[Review] Guilty Pleasure by Christian Simamora

img_20170119_183100_207

Judul: Guilty Pleasure
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: GagasMedia
Editor: Alit Tisna Palupi
Proofreader: Jia Effendi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desainer cover: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi: Levina Lesmana
Ilustrasi paperdoll: Levina Lesmana & Bening
Cetakan: Pertama
Terbitan: 2014
Tebal: xiv + 410 Halaman
ISBN: 978-979-780-713-4
Genre: Contemporary Romance

BLURB

“Berhentilah mencari laki-laki untuk membuatmu bahagia.
Mulailah menjadi perempuan bahagia yang dicari laki-laki.”


Dear pembaca,

Sebelumnya, aku minta maaf karena terpaksa mengakui kalau cerita ini dimulai dengan adegan paling klise di sepanjang sejarah fiksi: tabrakan. Pembelaan dariku hanyalah, saat menuliskannya di bagian awal cerita, entah kenapa aku yakin sekali ini cara paling pas untuk mempertemukan Julien dan Devika, mengingat keduanya berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda.

Guilty Pleasure adalah sebuah cerita, yang tentu saja terasa sangat sederhana kalau dibandingkan dengan rumitnya hubungan percintaan di dunia nyata. Novel ini bercerita tentang keraguan; bisakah kamu memercayakan masa depan di tangan orang yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya?

Bolehkan aku bertanya sekarang, apakah bacaan yang seperti ini yang sedang kamu cari? Kalau benar begitu, aku bersyukur sekali bisa mempersembahkan cerita ini untukmu. Selamat membaca dan, seperti biasa…

selamat jatuh cinta.

CHRISTIAN SIMAMORA

REVIEW

Devika Kirnandita—atau yang lebih sering disapa Dev saja—is a TV bitch who loves to drinks americano. Kenapa dia disebut TV bitch? Itu karena dia selalu mendapatkan peran antagonis di berbagai FTV, sinetron, dan film yang ia bintangi. Dev juga paling suka minum kopi jenis americano. Di Jakarta, ia tak tinggal sendirian di apartemennya, melainkan bersama Renhart Rumahorbo yang merupakan besties (bestfriend with testicles) sekaligus manajernya sendiri. Renhart yang biasa dipanggil Ren ini adalah lelaki bertubuh macho tetapi tidak selera sama sekali dengan wanita alias dia adalah gay. Oleh karena itulah Dev tidak masalah harus tinggal satu atap dengan Ren selain karena supaya ia tidak merasa kesepian jika tinggal sendirian.

Semua cewek straight BUTUH sahabat gay. Pengalaman membuktikan, berteman dengan sesama cewek jauh melelahkan—ya drama, ya kemungkinan perasaan insecure dan sirik-sirikan, belum lagi aturan tak tertulis di dunia cewek yang segambreng banyaknya. – (hlm. 186)

Suatu hari saat Dev sedang menyetir mobil sambil menyesap americano favoritnya, ia tak sengaja menabrak sebuah mobil. Tanpa Dev sangka, ternyata si pemilik mobil itu ganteng pisan saat dia keluar dari mobilnya. Dev memperkirakan cowok itu seumuran om-om dan ternyata judes banget. Lelaki itu meminta pertanggungjawaban Dev karena telah merusak bagian mobilnya, lalu ia mengambil foto plat mobil Dev dengan kamera di handphone-nya untuk jaga-jaga kalau misalnya Dev mengingkari janji dan lari dari tanggungjawab. Ia juga menyerahkan sebuah kartu nama pada Dev dan meminta Dev untuk segera menghubunginya besok. Di kartu nama itu tertera nama Julien Ang dengan jabatan sebagai CEO sebuah perusahaan besar.

