakah sang takdir akan membawa cinta ketiganya?

REVIEW

“Positive thinking itu bagus. Tap kalau bukti sudah di depan mata, mana bisa berpikir positif? Itu namanya bodoh!” – Adam (hlm. 38)

Menjadi seorang pegawai sebuah hotel sebagai seorang resepsionis, seorang wanita cantik berusia 28 tahun bernama Cello itu dituntut untuk mempunyai kepandaian berbahasa Inggris yang baik. Hal itu menarik perhatian Nyonya Angela yang saat itu tak sengaja mendengar percakapan Cello dengan seorang pengunjung dengan menggunakan bahasa Inggris. Tanpa pikir panjang, Nyonya Angela meminta Cello menjadi guru privat bahasa Inggris untuk anaknya, Will, dan tentunya dengan upah yang menggiurkan.

Will adalah anak sematawayang dari keluarga Wisnuhutama. Keluarga konglomerat dengan bisnis yang sangat sukses. Nyonya Angela selaku ibunya Will merasa malu karena laporan nilai anaknya itu di sekolah sungguh memprihatinkan untuk pelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itulah Nyonya Angela meminta Cello untuk membimbing Will karena sekarang Will sudah berada di kelas XII dan akan menghadapi final exam.

Sebagai pria yang masih berusia 18 tahun, terkadang masalah cinta masih terasa sangat kabur, tetapi tidak bagi Will. Ia sudah mengalami cinta pada pandangan pertama pada Cello. Meski ia tahu wanita itu lebih tua 10 tahun darinya, tetapi itu tidak menyurutkan perasaannya. Will tidak menyerah hingga akhirnya ia berani menyatakan cintanya pada Cello.

Rasa sayang terhadap sahabat tidak mungkin datang bersama dengan kecemburuan. Sebaliknya, rasa sayang datang dengan kecemburuan adalah perasaan cinta pada orang terkasih. — (hlm. 76)

Namun, hubungan Will bukannya tanpa halangan. Masih ada Adam, yaitu sahabat lelaki terbaik yang dipunyai Cello. Selama ini status mereka memang hanya sebagai sahabat, sampai akhirnya Adam menyadari perasaan yang berbeda terhadap Cello bahwa rasa itu bukan lagi sekedar sahabat. Adam sangat cemburu melihat kedekatan Cello dengan Will. Tapi, apa yang bisa diperbuatnya saat ia melihat pancaran kebahagiaan di mata Cello saat bersama Will?

“Persahabatan laki-laki dan perempuan itu ujung-ujungnya pasti akan tumbuh benih-benih cinta.” — Aira (hlm. 96)

Benarkah cinta Will pada Cello adalah cinta sejati, bukan cuma cinta monyet? Apakah perjalanan cinta mereka akan mulus atau putus di tengah jalan? Bagaimana dengan Adam dan cinta tulusnya pada Cello? Siapakah yang akan dipilih Cello pada akhirnya, Will atau Adam?

“Usia hanyalah sebuah angka. Kematangan serta kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari usianya. Sesungguhnya bagaimana dia bersikap, bagaimana dia berkata, dan bagaimana dia memperlakukanmu, itu yang bisa mengukur kedewasaan seseorang.” — Aira (hlm. 81)

LET’S PEEL IT…

Ada total 17 bab di novel ini, sudah termasuk prolog dan epilog. Hal pertama yang saya sayangkan adalah prolognya. Mengapa hasil akhirnya harus langsung terjawab melalui prolog tersebut? 😦 Padahal kalau prolognya bukan tentang ‘itu’ saya rasa akan jadi lebih seru sehingga pembaca masih akan menebak-nebak dengan siapa akhirnya Cello berlabuh. Tapi dengan adanya prolog tersebut ya sudah pasti ketahuan kalau jawabannya dengan orang itu.

“Sebenarnya, cinta itu tidak rumit. Manusialah yang membuatnya rumit. Cinta itu sederhana saja. Ia hanya perlu tahu.” — Asisten Kim (hlm. 87)

Hal kedua yang saya sayangkan adalah dari bab 1 hingga bab 9, pace-nya lambat sekali. Harus menunggu agak lama untuk menemukan ‘tendangan mematikan’ sampai akhirnya saya nggak rela menutup buku ini. Sejak awal hingga bab 9 itu hampir semuanya predictable. Itu juga yang sempat menghambatku untuk menuntaskan novel ini dengan segera. Tetapi, sejak masuk bab 10 justru semuanya jadi makin menarik. Banyak hal-hal yang tadinya tidak saya duga justru ada di sana. Dan yang paling unexpected adalah ketika Cello diterima kerja di kantor barunya dan saat ia langsung menemui presdirnya itu lho. Astaga, itu bener-bener bikin saya sampe melompat dari kasur saking kagetnya dengan fakta yang ada. 😄 *kamu akan tahu apa yang saya maksud saat kamu membacanya*

