[Review] In Between by Angelique Puspadewi

IMG_20160622_142805

Judul: In Between
Penulis: Angelique Puspadewi
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Desain Cover: Orkha Creative
Cetakan: Pertama
Terbitan: Jakarta, 2015
Tebal: 224 Halaman
ISBN: 978-602-03-1354-2
Genre: Romance

TAGLINE

Membohongi diri sendiri lebih sakit dari cinta tak berbalas.

BLURB

Bagi Adelita, hanya Alvaro yang bisa membuat dunianya berwarna. Membuatnya jatuh cinta hingga tergila-gila. Tetapi karena pria itu atasannya di kantor, Adelita merasa minder. Mana mungkin Alvaro membalas perasaannya? Akhirnya Adelita malah menjodohkan Alvaro dengan sahabat baiknya, Keyla.

Tetapi ketika Alvaro jadian dengan Keyla, Adelita malah terjebak dilema. Antara bahagia menyaksikan kemesraan dua orang yang dia sayangi dan benci karena tak berdaya menanggung derita patah hati.

Namun, bagaimana jika ternyata Alvaro juga memendam perasaan yang sama terhadap Adelita?

REVIEW

Cover

Meski saya bukan maniak warna pink, tapi harus diakui bahwa cover novel ini cantik sekali. Gambar 3 gembok di situ sangat mewakili isi ceritanya. Gembok di tengah tentu saja Adelita yang berada di antara Alvaro dan Keyla sebagai perantara penjodohan mereka berdua.

Plot

Adelita adalah sekretarisnya Alvaro–lelaki tampan blasteran Rusia. Mereka bekerja di perusahaan Kencana Mulya. Sejak pertama kali kehadiran Alvaro di kantor tersebut, Adelita langsung menyukai Alvaro tapi pengecut untuk mengakui dan hanya bisa cidaha (cinta dalam hati). Adelita merasa dia tidak menarik dan Alvaro tidak mungkin meliriknya apalagi sampai suka padanya.

Lalu muncul Keyla–sahabat lama Adelita–yang melamar kerja di kantor Adelita. Keyla itu serba lebih dari Adelita, terbukti dia memang lebih cantik dan menarik, serta menyandang gelar master dari luar negeri. Bahkan ia pernah menjadi primadona di masa SMA dulu.

Alvaro masih merasakan patah hati lantaran putus dari tunangannya, sementara Keyla juga baru putus dari pacarnya di luar negeri. Cocok. Kemudian timbul niat Adelita untuk menjodohkan Keyla dengan Alvaro yang sama-sama sempurna sekaligus sedang sama-sama patah hati dan butuh obatnya.

Konflik

Complicated enough. Tidak menyangka kalau masalahnya bisa lumayan seberbelit itu. Tidak cuma menyangkut masalah hati yang teriris-iris lantaran Adelita harus menyaksikan betapa bahagianya Keyla menjadi kekasih dari lelaki yang dicintainya, melainkan juga melibatkan urusan orang-orang di kantor dan masalah pekerjaan yang dikaitkan dengan hubungan ketertarikan dan percintaan di antara mereka.

Karakter & Penokohan

  • Adelita — Wanita yang satu ini menurut saya ‘nggak banget’ lah. Pandai bohong, berlaku munafik, nggak mikirin kesejahteraan hatinya yang artinya dia nggak sayang sama dirinya sendiri.
  • Alvaro — Lekaki yang sangat bertanggung jawab, tegas dan sangat pengertian terhadap bawahannya. Kalau sedang tidak dalam urusan kerjaan sikapnya bisa berubah jadi manis sekali, berbeda saat masih dalam suasana kerja, ia lebih bossy dan agak cerewet.
  • Keyla — Sahabat yang nggak peka tetapi juga sangat baik. Ya, masa sih dia nggak bisa baca hati sahabatnya yang sudah 12 tahun dikenal kalau Adelita suka dengan Alvaro? Menurut saya, Keyla adalah tipe sahabat yang nggak boleh disia-siakan. Beruntung sekali Adelita punya Keyla. Meski Keyla sempat berselisih paham dengan Adelita, tetapi tak lantas Keyla membenci Adelita. Justru pada akhirnya dia ingin membantu mewujudkan impian sahabatnya itu.
  • Masih ada beberapa tokoh lain di novel ini, tapi saya sebutkan 3 di atas saja karena hanya mereka yang penting untuk dibahas. 😀

Gaya Penuturan

Cara si penulis mengemas cerita lewat perpaduan kata dan kalimatnya terasa lebih mengalir. Sebelumnya saya sudah pernah baca novelnya yang berjudul The Man Next Door. Tetapi bagi saya, gaya penuturan si penulis di novel In Between ini jauh lebih lincah. Tidak terasa kaku sama sekali.

Kesan

Sebenarnya saya merasa agak ‘sesak’ sepanjang menyimak cerita di novel ini, kecuali di bagian ending. Apa yang Adelita lakukan? Mengapa dia harus mengambil langkah seperti itu? Saya nggak bisa mendukung tindakannya menjodohkan Keyla dengan Alvaro. Mungkin beberapa orang akan menganggap itu adalah sebuah hal yang tulus, tetapi untuk saya justru dia jadi terlihat bodoh. Karena pada akhirnya dia tidak merasa nyaman dengan apa yang sudah dia buat.

