[Review] Madre: A Coffee Table Book by Dee

Judul: Madre – A Coffee Table Book
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka
Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Yellow-p
Pemeriksa aksara: Tim Bentang
Penata aksara: Dini Gunardi
Foto: Mizan Productions
Ilustrasi isi: Dini Gunardi
Cetakan: Pertama
Terbitan: Maret 2013
Tebal: xiv + 94 Halaman
ISBN: 978-602-7888-24-1

BOOK BLURB

Kunci itu mengantar Tansen menjumpai sebuah bangunan kuno tak terawat. Tan de Bakker.

Tan de Bakker bukan sekadar bangunan kuno tanpa arti. Di dalamnya sejarah hidup Tansen berawal. Dari sosok nenek yang tak pernah dikenalnya, hingga sebongkah adonan berusia puluhan tahun.

Hidup selalu menawarkan banyak kejutan.

REVIEW

Tansen Wuisan menjalani hidup dalam kebebasan di Bali sebagai peselancar. Suatu hari ia mendatangi pemakaman seseorang keturunan Tionghoa bernama Tan Sie Gie yang sama sekali tak ia kenal. Herannya, nama dirinya tercantum sebagai salah satu ahli waris Tan Sie Gie. Seorang pengacara yang mengurus surat wasiat Tan Sie Gie menghampirinya di pemakaman tersebut lalu memberinya sebuah alamat dan sebuah kunci.

“Tan kasih Madre untukmu karena dia punya maksud yang lebih besar. Tinggal kamu yang menentukan.” — Pak Hadi (hlm.40)

Mengikuti alamat yang tertera, Tansen bertemu Pak Hadi yang menyambutnya di toko tua Tan de Bakker. Pak Hadi sudah menduga bahwa Tansen-lah yang dipilih oleh Tan Sie Gie sebagai ahli waris kepemilikan Madre yang tersimpan di kulkas dengan gembok yang kuncinya ada di tangan Tansen. Melalui cerita Pak Hadi, Tansen akhirnya tahu sejarah hidup keluarganya. Sang kakek yaitu Tan Sie Gie dulu menikah dengan wanita keturunan India bernama Lakshmi. Neneknya yang menciptakan Madre – dalam bahasa Spanyol yang berarti ‘ibu’ – si adonan biang roti berusia 70 tahun.

Madre adalah adonan biang. Hasil perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguus. — (hlm.19)

Tak perlu berpikir lama, Tansen menolak semua warisan ini. Dia tidak tertarik pada adonan biang roti karena dia tidak pernah masak apalagi membuat roti. Dia ingin kembali ke kehidupan sebelumnya yang bebas dan tidak terikat dengan apa pun. Tansen bahkan berniat memberikan Madre dan Tan de Bakker – toko roti tua yang telah lama tak berproduksi – kepada Pak Hadi saja.

Lalu Tansen menulis blog – salah satu kegiatan rutinnya tiap minggu – tentang pengalaman barunya ini dan menceritakan soal Madre. Namun, ada seorang pembaca setianya bernama Mei yang merespon dengan antusias bahkan ingin membeli Madre.

Kendati batas antara kebebasan dan ketidakpedulian terkadang saru. — (hlm.4)

Bersediakah Tansen menerima tawaran Mei dan melanjutkan hidupnya di Bali serta melupakan semua cerita yang telah ‘mempertemukannya’ pada keluarga aslinya?

LET’S PEEL IT…

“Karena sebetulnya ndak ada yang sanggup menjual ibunya sendiri.” — Tansen (hlm.50)

Dengan cap bertuliskan “NOW A Major Film” di kaver depannya, jelas bahwa buku ini merupakan film Madre versi buku. Sebuah film yang diangkat dari buku Madre karya Dee. Dari buku, jadi film, lalu ke buku lagi hehehe. Tansen diperankan oleh Vino G. Bastian, Pak Hadi diperankan oleh Didi Petet, dan Mei diperankan oleh Laura Basuki. Ya, hanya 3 orang inilah karakter utama di sini yang punya banyak peran penting dalam cerita.

Sesuai judulnya “Madre: A Coffee Table Book“, buku ini sangat pas sebagai teman minun kopi. Buku ini memang tipis dan cepat untuk disudahi, tapi di dalamnya juga dihiasi visual dari cuplikan filmnya. Juga ada ilustrasi gambar si Tansen, berbagai bentuk roti, alat masak, serta sketsa dapur Tan de Bakker.