Tapi, sejujurnya, umur jelas nggak menggerus aura seksi yang menguar dari diri cowok itu. Dan saat dia menyebut seksi, bukan jenis kualitas fisik yang membuat kita cewek-cewek mengeluarkan air liur mupengsepertisaat melihat Zac Efron setengah telanjang, misalnya. Julien Ang seksi karena kematangannya. – (hlm. 79)

C’mon, it’s not like there is something wrong with you. Secara fisik, lo undeniably keren, selera berpakaian lo bagus, dan lo mapan—di dunia cewek, triple qualities begitu pasti tipe ideal banget deh!” – Dev (hlm. 98)

Setelah memenuhi sebuah perjanjian pertemuan demi urusan mobil di bengkel langganan Dev, mereka pun berpisah dan tak pernah bertemu lagi selama beberapa bulan. Sampai akhirnya secara tak disengaja Dev bertemu lagi dengan Julien saat mereka sama-sama mendatangi acara dari desainer Pamela Ang. Sejak pertemuan itulah semuanya berawal bagi Dev dan Julien selanjutnya. Mereka makin sering bertemu dan jadi dekat. Kedekatan itu pula yang menggiring mereka akhirnya mengetahui masa lalu masing-masing pasangan—Dev yang dicampakan dan Julien yang harus merelakan kekasihnya untuk selamanya. Lalu, siapakah di antara mereka yang masih belum bisa sepenuhnya melepaskan masa lalu? Bisakah salah satunya menerima kondisi tersebut atau malah mundur teratur?

“Gue bukan tipe pemaksa, Dev. Kalo lo nggak bales, gue asumsikan lo memang nggak tertarik untuk kenal gue lebih jauh. Somehow, gue bisa mengerti alasannya. Gimanapun juga, gue nggak bisa menyangkal, kalo perkenalan kita memang berawal dari sesuatu yang nggak baik.” – Julien (hlm. 99)

LET’S PEEL IT…

“Pada akhirnya, kita harus pasrah pada seperti apa pun kekurangan pasangan kita, Dev. Karena memang begitulah prinsipnya cinta.” – Mama Dev (hlm. 32)

Berdasarkan pengakuan dari si penulis sendiri yang ada di blurb, memang awal mula pertemuan Dev dan Julien itu klise banget. Tapi sebenarnya saya nggak terlalu mempermasalahkan ke-klise-an suatu tema cerita, asalkan si penulis bisa meramu sisanya secara jenius dan tetap menarik bagi pembaca. Untungnya, tabrakannya ini dibuat lebih elit dengan media mobil, bukan sekadar nggak sengaja nabrak di pengkolan trus buku yang dipegang pada berhamburan kayak anak sekolahan. That is definitely very last decade, yes? 😀

Yang cewek itu butuhkan tentu saja pasangan yang bisa mengimbangi kecerewetannya dengan sikap kalem dan karakter yang dewasa. Ditambah lagi, Julien mapan secara finansial—poin tambahan yang membuat cowok itu terlihat unggul dibandingkan, euh, mantan-mantan Dev sebelumnya. – (hlm. 221)

Guilty Pleasure alias GePe adalah novel seri #jboyfriend ke-5 (kalau nggak salah lho ya—setelah Pillow Talk, Good Fight, With You, dan All You Can Eat). Tetapi kalau untuk saya sendiri, novel ini malah jadi novel seri #jboyfriend ke-9 yang saya baca. To be honest, novel GePe masih kalah keren dengan seri #jboyfriend yang lain. Mungkin karena saya sudah baca duluan karya-karyanya Bang Ino yang lumayan baru-baru ini (setelah GePe) dan tentunya sudah lebih berkembang dan menarik daripada GePe yang terbilang udah nggak baru lagi. Bukannya nggak bagus, tapi yang saya rasakan adalah ceritanya nggak ngasih surprise apa-apa.

