[Review] Sang Maharani by Agnes Jessica

Judul: Sang Maharani
Penulis: Agnes Jessica
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Maret 2009
Tebal: 320 Halaman
ISBN: 978-979-224-447-2
Genre: Historical Romance

BLURB

Sebagai putri jendral di zaman penjajahan Belanda, Maharani memiliki segalanya kecantikan dan kecerdesan, harta dan kehormatan. Tapi setelah ayahnya meninggal dan Belanda kalah oleh Jepang, hidupnya berbalik 360 derajat. Ibu tirinya menjadikannya pelayannya dirumahnya sendiri. Ia tak dibagi peninggalan ayahnya. Yang paling menyakitkan, ia diserahkan ke pemerintah Jepang, yang lalu menjadikan Jugun Ianfu, pelacur untuk memuaskan tentara-tentara Jepang. Harga dirinya terempas, tubuh bukan lagi miliknya. Hidupnya menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Perasaannya sebagai seorang manusia utuh seolah telah mati karena merasa diri bukan manusia yang berharga.

Lalu ia bertemu kembali dengan Arik, adik angkat yang sudah bertahun-tahun berpisah dengannya; adik angkat yang bergitu dicintai dan mencintai dirinya.l Inilah kebahagian yang tiada tara baginya setelah kehidupannya luluh lantak. Namun ia menyadari cinta yang dirasakannya kepada Arik sekarang ini berbeda dengan cinta yang diberikannya beberapa tahun lalu, saat mereka masih anak-anak. Seperti roti curian yang terasa manis, cinta terlarang ini menjerat dirinya. Beranikah ia meraihnya?

REVIEW

Cerita bermula di tahun 1925 di Batavia tentang Maharani si anak semata wayang yang sekaligus jadi kembang desa karena ia cantik, mapan, pintar, dan terhormat. Ia juga memiliki orangtua yang sangat menyayanginya dan ada Arik–saudara angkat lelakinya yang lebih muda setahun–yang sangat mengaguminya. Ayah Maharani selama ini sangat dikenal baik oleh Belanda karena pangkatnya sebagai seorang Jenderal. Oleh karena itulah mereka dapat hidup nyaman di masa penjajahan Belanda. Namun, sejak Belanda kalah dari Jepang dan mengambil alih kekuasaan, hidup mereka yang tadinya nyaman langsung berubah jadi suram dan penuh siksaan. Maharani tak lagi menjadi wanita terhormat karena ulah ibu tirinya yang jahat. Tinggal Arik yang ia punya satu-satunya, tetapi justru ia harus terpisah dengan saudara angkatnya itu.

Bisa ditebak bagaimana nasib kembang desa yang diserahkan kepada tentara musuh. Maharani sengaja ‘digilir’ untuk memuaskan hasrat para tentara Jepang yang sedang jauh dari pasangannya. Bahkan Maharani pun dimasukkan ke sebuah tempat pelacuran yang sering didatangi oleh para tentara Jepang. Betapa hancurnya hidup Maharani sebagai Jugun Ianfu. Seolah dia bukan manusia yang punya hati lagi. Dirinya seperti sudah habis digerogoti oleh para lelaki yang menidurinya.

Sampai suatu hari ia bertemu lagi dengan Arik yang telah terpisah bertahun-tahun lamanya. Melihat Arik yang kini telah sepenuhnya dewasa membawa harapan baru bagi Maharani. Bahkan sepercik rasa sayang yang kini ia rasakan sudah berbeda dengan rasa sayang saat mereka masih kanak-kanak.

Ke manakah nasib akan menggiring hidup Maharani?
Happy ending atau sad ending?

LET’S PEEL IT…

Melalui kisah Maharani, aku bisa dengan jelas membayangkan bagaimana kejamnya zaman penjajahan dulu, terutama perlakuan mereka terhadap perempuan-perempuan pribumi. Kalau wanita yang tidak sekuat Maharani, mungkin sudah memilih bunuh diri. Tetapi saya sangat salut karena Maharani tetap bertahan.

Kalau ditanya bagian mana yang saya suka? Jawabannya yaitu mulai di saat Maharani bertemu kembaki dengan Arik. Karena ternyata bertemu lagi dengan adiknya itu bukan menjadi akhir penderitaan Maharani. Hidup mereka masih harus diuji lagi. Makin seru sekaligus miris.

Perjalanan Maharani cukup panjang dan berliku. Konflik yang dihadirkan membuat saya ketagihan. Membaca kisahnya sanggup membuat darahku mendidih atas pelakuan kasar para penjajah kejam dahulu serta kelicikan ibu tirinya Maharani. Nasib Maharani naik dan turun secara berulang penuh dinamika. Namun, tokoh Maharani ini juga sangat mengesankan karena ia mampu bertahan melewati banyak rintangan menyakitkan untuknya–baik itu siksaan fisik mau pun batin.

Dari kisah hidup Maharani, dapat diambil hikmah bahwa dalam hidup ini jangan ada kata menyerah. Tetaplah berusaha mencari dan mencapai kebahagiaan meski ada badai menerjang. Gunakan kesempatan apa pun untuk memulai dari awal.

Sangat menarik! Saya nggak tahu musti ngungkapin apa lagi saking saya speechless karena suka banget sama cerita di novel ini. Superb!

OVERALL RATING
★★★★★

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s