[Review] Broken Vow by Yuris Afrizal

Judul: Broken Vow
Penulis: Yuris Afrizal
Penerbit: Stiletto Book
Editor: Weka Swasti
Proof Reader: Herlina P Dewi & Tikah Kumala
Desain Cover: Theresia Rosary
Layout Isi: Arya Zendy
Cetakan: Pertama
Terbitan: Agustus 2015
Tebal: 270 Halaman
ISBN: 978-602-757-241-6
Genre: Romance

BLURB

Tiga sahabat. Tiga pernikahan. Tiga luka.

Amara, dia punya segalanya. Kecantikan yang sempurna dan kehidupan pernikahan yang diimpikan setiap perempuan. Tapi hanya kisah Cinderella yang berakhir dengan kalimat happily ever after. Karena ternyata mencintai saja tidak cukup, dan menjadi sempurna pun tidak cukup.

Nadya, memiliki karier yang cemerlang. Menikah di usia 30 hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggunya: “Kapan nikah?” Baginya, keinginan dan harapan kadang berbenturan dengan realitas yang ada.

Irena, si superwoman. Berkarier dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus. Potret keluarga bahagia yang sesungguhnya. Namun siapa yang mengira jalan hidup Irena akan menikung tajam?

Siapakah di antara tiga sahabat ini yang paling berbahagia dengan pernikahannya—atau justru paling menderita? Prasangka dan iri pun diam-diam ada di hati mereka. Apakah persahabatan yang telah terjalin itu dapat tetap bertahan? Dapatkah mereka menemukan kebahagiaannya masing-masing?

REVIEW

3 sahabat, 3 pernikahan, 3 luka.
Ada 3 kisah yang diceritakan dengan POV1 dari masing-masing 3 wanita tangguh ini: Amara, Irena, dan Nadya.

Amara bak Cinderella yang menikahi pria tampan dan kaya raya yaitu Nathan Adiwinata, putra dari keluarga konglomerat, hingga mereka punya seorang putri cantik bernama Kevia.
Irena si superwoman, wanita karir sekaligus ibu dari 2 anak, Aron dan Ara, serta istri dari seorang manajer bank yang biasa dipanggil Mas Juna.
Nadya si pengantin baru yg nekat menikahi sahabatnya sendiri, Dion, tanpa cinta hanya demi status agar tak lagi dicecari pertanyaan “kapan nikah?” dari orangtuanya. Padahal Nadya masih cinta dengan Leo sang mantan. 🙈

Mereka sahabat yang tak terpisahkan, tapi diam-diam mereka menyimpan rasa iri pada satu sama lain karena dinilai memiliki nasib yang lebih baik dari dirinya. Namun, apa yang terlihat belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada.

Amara bergelut dengan dugaan dan kecurigaannya bahwa si suami punya wanita simpanan yang membuat Amara telah tercampakan dan tak pernah lagi ‘disentuh’ oleh Nathan. Berbagai hal mencurigakan Amara temukan namun Nathan terus saja mengelak dan justru marah-marah pada Amara. Siapa wanita yang jadi gundik baru Nathan?

Irena sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga cukup keteteran mengurus semuanya. Mas Juna sudah pernah menyuruhnya untuk berhenti bekerja karena ia masih sanggup mencukupi kebutuhan hidup mereka semua dengan jabatan yang cukup tinggi di bank, tapi Irena menolak itu dan tetap ingin bekerja. Namun, suatu hari saat Irena akhirnya bilang bahwa ia ingin resign dan fokus mengurus anak, Mas Juna malah menahannya untuk tetap bekerja. Mengapa sekarang Mas Juna berkata sebaliknya?

Nadya tidak pernah berhenti mencintai seorang lelaki yang telah lama menggantung hubungan mereka dan meninggalkannya tanpa kabar. Ia bahkan tak tergugah sama sekali saat sahabatnya, Dion, mencintainya dengan tulus. Dion pun tahu kalau Nadya masih sangat berharap pada Leo. Tapi suatu ketika Nadya hanya main-main saat mengajak Dion menikah, tak disangka ternyata Dion menganggap itu serius dan langsung menemui orangtua Nadya untuk melamar. Bisakah Nadya mencintai Dion dan melupakan Leo?