Sebelumnya, saya belum pernah baca buku Madre. Pun tidak pernah nonton filmnya. Ya, ini pertama kali saya kenalan dengan Madre. Ada beberapa pertanyaan yang sampai saat ini masih berseliweran di kepalaku. Begini, yang kutahu buku Madre itu isinya ada 13 cerpen. Bisa dibilang kumcer seperti Rectoverso, maybe. Kalau di film Rectoverso kan ceritanya terpisah satu sama lain bahkan ketika diangkat menjadi film. Nah, yang Madre ini saya tidak tahu bagaimana bisa 13 cerpen di kumcer Madre menjadi 1 cerita utuh di Madre versi film? Karena yang kusimak di sini hanya tentang Tansen yang tadinya tidak tahu siapa Tan Sie Gie, Madre, dan Tan de Bakker. Masalahnya karena saya belum pernah baca Madre versi kumcer sih, sehingga saya tidak tahu bedanya di mana.

“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” — Mei (hlm.64)

Setelah membaca buku ini, otomatis saya tertarik juga mau nonton versi filmnya. Ya, lupakanlah Madre versi kumcernya karena kutahu itu tak akan kutemukan dengan mudah semudah filmnya hehe. Tak masalah jika tidak surprise lagi karena saya sudah dapat gambaran isi filmnya seperti apa melalui buku ini. Tapi, setelah kutonton ternyata isinya tidak sama persis seperti yang di buku ini. Ada beberapa detail bagian scene atau percakapan yang hilang di film. Salah satu contohnya yaitu kalau di buku ada scene ketika Mei dan Tansen mengajak Pak Hadi dkk. berkunjung ke outlet Fairy Bread, tidak disebutkan adanya penawaran kerjasama penanaman saham seperti di buku, dan tidak ada pula di sana Tan de Bakker pada akhirnya ganti nama. Jadi, saya malah merasa beruntung telah baca buku ini duluan sehingga saya bisa lebih paham seluk beluk dan detail yang tak ada di film. Tapi banyak juga sih yang ada di film itu ternyata nggak ada dijelasin di buku. 😀

“Mungkin karena memang nggak ada yang kebetulan, Pak. Mungkin sudah harusnya saya di sini.” — Tansen (hlm.86)

Tadinya saya mengira ending di buku ini benar-benar akhir dari cerita mereka, tapi ternyata tidak demikian. Ending di film terasa berbeda dan sayangnya menggantung buat saya. Lebih suka ending versi buku, setidaknya tidak membuatku merasa ‘digantung’ seperti saat nonton filmnya, huhuhu…

Eh maaf ya dari tadi saya malah kebanyakan membahas perbedaan antara versi film dan versi bukunya. Intinya sih kalau dari premis, plot cerita, chemistry, konflik, penokohan, semuanya apik. Tansen digambarkan sebagai cowok gimbal dan tampilan urakan. Pak Hadi dengan ciri khas logat bicaranya serta rutinitas Taichi-nya. Mei si wanita karir yang masih muda, cekatan, cerdas, dan menarik. Belum lagi teman-teman seperjuangan Pak Hadi di Tan de Bakker yang pada ceria meski sudah tua-tua haha.

Menikmati cerita karya Dee selalu punya kesan tersendiri. Ada makna yang dirasakan tanpa tahu bagaimana mengungkapkan. Dari sosok Tansen, saya malah terinspirasi ingin bisa menulis blog (bukan blog buku) secara rutin tiap minggu seperti dia. Tanpa tema khusus, yang penting cerita tentang apa saja. Tak perlu panjang, asalkan tetap ‘nendang’. Karena terkadang ada banyak hal yang ingin saya ungkapkan tetapi rasanya terlalu sayang jika hanya numpang lewat di sosial media seperti facebook, instagram, atau twitter kemudian tenggelam dengan cepat.

Sekali seminggu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengisi blog. Bercerita apa saja. Tak ada tema khusus. Karena bagiku, kegiatan itu ada terapi. — (hlm.23)

Terakhir, saya mau ucapkan terima kasih kepada Kak Sin yang telah menghadiahkan buku ini saat dulu saya menang kuis di blognya. Terima kasih karena melalui buku ini saya jadi mengenal sosok Tansen Wuisan. 🙂

OVERALL RATING
★★★★☆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s