[Review] Troublemaker by Dhitapuspitan

Judul: Troublemaker
Penulis: Dhitapuspitan
Penerbut: KataDepan
Editor: Gita Romadhona & Adhistia
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer sampul: Daff Lesmawan dan Milfaa Saadah
Cetakan: Pertama
Tebitan: 2016
Tebal: iv + 256 Halaman
Genre: Romance

BLURB

Bagi Derin, jatuh cinta nggak segampang meng-capture gambar lewat kamera. Tidak juga selalu manis dan renyah seperti potongan cheese cake yang selalu dia suka. Cinta ternyata tidak selalu menyenangkan seperti dalam kisah-kisah yang diceritakan.

Sejak bertemu Arka—cowok yang so damn cool kalau lagi unjuk trik di atas skateboard—Derin merasa waktu berjalan terlalu cepat saat mereka sedang bersama. Rasanya, tiap saat pengin dia habiskan bareng Arka, meski itu sekadar duduk mengobrol saja.

Namun, setelah mereka dekat, Derin mulai merasa ada yang janggal. Arka terlalu tahu tentang dirinya. Segalanya. Termasuk masa lalu yang ingin dilupakan Derin. Apa motif Arka sebenarnya? Apakah Derin harus menyiapkan diri untuk kecewa?

Saat jatuh cinta, Derin tahu harus bersiap akan segala kemungkinan. Termasuk, harapan yang kadang nggak sesuai kenyataan.

REVIEW

Derin dan Alessa bagaikan tom & jerry. Mereka dulunya merupakan sahabat dekat sejak SD hingga SMP. Namun, entah sebab apa yang membuat Alessa tiba-tiba jadi menjauhi, memusuhi, dan membenci Derin hingga kini mereka masuk SMA. Sudah terhitung 2 tahun mereka bermusuhan. Derin pun nggak tahu apa salahnya sehingga Alessa bersikap seperti itu. Apalagi Alessa nggak pernah bilang terus terang apa penyebab ia bersikap demikian terhadap Derin. Derin makin merasa bahwa ia yang sebagai korban karena adanya persekongkolan Alessa dan Ervin—sepupu Alessa—yang ternyata sengaja merencanakan sesuatu untuk mempermainkannya. Keruwetan hubungan Derin dan Alessa makin memuncak dikarenakan Derin selalu meladeni Alessa tiap kali cewek itu berlaku sinis padanya hingga akhirnya mereka diskors 3 hari dari sekolah.

Gue ngerasa capek dapat masalah yang ada kaitannya sama Alessa atau Ervin. Kenapa Alessa, yang saat masa sekolah dasar hingga SMP adalah teman dekat gue, kini benci banget sama gue? Sampai saat ini, alasannya nggak pernah gue temukan. Padahal, gue pikir, seandainya aja Aleesa bilang alasannya, gue bisa memperbaiki semuanya lagi. Jauh dalam hati gue, gue kangen kebersamaan sama cewek itu. — (hlm.88)

Karena nggak sanggup melihat reaksi orangtuanya marah jika diberi tahu bahwa dirinya sedang diskors, Derin tetap bertingkah layaknya anak yang akan pergi sekolah tanpa dicurigai oleh orangtuanya. Bukannya ke sekolah, Derin malah kabur ke mal. Di sana ia bertemu dengan Arka, anak SMA Hayden, dan tak disangka Derin kalau Arka malah mau-mau saja menemaninya selama diskors. Sejak itu mereka makin dekat dan akrab. Keunggulan fisik dan kemampuan lain yang dimiliki Arka mampu membuat hati Derin berdesir. Tapi, pertanyaan baru pun muncul di kepala Derin saat Arka ternyata mengenal Ervin dan Alessa. Mengapa semua serba berkaitan?