LET’S PEEL IT…

Perselingkuhan, penipuan & penyiksaan, serta belajar mencintai pelan-pelan adalah garis besar tema cerita novel ini. It’s really intense! Dari awal hingga ke ending, perasaanku sungguh teraduk-aduk. Emosiku pun terpancing ke permukaan dengan sajian 3 cerita dan masalah berbeda dari para tokohnya. Bayangin, dalam 1 buku dijejalin 3 konflik sekaligus lho ini. 😆

3 cerita itu dijabarkan silih berganti sedikit demi sedikit. Rasanya jadi seperti candu. Jika ditanya cerita mana yang paling menyita perhatianku? Saya nggak bisa jawab karena semuanya bagus, seru, menyedot emosi, dan menggiringku ikut menangis bersama rasa ngilu atas nasib miris mereka. Ini tentang masa depan pernikahan, persahabatan, dan perasaan mereka yang tercabik-cabik tanpa ampun.

Acungan 2 jempol untuk sang penulis buku yang telah menyuguhkan konflik yang nggak nanggung-nanggung banget. Membangun chemistry para tokoh dengan sangat apik hingga tak memberiku sedikitpun celah untuk menemukan kekurangan buku ini karena saya 100% dibuat terlena di tiap lembarnya. Karakter para tokohnya pun dibentuk sangat kuat. This book is a page turner!

Bagi saya, buku ini punya cerita yang spesial. Bukan jenis kisah romansa indah yang lantas membuat hati berbunga-bunga. Ada juga bagian yang bikin semriwing tapi nggak banyak. Di sini kita lebih bercermin tentang nasib dan perasaan wanita saat apa yang dijalaninya ga sesuai kenyataan di dalam sebuah pernikahan. Apa yang indah kadang tak selalu indah, begitu pun sebaliknya. Ada yang awalnya bahagia, tapi berujung celaka. Ada yang awalnya anyep, tapi ujungnya so sweet.

Memang di sepanjang cerita ini scene dan tokoh pendukung lainnya sangat build up the emotion. Bikin mata melotot seketika. 😂 Saya langsung terbayang kalau saya di posisi si tokoh ini bagaimana? Apalagi ini pakai POV1 which is si ‘aku’ mewakili masing-masing dari mereka. Temanku yang pernah kupinjamkan novel ini pun memberi bintang 5. Dia nggak henti-hentinya memuji buku ini saat kutanyai pendapatnya. Dia bilang bagus lah, sampe bikin nangis lah, ceritanya seru lah. Blablabla~ 😆

Terciyamik! Standing applause, lempar bunga, cium-ciumin bukunya. Top banget deh! 👍👏💕

Favorite Quotes

Kenapa kita harus menikah? Kenapa menjadi perempuan single di usia tiga puluhan itu harus menakutkan? — Nadya (hlm.1)

Tapi masalahnya, kita enggak pernah bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. — Amara (hlm.90)

Aku tidak bisa menyalahkan diriku atas pilihanku dan kepada siapa aku jatuh cinta. Aku juga tidak bisa menyalahkan Tuhan. — Amara (hlm.90)

Selingkuhan ya tetap selingkuhan, Mara. Tidak akan berubah menjadi nyonya. Wanita semacam itu bisa kamu temui di bar-bar murahan. Mereka bisa melayani laki-laki tua bangka yang mata keranjang. Kasihan! — Ibu Nathan (hlm.131)

Kita tidak akan menyakiti orang yang kita cintai, kan? Atau malah sebaliknya? Karena cinta, kita bisa seenaknya pada orang yang kita cintai? — Nadya (hlm.135)

Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta karena hati tidak bisa diprediksi. Begitu juga dengan jodoh, keinginan dan harapan kadang berbenturan dengan realitas yang ada. Seperti halnya mencintai, jodoh pun tak dapat diprediksi. Rahasia Ilahi. — Nadya (hlm.168)

Hatiku hanya satu, sudah rusak, dan aku tidak mau menambah kerusakannya lagi hanya demi sebuah pernikahan yang semu, pernikahan yang sebenarnya sudah hancur. — Amara (hlm.192)

Dalam pernikahan, bentuk cinta menjadi berbeda. Saat merasa terluka dan sakit hati, sepertinya cinta itu akan hilang dan menguap. Tidak ada istilah bisa saling melupakan bekas luka yang tercetak jelas dan mulai belajar saling jatuh cinta lagi. Yang ada kita selesai. Melupakan semua janji suci yang sudah patah dan rusak. Enggak ada alasan untuk saling mencintai lagi. Forgiven but not forgotten. — Amara (hlm.227)

Pernikahan kami luluh lantak. Aku tidak mau memunguti cecerannya dan menyatukannya kembali. Yang sudah hancur tidak akan kembali utuh. — Amara (hlm.263)

Cinta bikin kita enggak waras. Tapi mikirin cinta, hidup jadi waras. — Amara (hlm.268)

OVERALL RATING
★★★★★

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s