“Kenapa bukan kamu? Kalau Mami jadi kamu, Mami akan mati-matian ngejar atasan kamu itu. Bukan malah menjodohkannya dengan Keyla. Aneh!” — Mami Adelita (hlm. 76)

Tapi untunglah tertolong dengan twist yang dihadirkan. Setidaknya itu jadi pengobat rasa tertekan oleh sikap Adelita yang kurasakan dari awal. Mengolah sebuah twist ini patut saya acungi jempol karena memang tak terduga dan datang di waktu yang tepat.

Sayangnya saya nggak merasa novel ini benar-benar bertema roman, karena tak banyak bagian di mana saya sebagai pembaca bisa ikut merasakan hati berbunga-bunga oleh kebahagian Adelita mengenai kisah cintanya secara keseluruhan. Yang saya alami justru sebaliknya. 😥

Aku yang dulu mati-matian menjodohkan mereka, kini ingin bunuh diri melihat kemesraan keduanya. Hatiku hancur lebur. Menjadi munafik tidaklah mudah. Harus memasang wajah bahagia ketika Keyla datang ke ruangan menemui Alvaro, padahal hatiku berdarah. — (hlm. 122)

Hikmah Cerita

Walau pun sebanyak 85% alur ceritanya membuat saya tidak bisa duduk tenang, tetapi tetap ada yang bisa diambil hikmahnya. Tidak hanya dari cerita di novel ini yang bisa saya petik pelajarannya, melainkan juga dari pengalaman. Saya bisa mengerti posisi dan perasaan Adelita, namun untungnya nasib saya dulu tidak separah Adelita. Hahaha! Alhamdulillah

Jadi, ada 3 hal yang bisa saya simpulkan:

  1. Kalo lo suka sama seseorang, mending embat dulu buat lo sendiri, nggak peduli tuh orang suka juga sama lo atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting usaha dulu buat dapetin cintanya dia. Pikirin juga jodoh untuk diri sendiri, bukannya malah dilempar ke orang lain sekali pun itu buat sahabat lo tersayang. Daripada menyesal kalau hal itu justru bikin lo sengsara dan berubah munafik.
  2. Nggak usah sok jadi malaikat dengan cara jodoh-jodohin orang lain selama lo sendiri masih jomblo. Ujung-ujungnya lo sendiri yang baper karena nggak punya pasangan, sementara yang lo jodohin itu udah sibuk berduaan dengan pasangannya.
  3. Sesekali jadi egois itu juga penting. Jangan cuma selalu mendahulukan orang lain sampai makan hati sehingga menyiksa hati, karena itu tandanya lo nggak bisa sayang sama diri sendiri. Ingat, cari jodoh itu tujuannya buat jadi pasangan menikah. Menikah itu termasuk ibadah. Yang namanya ibadah haruslah mendulukan diri sendiri. Makruh hukumnya kalau mendahulukan orang lain.

Favorite Quotes

Karena tidak semua teman dapat menjadi sahabat. Menurutku, sahabat itu sosok yang bisa kita cintai, yang dapat mengerti perasaan kita tanpa perlu kita ungkapkan, terlebih bisa membuat kita nyaman. Hampir sama seperti saat kita tertarik atau jatuh cinta kepada lawan jenis. Nah, sahabat itu bisa kita anggap sebagai belahan jiwa, yang meski suatu hari nanti kita memiliki pasangan hidup, tetap tidak bisa jauh dengannya. — (hlm. 23)

Perasaan ini terlalu besar. Sampai aku tak sanggup berbagi, meski pada sahabat sendiri. Perasaanku pada Alvaro berbeda dengan rasa suka seperti sebelumnya. Terlalu dalam, hingga membuatku tak mampu sampai ke permukaan. — (hlm. 43)

“Semua wanita bahagia bila pria mengistimewakannya. Bahagia diperlakukan sebagai si nomor satu. Tetapi pria belajar menyayangi perempuan melalui ibunya. Wanita pertama yang dilihatnya ketika dia membuka mata. Jadi, wajar seandainya dia mementingkan kepentingan ibunya. Berharap dia melakukan hal sama pada istrinya kelak,” — Adelita (hlm. 56)

“Kamu bahkan boleh menangis telah kehilangan. Tapi tak boleh berlarut. Ingat, Al, tidak ada satu daun pun jatuh tanpa seizin Allah. Dia bukan jodohmu, itu pasti yang terbaik.” — Adelita (hlm. 109)

“Terima perasaan itu sebagai anugerah. Jangan merasa berbeda. Melepaskan tidak sama dengan pengecut. Melepaskan adalah bersabar sementara terhadap ketentuan Tuhan. Jika dia jodohmu, pasti akan bertemu di kemudian hari. Kamu juga tidak boleh takut kehilangan dia. Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Setiap orang pasti akan berpisah dengan orang yang disayang. Sekarang, atau nanti. Cepat, atau lambat.” — Selia (hlm. 138)

***

OVERALL RATING

★★★☆☆

Advertisements

3 thoughts on “[Review] In Between by Angelique Puspadewi

  1. (((CIDAHA))) *ngakak*
    Duh, mbae, kapan-kapan saya mau nyoba bikin review bentuknya seperti ini ah. Al dente~

    Like

    • Kamu kan sudah pernah buat yang seperti ini waktu ituuuuu 😀 asal jangan spoiler kayak dulu lagi yes 😛

      Akhir-akhir ini aku lebih nyaman bikin review yang kayak begini sih. Mungkin lagi mood-nya. Lagian berasa ‘hemat’nya kalau formatnya seperti ini. Nggak terlalu boros kata/kalimat. Nggak banyak cerita yang melanglangbuana. Langsung ke intinya tentang apa yang ingin dibahas.

      Liked by 1 person

  2. […] via [Review] In Between by Angelique Puspadewi — Pieces from the Deepest […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s