[BookTour] Interview: Mega Shofani, Author of Kilovegram

Hello! Annyeong! Konichiwa! Bonjour! Sawadikhap!

Belum pada kangen tapi sudah muncul lagi nih postingan terbaru dari PIECES OF PAPER huehehehe. Kali ini saya mau ajak kalian berkenalan dengan salah satu novel yang terbilang masih orok. Kamu pembaca setia seri teenlit? Atau mungkin kamu pernah baca novel pertama dari Mega Shofani sebelumnya? Kalau belum, ayo kita kenalan dulu dengan penulisnya sambil membongkar behind the scene novel Kilovegram. Kebetulan sekali si kakak penulis ini tidak keberatan saya wawancarai. 😀

Eits, sebelum itu saya mau kasih blurb novelnya dulu supaya kalian ada gambaran ceritanya bakal seperti apa.

Kata orang, Aruna itu sebenarnya cantik, tapi…. gendut.

Iya, Aruna tahu ia gemuk. Ia pun kenyang dan tidak mempan lagi diejek. Habisnya bagaimana? Ia paling sulit menolak makanan, apalagi yang enak. Masakan Mama, misalnya. Atau traktiran Raka, sahabatnya.

Tetapi sikap cuek Aruna mulai berubah setelah Nada, sepupunya yang cantik dan serbabisa, masuk ke SMA yang sama dengannya. Bukan itu saja, Raka terang-terangan memuja dan mendekati Nada hingga membuat Aruna merasa tersisih dan minder. Apa yang harus ia lakukan agar bisa seperti Nada?

Aruna pun memutuskan mulai berdiet. Bagaimanapun caranya, ia harus langsing, langsing, langsing! Ia tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah dan akan mendapatkan kembali perhatian Raka.

Diet dimulai dari… sekarang!

Nah, sekarang mari langsung saja simak hasil wawancara saya dengan si kakak penulisnya.

*****

1. Kak Mega, selamat ya atas peluncuran novel keduanya. Pertama, boleh dong kenalin diri dulu secara singkat buat para pembaca dan penikmat setia teenlit. 🙂

Halooo, terima kasih untuk ucapan dan kesempatan ini ya, Kak Aya. Perkenalkan, namaku Mega Shofani. Teman-teman boleh panggil Mega aja. Aku berasal dari Solo.

2. Ini kan bukan pertama kalinya Kak Mega menerbitkan novel. Gimana perbedaan rasanya dengan peluncuran novel yang pertama dulu?

Lepas dari kekurangan yang ada di novel kedua–Kilovegram, dibanding novel pertama sih, aku lebih senang pas novel kedua ini Selain karena novel kedua ini merasa lebih punya tujuan tentang apa yang ingin kusampaikan, novel kedua juga terasa lebih meriah karena membuatku kenal banyak book blogger/bookstagram kece-kece. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah ikut mereview Kilovegram. Sukses ya semuanya!

3. Aku baca di halaman depan bahwa novel ini adalah draft Kak Mega waktu masih SMP. Wow! Sudah lama sekali ya. Dulu inspirasi nulis cerita tentang si ndut Aruna ini dari mana sih, Kak?

Sebenarnya draft waktu masih SMP itu hanya bercerita tentang friendzone, sih. Yaaa, pokoknya hal-hal yang pra-remaja dan remaja banget. Nah, kalo inspirasi soal Aruna yang ndut ini karena aku merasa tergelitik sama omongan teman cowokku pas kuliah. Dia bilang, “Coba kamu kurus, aku mau deh jadi pacarmu. Soalnya kamu cantik, sayangnya kamu tuh gemuk.” Namun walau ada beberapa bagian yang terinspirasi dari sedikit pengalaman pribadi, kisah Aruna ini fiksi kok, bukan kisah pribadi (soalnya banyak juga nih yang tanya gara-gara tokoh Aruna dan aku punya fisik yang sama).