Coba cek, janggal nggak sih, ketika lo nemu sahabat masa kecil lo, yang sekarang ngebenci dan selalu berusaha ngejatuhin lo, serta mantan pacar yang pernah nyakitin lo, ternyata kenal sama orang yang sekarang lagi dekat sama lo. Orang yang baru kenal lo beberapa hari, tetapi sangat agresif ngedeketin lo. Itu aneh, kan? Itu janggal, kan? Itu… — (hlm.79)

Sesungguhnya Derin nggak selalu sepenuh hati membenci dan meladeni pertengkaran dengan Alessa, karena ada satu pertanyaan besar di benaknya yang sampai saat ini belum juga terjawab. Di satu sisi, Derin sebal setengah mati dengan mantan sahabatnya itu. Tapi, di sisi lain Derin juga merasa sedih ketika teringat dengan kenangan masa kecil mereka yang sering dilalui bersama ke mana-mana. Dulu mereka sudah seperti saudara karena mereka sama-sama anak tunggal, tapi sekarang justru jadi musuh bebuyutan dan dicap troublemaker oleh seluruh guru dan murid di SMA Garda.

Sementara itu, benang merah yang makin lama membuat Derin penasaran tentang Arka justru menimbulkan rasa ragu atas ketulusan cowok itu. Benarkah Arka mendekatinya karena memang menyukainya, atau karena maksud lain? Hmm, kira-kira bagaimana ya hubungan permusuhan Derin-Alessa serta PDKT antara Derin-Arka selanjutnya?

Ciri-ciri orang salah tingkah itu selalu membalas ejekan dengan kalimat ‘apa sih’. Please. — (hlm.99)

LET’S PEEL IT…

Karena si penulis masih mengusung tema remaja di novel ini, saya bisa bilang kalau ceritanya sangat relatable dengan kebanyakan orang, tak terkecuali saya. Ada yang nggak sama persis, tapi masih ada mirip-miripnya. Percintaan dan persahabatan adalah hal yang tak pernah jauh dari tema fiksi selama ini. Namun, meski temanya sudah mainstream, hal yang membuat saya sangat enjoy menikmatinya adalah karena gaya bahasa yang digunakan penulis sangat kental dengan bahasa sehari-hari, bahasa gaul anak muda, sehingga mudah dipahami.

POV-nya sebagian besar diisi oleh POV 1 dari tokoh Derin. Spontanitas yang penulis luncurkan melalui monolog Derin dan pikirannya sendiri kadang membuat saya tergelak. Mengalir begitu saja, persis seperti apa yang biasanya terlintas dalam hati dan pikiran kita ketika menghadapi sesuatu.

Derin adalah gadis yang periang, pemberani kalau ngadepin musuh, tapi kadang cuek juga, paling suka sama cheese cake, dan… mudah banget pipinya memerah kalau lagi malu-malu. Kalau Arka justru agak misterius karena kemunculannya tiba-tiba di hadapan Derin. Secara penokohan, dia masuk di ‘zona aman’ yang artinya dia adalah tipe cowok BTT (baik, tampan, tajir) serta punya kemampuan memainkan skateboard dan drum. Intinya tipe yang jadi idaman para dedek-dedek gmz.

Rahasia tentang siapa Arka dan sebab mengapa Alessa memusihi Derin, bagiku tidak mudah juga untuk ditebak, sanggup membuatku penasaran ada cerita apa di balik itu semua. Penulis tetap menjaga asa penasaran pembaca hingga akhirnya masa lalu mereka terungkap dengan sendirinya. Saya suka dengan konflik yang dihadirkan, meski pun mungkin ada yang bilang itu sinetron banget, tapi saya suka! 😀

Hal yang kusayangkan adalah di bagian ending. Hm, jujur saja, ending-nya di luar ekspektasiku. Kurang merasa terpuaskan karena saya nggak menemukan konklusi final dari tokoh utamanya. Seperti masih ada yang harus dilanjutkan. Apa mungkin saat masih di versi wattpad-nya juga demikian? Atau mungkin penulis memang sengaja membiarkan pembaca untuk berspekulasi dan menyimpulkan sendiri akhirnya bagaimana?

Untuk novel wattpad yang sudah dibaca 3,5 juta kali, I think it’s worth it. Like I said before, it’s very relatable bagi banyak orang, terutama para remaja. Terkadang pembaca nggak lagi peduli mau seberapa unik dan bagusnya suatu cerita, tetapi jika ia merasa punya ‘koneksi’ atau kesamaan dengan cerita itu maka sudah pasti mendapat nilai tambah. It’s not that wow, but it’s still good. 🙂

OVERALL RATING
★★★☆☆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s