[Review] Cerita Cinta Kota by Dwitasari, dkk.

IMG_20151121_183042

Judul: Cerita Cinta Kota
Penulis: Dian Nafi, Nita Aprilia, Dita Hersiyanti, Fakhrisina Amalia Rovieq, Rizky Suryana Siregar, Ismaya Novita Rusady, Rina Wijaya, Mario Mps, Noury, Winda Az Zahra, & Dwitasari
Penerbit: Plot Point
Penyunting: Ninus D Andarnuswari
Perancang sampul: Annisa Aprianinda
Pemeriksa aksara: Syarifah Maulidina, Rizki Ramadan
Penaya aksara: Teguh Pendirian, Theresa Greacelia, Ulfah Yuniasti
Desain: Teguh Pendirian
Ilustrasi: Annisa Aprianinda
Tebal: 216 Halaman
Cetakan: Pertama
Terbitan: Februari 2013
ISBN: 978-602-9481-27-3
Genre: Romance

Bisa dibeli di toko buku online Bukupedia

BLURB

Sebuah kota mampu mematahkan hatimu, tapi juga mampu melahirkan cinta untukmu. Sebelas cerita ini berkisah tentang cinta yang lahir dan tumbuh, hidup dan kandas, di berbagai kota di Indonesia.

Kisah-kisah ini dimulai dari hal kecil yang kadang terlewat dari keseharian kota. Cinta dari dejavu, prasangka di bawah panasnya matahari, perjalanan meniti ribuan anak tangga, perihnya senja terakhir, pandangan pertama di festival tahunan, pencarian pintu misteri, petikan gitar saat hujan rintik, memori masa kecil dari kebun apel, kisah sepatu lusuh, rasa takut merasakan kecupan pertama, dan seorang gadis yang berlari mengejar cintanya di sepanjang Jembatan Ampera.

Ini adalah kisah dari 10 penulis pemenang kompetisi #CeritaCintaKota bersama penulis buku best seller “Raksasa dari Jogja” Dwitasari. Ini adalah kisah kota dan mereka yang tumbuh bersamanya.

Continue Reading

Advertisements

[Review] Ngeri-Ngeri Sedap by Bene Rajagukguk

Judul: Ngeri-Ngeri Sedap
Penulis: Bene Rajagukguk
Penerbit: Bukune
Editor: Syafial Rustama
Proofreader: Funny D.R.W
Layout: Irene Yunita
Desain Sampul: Gita Mariana
Ilustrasi Isi: Fauzi Zulfikar
Cetakan: Pertama (November, 2014)
Tebal: 206 Halaman
ISBN: 978-602-220-140-3
Genre: Personal Literatur, Comedy

BLURB

Bagi keluargaku yang gengsinya selangit, menerima pemberian dari orang lain, pantang hukumnya. Kayak waktu itu Tulang main ke rumah. Sebelum pulang, Tulang mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.

Aku mengarahkan tangan menuju lembaran berharga itu. Beberapa senti sebelum uang berpindah tangan, tiba-tiba Mamak nongol, “Eh! Apa Mamak bilang? Jangan terima-terima uang!” Tanganku langsung mundur.

Tulang memasukkan kembali uang itu, kemudian mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. Belum sempat kuambil, Mamak langsung ngomong, “Apa Mamak bilang? Jangan terima-terima uang!” Mamak melotot sambil melambai-lambaikan tangan isyarat larangan.

Uang dua puluh ribuan kembali masuk dompet. Kali ini uang merah—seratus ribuan—menggantikan posisinya. Aku yang masih bingung harus ngapain, dikejutkan oleh suara Mamak, “Nak, bilang apa sama Tulang? Bilang ‘terima kasih’!”

Rupanya, langit pun ada harganya.

***

Kenalkan, Kawan, namaku Bene Dionysius Rajagukguk. Dari nama aja, udah keliatan kan aku orang apa? Tampangku yang amuba—asli muka Batak—pun, nggak bisa bohong. Iya, aku memang seratus persen berdarah Batak.

Sebagai Batak tulen, keras dan teguh pada prinsip jadi sifatku yang menonjol. Makanya, aku nggak pernah mau bayar utang dan menolak keras waktu ditagih. Prinsipku; sesuatu yang udah dikasih, jangan harap balik lagi.

Dalam buku ini, aku akan cerita macam-macam persoalanku sebagai pemuda Batak yang mencoba menaklukkan dunia. Mungkin keliatannya ngeri, tapi sedap kok waktu dijalani. Kayak banyak orang Batak bilang, “Nggak usah terlalu dipikirin. Nikmati aja! Hidup memang ngeri-ngeri sedap, Kawan!”

Continue Reading