Baiklah, supaya lebih ringkas, maka saya akan jabarkan beberapa kelebihan dan kekurangan apa saja yang saya tangkap dari novel ini melalui poin-poin berikut:

(+) Seperti biasa, Bang Ino masih konsisten menghibur pembaca dengan gaya bahasanya yang lincah, lugas, dan bitchy. Sekali pun mungkin hal yang beliau bahas bukan dimaksudkan sebagai joke, tapi yang nyampe di saya malah jadinya guyon. Hehehe.
(+) Karakter Ren yang punya tubuh macho tapi malah suka manja-manjaan sama Dev itu unik banget. Cuma rada bingung aja ngebayanginnya. He’s a tough man with big muscles. Tapi kalau kelakuannya suka manja sama Dev seperti gegoleran di sofa ruang tengah saat nonton film bareng dan dia pandai banget soal milihin baju buat Dev kencan, duh, gimana gitu jadinya. Saya jadi ngebayanginnya seperti sedang melihat Aderai pake rok tutu. 😀
(+) Meski sempet kaget karena Bang Ino membuat karakter Julien dengan usia yang sudah berkepala empat, tapi sebenarnya hal ini bisa jadi kelebihan juga karena membuat image seorang #jboyfriend nggak selamanya harus yang muda dan hanya mau seneng-seneng aja sama ceweknya, tapi ada juga yang dewasa dan matang macam Julien ini.
(+) Riset si penulis untuk latar belakang profesi di bidang yang Julien tekuni itu saya acungi jempol. Pembaca nggak hanya tahu kalau Julien itu CEO, tetapi juga bisa lebih memahami bagaimana perusahaannya beroperasi hingga bisa sukses seperti itu.
(+) Bagian intimnya nggak se-mbleber seperti di novel bang Ino yang lain. Hihihi.

“Dan aku… aku nggak bisa melihat masa depan dengan orang yang jelas-jelas masih membiarkan kedua kakinya bertahan di masa lalu.” – Dev (hlm. 341)

“Aku nggak bisa menjanjikan sesuatu yang aku sendiri nggak yakin bakal bisa tepati…” – Dev (hlm. 342)

(-) Sebagian besar dari plot ceritanya sangat mudah saya tebak akhirnya akan jadi seperti apa.
(-) Tokoh utama pria ini nampaknya jadi kandidat #jboyfriend yang paling tua dengan umur 40 tahun. Please, Bang… kalau bisa, jangan ada lagi yang lebih tua dari ini. Cukup satu ini aja ya. It’s hard for me to imagine it. 😦
(-) Memang konfliknya itu terbilang sederhana yang bertumpu pada keraguan dari Dev atas nasibnya bersama Julien. Saya juga sempat sebal sama Dev yang nggak mau banget dengerin dulu penjelasannya Julien meski sedikit aja perihal kenapa Julien masih ‘begitu’.
(-) Penulis kurang menjelaskan mengapa Julien masing seperti ‘itu’ dalam menyikapi kenangan masa lalunya? Apakah karena ia masih mencintai kekasihnya yang dulu, atau karena ia belum rela mengikhlaskan, atau karena apa? Sampai ke akhir cerita pun saya masih meraba-raba sebabnya apa.
(-) Sejauh ini saya merasa kalau Bang Ino punya kelemahan saat menciptakan seorang tokoh antagonis. So far, dari semua karya Bang Ino yang sudah saya baca, saya menyimpulkan kalau Bang Ino jarang masukin tokoh antagonis di novelnya. Kalau pun ada—seperti Karina yang ada di novel GePe ini—kehadiran dan perannya sering nanggung banget. Nggak pernah benar-benar bikin saya sampe mau lempar granat ke rumah sebelah gitu *eh*. Setidaknya untuk Karina di sini dirasa mendingan. Memang sih kedatangan Karina itu cuma ada sekali di sini, tetapi dia bisa bikin punch line yang nusuk banget buat Dev di percakapan mereka.
(-) Terdapat satu bagian yang tidak konsisten, yaitu soal deskripsi fisik Hezekiel Rupawan—mantan pacar Dev—ditulis dengan kesimpulan yang berbeda di dua bagian terpisah. Misalnya di kutipan berikut ini.

Satu, cowok itu lebih pendek beberapa sentimeter daripada dirinya—dan dia nggak selera sama cowok pendek. – (hlm. 107)

Tetapi di halaman berbeda justru mengatakan hal yang sebaliknya. Seperti pada kutipan yang satu ini.