4. Setelah akhirnya menemukan harta karun yang terpendam lama, berapa lama waktu yang Kak Mega butuhkan sejak awal ngedit sampai akhirnya layak terbit?

Kurang lebih 3 tahun dari 2014-2017. Selama itu permak sana-sini, potong sana-sini, dan swasunting berkali-kali sambil menungu keputusan untuk diterbitkan.

5. Ada pengalaman pribadi yang Kak Mega masukin di cerita novel ini nggak? Kalau ada, yang mana tuh? Hehehe

Adaaa. Bagian obat pelangsing. Bhahahaha. Bagi yang sudah baca, plis kelakuan Aruna yang begitu jangan dicontoh.

6. Tokoh mana sih yang jadi favorit Kak Mega di novel ini? Dan adakah tantangan tertentu yang Kak Mega alami ketika proses penulisan atau pengeditan dengan editor?

Tokoh favoritku itu Kak Vio, terinspirasi dari sosok kakak kelasku waktu SMA. Bedanya, di dunia nyata, sosok Kak Vio itu cowok hihihi. Kalo tantangan yang aku alami ketika proses penulisan, mungkin sebelum kukirim ke GPU. Jadi sebelum kukirim ke GPU, naskah ini sempat kukonsultasikan ke Bang Bara—benzbara, yang saat itu masih menjadi editor Gagas Media. Beliau bilang, lebih baik aku mengganti setengah jalan cerita terakhir agar cerita tetap pada ‘jalur’. Rasanya nggak rela sih mengubah plot, tapi kurasa demi kebaikan jadi nggak ada salahnya mencoba dulu. Setelah terbit, aku bersyukur dulu Bang Bara menyarankan hal tersebut. Karena kalo nggak, mungkin aku udah malu baca tulisanku sendiri. Untuk proses pengeditan, aku nggak pernah terlibat langsung, sih. Jadi ketika aku kirim naskah digital, aku tinggal nunggu sampai proses terbit aja, Kak.

7. Secara garis besar, premis cerita di sini kan sebenarnya bukan hal baru lagi bagi sebagian besar orang-orang. Bagi Kak Mega, hal apa yang jadi pembeda dari novel Kilovegram dengan cerita serupa lainnya?

Yang jadi pembeda karena aku menyisipkan pesan-pesan terselubung untuk kehidupan remaja, bagaimana berusaha lebih baik dengan cara yang baik/sehat, bagaimana untuk tidak tunduk saat ditindas. Selain itu ada beberapa kesalahanku semasa remaja yang kutulis di sini dengan tujuan agar tidak terulang pada remaja lain. Itu berat, biar aku saja 😀

8. Adakah pesan khusus yang ingin Kak Mega sampaikan kepada pembaca melalui kisah si ndut Aruna?

Pesan khusus yang ingin aku sampaikan adalah cinta dan cantik itu nggak mengenal angka. Walau begitu, apa adanya bukan berarti seadanya. Kita tetap harus menjaga tubuh tetap sehat, karena itulah cara paling sederhana untuk mencintai diri sendiri dan mensyukuri pemberianNya.

9. Sampai saat ini, apakah sudah ada rencana ingin menerbitkan buku baru lagi? Jika ya, akankah kembali menulis teenlit atau genre lain?

Kurasa belum ada sih, Kak. Untuk sementara sedang fokus hal lain. Namun keinginan seperti itu tetap ada. Mungkin teenlit lagi karena sudah nabung beberapa plot dan outline. Hehehe

10. Coba tuliskan tiga kata yang mewakili Kilovegram! 😀

Tiga kata untuk Kilovegram: angka bukanlah segalanya.

*****

Demikianlah sepuluh pertanyaan dariku yang telah dijawab semuanya oleh Kak Mega. Terima kasih banyak ya Kak sudah bersedia saya wawancarai di waktu yang mepet ini. Semoga tidak keberatan kalau lain kali saya tanya-tanyai lagi hehehe. Karena pada dasarnya saya pribadi selalu merasa penasaran tentang apa saja behind the scene dari suatu proyek — baik itu buku atau film atau drama.