“Oh, dan jangan lupa pikirkan juga bagaimana perasaanmu terhadap mereka berdua. Apa hatimu berdebar, atau jantungmu serasa mencuat, dan apa kau merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutmu jika sedang menghadapi mereka? Kau juga harus ambil sikap. Jangan menyia-nyiakan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus.” — Aira (hlm. 97-98)

Sekilas jika mengulas kembali keseluruhan cerita novel ini, saya merasakan aura-aura drama 꽇보다 남자 alias Boys Before Flowers tetapi dengan kemasan yang berbeda. Garis besarnya hampir mirip ya. Misalnya si lelaki adalah anak konglomerat, si lelaki punya asisten keluarga yang sangat baik dan bijaksana, si wanita dari keluarga yang biasa-biasa saja, dan ibunya si lelaki ini tidak menyetujui hubungan si anak dengan wanita biasa itu. Tapi tentu saja Nyonya Angela tidak sesadis ibu Goo Jun Pyo di drama BBF. 😀

“Ya… itulah namanya cinta. Cinta tidak membutuhkan alasan. Cinta juga tak mengenal usia, waktu, dan tempat. Dia hanya datang begitu saja saat takdir sudah memutuskan.” — Aira (hlm. 124)

Berhubung Cello sangat suka dengan hal yang berbau Korea, di beberapa kesempatan Cello sering berbicara dengan menyisipkan bahasa Korea yang sederhana. Tenang saja, hal itu disertai juga dengan catatan kaki. Menariknya, tidak hanya arti saja yang tertulis di catatan kaki itu, melainkan juga versi tulisan 한글 (hangeul)nya seperti 안녕하세요, 괜찬습니다, 고마워, 누나, 형, 아저씨, 대박, 뭐라고?, 왜요?, 차장님, 저는 김지루입니다, dan sebagainya. Oh ya, saya mau koreksi sedikit, dalam penulisan hangeul antara subjek dan akhiran -입니다 harusnya disambung, tidak pakai spasi.

Karakter tokohnya sudah cukup kuat. Cello adalah sosok wanita yang baik, penyabar, perhatian, tidak egois meski sendirinya harus merasa tersakiti. Will adalah teenager yang tidak terlihat seperti pria di usianya, yaitu bukan tipe lelaki yang suka mempermainkan hati wanita sekali pun ia tampan dan kaya raya. Adam adalah sahabat yang setia dan lebih mementingkan kebahagiaan orang yang disayanginya meski rasa cemburunya sering membuncah, kadang ia jadi kekanakan saat meladeni Will.

Kalau ditanya siapa tokoh favorit saya di novel ini, saya akan jawab Adam. Entahlah ini antara rasa menyukai atau empati terhadap Adam. Tapi jika saya membayangkan berada di posisi Adam, tentu harus punya ketulusan dan kesabaran yang sangat besar untuk tetap mencintai orang yang kita tahu sebenarnya hatinya tidak pernah untuk kita. It’ll hurts so much.

“Siapa yang bisa mencegah cinta yang masuk ke dalam hati seseorang kalau itu memang sudah takdirnya? Cinta itu datang tanpa melihat siapa kita, berapa usia kita, dan dengan siapa kita akan menjalaninya. Dia hanya datang begitu saja.” — Pak Hendratmo a.k.a Ayah Cello (hlm. 214)

Saya jadi menyimpulkan kalau tokoh Cello kayaknya merupakan representasi si penulis banget ya, bener nggak nih? Hehehe. Seperti kecintaannya pada Korea, suka banget nonton drama seri Korea, sering nyelipin kata-kata berbahasa Korea saat berbicara pada teman, dan lain-lain. Akhirnya saya pun merasa novel ini memang lumayan kuat aura dramanya. Tapi tetap menarik kok, terutama sejak masuk bab 10. Cuma disayangkan di bagian-bagian awal kurang ada gregetnya. Semoga di karya selanjutnya si penulis bisa langsung memberi ‘tendangan’ di awal dan tanpa ada spoiler yang mewakili ending cerita.

Kamu suka tema roman? Kamu suka nyelip-nyelipin bahasa Korea juga? Kamu suka nonton drama serial? Kamu juga nggak mempermasalahkan tentang cewek yang menjalin cinta dengan cowok yang lebih muda, kan? Ya udah, berarti bacaan ini cocok deh buat kamu. 😉

OVERALL RATING
3,5 / 5 Stars
Sengaja kali ini rating-nya nggak pake lambang bintang, soalnya nggak bisa bikin bintang yang nilai setengah itu haha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s