Karena perbedaan tinggi, Dev sampai harus mendongakkan kepala demi melihat senyuman cowok itu tersenyum di bawah penerangan fluorescent lampu di belakangnya. – (hlm. 353)

Kalau sebelumnya disebutkan bahwa Heze itu lebih pendek dari Dev, lalu mengapa di kutipan ke-2 itu Dev harus sampai mendongak karena perbedaan tinggi badan? Berarti di sini maksudnya Heze lebih tinggi dari Dev? Jadi, yang benar yang mana dong? 😕

Kalau soal chemistry di antara tokoh-tokoh buatan Bang Ino mah nggak usah diragukan lagi deh. Nggak hanya dari sepasang sejoli antara Julien dan Dev, tapi antara Dev dengan temannya seperti Ren, Rian, serta teman-temannya yang dari TEGG juga bisa akrab dan luwes banget. Penokohan masing-masing tokoh sudah sangat melekat yaitu kematangan sikap dan pembawaan dari Julien, kemandirian sekaligus kegengsian dari Dev, dan ke-bitchy-an dari Ren. 😀

Bagi siapa pun yang mengakui bahwa dirinya penggemar setia dari karya-karya Bang Ino, novel GePe udah pasti jangan sampai dilewatkan, karena Bang Ino selalu punya ide atau cara baru dalam mengemas cerita cinta dari tokoh-tokoh rekaannya. Bagi saya, membaca novel dari Bang Ino selalu bisa jadi hiburan yang menarik meski ceritanya cukup panjang dan dengan jumlah halaman yang tebal-tebal, tetapi saya tetap nyaman menikmatinya. 🙂

Some Favorite Quotes

“Gue nggak bermaksud untuk ngajarin lo, tapi saat lo punya cukup waktu untuk memupuk benci, gue nggak yakin lo punya cukup waktu untuk mencintai.” – Dev (hlm. 294)

“Dan satu hal lagi: mendiamkan masalah malah justru memunculkan masalah baru. Lo nggak mau itu sampai beneran terjadi kan, Dev?” – Rian (hlm. 334)

Cewek itu ibaratnya seperti kuda liar, kau nggak boleh terburu-buru menjinakkannya. Pastikan dia mendapatkan apa yang dimau dulu—kau pasti terkejut kalau sampai mengira yang dimaksud adalah cinta dan komitmen. Salah besar. – (hlm. 349)

“Kembali ke cinta lama tak ubahnya seperti berhadapan dengan pedang bermata dua. Tentu, ada kesempatan untuk bahagia. Tapi, di sisi lain, ada juga kemungkinan keputusan itu berubah jadi batu sandungan ketika mereka kembali dihadapkan pada prahara yang dulu membuat hubungan keduanya kandas di tengah jalan.” – presenter acara Gosok Sip (hlm. 357-358)

“Bukankah kamu sendiri dulu pernah berkata: ‘terkadang kita harus berani berkorban besar demi mendapatkan hal terbaik yang kita inginkan dalam hidup’?” – Julien (hlm. 374)

“Tapi, seandainya sesuatu yang buruk terjadi, kamu boleh pegang omonganku ini: kamu tak akan pernah merasa sendiri. Aku akan selalu ada untukmu. Aku rela menunggumu—because you’re the only one that worth waiting for.” – Julien (hlm.383)

But that’s a thing about it. Relationship bukan sekadar ikatan dua orang yang jatuh cinta, melainkan juga alasan untuk menolak menyerah saat keduanya menghadapi masalah.” – Ren (hlm. 388)

“Kamu adalah kekuatan saat lemahku. Kamu adalah cahaya saat gelapku. Bagiku, Dev, cintamulah alasan jantungku berdetak sampai sekarang.” – Julien (hlm. 398)

OVERALL RATING
💓💓💓🚫🚫

SEX-O-METER
👙👙🔞🔞🔞

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s