Sukses selalu untuk Kak Mega. Saya doakan semoga novel Kilovegram ini menempati ruang tersediri di hati para pembacanya, terutama buat yang masih remaja dan mengalami kejadian yang mirip seperti Aruna ndut hehe. Tak lupa didoakan pula agar rencana penerbitan novel teenlit selanjutnya dapat segera terlaksana dan lancar jaya. Amin… 🙂

Anyway, tetap pantengin blog saya ya, karena besok akan menyusul resensi novel Kilovegram serta giveaway yang tentunya nggak mau kalian  lewatkan. Kak Mega sudah menyiapkan 1 eksemplar novel Kilovegram serta bonus handuk kecil bertuliskan KILOVEGRAM untuk 1 pemenang yang beruntung, Jadi, tetap tungguin ya!

Advertisements

12 thoughts on “[BookTour] Interview: Mega Shofani, Author of Kilovegram

  1. […] [BookTour] Interview: Mega Shofani, Author of Kilovegram […]

    Like

  2. Hamdatun Nupus

    Akupun termasuk yang nggak PD Sama perawakan tubuh TB : 147 BB : 48, ini bulet banget lah kelihatannya udh gitu pendek Kan.

    Udah bebal diledekin acil (anak kecil) , kontet, dll. Meski nyesek sih awal-awal tapi perlahan ya jadi biasa ajah, mungkin Karena udah nerima diri apa adanya 😊.

    Jadi gak sabar baca kisahnya Aruna😁

    Like

  3. Siti Maslacha

    Wah ternyata waktu yang dibutuhkan untuk menerbitkan naskah ini lama sekali, ya.
    Tapi salut dengan perjuangan Kak Mega. Patut dicontoh 🙂

    Like

  4. “Angka bukanlah segalanya.”

    Seandainya banyak yang lebih mengamalkan kalimat ini 😂

    Like

    • Tapi kalo di dunia modeling, kalimat ini ga berlaku sama sekali wkwk harga mati deh tu yg namanya angka di timbangan serta ukuran lingkar dada perut lengan paha betis semuanya diukur.

      Like

  5. Melinda Wahyu Gianti

    “Cinta dan cantik itu nggak mengenal angka. Walaupun apa adanya, tapi bukan berarti seadanya”
    Suka banget sama pesan khusus yang ingin disampaikan Kak Mega. Terus salut banget sama Kak Mega buat nerbitin novel ini. Konsultasi sana sini, ngedit ini itu. Dan hasilnya memang pantas dapat apresiasi baik dari pembaca ataupun para reviewer. Beruntung banget yah buat mereka yang bisa punya kesempatan kenalan sm Aruna heuheh

    Like

  6. Entah seberapa seringggg aku ikut GA nih novel… Aku jatuh cinta buanget sama kilovegram… Aruna. Yup perjuangannya demi…. Demi hal yg sulit banget…

    Semoga aku bisa ketemu pelukan sama Aruna aminnn

    Like

  7. Wah, Kak Mega dari Solo,,, aku juga lagi kuliah di situ, kapan-kapan ketemuan yuk?! wawancara sendiri, hehe… atau kuundang aja jadi pembicara di kegiatan Prodi Sastra Indonesia ya, hehe

    wawancaranya asyik, lanjutkan Kak Murniaya,,,,!!! hehe

    Like

  8. Bety Kusumawardhani

    Wahhh.. Menginspirasi…Jadi keinget dulu aku pernah bikin cerita di sebuah buku saat masih SD… nanti akan aku cari lagi biar bisa diedit kembali.. Siapa tahu bisa diterbitkan..

    Like

  9. “Coba kamu kurus, aku mau jadi pacar kamu”.. Bahh, cowok yg cuma pandang fisik doang.. Kalo aku yang alami kayak gitu, agak gondok yaa walaupun mungkin konteksnya jokes doang.. Tapi menarik sih idenya, karena pasti bukan penulis aja yang pernah alami kisah kayak gitu..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s